
Setelah acara pesta pernikahan mereka telah selesai, dan semua tamu undangan pulang, William dan Zenith pun berjalan memasuki kamar pengantin yang telah disediakan untuk keduanya.
Zenith yang melihat langkah William ikut masuk bersamanya ke dalam kamar, seketika menjadi berbunga-bunga hatinya. Dalam pikirannya, ia membayangkan kalau malam ini akan menjadi malam yang istimewa, yang selalu dialami oleh para pengantin baru.
Namun wajah William malah menunjukkan ekspresi sebalikanya. Dengan wajah terlihat kesal, pria itu langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur dan mulai sibuk melepaskan pakaian formal yang dikenakannya.
Tiba-tiba, muncul sosok Ratih dan juga Kana beserta Rizal dan juga Haykal, yang ikut masuk ke dalam kamar pengantin tersebut. Kedatangan mereka, langsung membuat suasan hati Zenith berubah kesal.
"Sudah kan, keinginanmu sudah diikuti oleh William dan juga keluarga kami. Sekarang saatnya untuk kamu menuruti apa yang kami inginkan" ucap Ratih to the point.
"Aku juga tahu! Kenapa kalian sekeluarga tidak sabaran sekali sih?!"
Zenith lalu berjalan ke arah sebuah brankas yang terletak diatas meja samping tempat tidur untuk mengambil ponselnya. Setelah beberapa saat ia terlihat sibuk dengan benda pipih tersebut.
"Sudah, aku suda menghapus semua bukti dan video yang menunjukkan keterlibatan mommy dan juga kak Kana. Kalau kalian tidak percaya, silakan periksa sendiri" ucap Zenith sambil menyerahkan ponselnya ke arah William.
"Bagaimana Will? Apa benar yang katakannya, kalau dia sudah menghapus semua bukti?"
"Iya, benar mommy" jawab William yakin, setelah memeriksa seluruh isi ponsel Zenith.
"Baguslah, kalau begitu. Awas saja kalau kamu secara diam-diam masih menyimpan salinan lainnya, aku akan langsung menyuruh William untuk menceraikanmu!"
"Astaga, tenanglah mommy. Sudah tidak ada salinan lain yang aku sembunyikan dari kalian, percayalah"
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu kalau mengingat sifatmu yang sangat licik itu!"
"Oho, lihat siapa yang sedang mengataiku. Bukannya kak Kana juga sama saja liciknya seperti aku?"
"Jaga bicaramu! Aku sekarang adalah kakak iparmu, jadi jangan kurang ajar padaku!"
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Setidaknya Zenith telah menepati janjinya, jadi tidak ada lagi yang perlu kalian ributkan. Sebaiknya kita semua keluar, supaya mereka berdua bisa segera beristirahat"
"Baik daddy" jawab Kana dan Haykal bersama, lalu berjalan keluar diikuti oleh Ratih.
"Daddy juga pamit keluar, kalian jangan lupa membersihkan diri sebelum tidur. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian berdua"
"Terima kasih daddy" jawab Zenith tersenyum manis pada sang mertua.
William hanya memutar matanya malas saat melihat sikap sok manis yang ditunjukkan oleh Zenith kepada Rizal. Tak ingin ambil pusing, William kembali melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda.
"Kenapa kamu berdiri disitu dan seenaknya memperhatikan diriku? Seperti orang mesum saja!" tegur William merasa risih, karna Zenith yang sedang memperhatikannya dengan ekspresi menjijikan.
"Mesum? Apanya yang mesum, kalau yang aku perhatikan itu adalah suamiku sendiri!"
"Diamlah, aku sedang tidak berminat untuk berdebat denganmu. Sebaiknya cepat kamu masuk kamar mandi, dan bersihkan dirimu"
"Apa? Barusan, kamu menyuruhku mandi untuk segera mandi?"
"Iya. Apa kamu tuli?"
"Ti_tidak. Baiklah, aku akan segera mandi sekarang, jadi kamu tunggulah disini"
Dengan terburu-buru, Zenith segera meraih handuk yang berada di atas lemari tak jauh dari sana, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa sempat lagi melepaskan gaun pernikahannya.
William yang melihat tingkah amburadul dari wanita itu, hanya bisa memijat dahinya pelan. Ia bahkan bisa membaca dengan jelas apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Zenith dalam otaknya, dan itu membuat William seketika menjadi mual.
"Dasar wanita gila, apa dia pikir aku akan sudi menyentuh tubuhnya atau bahkan sampai berhubungan? Aku juga masih waras!"
Setelah beberapa saat hanya terdengar bunyi tetesan air, akhinya Zenith berjalan keluar dengan berbalut handuk pendek dan tipis yang memang sengaja telah disiapkannya.
Bagian tubuhnya yang berisi di area bokong dan juga payudara, hampir tak bisa tertutup sepenuhnya. Membuat penampilan Zenith saat ini terlihat sangat seksi dan menggoda.
"Aku sudah selesai mandi, sekarang giliranmu mandi. Apa kamu tidak ingin mandi?"
__ADS_1
"Tentu saja aku ingin mandi" jawab William ketus, sambil bangkit berdiri.
"Akhirnya impianku menjadi istri William bisa tercapai juga. Sekarang tinggal membuat keturunan yang wajahnya mirip dengan suami tercintaku itu! Sebaiknya, pakaian seperti apa yang harus aku kenakan untuk bercinta dengannya malam ini?"
Sebuah gaun malam transparan berwarna hitam dalam lemarinya, menarik perhatian Zenith. Gaun itu adalah gaun yang pernah ia beli ketika umurnya baru saja menginjak 17 tahun, dimana ia pertama kali berimajinasi akan menghabiskan malam bersama William.
Tanpa membuang waktu lagi, Zenith segera memakainya. Ukurannya memang sedikit kecil dari ukuran yang biasa dipakai olehnya, namun justru hal itu yang membuat tubuh Zenith terlihat semakin seksi.
"Sekarang, waktunya menunggu penunggang tampanku keluar dari kamar mandi" gumam Zenith sambil membaringkan dirinya diatas tempat tidur.
"Kamu sudah tidur?"
"Ah, belum. Sebenarnya aku hampir saja tertidur saag menunggumu mandi, untungnya tidak benaran terjadi"
"Baguslah kalau begitu. Apa sekarang kita sudah bisa memulainya?" tanya William, dengan perlahan mulai menaiki tempat tidur.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu juga bisa bertingkah seagresif ini, William"
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai apa yang sekarang aku lakukan, atau mau berhenti saja sampai disini?"
"Tentu saja aku menyukainya, sayang. Kamu bahkan bisa melakukannya kapan pun kamu mau, karna aku akan selalu siap" jawab Zenith sambil mengalungkan tangannya ke leher William.
Mendapat lampu hijau dari sang istri barunya itu, William pun langsung melancarkan aksinya. Dengan buas pria itu segera melahap bibir tebal milik Zenith dengan rakus, hingga membuat wanita itu merintih kenikmatan.
Tak hanya sampai disitu saja, William juga menyelipkan sebelah tangannya ke dalam gaun malam Zenith untuk meremas kedua payudara yang ukurannya dua kali lebih besar dari pada ukuran normal wanita lain.
Saat suasananya menjadi semakin panas, dan tubuh keduanya sudah tak lagi ditutupi oleh sehelai benang pun, Zenith semakin siap untuk menerima William di dalam dirinya.
Namun yang dilakukan oleh pria itu sungguh diluar bayangan Zenith. Tanpa rasa bersalah dan tanpa berkata apa-apa, William segera menghentikan aktifitasnya dan memandangi Zenith dengan tatapan menghina.
"A_ada apa William? Kenapa tiba-tiba kamu berhenti, apa ada sesuatu yang salah?" tanya Zenith heran.
"Tidak ada apa-apa, aku berhenti hanya karna merasa lucu saja"
"Merasa lucu? Apa maksudmu?"
"Memangnya ada apa dengan tampilanku sekarang? Apa yang salah?" tanya Zenith semakin tidak mengerti.
"Apa kamu tahu kalau tampilanmu saat ini, terlihat sangat mirip seperti seorang pelacur. Sangat menjijikan dan terlihat seperti hewan yang sangat ingin untuk disetubuhi!"
"A_apa, apa maksudmu?"
Mendengar penghinaan yang kasar keluar dari mulut sang suami, wajah Zenith seketika berubah menjadi merah padam. Dengan malu Wanita itu kemudian segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Apa kamu pikir aku akan benar-benar mau melakukan hubungan intim denganmu? Aku rasa, kamu terlalu percaya diri Zenith"
"Lalu, kenapa kamu melakukan semua ini denganku, kalau tidak ingin berhubungan intim denganku?"
"Entahlah, mungkin karna aku ingin balas dendam padamu, karna kamu sudah berani mengganggu hidupku selama ini"
"Tapi sekarang aku adalah istrimu William, kamu tidak bisa seenaknya memperlakukan aku seperti itu! Kalau kamu masih berani seperti ini padaku, aku akan melaporkannya pada keluargaku dan juga kepada daddymu!"
"Silakan saja jika kamu ingn memberitahu hal ini pada mereka. Aku tinggal jawab saja, kalau aku tidak mau berhubungan intim denganmu, karna merasa percuma. Toh kamu juga tidak akan bisa memberikanku keturunan"
"William!"
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan apa yang aku katakan barusan? Memang benar kan kalau kamu mandul"
"Jangan kurang ajar kamu, apa kamu lupa siapa aku? Aku adalah orang yang tidak akan tinggal diam saja jika diperlakukan seperti ini, aku pasti akan membalasnya!"
"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan Zenith, aku sudah tidak peduli lagi sekarang, karna hidupku sudah hancur olehmu! Tapi ingat satu hal, aku tidak akan membiarkanmu memiliki kehidupan rumah tangga yang indah seperti wanita lain, aku akan membuatmu menderita dengan caraku sendiri!"
Setelah mengatakan ancamannya, William segera memakai kembali semua pakaiannya dan berjalan keluar begitu saja dari kamar. Zenith yang tidak ingin pria itu pergi, berulang kali meneriaki namanya.
__ADS_1
"WILLIAM! KEMBALI AKU BILANG!"
*****
Ketika pagi menyingsing bersama dengan cahayanya yang memasuki kamar dan jatuh tepat diatas wajah Zenith, tubuh wanita itu pun menggeliat mencari posisi nyaman.
Dengan perlahan Zenith bangkit dari posisi tidurnya. Seketika sakit yang teramat sangat langsung menghampiri kepalanya, membuat wanita itu meringis kesakitan.
Entah sejak kapan ia tertidur, Zenith tak bisa mengingatnya. Dirinya hanya ingat setelah kepergian William dengan perlakuan pria itu yang menyakiti hati Zenith, ia hanya bisa menangis tersedu-sedu tanpa henti.
Setelah merasa sakit di kepalanya sedikit berkurang, hal pertama yang dilakukan oleh Zenith adalah berkeliling seluruh sudut kamar untuk mencari keberadaan William. Namun ternyata semalam pria itu tak lagi kembali ke dalam kamar mereka.
"Beraninya dia membiarkanku tidur seorang diri di malam pertama pernikahan kami! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi padaku William!"
"Ya ampun, ternyata pengantin wanita kita yang berbahagia sudah bangun dari tidurnya mommy" ucap Kana yang tiba-tiba sudah ada dalam kamar.
Tak hanya Kana sendiri, namun disebelahnya juga terlihat sosok Ratih yang bibirnya dihiasi dengan senyuman penuh kemenangan. Hanya dengan melihatnya saja, Zenith sudah bisa menebak kalau kedua wanita itu sudah mengetahui apa yang terjadi semalam.
"Tapi mommy penasaran, apakah dia benar pengantin yang sedang berbahagia? Lihatlah wajahnya yang terlihat kesal itu, sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang pengantin baru"
"Benar juga kata mommy. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Zenith, kenapa bisa wajah cantikmu menjadi seperti ini?"
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu! Dari raut wajah kalian berdua, aku bisa tahu dengan jelas kalau kalian juga sudah tahu apa yang telah terjadi semalam diantara aku dan juga William!"
"Semalam? Memangnya apa yang sudah terjadi semalam, apa mommy tahu?"
"Tidak, mommy juga tidak tahu"
Kedua wanita itu semakin terlihat gigih untuk memprovokasi Zenith, supaya menjadi kesal. Namun Zenith yang masih syok dan sedih atas apa yang dilakukan oleh William, tak bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya.
Bahkan saat Kana duduk diatas tempat tidur miliknya, dan dengan sengaja memeriksa seluruh bagian dengan telapak tangannya, Zenith masih tetap terdiam dan hanya memperhatikannya saja.
"Astaga mommy! Coba mommy lihat apa yang baru saja Kana sentuh diatas tempat tidur ini" seru Kana sambil memperlihatkan sebelah tangannya kepada Ratih.
"Apa itu Kana? Ya ampun, kenapa terlihat sangat menjijikan?"
"Entahlah mommy, seperti sebuah cairan yang terasa sangat lengket. Astaga, coba mommy cium baunya, seperti berasal dari daerah intim seorang pelacur!"
"Benar katamu, mommy juga menciumnya seperti itu. Kira-kira, semalam pelacur mana yang berani tidur disini yah? Apa kamu tahu siapa orangnya, Zenith?"
Mendengar penghinaan yang semakin berani dari Kana dan juga Ratih, tiba-tiba kepribadian lain yang berada dalam diri Zenith mulai bangkit. Dengan berani, wanita itu berjalan mendekati Kana juga Ratih.
Tanpa perasaan takut sedikitpun, keduanya malah balas menatap Zenith sambil sesekali tertawa kecil. Namun yang selanjutnya terjadi membuat tawa Ratih dan juga Kana hilang seketika.
Zenith tanpa belas kasihan, menarik rambut keduanya dan menyeret mereka menuju ke arah dalam kamar mandi. Meskipun sudah berteriak minta tolong, namun Zenith tetap enggan berhenti.
"Hentikan Zenith, apa yang kamu lakukan! Lepaskan rambut mommy dan kana, kamu menyakiti kami!"
"Ini belum ada apa-apanya mommy, sebentar lagi kaliam berdua akan merasakan yang lebih menyakitkan dari ini"
"Memangnya, a_apa yang ingin kamu lakukan pada kami?" tanya Kana mulai takut, melihat ekspresi Zenith yang tak biasa.
Dengan santai, wanita itu berjalan ke sudut kamar mandi dan memakai pakaian. Lalu ia kembali lagi sambil membawa seutas tali panjang dan duah buah saputangan, yang entah di dapatnya dari mana.
Mula-mula, ia mengikat tubuh Kana dan juga menyumpal mulut wanita itu menggunakan saputangan. Ratih yang masih bebas, berniat untuk menyerang Zenith dari arah belakang, namun dengan sekali tendang wanita tua itu pun terpental.
Zenith kemudian menyeret tubuh Ratih dan melakukan hal yang sama kepada wanita itu sama seperti yang dilakukannya pada Kana. Setelah selesai, Zenith lalu membiarkan keran air yang berada diatas terbuka dan airnya jatuh membasahi kedua wanita itu.
"Hmmmm, hmmmm, hmmmm" teriak Kana dan Ratih tak jelas berulang kali, seolah sedang meminta tolong.
"Percuma saja kalian teriak seperti itu, karna tidak akan ada yang mendengarnya. Oh iya, aku hampir lupa untuk melakukan sesuatu"
Dengan tak terduga, wanita yang sudah dipenuhi oleh niat jahat itu, mulai mencopot satu persatu pakaian Ratih dan juga Kana hingga keduanya menjadi polos tanpa sehelai benang.
__ADS_1
"Taraaaaaa! Sekarang kalian berdua sudah terlihat mirip dengan pelacur murahan, apa kalian suka dengan tampilan barunya? Ah, sepertinya kalian menyukainya. Kalau begitu, aku akan keluar dan membiarkan kalian berdua bersenang-senang disini selama yang kalian mau. Bye" ucap Zenith sambil tertawa mengerikan dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Bersambung...