The Ugly Wife

The Ugly Wife
Pindahan Bersama


__ADS_3

"Besar banget apertemennya, ini sih dua kali lebih besar dari apartemen kita yang dulu! Iyakan Fa, Ngel?"


Angel dan Mira memandang sekeliling apertemen yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka bertiga dengan pandangan takjub.


Sedangkan Asyifa hanya bisa tersenyum, karna ia sudah melihatnya lebih dulu bersama William dan pemilik gedung apartemen itu.


"Ini beneran udah kamu beli buat kita bertiga tinggal, Will? Pasti mahal banget kan?" tanya Angel masih tak percaya.


"Udah jangan dilihatin saja, ayo pilih kamar. Supaya aku bisa suruh tukang angkut barang, buat masukan barang bawaan kalian ke kamar masing-masing"


Setelah seminggu yang lalu Asyifa meminta bantuan William untuk mencarikannya apertemen baru, pria itu malah langsung membawanya ke tempat ini.


Setelah melihat gedung dan ruangan apartemen yang besar itu, dengan tegas Asyifa menolak untuk tinggal disana.


Tapi tanpa sepengetahuan Asyifa, ternyata William sudah membeli lunas unit apartemen itu dengan nama Asyifa sebagai pemiliknya.


Meskipun ingin sekali menolak hal itu, tapi semua tidak bisa dibatalkan lagi dan akhirnya Asyifa terpaksa menandatangani surat kepemilikan apartemen.


"Saatnya beres-beres barang, semangat semuanya! Eh, tapi ini benaran kita tidak perlu membayar sewa per bulan?"


"Iya, Mira. Ini sudah ke berapa kalinya kamu bertanya seperti itu. Kalian tenang aja, karna unit apartemen ini, kepemilikannya atas nama Asyifa"


"ASYIFA?" tanya Mira dan Angel bersamaan.


"Iya, Asyifa tidak menceritakannya kepada kalian berdua?"


"Kok kamu tidak cerita sama kita sih, Asyifa? Kebiasaan banget, deh! Iyakan Ngel?"


"Sorry guys. Aku tidak menceritakannya, karna takut kalau suatu hari nanti aku putus sama William, berarti apartemen ini juga bukan menjadi milikku lagi"


"Kok kamu bilang gitu sih, sayang?"


"Iya Fa, belum juga ada sebulan resmi jadian, masa udah mikirin putusnya aja!"


"Aku cuman memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan nanti, Ngel. Kita cuman bisa merencanakan, tapi semuanya tetap tuhan yang mengatur"


"Pokoknya kita tidak akan putus dan akan sampai menikah, kemudian memiliki anak dan menua bersama! Semoga, amin" ucap William yang disambut tawa oleh ketiga gadis di hadapannya.


"Aminnnn" ucap ketiga gadis itu bersamaan.


"Yah sudah, ayo mulai beresin barang-barang kalian. Aku mau pergi ke luar sebentar untuk beli makanan, soalnya ini sudah jamnya makan siang"


"Dari pada kamu repot keluar beli makanan, mending kita pesan antar aja gimana?"


"Aku setuju sama usul Asyifa! Biar Angel aja yang pesankan makanannya, dia punya aplikasi ojek online yang biasa kami pakai buat pesan antar makanan"


"Kalau kalian maunya begitu yah aku ikutan aja. Lagian kalau begitu, aku jadi punya banyak waktu untuk bantuin kalian pindahkan barang yang berat"


"Ok deh! Kalau gitu, aku pesan apa nih buat kita makan? Gimana kalau nasi rendang?"


"Enak tuh kayaknya, apalagi minumnya yang dingin-dingin, mantap banget! Kalau kalian pasangan serasi gimana, setuju tidak?"

__ADS_1


"Setuju!" jawab keduanya bersamaan.


Sambil menunggu makanan mereka sampai, keempat orang itu sibuk mengeluarkan barang bawaan yang berada dalam kardus-kardus.


Ting.. Tong... baru lima belas menit, bel apartemen berbunyi nyaring.


"Itu pasti makanan pesanan kita, aku angkat ke depan dulu yah! Makanan, aku datang!"


Mira berlari dan berbelok menuju pintu aperetemen dengan cepat, membuat ketiga orang yang melihat hal itu tertawa lucu.


Namun tawa itu seketika hilang, saat melihat sosok pria tampan yang kembali bersama dengan Mira.


"Taraa, lihat guys! Siapa yang datang bersama denganku? Benar sekali, ini adalah bos kita, pak Zidan!"


"Wah! Kok, pak Zidan bisa ada disini?" tanya Asyifa dengan wajah senang yang terlihat dipaksakan.


"Jadi begini, tadi saat mengambil makanan dari kurir, aku tidak sengaja bertatapan muka dengan pak Zidan di depan unit apartemen kita. Kalian tau apa? Ternyata, pak Zidan adalah pemilik unit apartemen disebelah kita! Keren kan guys? Lalu saat aku bilang kita baru pindah hari ini dan sedang beres-beres barang, pak Zidan menawarkan untuk ikut membantu!"


"Ah iya, keren sekali. Terima kasih yah pak, sudah mau ikut membantu kami" ucap Angel sambil menatap Mira kesal.


Angel dan Asyifa tak menyangka ternyata mereka memiliki sahabat yang jalan pikirannya benar-benar tak terduga seperti Mira.


"Kalian bisa panggil saya Zidan saja. Kita sedang berada di luar kantor, jadi tidak usah pakai bapak segala"


"Tapi tetap saja rasanya tidak sopan. Pak Zidan kan pemilik perusahaan tempat kami bekerja, jadi mau di luar atau di mana pun, kami tetap harus memanggil bapak seperti itu"


"Yah sudah kalau begitu, panggil saya Zidan hanya untuk hari ini saja!"


"Baik pak" ucap Asyifa dan Mira pasrah.


"Saya rasa tidak membutuhkan persetujuan anda untuk bisa berada disini, karna yang akan tinggal di apartemen ini bukan anda kan? Tapi yang akan tinggal disini adalah ketiga karyawan saya, dan sebagai bos sekaligus tetangga baru mereka yang baik, saya ingin memberikan bantuan!" balas Zidan sama tak sukanya dengan kehadiran William.


"Oh iya, kita mau makan siang pak, bapak sudah makan belum?" tanya Asyifa mencoba mengalihkan topik antara dua pria yang saling melemparkan tatapan permusuhan.


Zidan mengangkat sebuah plastik yang ada ditangannya, supaya dilihat Asyifa "Saya baru saja pulang membeli makan siang di luar"


"Pas banget, kalau begitu ayo kita makan bersama dulu pak! Setelah makan, baru deh kita bekerja keras!"


"Ah iya, benar kata Mira. Ayo pak"


Kelima orang itu segera mengambil tempat di meja makan yang berada di dekat dapur dan mulai menikmati makan siang masing-masing tanpa obrolan.


Setelah makan siang, mereka mulai sibuk bekerja. Asyifa, Mira dan Angel, sibuk menyusun barang milik pribadi mereka di kamar masing-masing.


Sedangkan William dan Zidan meskipun masih dengan suasana permusuhan, namun kompak memindahkan dan menata barang-barang berat seperti lemari pakaian, meja kerja, atau pun barang lain milik ketiga gadis itu yang membutuhkan tenaga pria.


Saat jam menunjukkan tepat pukul delapan malam, pekerjaan kelima orang itu pun juga telah selesai.


"Gila, capek banget! Badanku rasanya pada remuk semua"


"Kamu yang cewek aja segitu capeknya Ra, apalagi pak Zidan dan William"

__ADS_1


"Ini, aku bikinkan mie goreng. Dimakan dulu buat mengganjal perut, dari pada harus lama menunggu pesan antar"


Asyifa meletakkan lima mangkuk besar berisi mie goreng dengan porsi lumanyan banyak dan lima botol air mineral diatas meja makan.


"Ya ampun Asyifa, kamu emang paling keren deh! Tau aja kalau lagi capek, pasti bawaannya lapar juga" ucap Mira sambil mengambil bagiannya diikuti yang lainnya.


"Kamu dapat semua ini dari mana, sayang? Bukannya dari tadi kamu sama kita semua disini beresin barang-barang?"


"Tadi pas bongkar kardus punyaku, aku nemuin 1 dos mie goreng dan air mineral yang ternyata ikut dibawa ke sini juga sama jasa angkut barang. Padahal aku kira mereka bakal ninggalin di apartemen lama gitu aja, jadi tadi aku langsung spontan dapat ide buat nyiapin makan malam pakai ini semua"


"Kenapa tidak suruh aku sama Mira buat bantuin kamu juga sih, Fa?"


"Cuman masak mie goreng biasa, aku sendiri juga bisa lah"


"Mie gorengnya enak. Ternyata selain pintar dalam urusan kerjaan, kamu pintar masak juga yah Asyifa"


"Yang benar aja rasanya enak pak?" tanya Asyifa tak percaya.


Zidan hanya bisa mengangguk karna saat ini mulutnya sedang terisi penuh. Melihat hal itu, Asyifa tersenyum senang membuat William mendadak kehilangan selera makannya.


"Aku sudah selesai makan. Asyifa, antarkan aku ke bawah yah? Aku harus langsung pulang, karna ada janji makan malam jam sembilan ini dengan keluargaku di rumah"


"Ya ampun, kenapa kamu tidak bilang? Aku jadinya malah membiarkanmu terus ada disini untuk membantu kami"


"Tidak apa-apa, sayang. Bukan salahmu, aku sendiri yang mau"


"Yah sudah, aku antar kamu ke bawah yah"


Sebelum pergi, William kembali menatap Zidan dengan kesal "Apakah anda tidak akan kembali ke apartemen sendiri? Ini sudah malam!"


"Saya ingin membantu mereka membereskan mangkuk bekas makan malam kita. Lagian tempat tinggal saya tepat di sebelah, jadi tidak masalah kan kalau saya tinggal sedikit lebih lama disini? Saya tidak punya janji makan malam dengan keluarga dan sebagainya, anda tidak perlu khawatir"


William mengepalkan tangannya menahan emosi mengetahui Zidan akan tetap berada lebih lama dengan kekasihnya, di dalam apartemen yang ia beli menggunakan uangnya sendiri.


Kalau bukan karena ada janji, ia tidak akan mungkin mau pulang saat pria itu masih berada disana.


Entah karena adalah sesama pria, William merasa perlakuan dan tatapan Zidan kepada Asyifa terasa berbeda. Ia merasa Zidan seperti memiliki perasaan khusus terhadap kekasihnya itu.


Asyifa memeluk lengan kekasihnya mesra karena melihat William diam saja "Sayang? Ayo ke bawah"


"Iya sayang, ayo. Semuanya aku pulang yah" pamit William sambil membelai tangan Asyifa yang sedang merangkulnya dan menatap Zidan dengan wajah penuh kemenangan. Seolah ingin memamerkan kemesraan dirinya dengan Asyifa.


"Iya, hati-hati Will"


"Sampai jumpa lagi"


"Dasar kekanakan!" ucap Zidan tanpa suara yang bisa di mengerti oleh William.


Sebelum bisa membalas Zidan, William sudah di paksa Asyifa untuk segera pergi. Ia hanya bisa pasrah dan Zidan tersenyum mengejek.


Tanpa mereka ketahui, Angel memperhatikan tingkah keduanya. Gadis itu mulai mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang diperebutkan kedua pria itu, sampai mengibarkan bendera permusuhan.

__ADS_1


"Hebat banget, Asyifa!" gumam Angel pelan.


Bersambung...


__ADS_2