The Ugly Wife

The Ugly Wife
Malam menyedihkan


__ADS_3

Entah berapa lama Asyifa jatuh pingsan, ia tak tahu. Yang pasti saat dirinya kembali sadar, hal pertama yang dilihatnya adalah dirinya yang kini sedang dalam keadaan terikat, dan berada di dalam gubuk.


Disampingnya, tergeletak juga tubuh Eden yang tak berdaya dan anehnya masih tetap dalam keadaan pingsan. Asyifa memadangi sekeliling gubuk, berusaha memastikan kalau tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua di dalam gubuk.


"Eden! Eden, bangun!" teriak Asyifa, sambil mengguncang tubuh Eden menggunakan sebelah kakinya dengan susah payah.


Namun Eden tetap pada keadaannya yang sebelumnya, seolah dirinya sudah meninggal. Asyifa yang ketakutan, segera mendekatkan wajahnya ke arah Eden.


Ketika dirasanya ada hembusan nafas dari pria itu mengenai sebelah pipinya, Asyifa pun menjadi lega. Tapi meskipun masih bernafas, Asyifa merasa hembusan dan deru nafas Eden sedikit terasa berbeda.


Nafasnya terasa sangat pelan dan terdengar lemas, seperti seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat. Asyifa juga memperhatikan bibir dan wajah Eden, terlihat sangat pucat.


"Astaga, kenapa dia lama sekali pingsannya? Eden! Hei, cepatlah sadar, kita harus segera keluar dari gubuk ini!" teriak Asyifa sekali lagi, sambil berusaha menahan tangis.


"Kamu tidak mungkin sedang sekarat kan? Padahal baru siang tadi kamu masih terlihat baik-baik saja, cepatlah bangun dan tidak usah berpura-pura seperti orang yang sedang sekarat lagi!"


"Dia memang sedang sekarat, Asyifa"


Sebuah suara lain terdengar membalas ucapan Asyifa dari arah pintu gubuk, namun Asyifa tidak bisa melihat siapa orang tersebut karna ia berdiri dibagian yang tidak mendapat cahaya lampu.


Tapi dari suaranya, Asyifa merasa sangat suara itu sangat familiar di telinganya. Asyifa berusaha keras untuk mengingat pemilik suara itu, namun ingatannya menuju kepada orang yang tidak pernah diduga olehnya.


"A_apa, ka_kamu ibu panti? Tidak mungkin,Ibu panti pasti tidak akan tega membunuh anak asuhnya dengan brutal seperti itu"


"Kenapa tidak mungkin? Ibu panti kan juga seorang manusia, mungkin saja dia adalah seorang psikopat yang bersembunyi dibalik statusnya sebagai ibu panti"


"Tidak! Ibu panti yang diceritakan oleh Rora dan Nana, adalah ibu panti yang baik hati dan sangat sayang kepada anak-anak asuhnya. Dia bahkan tidak pernah memukuli ataupun memarahi mereka, jika mereka melakukan kesalahan"


"Asyifa, Asyifa. Kamu pastinya adalah wanita beruntung yang selalu hidup dalam sebuah lingkungan tentram dan nyaman, sehingga kamu tidak bisa mengerti seperti apa sifat seorang psikopat"


"Diam! Jangan bicara lagi, dan cepat tunjukan wajahmu! Aku ingin lihat wajah iblis seperti apa yang berani membunuh Elisa, membuat seorang anak hilang hingga saat ini, membuat Eden tidak sadarkan diri, memukul kepalaku hingga aku pingsan, dan juga menghina ibu panti!" ucap Asyifa dipenuhi amarah.


"Hahahaha, kamu bahkan sudah tahu tentang kejadian anak hilang itu yah? Tapi kamu pasti belum tahu tentang kasus lain yang lebih mengerikan lagi bukan?"


"Kasus lain? Ka_kasus apa yang sedang kamu bicarakan! Apa kamu membunuh orang lain selain Elisa?!"


"Tentu saja ada orang lain selain Elisa, Asyifa. Bahkan Elisa itu adalah mainanku yang ke,__ berapa yah? Entahlah, aku lupa!" jawabnya santai sambil terkekeh pelan.


"Dasar perempuan gila! Tidak, kamu bahkan bukan seorang manusia, kamu adalah iblis! Aku bersumpah akan membuatmu segera masuk ke dalam penjara, lalu membusuk selamanya disana!"


Plok... Plok... Plok...


Bukannya membalas semua cercaan yang diucapkan oleh Asyifa, sosok itu malah mulai bertepuk tangan sambil tertawa riang.


Perlahan-lahan, ia mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gubuk hingga bisa terlihat jelas oleh Asyifa.


"I_ibu?" panggil Asyifa tercekat.


"Iya, ini aku Asyifa. Kenapa sekaget itu, aku pikir kamu bisa mengenaliku hanya dengan mendengar suaraku saja. Atau, apakah kamu berpura-pura menyangkalnya di dalam hati?"


"Ke_kenapa?"


"Kenapa apanya Asyifa? Cobalah bertanya yang lebih jelas, kalau hanya sepotong saja, aku tidak bisa mengerti dan juga tidak bisa menjawabnya"


"Kenapa ibu melakukan semua itu? Kenapa harus ibu pelakunya? Kenapa?! Ibu adalah orang terdekat anak-anak, tapi ibu juga yang menjadi orang berbahaya bagi mereka! Ada apa sebenarnya, kenapa ibu melakukan semua ini!"


"Um, kenapa yah? Mungkin untuk sekedar bermain saja?"


"Pe_permainan? Apa kamu gila! Bagaimana bisa kamu menjadikan nyawa anak-anak tak berdosa itu sebagai suatu permainan!" teriak Asyifa murka.


"Kamu bagaimana bisa kan? Tentu saja bisa, karna mereka adalah anak-anak yang sudah dengan susah payah aku kumpulkan sebagai ganti semua hewan peliharaanku yang telah mati. Aku merasa kesepian Asyifa, karna semua hewan itu sudah seperti keluargaku sendiri. Itulah mengapa aku membuat sebuah keluarga baru, tapi kali ini bukan dengan menggunakan hewan, tapi manusia yang bisa terlihat sama persis seperti hewan"

__ADS_1


"Sama persis seperti hewan? Apa maksudmu, mereka itu bukan hewan! Terlihat seperti hewan sedikit saja pun juga tidak!"


"Mereka sungguh terlihat seperti hewan Asyifa, aku tidak berbohong. Mereka tidak punya majikan untuk pulang, juga tidak punya sarang untuk tinggal, dan yang lebih mirip lagi adalah, mereka akan langsung mengikuti kemana pun aku pergi saat diberikan secuil makanan"


Mendengar jawaban yang diberikan wanita itu, Asyifa sungguh syok dibuatnya. Asyifa bahkan tidak pernah menyangka bahwa apa yang sering ditontonnya di sebuah film, bisa terjadi juga di dunia nyata.


Seorang manusia yang memiliki pemikiran dan keinginan yang mengerikan seperti iblis, berpura-pura hidup seperti seorang malaikat dan membuat semua orang disekitarnya tertipu.


"Ja_jadi, kamu membunuh Elisa dan juga menghilangkan seorang anak lainnya, karna hanya ingin memuaskan keinginanmu saja, tanpa adanya alasan yang jelas?"


"Anak hilang itu, dia sebenarnya juga telah menjadi sama dengan Elisa. Tapi bedanya, ia tidak ku perlihatkan pada semua orang, karna dia memang adalah target permainanku yang baru. Kalau Elisa, dia cuman sedang bernasib buruk saja karna terlalu rewel dan juga sangat menyusahkan!"


"Tapi kenapa Eden yang juga adalah anak asuhmu, bisa kamu rawat hingga dewasa dan bisa keluar dari panti? Sedang anak lain kamu akhiri nasib mereka dengan kejam!"


"Karna dia adalah anakku" jawab ibu panti dengan tatapan tak berdosa.


"A_anak?"


"Iya, dia adalah anak kandungku dari seorang pria di desa ini yang pernah menjadi suamiku. Aku sengaja membesarkannya dengan baik, karna ingin menjadikannya sama sepertiku, tapi anak sialan itu malah menuruni sifat ayahnya yang lemah hatinya!"


Asyifa memandangi wajah tampan Eden yang sampai saat ini masih juga tak sadarkan diri dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa pria disebelahnya itu adalah anak dari wanita yang memiliki kepribadian mengerikan.


"Awalnya meskipun terpaksa, tapi dia tetap bersedia untuk membantuku dalam semua hal yang aku lakukan, tapi entah mengapa sejak kedatangmu, dia menjadi berubah. Dia sering membantah dan juga berani melawan perintahku. Dia bahkan menangis seperti seorang anak kecil setelah ku perintahkan untuk membunuh Elisa, dan ingin mengakui semua kejahatannya pada petinggi desa. Dasar anak pecundang!"


"La_lalu, apa maksud perkataanmu yang mengatakan bahwa Eden memang sedang sekarat saat ini?"


"Apa kamu bodoh? Kalau aku bilang sekarat, yah berarti sekarat! Memangnya ada arti yang lain lagi?"


"Aku tahu, tapi maksudku kenapa dia bisa sampai sekarat?"


"Benar juga, kalau dari posisimu sekarang, kamu tentunya tidak akan bisa melihatnya. Sebentar, biar aku perlihatkan"


Ketika ia mengangkat tangannya untuk bisa diperlihatkan kepada Asyifa, seketika itu juga tubuh Asyifa menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.


Telapak tangan wanita itu kini terbingkai oleh warna merah darah yang terlihat mengental. Mau tidak mau, Asyifa segera teringat akan genangan air yang sempat dilihatnya di rumah Eden.


"Ja_jangan bilang, i_itu adalah darah Eden? Be_berarti, darah yang ku lihat di rumah Eden juga adalah darahnya?" tanya Asyifa, bergetar hebat.


"Benar sekali Asyifa! Itu semua adalah darah dari anakku yang tidak berguna ini, kalau saja dia mau menuruti semua peintahku, pastinya aku tidak akan melakukan semua ini padanya"


"Tapi dia adalah darah dagingmu, bagaimana kamu bisa setegah itu? Bagaimana kalau dia sampai meninggal karna kehabisan darah!"


"Tidak masalah kalau dia meninggal, karna aku tidak membutuhkan seorang keturunan yang lemah dan tidak bisa diandalkan sama sekali sepertinya!"


"Tidak, Eden tidak boleh meninggal, tidak boleh ada yang meninggal lagi seperti Elisa! Aku mohon selamatkan dia, tolong biarkan dia hidup! Aku, bagaimana kalau aku saja yang menggantikannya? Iya, aku yang akan menggantikannya, tapi aku mohon tolong selamatkan dia!"


"Ahahaha, kalian berdua benar-benar cocok sekali. Apa kamu tahu, saat aku memberinya perintah untuk membawakanmu kepadaku sebagai tugas terakhirnya untuk bisa hidup bebas, dia juga bersikeras memohon agar kamu bisa lolos. Lalu sekarang, giliran kamu yang memohon untuknya. Kenapa kalian tidak menikah saja, ketika sudah berada di alam baka nanti?"


"Alam baka?"


"Iya, kamu juga akan secepatnya bernasib sama sepertinya. Jadi kamu tidak perlu takut dia akan kesepian nanti disana, bukankah itu adalah ide yang sangat bagus?"


Kemudian, wanita itu berbalik dan membawa keluar sebuah tas yang telah disimpannya sedari tadi disudut gubuk itu. Asyifa yang memperhatikan, hanya bisa bertanya-tanya apa isi dari tas itu.


Setelah semua isi tas itu dilekuarkan, firasat buruk pun menghampiri diri Asyifa. Ternyata isinya adalah berbagai macam peralatan tajam dan juga sangat berbaya.


Dada Asyifa tiba-tiba saja menjadi sulit untuk bernafas, karna ia kembali teringat akan penyiksaan terakhir yang didapatnya dari Laras. Itu adalah peralatan yang sama dengan yang digunakan oleh Laras.


"Ya ampun, kenapa kamu sudah bereaksi saja sih? Padahal aku belum juga memulai awal pertunjukkanku. Apa jangan-jangan, kamu memiliki sebuah pengalaman buruk dengan salah satu benda yang ku miliki?"


"Ja_jauhkan, a_aku mohon jauhkan!" mohon Asyifa dengan suara pelan, bahkan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Apa? Aku tidak dengar Asyifa, apa kamu ingin aku mendekatkan benda ini ke arahmu? Baiklah, aku datang"


Sambil memegang sebuah alat kejut listrik, wanita itu pun mendekat ke arah Asyifa. Dan tanpa menunggu lagi, segera menyentuhkan benda mengerikan itu ke atas tubuh Asyifa sebanyak yang ia inginkan.


Ketika ia berhenti karna sudah merasa bosan dengan kejut listrik, tubuh Asyifa pun menjadi lemas tak berdaya. Selanjutnya, ia mengambil tang dan kembali mendekati Asyifa.


Satu persatu kuku jari dan tangan Asyifa dicabutnya hingga tak bersisa sedikit pun dan mengeluarkan banyak darah. Asyifa yang sudah tidak kuat lagi merasakan kesakitan itu, akhirnya kembali jatuh pingsan.


"Apa? Sudah pingsan? Astaga, kenapa dia lemah sekali sih? Kalau seperti ini, semuanya tidak akan terasa menyenangkan sama sekali dan bahkan menjadi membosankan!" gerutu wanita itu kesal.


Ia mengambil seember air dari belakang gubuk, dan menyiramkannya ke atas tubuh Asyifa begitu saja. Tapi karna Asyifa tetap tidak bangun, ia terus menyiramnya selama beberapa kali hingga akhirnya Asyifa pun kembali sadar.


"Akhirnya sadar juga kamu! Seenaknya saja pingsan, siapa yang memberikanmu ijin untuk melakukannya?!"


"A_aku mo_mohon, he_hentikan" jawab Asyifa dengan suara bergetar, dan air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya.


"Aku hanya akan berhenti, sampai kamu juga menjadi sekarat seperti anak sialan yang ada disampingmu itu. Atau bahkan sampai kamu mati, hanya aku yang boleh menentukan!"


"To_tolong! To_tolong, a_aku!" teriak Asyifa putus asa, dengan sisa tenaganya yang masih ada.


"Teriak saja sepuasmu, karna tidak akan ada seorang pun yang bisa mendengarkan suara permintaan tolongmu itu! Bahkan semut saja tidak bisa mendengarnya!"


"Ti_tidak, a_aku yakin, pa_pasti ada, ya_yang akan, da_datang menolongku!"


"Yah, yah, yah, terserah kamu saja. Silakan berkhayal sepuas yang kamu bisa, tapi jangan marah karna aku akan kembali melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda tadi. Apa kamu sudah siap?"


Kali ini yang diambil wanita itu adalah sebuah cambuk panjang berwarna hitam, ia pun kemudian menjabuki semua bagian tubuh basah kuyup Asyifa sambil menyeringai puas.


Bahkan walaupun cambuk itu juga ikut mengenai tubuh Eden yang berada disamping Asyifa, ia terlihat tidak peduli sama sekali. Malah dengan sengaja, ia juga beberapa kali menjambuki pria itu.


Asyifa yang kembali merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, sekali lagi mulai kehilangan kesadarannya. Tapi dirinya ingat akan satu hal, bahwa kapan pun ia memanggil nama Zidan untuk meminta bantuan, pria itu asti akan langsung datang.


"Zi_Zidan, to_tolong aku!" seperti orang bodoh yang percaya akan hal seperti itu, Asyifa pun meneriaki nama Zidan disaat terakhir dirinya akan kembali pingsan.


Wanita psikopat yang mendengar teriakan Asyifa pun ikut tertawa mengejek, tapi yang terjadi selanjutnya akan membuatnya diam seketika dan tak berani bergerak.


Ternyata apa yang Asyifa yakini menjadi sebuah kenyataan. Karna dari arah luar gubuk itu, suara teriakan polisi yang telah berhasil mengepung wanita itu pun menggema keras di tengah malam yang sunyi.


Ketika wanita itu baru saja akan melarikan diri meninggalkan Asyifa dan Eden melalui pintu belakang gubuk, Zidan yang juga tak kalah cepatnya langsung menghentikannya, dengan menendang kaki wanita itu.


"Mau kemana kamu? Dasar wanita tua yang menyusahkan, beraninya kamu membunuh anak yang tidak berdosa itu!" marah Zidan, sambil menahan kedua tangan wanita itu.


"Ya tuhan! Asyifa!" teriak Adam yang baru saja masuk ke dalam gubuk bersama Raka, dan melihat keadaan Asyifa.


Zidan yang memang saat masuk tak sempat melihat ke sekeliling gubuk, seketika segera melihat ke arah pandang Adam saat ini. Pria itu pun langsung melepaskan cekalannya pada tangan pelaku dan digantikan oleh Raka, lalu segera menghampiri tubuh Asyifa.


"Asyifa, Asyifa, bangun Asyifa! Aku mohon tolong bangun Asyifa, jangan membuatku takut! Tolong bangunlah!" teriak Zidan sambil menepuk pelan kedua pipi Asyifa.


Adam yang cekatan, segera memanggil tim medis yang juga datang bersama mereka dan para polisi, untuk segera menangani kondisi Asyifa dan juga Eden.


Keduanya pun dibawa dengan tandu menuju arah rumah Eden, tempat dimana tim medis memarkirkan mobil ambulans. Zidan yang selalu menemani disamping Asyifa, pun turut masuk ke dalam ambulans.


Sedang wanita psikopat itu telah diborgol oleh polisi dan dibawa masuk ke dalam mobil patroli, untuk selanjutnya dibawa kembali ke panti dan dimintai keterangan lebih lanjut.


Malam itu, menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan oleh para anak panti, para warga desa, dan juga semua orang yang ikut terlibat di dalamnya, termaksud oleh Asyifa sendiri.


Malam yang menjadi tragedi, sebuah topeng lepas dan menampilkan wajah asli dari sang ibu panti, yang sering dipuja karna sifat dan penampilannya yang sebaik malaikat.


Malam dimana semua mayat anak-anak panti lainnya yang juga menjadi korban ibu panti, ditemukan dalam keadaan sudah tersisa tulang belulangnya saja.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2