
Di lorong-lorong rumah sakit yang terselimuti kesunyian, dalam sekejap mata berubah gaduh dengan derap langkah kaki Asyifa dan juga Zidan yang sedang terburu-buru menuju ke ruangan Eden.
Keduanya seolah masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh perawat di telepon, dan demi untuk membuktikan secara langsung, Asyifa rela meninggalkan acara lamarannya yang masih berlangsung.
"Dokter" panggil Asyifa, pada pria berpakaian serba putih yang baru saja keluar dari dalam kamar rawat Eden.
"Ibu Asyifa, pak Zidan, ternyata kalian sudah datang. Maaf karna harus menghubungi kalian secara tiba-tiba, tapi ini adalah sebuah kejadian yang sangat jarang terjadi. Itulah mengapa aku harus berbicara langsung pada ibu Asyifa dan pak Zidan"
"Tidak apa-apa dok. Tapi apa benar sekarang pasien itu telah sadar kembali, karna jujur saja, aku dan juga Asyifa masih belum bisa percaya"
"Benar pak Zidan, pasien sekarang sudah sepenuhnya sadar meskipun kondisinya juga masih sangat lemah. Kalau mau, pak Zidan dan ibu Asyifa bisa menjenguknya langsung"
"Terima kasih banyak, dok"
"Sama-sama ibu Asyifa. Tapi sebelum itu, apa aku boleh meminta tanda tangan ibu Asyifa untuk keperluan beberapa tes yang harus dilakukan pada pasien?"
"Bagaimana kalau memakai tanda tanganku saja, dok? Lagipula, aku atau pun Asyifa yang bertanda tangan tidak akan ada bedanya, karna sekarang kami berdua sudah resmi bertunangan" usul Zidan cepat.
"Benarkah? Wah, kalau begitu aku ucapkan selamat pada pak Zidan dan juga ibu Asyifa, atas kabar bahagia ini"
"Terima kasih dok"
"Sama-sama pak Zidan. Oh iya, bagaimana kalau sekarang kita langsung menuju ke ruanganku supaya pak Zidan bisa menanda tangani dokumen persetujuannya?"
"Baik dok. Asyifa, kamu silakan temui Eden terlebih dulu, nanti aku akan menyusulmu setelah selesai dari ruangan dokter"
Setelah ditinggal oleh Zidan dan juga dokter, Asyifa malah berdiri mematung di depan pintu kamar Eden seperti orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa.
Sebenarnya hati Asyifa belum siap untuk bertemu dan juga berbicara langsung kepada Eden, apalagi sampai harus membahas tentang peristiwa tragis yang dilakukan oleh ibu pria itu.
Beberapa saat bergelut dengan pikirannya, Asyifa pun menguatkan diri untuk membuka lebar pintu tersebut. Dan tampillah sosok Eden yang sedang makan dengan bantuan dari seorang perawat.
"Bu Asyifa, ibu sudah datang?" sapa perawat tersebut ramah, saat melihat Asyifa.
"Iya, maaf kalau aku datangnya sedikit lambat, karna tadi saat kamu menelpon, aku sedang berada di tengah sebuah acara"
"Tidak apa-apa bu. Tapi apa ibu Asyifa datang seorang diri saja, pak Zidannya mana bu?"
"Zidan sedang mengurus beberapa berkas dengan dokter, diruangan dokter. Jadinya aku disuruh masuk duluan, untuk menjenguk keadaan Eden"
"Ah, begitu rupanya. Apa ibu Asyifa ingin aku tinggal berdua saja dengan pak Eden? Aku akan kembali lagi nanti setelah kalian selesai bicara. Lagipula, ini sudah waktunya aku harus mengecek pasien lainnya"
"Iya, tidak masalah sus"
"Apa ibu Asyifa bisa melanjutkannya?" tanya suster, sambil menyerahkan mangkuk bubur milik Eden ke arah Asyifa.
"Tentu saja bisa"
"Terima kasih bu, aku permisi dulu"
"Iya, silakan sus"
Bersamaan dengan bunyi pintu yang ditutup, Asyifa pun berjalan ke arah samping tempat tidur Eden, dan duduk di kursi yang ada disana dengan gerakkan canggung.
"Hai Asyifa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat wajahmu. Apa cuman perasaan saja, atau memang aku tidur sepanjang waktu yah?" tanya Eden, dengan nada bercanda.
"Dasar bodoh! Apa kamu pikir itu lucu, apa kamu pikir aku senang melihatmu berada dalam kondisi seperti itu?"
"Astaga Asyifa, aku hanya bercanda saja tadi, kamu tidak perlu semarah itu. Lagipula, aku sekarang sudah baik-bai saja kan? Coba lihat saja sendiri, aku sudah lancar bicara dan juga bisa bercanda seperti dulu"
"Aku tidak mengerti, Eden"
"Apa yang tidak kamu mengerti, Fa?"
"Yang tidak aku mengerti adalah, kenapa kamu harus membantah keinginan ibumu dan malah membahayakan dirimu sendiri? Apa kamu sudah bosan hidup?!"
__ADS_1
"Emm, mungkin bisa dibilang begitu"
"EDEN! Aku tidak sedang bercanda, aku serius bertanya sekarang!"
"Aku juga serius Asyifa, malah sangat serius. Apa kamu pikir aku akan tetap ingin hidup saat disuruh membantu pembunuhannya secara terus-menerus? Aku yang dulu punya tujuan hidupku sendiri, perlahan-lahan mulai kehilangan tujuan itu demi memuaskan nafsu membunuhnya. Setiap kali aku ingin kabur, dia selalu mengancamku dengan perkataan akan membunuh semua anak panti sekaligus. Tentu saja aku yang tidak ingin hal itu sampai terjadi, pada akhirnya harus kembali menuruti perintahnya"
"Tapi dengan menuruti perintahnya, sama saja kamu membiarkannya untuk membunuh semua anak panti meskipun secara perlahan! Dan kenapa baru sekarang kamu melakukan perlawanan padanya?" jawab Asyifa, merasa tidak puas dengan jawaban Eden.
"Apa kamu bisa melihat warna merah yang memenuhi permukaan kulitku? Warna merah itu disebabkan oleh darah yang mengalir di dalam tubuhku, dan darah itu berasal darinya Asyifa. Mau sebagaimana pun buruk dirinya, dia tetaplah ibu kandungku, dan itulah yang membuat mataku buta, serta terus berharap dirinya akan berubah suatu saat nanti. Tapi nyatanya? Dia malah menjadi semakin tak terkendali, bahkan sampai ingin membunuh dirimu juga"
"Apa benar, karna ibumu ingin membunuhku makanya kamu membantah perintahnya, dan malah berakhir seperti ini?"
"Bisa dibilang begitu"
"Tapi kenapa? Dibandingkan dengan semua anak panti yang sudah lama hidup bersama denganmu, aku hanyalah seorang asing yanh berasal dari kota. Kenapa kamu melakukan semua itu demi melindungiku?"
"Entahlah, mungkin karna hanya kamu lah satu-satunya orang yang bisa aku andalkan untuk menjaga anak-anak malang itu, saat diriku telah tiada nanti"
"Bagaimana bisa kamu seyakin itu kalau aku akan bersedia merawat mereka? Bagaimana kalau aku malah menelantarkan, atau pun melakukan hal jahat lainnya pada mereka?"
"Aku rasa itu tidak mungkin. Karna kamu memiliki tekad kuat untuk melindungi mereka dan enggan pergi dari desa, meskipun kamu telah menyadari ada bahaya yang sedang terjadi disana"
"Ka_kamu mendengarnya? Bagaimana bisa kamu mendengarnya, sedang jarak kita waktu itu sangat jauh?" Asyifa tampak terkejut.
"Bukan aku yang mendengarnya, tapi ibuku. Itulah mengapa kamu menjadi targetnya setelah Elisa, dan tekad itu menjadi semakin besar saat kamu menawarkan diri untuk melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib"
"Tapi bukannya saat itu ibumu sudah masuk kembali ke dalam panti bersama dengan Elisa, karna Elisa membuat keributan dengan terus menunjuk-nunjuk ke arahmu"
"Apa kamu tahu kenapa Elisa bisa terbunuh di dalam kamarnya yang sedang terkunci? Itu karna ibuku membuat pintu rahasia di dalam setiap kamar yang ada di dalam panti. Saat kamu sibuk berbicara dengan Nana dan Rora, tak jauh dibelakang kalian ibuku juga ikut mendengarkan semuanya"
Merinding, seluruh bulu kuduk Asyifa berdiri tegak saat mendengar cerita Eden. Asyifa tidak percaya jika selama bertahun-tahun, para anak panti itu telah hidup dalam keadaan nyawa terancam setiap saat.
Membayangkannya saja, Asyifa merasa tak sanggup. Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa Asyifa syukuri, bahwa pria yang kini ada disampingnya, tidak menuruni sifat psikopat sang ibu.
"Baiklah, kita lupakan saja sekarang semua yang sudah terjadi. Karna semua itu sudah berlalu, dan ibumu juga sudah berada dalam penjara saat ini"
Asyifa yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Eden, seketika tidak tahu harus berkata apa. Walaupun apa yang dikatakan pria itu ada benarnya, namun Asyifa merasa jahat jika harus mengiyakannya secara langsung.
Untuk menghindari pertanyaan tersebut, Asyifa memilih untuk menyibukkan dirinya dengan sengaja memperbaiki setiap helaian rambutnya.
Sampai tiba-tiba, sebuah suara dari arah pintu lah yang menjawab pertanyaan tersebut menggantikan Asyifa.
"Iya benar. Setelah kondisi kesehatanmu pulih sepenuhnya, kamu akan langsung mengikuti jejak ibumu untuk masuk ke dalam penjara" jawab Zidan, dingin.
"Zidan! Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu pada Eden, yang baru saja bangun dari komanya?! Aku kan sudah bilang padamu kalau kita akan membicarakannya, beberapa hari lagi"
"Aku tahu Asyifa. Tapi sekarang dia lah yang mulai, dengan bertanya tentang hal tersebut. Aku hanya sedang berusaha memberikannya jawaban atas pertanyaan itu. Apa yang aku lakukan salah?"
"Tentu saja kamu salah! Bagaimana kalau setelah mendengar jawabanmu itu, kondisi Eden seketika kembali menjadi buruk lagi? Dia pasien yang baru saja bangun dari koma Zidan, bukan pasien pingsan biasa!"
"Asyifa, aku baik-baik saja kok. Jadi kamu tidak perlu marah-marah pada pria itu" sela Eden, merasa tidak enak melihat Asyifa yang marah pada Zidan karna dirinya.
"Sekali pun kamu tetap baik-baik saja setelah mendengar jawaban Zidan, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa dirinya telah berbuat salah, Eden. Bahkan mungkin anak seumuran Rora dan Nana, juga tahu akan prosedur yang sesederhana itu!"
Zidan yang merasa apa yang dikatakan oleh Asyifa ada benarnya, mau tidak mau ikut merasa bersalah pada Eden. Karna memang itu semua ia lakukan dengan sengaja, untuk membuat kondisi Eden memburuk.
Pasalnya, saat melihat sorot tatapan Eden pada Asyifa, Zidan merasa seperti melihat sorot mata seorang pria yang memiliki suatu perasaan romantis pada lawan jenisnya.
Dan itu membuat rasa permusuhan dalam diri Zidan, seketija itu juga bereaksi serta ingin secepatnya menyingkirkan sosok Eden dari sisi wanita miliknya.
"Baiklah aku mengaku salah. Maafkan aku atas apa yang tadi aku ucapkan, apa kamu mau memaafkanku?"
"Minta maaflah pada Eden, bukan kepadaku. Karna yang kamu sakiti perasaannya adalah Eden, dan bukan diriku"
"Aku tahu, aku akan meminta maaf padanya setelah kamu bersedia memaafkanku juga" ucap Zidan, dengan sengaja memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu"
"Terima kasih. Aku juga ingin meminta maaf padamu Eden, karna dipertemuan pertama kita, aku malah berucap sesuatu yang malah mungkin akan membuat hatimu terguncang"
"Tidak masalah, aku baik-baik saja. Sepertinya Asyifa sudah memperkenalkan siapa namaku padamu, saat aku tidak sadarkan diri"
"Bisa dibilang begitu. Oh iya, perkenalkan aku Zidan, tunangannya Asyifa" Zidan tanpa ragu mengulurkan tangannya ke arah Eden untuk berkenalan secara resmi.
Eden yang terkejut mendengar status yang disandang Zidan dalam kehidupan Asyifa, hanya bisa membalas uluran tangan pria itu dengan mulut terkunci rapat.
Pasalnya Asyifa tidak pernah bercerita pada Eden bahwa dirinya telah bertunangan, jadi wajah saja Eden terkejut, apalagi ia memiliki perasaan terpendam pada wanita itu.
"Ka_kamu, tunangannya Asyifa? Tapi, kenapa Asyifa tidak pernah bercerita tentang dirinya yang memiliki seorang tunangan? Bahkan yang ia ceritakan malah tentang dirinya yang pernah menikah sekali"
"Aku memang benar tunangan Asyifa, dan itu baru terjadi beberapa jam yang lalu. Itulah mengapa Asyifa tidak menceritakan kalau ia sudah bertunangan"
"Ternyata aku sudah keduluan pria lain. Dasar curang, bagaimana bisa dia melamar Asyifa saat ada kenalan Asyifa yang sedang berada dalam keadaan koma?! Hufhhh!" batin Eden, merasa sedikit kesal dan juga sedih.
"Kenapa kamu tiba-tiba diam saja? Apa ada sesuatu yang salah dari ucapanku, atau apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Mau aku panggilkan dokter?" tanya Zidan berpura-pura terlihat baik.
"Ah, tidak perlu. Aku baik-baik saja, cuman sedang memikirkan sesuatu saja tadi. Oh iya, suda seharusnya aku mengucapkan selamat pada kalian berdua bukan? Selamat yah, atas pertunangannya"
"Hahaha, terima kasih. Ayo Asyifa, ucapkan terima kasih pada Eden yang sudah berbaik hati mengucapkan selamat pada kita berdua" pinta Zidan, sambil meletakkan kedua tangan diatas pundak Asyifa mesra.
"Terima kasih Eden"
"Sama-sama Asyifa"
Melihat gerakan Zidan, Eden langsung bisa menduga kalau pria yang ada didepannya ini, sedang mengibarkan bendera permusuhan sekaligus peringatan kepadanya, untuk menjauh dari Asyifa.
Merasa ada sesuatu yang berbeda dari aura disekitarnya, Asyifa mau tidak mau harus memutat otak untuk mencari bahan obrolan lainnya. Karna kedua pria yang kini berada bersamanya, saling beradu tatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Astaga Zidan, aku lupa menanyakan padamu soal prosedur tes yang akan dilakukan dokter besok pada Eden. Apa semuanya sudah kamu urus dengan baik?"
"Iya sayang, aku suda mengurus semuanya dengan baik, jadi kamu tidak perlu khawatir. Besok pagi, Eden langsung bisa melakukan semua tes tersebut"
"Sa_sayang? Apa kamu baru saja memanggil aku sayang?" tanya Asyifa, salah tingkah.
"Iya, aku memang memanggilmu sayang. Ada apa, memangnya salah yah? Kita kan sudah resmi bertunangan, jadi tidak apa-apa kan kalau aku memanggilmu dengan panggilan sayang, atau kamu keberatan?"
"Ti_tidak juga. Tapi sekarang kan ada Eden yang ikut mendengarnya, apa kamu tidak merasa malu?"
"Ya ampun, apa kamu ingin aku memanggil sayang padamu hanya saat kita sedang berduaan saja? Lagian, Eden pasti mengerti kalau aku seperti itu. Kita kan pasangan baru, bukan begitu Eden?"
"Hahaha, iya benar" jawab Eden dengan wajah yang terlihat sangat tertekan.
"Lihat, apa aku bilang! Jadi kamu tidak perlu merasa malu seperti itu, karna dibandingkan dengan hanya sebuah panggilan, masih ada lagi hal-hal romantis lainnya yang ingin aku lakukan denganmu" goda Zidan, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Asyifa.
Seketika itu juga, wajah Asyifa pun berubah menjadi semerah tomat dan juga gerakan tubuhnya menjadi salah tingkah. Tangannya mulai bergerak dengan tak tenang, membuat Zidan terseyum puas.
Sedang Eden menahan diri untuk tidak menunjukkan ekpresi jijik di wajahnya saat mendengar godaan Zidan.
Untungnya pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan muncullah perawat yang menangani Eden disana sambil membawa baki obat ke dalam ruangan.
"Maaf mengganggu, sudah waktunya pak Eden meminum obatnya"
"Iya, silakan sus. Kami berdua juga harus pulang sekarang, supaya Eden bisa segera beristirahat. Apalagi besok ada beberapa tes yang harus dijalani olehnya"
"Benar sekal, pak Zidan"
"Eden, aku dan Zidan pulang dulu sekarang yah? Besok kami akan datang lagi untuk menemanimu melakukan tes, jadi jangan lupa untuk beristirahat dengan baik"
"Iya, terima kasih karna sudah mau datang menjengukku Asyifa. Aku juga berterima kasih padamu, Zidan"
"Iya sama-sama"
__ADS_1
Pasangan baru itu pun berjalan keluar dari kamar rawat inap Eden, dan berjalan menuju mobil Zidan, untuk meninggalkan rumah sakit tersebut.
Bersambung...