The Ugly Wife

The Ugly Wife
Keguguran


__ADS_3

Asyifa memandangi raut wajah William yang sedang menikmati makan malam dengan tatapan penuh tanya. Pasalnya, raut wajah suaminya itu nampak sangat kesal dan tak bersemangat.


Asyifa juga menyadari akan beberapa kondisi tidak biasa yang sudah beberapa minggu ini sering ditunjukkan oleh William. Pria itu lebih banyak terlihat bahagia saat menatap layar ponselnya atau berencana akan pergi keluar.


Namun ada saat lain, William juga terlihat kesal jika diminta Asyifa untuk melakukan sesuatu, seperti menemaninya pergi ke suatu atau semacamnya. William juga terkadang bersikap cuek dan datar pada Asyifa, namun Asyifa tak ingin ambil pusing dengan berpikir yang bukan-bukan.


Asyifa selalu mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja suaminya itu sedang memiliki masalah dengan pekerjaannya di perusahaan.


"Will? William? William, sayang!" panggil Asyifa berulang kali, namun tak juga direspon oleh William, karna pria itu tampak sedang melamun.


"William!" panggil Asyifa lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih besar supaya bisa di dengar.


"Apa-apaan sih kamu, Asyifa! Ken apa harus pake teriak segala?" bentak William dengan marah, yang memang terkejut karna suara Asyifa.


"Maaf. Aku teriak karna tadi sudah berulang kali manggil kamu, tapi tidak didengar" jawab Asyifa sedikit takut.


"Tapi kan tidak perlu sampai teriak seperti itu juga, kamu setidaknya bisa menggunakan cara lain yang lebih halus. Apa kamu pikir baik memperlakukan suamimu seperti itu?"


"Maafkan aku, Will. Aku tidak sengaja, aku janji tidak akam seperti itu lagi lain kali"


"Sudah, lupakan saja" ucap William sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau ke mana, sarapanmu kan belum dihabiskan"


"Aku sudah kenyang karna tingkahmu yang kurang ajar itu, lebih baik aku sambung lagi sarapannya di perusahaan saja!"


Melihat sosok William yang berlalu keluar dari dapur tanpa memperdulikan dirinya lagi, Asyifa pun dengan terburu-buru menyusul langkah suaminya itu.


"William tunggu" pinta Asyifa yang mulai merasakan sakit pada perutnya.


"Ada apa lagi?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk tidak lupa datang menjemputku jam 10 nanti, untuk pemeriksaan calon baby kita bulan ini"


"Aku sibuk, kamu pergi saja sendiri. Atau ajak saja dua sahabatmu itu untuk menemanimu, jangan terus-terusan bergantung dan menyusahkan diriku!"


"Menyusahkan? Jadi selama ini aku sudah menyusahkanmu, begitu?" tanya Asyifa tak percaya dengan apa yang baru saja William ucapkan padanya.


"Iya! Selama kamu hamil, kamu menjadi tak pernah semandiri dulu. Apa-apa maunya dituruti dan maunya selalu dimanja, apa kamu pikir aku tidak punya hal lain untuk dikerjakan selain mengurusi dirimu?"


"William, tapi itu semua kan bukan atas keinginan diriku sendiri. Kamu juga sendiri juga ikut belanjar tentang kondisi ibu hamil bukan, pastinya kamu akan mengerti kenapa aku seperti ini"


"Karna apa? Karna anak yang sedang kamu kandung itu? Astaga Asyifa, diluar sana juga banyak wanita yang sedang hamil, tapi mereka tidak semenyusahkannya sepertimu! Bundaku saja waktu hamil kak Haykal dan aku, tidak semanja dirimu! Jadi berhenti mengatasnamakan semuanya karna bayi itu"


"Baiklah. Mulai saat ini, aku janji tidak akan meminta hal lain lagi darimu, tapi aku mohon untuk pemeriksaan tiap bulannya, kamu harus mau menemaniku yah?" bujuk Asyifa sengaja mengalah.


"Tidak bisa Asyifa. Aku kan sudah bilang tadi, kalau aku sibuk jadi kamu pergi saja sendiri. Bukan hanua untuk pemeriksaan bulan ini saja, tapi untuk bulan selanjutnya hingga anak itu lahir"


"Ke_kenapa begitu? Ini kan juga anakmu, Will. Kenapa kamu beberapa minggu ini terlihat sangat berbeda dari William yang aku kenal?"


William memang sengaja memperlakukan Asyifa dengan buruk, selain karna rasa bosan pada istrinya itu, William juga sedang dilanda dilema. Pasalnya, Aliya terus-terusan saja mendesak William supaya memberitahu keluarga pria itu tentang hubungan keduanya.


Aliya bahkan mengancam William, bahwa dirinya akan menghilang lagi dari hidup pria itu jika dalam waktu dekat, keinginannya itu tidak juga dituruti. Tentu saja William tidak ingin hal iti terjadi, karna dirinya sadar Aliya lebih berharga dalam hatinya dibandingkan dengan Asyifa.


"Tidak usah berpikiran yang aneh-aneh. Aku hanya mulai malu berjalan berduaan dengan dirimu ke tempat umum" jawab William asal.


"Malu? Kenapa kamu malu jalan berdua denganku, apa ada yang aneh dari diriku?"


"Jangan bilang kamu tidak sadar akan sosok dirimu yang sekarang? Lihatlah Asyifa, kamu semakin jelek dan juga gendut dari hari ke hari! Apa kata orang nanti?"


Deg. Jatung Asyifa seketika menjadi berhenti berdetak sejenak, ia tidak menyangka William akan berkata seperti itu padanya. Penghinaan fisik memang sudah sering dialami Asyifa, namun mendapatnya dari orang terdekatnya, itu membuatnya menjadi lebih menyakitkan.


"Ke_kenapa__Kenapa kamu tega bicara begitu padaku? Aku seperti ini juga, karna sedang mengandung anakmu" ucap Asyifa mulai terisak.


"Apa kamu yakin itu adalah anakku? Aku saja tidak yakin, jika itu adalah anakku!"


"Apa maksudmu, William? Kalau ini bukan anakmu, lalu anak siapa lagi? Kamu juga tahu kalau aku pertama kali berhubungan intim itu denganmu setelah kita sudah resmi menikah. Kenapa sekarang kamu bisa tidak percaya jika ini adalah anakmu?"

__ADS_1


"Mungkin saja itu anakmu dengan Zidan"


"Zidan? Kenapa kamu jadi membawa nama pak Zidan dalam masalah kita?" tanya Asyifa heran.


"Yah siapa yang tahu, mungkin saja kan anak itu adalah anak dari hasil hubungan gelapmu dengan bosmu itu"


Plak.


Asyifa yang tidak tahan lagi mendengar semua tuduhan dari William, melayangkan sebuah tamparan ke atas wajah pria itu.


"Kamu! Beraninya kamu menampar suamimu sendiri?! Jangan bersikap kurang ajar padaku Asyifa, atau aku bisa membalasnya lebih kejam!" ancam William sambil meremas kuat tangan Asyifa, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Lepaskan tanganmu, William! Tolong, aku merasa kesakitan"


"Kenapa tidak membalas dengan menampar sebelah pipiku lagi? Jangan kamu bersikap seenaknya, hanya karna aku terlihat sangat mencintaimu Asyifa. Tapi maaf, rasa cintaku saat ini jug telah hilang terhadapmu!"


William melepaskan tangan istrinya itu dengan kasar, hingga membuat Asyifa jatuh terduduk. Seketika rasa sakit pada perutnya semakin bertambah parah, membuat Asyifa meraung kesakitan yang teramat sangat.


Namum William yang sepertinya sudah tak berperasaan, hanya melirik Asyifa sekilas dengan tatapan tak bersimpati sama sekali. Dalam hati pria itu, ia sudah mempunyai tekad untuk melakukan segala cara agar dirinya bisa mempertahankan hubungannya dengan Aliya.


"William__William tolong aku. Pe_perutku__ perutku terasa sangat sakit, tolong antarkan aku ke rumah sakit"


"Tidak usah berpura-pura, aku tidak akan percaya pada tipuanmu itu"


"Aku tidak berpura-pura, William. Aku benar merasa kesakitan, bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap bayi kita? Tolong bawa aku ke rumah sakit, William"


"Telpon saja ayah dari anakmu itu, untuk membawamu ke rumah sakit!" pinta William sambil berlalu pergi dari sana.


Melihat sosok William yang menjauh, Asyifa hanya bisa meneteskan air mata sedih. Tatapan wanita itu menjadi semakin buram, hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


*****


Dengan perlahan, Asyifa berusaha untuk membuka kedua matanya. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari tahu dimana dirinya berada saat ini.


Sebuah kamar berdinding putih yang asing menyambut dirinya, dengan beberapa peralatan disamping tempat tidur yang sangat dikenali Asyifa. Kini ia sadar, bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.


Namun pada akhirnya, Asyifa harus tetap pada posisi semula karna rasa sakit yang dirasakannya sebelum pingsan, masih saja terasa.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan muncullah Zidan disana. Pria itu berdiri dengan ekspresi yang aneh diikuti oleh sosok Angel dan Mira, dibelakangnya.


Kedua sahabat Asyifa, tanpa berkata apa-apa lagi langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya erat. Seolah keduanya sedang membagi kekuatan mereka pada Asyifa untuk suatu alasan, yang tidak dapat dimengerti oleh wanita itu.


"Ternyata kalian lah yang membawaku ke sini. Syukurlah, baby boyku pasti merasa sangat beruntung memiliki tante seperti kalian berdua. Terima kasih juga, untuk pak Zidan yang turut membantuku" ucap Asyifa sambil tersenyum senang.


Wanita itu pun berniat menyentuh perutnya untuk membagikan rasa syukurnya pada sang anak, namun seketika ia menyadari adanya sesuatu yang aneh pada perutnya. Entah mengapa, perutnya terasa tak sama seperti sebelumnya.


Melihat ekspresi heran Asyifa, Angel dan Mira hanya bisa saling melempar tatapan sedih. Keduanya masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya, pada sahabat mereka yang malang itu.


"Ada apa, Asyifa? Apa kamu merasakan rasa sakit lagi pada tubuhmu, atau semacam?" tanya Zidan cemas.


"Tidak pak Zidan. Hanya saja, rasanya ada yang aneh dari tubuhku. Seperti, tubuhku tidak sama lagi dan ada yang hilang, tapi aku tidak tahu apa itu"


Asyifa pun dengan segera menyibakkan selimut rumah sakit yang menuntupinya, dan betapa terkejut dirinya saat melihat ukuran perutnya sudah tak sama lagi. Perutnya terlihat tak sebesar yang diingatnya, dan juga terasa kosong.


"Sayang, kenapa perut bunda jadi jauh lebih kecil yah? Apakah semua ini adalah ulahmu, ternyata kamu sangat nakal yah" ucao Asyifa dengan nada marah yang dibuat-buat, sambil mengelus sayang permukaan perutnya.


Ketiga orang yang melihat hal itu, hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Mereka tidak bisa membayangkan seperti apa hancurnya perasaan Asyifa, setelah tahu jika anak yang dikandungnya telah tiada.


Angel dan Mira pun tak bisa menahan rasa sedih, hingga meneteskan air mata tanpa sadar. Membuat Asyifa yang melihat hal itu, hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan heran.


"Kenapa kalian berdua menangis? Apa ada yang salah?"


"Asyifa, sebenarnya___" baru saja Angel ingin mengatakan sesuatu, namun ditahan oleh Mira.


"Ada apa, Angel? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"


"Jangan Angel"

__ADS_1


"Tapi Mira, Asyifa juga berhak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya sendiri. Kita tidak boleh menyembunyikannya seperti ini"


"Benar yang dikatakan oleh Angel, Asyifa berhak tahu atas segalanya yang telah terjadi. Biarkan dia mengatasi semuanya, lagi pula kita akan tetap bersama dengannya" ucap Zidan menjadi penengah diantara Mira dan Angel.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Ada apa dengan anakku?" tanya Asyifa bingung.


Dengan perlahan, Angel duduk disamping tubuh Asyifa yang masih dengan posisi setegah berbaring. Lembut wanita itu meraih tangan sahabatnya, yang terasa sedingin es dan mengelusnya pelan.


"Asyifa, ada sesuatu yang harus kami bertiga katakan padamu"


"Apa itu, Ngel? Katakan saja, aku pasti akan dengan senang hati mendengarkannya"


"Tapi sebelum Angel mengatakannya, aku mau kamu berjanji untuk bisa menyiapkan hatimu untuk apapun yang akan kamu dengar nantinya" pinta Mira.


"Astaga, memangnya ada apa sih? Kenapa kalian terlihat tegang seperti itu, memangnya apa itu?"


Angel terlihat sudah siap untuk mengatakan, namun pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Gadis itu hanya bisa bangkit dan menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Mira.


Saat itulah Asyifa merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Apalagi ditambah dengan Zidan yang tiba-tiba maju untuk memeluk dirinya.


"Kamu mengalami keguguran Asyifa, anak dalam kandunganmu telah tiada. Dokter tidak bisa menyelamatkannya"


Mendengar berita yang diucapkan oleh Zidan, membuat tubuh Asyifa menegang seketika. Indra pendengarannya menjadu tuli sesaat, dan air mata tanpa sadar lolos begitu saja.


Dengan tak bertenaga, Asyifa mendorong perlahan tubuh Zidan menjauh. Tangannya bergetar menyentuh perut yang pernah menjadi tempat bayinya bertumbuh. Wanita itu terisak tanpa suara sambil memeluk perutnya, seolah anak itu masih berada disana.


"Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat, dan aku juga yakin kamu bisa melewati satu lagi musibah dalam hidupmu" ucap Zidan coba menghibur Asyifa.


Namun Asyifa tetap bungkam seribu bahasa, hanya air mata yang terus mengalir sebagai pertanda kesedihannya. Ia merasa seluruh dunianya telah hancur tak bersisa, apalagi tak adanya sosok William disisinya.


"Semua ini karnanya" ucap Asyifa tercekat.


"Maksudmu, ada yang melukai dirimu hingga musibah ini terjadi? Siapa dia Asyifa, katakan pada kami" pinta Mira.


"Tidak ada. Tapi seandainya William mau mempercayai dan membawaku ke rumah sakit saat aku merasa kesakitan, mungkin saja bayiku masih bisa untuk diselamatkan"


"Jadi, William meninggalkanmu begitu saja saat kamu sedang kesakitan? Kenapa dia bisa setega itu padamu, Asyifa? Apa yang sudah terjadi sebelum kami datang?"


"Bayiku, bayiku yang malang. Kenapa kamu pergi meninggalkan bunda secepat ini, nak? Sekarang bagaimana bunda bisa melewati hari tanpa dirimu" ratap Asyifa, tak menjawab pertanyaan Angel.


Mira dan Angel yang ikut menangis dengan keadaan Asyifa, hanya bisa memeluk wanita itu dan mencoba memberinya kekuatan. Sedang Zidan, hanya bisa membelai rambut Asyifa dengan sayang.


Asyifa yang frustasi, memeluk perutnya sekuat tenaga hingga tak ada jarak diantara mereka. Semakin kuat dan semakin kuat, hingga sebuah rasa sakit mulai muncul kembali.


"Aku merasakannya!" teriak Asyifa tersenyum senang.


"Merasakan apa Asyifa?"


"Aku merasakan bayiku, Ngel. Dia masih ada di dalam sana, dia masih hidup! Lihatlah, jika aku menekan perutku sekuat tenaga, aku bisa merasakan rasa sakitnya dan itu berarti dia masih ada, benar bukan?"


"Asyifa, tolong jangan seperti ini"


"Jangan bilang kalau kamu tidak percaya padaku? Akan aku buktikan padamu, pada Mira dan juga pak Zidan, lihat yah!"


Asyifa kembali mengulang apa yang baru saja ia lakukan, dan rasa sakit itu semakin terasa. Bukannya berhenti, Asyifa semakin merasa ketagihan akan rasa itu dan membuatnya mengulang terus hal yang sama.


Hingga Zidan menyadari, adanya darah yang keluar membasahi celana putih yang dipakai oleh Asyifa.


"Asyifa, tolong berhentilah! Kamu mengalami pendarahan lagi, aku mohon jangan lakukan hal itu!" teriak Zidan panik.


"Astaga!" seru Angel dan juga Mira bersama, saat menyadari apa yang terjadi.


Namun Asyifa yang telah menjadi tuli dan hilang pikirannya, tak merespon perkataan ketiga orang itu dan terus melanjutkan apa yang sedang dilakukannya. Ia baru berhenti ketika kesadarannya perlahan menghilang.


"Asyifa! Asyifa, bangun Fa!" teriak Angel sambil menepuk-nepuk pelan pipi sahabatnya itu dengan khawatir.


"A_aku_aku akan memanggil dokter"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2