
Asyifa yang perasaannya berubah menjadi semakin buruk akibat diabaikan oleh Zidan dengan sikap datar pria itu, akhirnya menjadi tidak bisa fokus sama sekali hingga acara malam itu selesai.
Semua tamu yang berjalan pulang wajahnya terlihat penuh dengan suka cita, serta bibir terukir senyuman dan juga tawa. Melihat hal tersebut, membuat Asyifa seketika menjadi sangat sedih.
Saat hendak berjalan keluar dari tempat pesta untuk pulang ke tempat tinggalnya, wanita itu tanpa sengaja berpapasan dengan sosoknya melalui pantulan cermin di dekat pintu keluar.
Wajah yang awalnya terlihat biasa miliknya, kini terlihat jauh lebih cantik berkat bakat dari tangan Kinara. Namun saat matanya jatuh pada pakaian pesta yang dikenakan, Asyifa tersenyum kecut.
Di pesta perusahaan yang sebesar itu, dan dengan semua tamu penting yang berpakaian dan berdandan mewah, hanya dirinya sendiri yang terlihat lusuh dengan pakaian pesta yang sangat biasa.
"Sangat menyedihkan" gumam Asyifa sedih kepada dirinya sendiri dengan suara pelan.
"Asyifa?" panggil sebuah suara dari arah belakang Asyifa, yang langsung membuat wanita itu terkejut.
"Ah, pak Zidan. Ada apa yah pak, apa bapak membutuhkan sesuatu?"
"Tidak, aku tidak membutuhkan apa-apa atau pun semacamnya. Aku ke sini karna ingin memastikan bahwa semua hal sudah kamu tangani dengan baik bukan?"
"Sudah kok pak. Aku sudah memastikannya bahkan hingga hal yang terkecil sekalipun, baru lah bersiap untuk pulang sekarang"
"Baguslah kalau begitu. Tapi kalau boleh tahu, tadi kamu sedang bicara dengan siapa? Dan lagi, tadi aku sempat mendengar kamu seolah mengumamkan kata menyedihkan. Siapa yang menyedihkan?" tanya Zidan penasaran.
Asyifa yang mendengar ucapan dari pria di depannya itu bahwa telah memperhatikan semua tingkah bodohnya barusan, langsung terdiam seribu bahasa dan tak tahu harus menjawab apa.
Mana mungkin dirinya bisa mengatakan kalau sedang berbicara seorang diri, dan ucapan itu adalah untuknya yang mendapat perlakuan datar dari Zidan.
Disaat Asyifa sedang memutar otak untuk mencari jawaban yang sekiranya dapat ia berikan pada Zidan, Kinara terlihat berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Ternyata kamu sedang disini bersama dengan Asyifa. Aku pikir kamu sudah pulang duluan dan meninggalkanku" ucap Kinara, sambil menepuk pundak Zidan lembut.
"Mana mungkin aku setega itu padamu, yang sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk datang menemaniku. Aku hanya merasa harus menemui Asyifa sebelum pulang untuk memastikan bahwa selama pesta, tidak ada masalah yang serius"
__ADS_1
"Astaga Zidan, aku hanya bercanda! Kenapa kamu malah terlihat sangat serius, dan juga menjelaskan semuanya secara panjang lebar begitu padaku"
"Entah kamu bercanda atau serius, aku rasa memang sudah seharusnya untuk tetap menjelaskannya" jawab Zidan, masih dengan ekspresi yang serius.
"Baiklah, baiklah. Apa sekarang kita akan pulang? Aku rasanya sudah sesak dengan gaun dan juga semua riasan di wajahku ini"
"Iya, kita akan pulang sekarang. Aku akan mengantarkanmu ke rumah terlebih dulu, sebelum pulang ke apertemenku"
"Senang mendengarnya. Oh iya, apa kamu juga berniat akan pulang sekarang Asyifa?" tanya Kinara, yang kini mulai mengajak bicara sosok Asyifa yang sedari tadi terdiam.
"Sebenarnya aku memang berniat untuk pulang setelah pesta usai. Tapi mengingat aku belum sempat menikmati kemeriahan pesta karna sibuk menjalankan tugas dengan baik, sekarang malah memutuskan untuk membuat pestaku sendiri sebelum pulang ke apertemen"
"Membuat pestamu sendiri, apa maksudnya itu? Jangan bilang kalau kamu akan pergi ke club malam, dan menenguk minuman yang memiliki kadar alkohol tinggi disana?"
"Hahahaha. Aku mana tahu pergi ke tempat seperti itu Kinara, bahkan masuk kesana pun aku tidak pernah sekali pun. Mungkin ada hal yang mirip dengan ucapanmu barusan, tapi aku berani menjamin kalau tak akan pernah separah itu" jawab Asyifa yakin.
"Baguslah kalau begitu. Tapi apa kamu punya tumpangan untuk pergi ke tempat yang akan menjadi pestamu itu? Kalau tidak punya, kamu sebaiknya menumpang mobil Zidan saja. Bolehkan Zidan?"
"Tidak usah Kinara, pak Zidan. Aku yakin bisa pergi sendiri kesana tanpa harus menumpang mobil siapa pun, karna kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini"
"Kamu yakin?"
"Iya, aku sangat yakin Kinara. Terima kasih untuk tawaranmu barusan, dan juga tawaran dari pak Zidan. Kalau begitu, aku permisi pergi duluan" jawab Asyifa, berusaha untuk menyakinkan sosok Kinara yang masih terlihat cemas padanya.
"Aku tidak bisa memaksa kalau kamu bilang begitu. Tapi ingat untuk tetap berhati-hati saat berada diluar seorang diri, dan cepatlah untuk pulanh ke apertemenmu"
"Baik ibu Kinara. Bye"
"Bye"
Kinara dan Zidan menatap punggung Asyifa yang kini berjalan menjauh hingga hilang dibalik pagar gedung tersebut.
__ADS_1
Zidan yang di dalam hatinya merasa sangat penasaran kemana tempat yang akan Asyifa tuju, seketika menjadi tak tenang dan juga sedikit kesal tak bisa bertanya lebih detail pada wanita itu.
Sedang Kinara yang memperhatikan dengan perasaan cemas kepergian Asyifa, malah tanpa sengaja melirik wajah Zidan sekilas.
Seketika itu juga Kinara terkejut dan bisa dengan jelas mengetahui apa maksud dari tatapan Zidan tersebut. Pria yang masih ia cintai itu, terlihat masih sangat mencintai Asyifa dan sedang menahan diri untuk tidak melangkahkan kaki menyusul wanita tersebut.
"Karna Asyifa sudah pergi, bagaimana kalau kita juga sekarang masuk ke dalam mobil dan segera pulang?" usul Kinara memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Benar juga, aku hampir saja lupa kalau harus segera mengantarkanmu pulang. Aku minta maaf atas kecerobohanku Kinara"
"Tidak masalah Zidan. Ayo kita pergi" jawab Kinara santai, lalu berjalan perlahan ke arah dimana mobil Zidan terparkir.
Zidan yang melihat hal tersebut, hanya bisa mengikuti langkah Kinara dengan hati dan otak yang masih dipenuhi seluruhnya oleh sosok Asyifa, serta pertanyaan kemana wanita itu pergi.
Meskipun sudah berada di dalam mobil, tapi ekspresi Zidan masih tetap sama dan malah mengendarai mobilnya dalam diam yang panjang. Membuat Kinara yang sedang duduk disebelahnya, mau tidak mau harus menjadi sedikit kesal.
"Seharusnya tadi kamu menahannya pergi, atau tidak ikut pergi juga bersamanya dan bukannya malah menawarkan diri untuk mengatarku pulang"
"Apa sekarang kamu sedang berbicara padaku, Kinara?" tanya Zidan terlihat bingung karna diajak bicara secara tiba-tiba.
"Kalau bukan mengajakmu bicara, lalu siapa lagi yang bisa aku ajak bicara di dalam mobil milikmu ini? Kita hanya berdua loh"
"Ah, begitu. Tapi aku sepertinya sama sekali tidak bisa mengerti maksud dari ucapanmu barusan. Apa kamu bisa menjelaskannya?"
"Apa kamu sedang bercanda, kamu kan pastinya bisa langsung mengerti ucapanku!" ucap Kinara protes dan terlihat tak percaya dengan jawaban Zidan.
Tapi melihat ekspresi Zidan yang terlihat seperti bersungguh-sungguh tak mengerti maksud ucapan Kinara, membuat wanita itu menjadi bertambah kesal.
"Maksud ucapanku tadi adalah tentang Asyifa. Ekspresi dari wajahmu seolah sedang memikirkannya, makanya aku bilang kalau seharusnya kamu menahannya pergi tadi. Atau kamu juga bisa menawarkan diri untuk pergi bersama dengannya, bukan malah mengantarku pulang"
"Ah, ternyata begitu" jawab Zidan singkat, lalu kembali terdiam. Membuat Kinara pun hanya bisa ikut terdiam juga.
__ADS_1
Bersambung...