The Ugly Wife

The Ugly Wife
Berkumpul kembali


__ADS_3

Sejak kejadian tak menyenangkan yang yang terjadi dalam kamar mandi antara Zidan dan juga Kinara, pria itu tak pernah lagi kembali ke rumah sang ayah.


Ia bahkan menghubungi Raka untuk menjemputnya saat itu juga dan kembali ke apertemen miliknya. Meskipun Marcel mencoba menghubunginya berulang kali, tak juga diangkat oleh Zidan.


Entah mengapa hati nurani Zidan merasa sangat bersalah pada Marcel, karna hampir tergoda melakukan perbuatan tak senonoh bersama wanita yang telah sah menyandang status sebagai ibu tirinya itu.


Memang benar Marcel lah yang telah bersalah dahulu kepada Zidan, karna telah merebut Kinara. Tapi dipikir berulang kali pun, itu adalah hak Kinara untuk menikah dengan pria pilihannya, meskipun sudah memiliki Zidan sebagai kekasihnya.


"Pak Zidan? Bapak baik-baik saja kan? Maaf aku langsung masuk, karna tanganku sakit jika harus terus mengetuk pintu"


"Ah, maaf Asyifa. Aku tidak mendengar suara ketukanmu, karna sibuk memikirkan sesuatu. Ada apa?"


"Aku diminta tolong oleh supir pak Marcel, untuk memberikan tas yang berisi vitamin ini kepada pak Zidan"


"Benar juga, aku hampir lupa tentang vitamin milikku sendiri. Terima kasih banyak Asyifa, letakkan saja dimeja dan silahkan kembali ke ruanganmu"


Asyifa menuruti perintah Zidan dan meletakkan tas yang dibawanya pada meja yang ada ditengah ruangan sang bos. Namun setelah itu Asyifa tidak keluar begitu saja, tapi malah memperhatikan Zidan dengan tatapan ingin tahu.


"Ada apa, kenapa melihatku seperti itu? Kamu membuatku takut Asyifa, cepat hentikan!" gerutu Zidan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada sebagai perlindungan diri.


"Pak Zidan sedang sakit yah? Kemarin aku tidak terlalu memperhatikan, tapi hari ini aku sadar kalau pak Zidan menjadi lebih kurus. Penampilan bapak juga tidak serapi dulu, apa yang sudah terjadi pak?"


"Aku pikir kamu orangnya sangat tidak bisa peka, ternyata kamu bisa juga melihat perubahan dari diriku"


"Tentu saja aku menyadarinya. Badan pak Zidan jauh berbeda dengan yang dulu, bahkan semua orang yang mengenali sosok bapak pasti akan sadar!"


"Begitu yah. Tapi ngomong-ngomong, apa aku terlihat semakin tampan dengan tubuh langsing seperti ini?"


"Pak Zidan sedang diet? Yang benar, aku pikir diet hanya biasa dilakukan oleh wanita saja. Lagian untuk apa pak Zidan diet, padahal tubuh pak Zidan yang dulu juga sudah sangat bagus dan kekar!"


"Ya ampun, apa kamu sedang mengingat bentuk tubuhku yang pernah kamu liat saat liburan? Astaga, aku tidak tahu kalau kamu juga bisa semesum ini, Asyifa" goda Zidan sambil tersenyum jahil.


"Si_siapa yang mem_membayangkannya! Pak Zidan bicaranya sembarangan, lebih baik aku kembali ke ruanganku saja. Jangan lupa minum vitamin bapak!" ucap Asyifa salah tingkah, serta mukanya memerah karna menahan malu.


Melihat tingkah Asyifa yang kikuk berjalan keluar, membuat Zidan tertawa senang. Ia sangat senang saat melihat Asyifa salah tingkah, wanita itu terlihat seperti anak kecil polos yang tersesat dan tidak tahu harus berbuat apa.


Namun perlahan tawa Zidan berhenti seiring menghilangnya sosok Asyifa di balik pintu. Seketika hatinya kembali merasakan rasa sakit dan tak berdaya, saat mengingat Asyifa telah menjadi milik pria lain.


"Kenapa hatiku masih saja terasa sakit, yah? Astaga, sepertinya mataku juga ikut sakit hingga mengeluarkan air mata. Menyedihkan sekali" gumam Zidan pada dirinya sendiri, sambil tertawa miris.


Tiba-tiba ponsel milik Zidan yang diletakkan diatas meja kerja berbunyi, dan disana tertulis nama "Bundaku" sebagai orang yang menelpon Zidan.


Melihat bundanya menghubungi dirinya, membuat wajah Zidan seketika berseri saking gembiranya. Karna sejak Marcel menikah dengan Kinara, sang bunda memilih untuk meninggalkan tanah air dan tinggal di luar negeri.


Tak hanya itu, bundanya juga memutuskan kontak dari semua orang, termaksud Zidan yang adalah anak satu-satunya.


Semua itu terpaksa dilakukannya untuk bisa menghilangkan rasa sakit hati yang dirasakannya, karna sang suami yang begitu dicintainya berkhianat dengan kekasih putranya sendiri.


"Ha_halo? Bun_bunda? Ini_ini benar bunda yang menelpon Zidan kan?" sapa Zidan dengan suara tercekat menahan tangis.


"Iya, ini bunda sayang" jawab wanita paruh baya itu dari ujung sana, dengan suara terisak.


"Bunda apa kabar, bunda sehat-sehat saja kan? Zidan_ Zidan sangat merindukan bunda setiap saat"


"Bunda baik-baik saja sayang, bunda juga sangat merindukan Zidan. Dan juga sangat bangga padamu, karna bisa membangun perusahaan sebesar ini seorang diri, tanpa bantuan dari ayahmu"


"Bunda sudah melihat perusahaan Zidan? Kapan, siapa yang memperlihatkannya pada bunda?"


"Bunda melihatnya sendiri, bunda kan sedang berada di depan perusahaanmu sekarang"


"Pantas saja bunda tahu, tenyata bunda sedang di depan perusahaan Zidan!___ APA? Bunda sedang di depan perusahaanku? Yang benar, bunda tidak bercanda kan?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Biar pun sudah tua, tapi bunda masih bisa membaca peta yang ada di internet dengan benar. Di internet, semua tentangmu tertulis lengkap"


Mendengar penjelasan Lilian, Zidan langsung bangkit dari duduknya. Tanpa pikir panjang lagi ia dengan cepat berlari ke arah lift untuk segera menuju lantai satu.


"Bunda tunggu disitu dan jangan pergi kemana-mana, Zidan akan segera turun!"


Disisi lain Lilian yang mendengar ucapan Zidan yang menyuruhnya menunggu, tersenyum bahagia. Putranya masih sama seperti dulu, ia akan langsung datang bahkan berlari saat tahu Lilian ada di dekatnya.


"Bagaimana bunda, apa Zidan terkejut mengetahui kedatangan bunda?" tanya Raka yang sedari tadi berdiri di samping Lilian dengan setia.


"Tentu saja. Sebentar lagi, dia akan berlari keluar dari lift itu dan berhambur ke pelukan bunda. Jika ceritamu tentang perubahan sikap Zidan benar terjadi, maka hari ini kamu akan melihat sosok Zidan yang dulu"


"Terima kasih bunda. Raka sangat ingin melihat sahabat Raka kembali seperti dulu lagi. Selain itu, Raka juga masih merasa sangat bersalah pada bunda dan juga Zidan atas perbuatan Kinara"


Lilian menatap wajah pria yang sudah lama menjadi sahabat putranya dan bahkan sudah ia anggap seperti anak sendiri, dengan tatapan prihatin.


"Jawaban bunda masih sama seperti dua tahun lalu sayang. Semua ini bukan salah Raka, Zidan sendiri yang memaksa ingin dekat dengan Kinara, hingga menjalin kasih dengan wanita itu, meskipun kamu sudah melarangnya. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri"


"Tapi apa benar bunda sudah baik-baik saja, kembali ke sini lagi? Bagaimana jika bunda bertemu dengan om atau Kinara?"


"Dua tahun sudah lebih dari cukup untuk bunda menjauh dari mereka. Selain itu, bunda tidak ingin menjadi semakin egois dengan meninggalkan Zidan seorang diri. Padahal anak itu juga pasti sama terlukanya dengan bunda, mengingat betapa besar rasa cintanya pada Kinara dan ayahnya"


"Zidan pasti bisa mengerti dan menerima apa yang bunda lakukan"


"Kamu benar. Dia adalah putra bunda yang sangat hangat, dan kehangatannya itu tidak akan pernah berubah" gumam Lilian saat melihat sosok Zidan yang tubuhnya basah oleh keringat, sedang berlari ke arahnya.


Meskipun banyak mata memandangi Zidan dengan tatapan bingung, ia tak menghentikan langkahnya sama sekali.


Kedua ibu dan anak itu kemudian saling melepas rindu yang telah menumpuk, hingga setinggi gunung karna selama dua tahun tak berjumpa.


"Zidan merindukan bunda. Zidan mohon jangan pernah pergi meninggalkanku seorang diri lagi" mohon Zidan dengan berlinang air mata.


"Tidak akan, bunda tidak akan pergi lagi sayang. Mulai hari ini, bunda akan selalu bersama Zidan. Bunda janji!"


Menyaksikan pertemuan penuh haru, Raka tidak bisa untuk tidak ikut meneteskan air mata. Ia sendiri juga tahu seberapa besarnya bencana dua tahun lalu itu, telah menyakiti Zidan dan Lilian.


Hingga membuat mental kedua orang itu terganggu. Namun beruntung Zidan masih bisa mengatasinya dan hanya berubah menjadi sosok pribadi yang berbeda sama sekali, namun tidak begitu dengan Lilian.


Tak ada yang tahu selain Raka dan sang ibu yang juga adalah teman baik Lilian, kalau sebenarnya wanita itu pergi keluar negeri bukan hanya untuk sekedar menghindari Marcel dan Kinara. Melainkan Lilian pergi, untuk mengobati gangguan mentalnya yang dari hari ke hari semakin memburuk.


Lilian sengaja tidak ingin dirawat di tanah airnya sendiri, karna takut akan diketahui oleh Zidan. Ia tidak ingin putranya itu semakin membenci Marcel, yang bagaimana pun juga adalah ayahnya.


"Tapi kenapa kamu basah kuyup seperti itu, apa tadi kamu sedang berenang di dalam ruang kerjamu?" tanya Raka berusaha mencairkan suasana sedih diantara mereka.


"Apa kamu pikir aku segila itu, membuat kolam renang di dalam ruang kerja? Keringat ini karna aku terpaksa menggunakan tangga untuk turun, karna liftnya sedang dipakai" jawab Zidan kesal sambil melepaskan pelukannya dari Lilian.


"Mungkin saja, kan tidak ada yang tidak mungkin di zaman sekarang. Iya kan bunda?"


"Aku tidak segila dirimu dan adam yah, yang memaksa pulang tengah malam saat sedang berkemah, hanya karna tidak ada toilet untuk buang air!"


"Kenapa kamu mengungkit kejadian yang sudah bertahun-tahun lalu?"


"Terserah aku dong. Apa bunda sudah makan siang, mau temani Zidan makan tidak?"


"Tentu saja bunda mau. Dan sepertinya bunda harus memperhatikan pola makanmu secara ketat, karna badanmu semakin kurus dari yang bunda ingat sayang"


"Setuju bunda. Dia hanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya setiap saat, dan kalau lapar hanya makan mie instan saja!"


"Apa benar itu Zidan? Kenapa kamu tidak merawat dirimu sendiri, nak?"


"Zidan hanya sedang malas saja bunda. Tapi karna bunda sudah ada di dekat Zidan sekarang, Zidan janji akan memperhatikan diri sendiri"

__ADS_1


"Dasar anak manja, sama bunda saja baru mau nurut! Kalau sama aku dan Adam, mana mau dia menurut bunda, malah kita berdua diusir dari apertemennya begitu saja seperti butiran debu!"


"Dasar tukang lapor, kemari kamu!" teriak Zidan sambil mencoba menangkap Raka yang segera lari menjauh.


Ketika Lilian sedang tertawa melihat tingkah kedua pria itu, tiba-tiba sebuah suara yang sangat dibencinya, terdengar menyapa dari arah belakang.


"Bunda?"


Mendengar suara yang dengan tidak tahu malunya masih memanggil dirinya sengan sebutan bunda, membuat tubuh Lilian bergetar hebat menahan amarah.


*****


Marcel dan Kinara duduk berhadapan dengan Zidan dan juga Lilian dalam suasana diam tanpa seorang pun terlihat ingin memulai pembicaraan.


Hanya Raka yang nampak tersiksa berada di antara keluarga itu, tanpa tahu harus berbuat apa. Ia pikir hari ini akan menjadi hari bahagia karna Zidan bertemu kembali dengan sang ibunda, namun semua itu menjadi kacau oleh kedatangan Kinara dan juga Marcel yang tiba-tiba.


Saat mengetahui ketiganya akan pergi makan siang bersama, Kinara tanpa tahu malu malah meminta turut serta.


Lilian pun tanpa terduga dengan senang hati mengijinkan keduanya untuk ikut. Meskipun sudah di larang keras oleh Zidan, namun wanita yang masih terlihat awet muda itu tetap bersikeras.


"Bunda apa kabar, kenapa lama sekali tinggal di luar negerinya? Kinara rindu sekali dengan bunda, Zidan pun pasti begitu, iyakan Zidan?" ucap Kinara dengan santainya memulai pembicaraan.


Lilian yang mendengar omong kosong Kinara, hanya menanggapinya dengan terseyum. Sedangkan Raka dan Zidan, terlihat sangat ingin menyeret wanita itu pergi sejauh mungkin.


"Apakah dia sudah kehilangan akal sehatnya, bagaimana bisa dia menanyakan kabar pada wanita yang sudah dia buat hancur rumah tangganya?!" runtuk Raka dalam hatinya.


"Kamu masih tidak tahu malunya seperti dulu yah Kinara? Entah apa maksudmu berkata seperti itu padaku, tapi jangan khawatir karna aku sudah jauh lebih baik dari terakhir kali kita bertemu"


"Apa maksud bunda? Kinara bertanya karna benar-benar ingin tahu tentang kabar bunda, bukan karna hal tersembunyi lainnya"


"Oh ya? Berarti itu menandakan kalau kapasitas otakmu sudah menurun, karna sering melayani suami yang harusnya lebih cocok menjadi ayahmu"


Mendapat perkataan pedas dari Lilian, membuat Kinara langsung tertunduk malu dengan wajah memerah. Raka dan Zidan tampak puas melihat Kinara yang tidak bisa lagi berkutik.


"Apa kamu harus berbicara dengan bahasa tidak sopan dan kurang ajar seperti itu pada Kinara? Dia ini wanita sama denganmu, apa tidak bisa menjaga perasaannya?"


"Kenapa kamu tidak berkata seperti itu juga pada istri mudamu, saat dia tanpa rasa bersalah sedikit pun masuk dan kemudian menghancurkan keluarga kita?!"


"Kenapa kamu mengungkit yang sudah lalu, Lilian? Kinara sengaja ingin ikut bersama kalian ke sini dengan tujuan baik, supaya kita menjadi satu keluarga yang akrab. Kenapa kamu tidak bisa belajar darinya?"


"Hentikan omong kosong ayah, yang selalu membela wanita itu. Ayah bahkan tidak tahu warna sebenarnya dari wanita yang ayah cintai sampai rela bercerai dengan bunda!"


"Zidan!" seru Kinara pelan, yang tiba-tiba menengakkan kembali kepalanya seolah terkejut.


Kinara nampak takut Zidan akan memberi tahu Marcel, tentang apa yang dikatakan dan sudah dilakukannya kemarin, kepada Zidan di kamar mandi.


"Kenapa? Apa kamu sangat takut jika ayahku tahu tentang seberapa hinanya dirimu? Aku bahkan mual harus makan semeja bersama dirimu!"


"Jaga ucapanmu Zidan! Jangan pernah lagi kamu berbicara dengan tidak sopan pada Kinara. Bagaimana pun juga, posisi Kinara sama dengan bundamu"


"Apa kamu pikir aku mau di posisikan sama dengannya? Dengar Marcel, meskipun dia terlihat lebih menarik dalam segala hal dari pada diriku, setidaknya aku masih memiliki harga diri untuk tidak menyerahkan tubuhku begitu saja pada suami orang!"


Perkataan Lilian yang tepat sasaran, seolah menapar wajah pria yang pernah menjadi suaminya itu.


"Apa tidak bisa kamu memaafkan perbuatan kami berdua di masa lalu, dan kita memulai lembaran baru bersama?"


"Tidak bisa! Dan tidak akan pernah, jadi jangan pernah berharap! Ayo Zidan, Raka, kita pergi cari tempat lain untuk makan"


Ketiganya pun beranjak pergi meninggalkan Kinara dan Marcel, beserta makanan yang telah mereka pesan namun belum disentuh sedikit pun.


"Ingatlah ucapanku ini baik-baik, ayah. Suatu hari nanti, ayah pasti akan menyesal setelah mengetahui seperti apa wajah sebenarnya, wanita yang berada disamping ayah itu" ucap Zidan sebelum benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2