
"Ehem, Ehem..." Zidan berpura-pura batuk. Sepertinya kehadiran dirinya di tempat itu, telah dilupakan oleh ketiga gadis yang terlihat masih asyik berpelukan dihadapannya.
"Eh, pak Zidan. Maaf yah pak, kita jadi lupa kalau pak Zidan juga masih ada disini" Ucap Asyifa sambil menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal.
"Saya tidak apa-apa Asyifa, tapi apakah sekarang kita sudah bisa membahas langkah selanjutnya untuk masalah kamu?"
"Maksud bapak? Langkah selanjutnya untuk apa yah pak?"
"Yah untuk para pelaku yang dengan jahatnya melakukan semua ini kepada kamu, hingga membuat kamu harus terbaring di rumah sakit seperti sekarang!"
"Betul yang dikatakan oleh Mira barusan, mereka harus diberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Jadi, kamu ingin saya melakukan apa kepada mereka? Dipecat atau dimasukkan ke dalam penjara sekalian?".
"Pecat? Penjara? Se, sebentar pak Zidan, apa tidak bisa diselesaikan secara baik-baik saja? Lagian mereka kan karyawan bapak, masa hanya karena masalah pribadi kami, mereka harus sampai dipecat dari perusahaan milik bapak".
"Justru karena mereka adalah karyawan saya, maka saya punya hak untuk melakukannya. Bukan begitu?"
"Jangan bilang, kamu mau masalah ini dianggap tidak ada dan diselesaikan hanya dengan mereka minta maaf sama kamu? Fa, meskipun aku paling benci sama yang namanya permusuhan dan ingin semua masalah diselesaikan secara baik-baik, tapi untuk kali ini mereka sudah sangat keterlaluan! Aku dan Mira tau betul gimana sabarnya kamu selama ini menghadapi mereka, tapi kali ini mereka harus diberikan hukuman!"
"Aku tau Ngel, tapi kalau sampai pak Zidan memecat mereka karna masalah pribadiku, maka sama saja aku tidak profesional dalam bekerja!"
"Yang tidak profesional dalam bekerja itu mereka bukan kamu Asyifa. Merekalah yang memulai semua ini dan bukan kamu, lagipula mereka melakukan hal jahat itu di dalam kantor saya, bagaimana mungkin saya menutup mata tentang hal itu! Setidaknya saya harus mendisiplinkan mereka bertiga secara tegas!"
"Bapak tidak menutup mata sama sekali tentang hal yang menimpa saya, buktinya bapak bisa sampai ada disini sekarang! Jadi Saya mohon, kita selesaikan saja semuanya secara baik-baik"
"Kalau memang itu yang kamu mau Fa, maka lakukan! Karna aku tau, apa pun keputusan yang akan kamu ambil pasti ada alasannya tersendiri, dan aku percaya kamu bisa mengatasi semua ini"
"Makasih Mira"
"Tapi sayangnya saya yang tidak ingin seperti itu! Bagaimana jika saya mengikuti ucapan kamu untuk menyelesaikan semuanya secara baik-baik, malah membuat mereka semakin besar kepala dan akhirnya mengulangi kesalahan yang sama?"
"Saya memang tidak ingin menyelesaikannya dengan jalur pemecatan atau lapor polisi pak, dan saya memang ingin menyelesaikannya secara baik-baik tapi akan sedikit berbeda dari biasanya. Jadi bapak tidak perlu khawatir, dan tolong percayakan saja semuanya kepada saya"
Ketiga orang itu saling melempar pandangan heran setelah mendengar ucapan Asyifa.
"Pak, gimana kalau kita ikuti saja perkataan Asyifa? Karna saya rasa, Asyifa pasti punya rencana tersendiri untuk membuat mereka mendapat hukumannya" ucap Angel mulai ikut mendukung keputusan sahabatnya.
"Kamu yakin? Kalau begitu, coba jelaskan kepada kami tentang rencanamu itu" ucap Zidan mengalah.
Asyifa tersenyum senang karena bosnya itu terlihat tulus ingin melakukan semua ini, karna peduli terhadapnya.
__ADS_1
****
Safira menarik rambutnya frustrasi sambil membentur-benturkan kepala diatas meja, membuat kedua gadis yang ada dihadapannya, menatapnya ngeri.
"Stop Safira!"
"Apa-apaan sih Karin, lepasin deh!"
"Are you crazy? Yang apa-apan itu kamu Safira! Kamu lihat dong, semua orang yang ada di cafe ini tuh lagi menatap ke arah kita karna kamu yang tiba-tiba bertingkah aneh! Jadi berhenti bertingkah seperti itu!" balas Karin emosi.
"Iya Ra, malu tau dilihatin kayak orang aneh sama seisi cafe" timpal Lia
"Iya, aku emang udah gila! Sebodoh amat deh sama mereka semua, kalau mereka mau lihatin aku yah udah lihat aja! Kalian pikir aku tidak stres, ini sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu!"
"Memangnya kenapa kalau sudah tiga hari berlalu?"
"Lia, kamu itu benar-benar tidak tau atau hanya pura-pura tidak tau sih?"
"Aku mengerti kok apa yang kamu cemaskan. Pak Zidan belum memanggil kita sama sekali untuk membahas masalah Asyifa, dan Mira serta Angel juga tidak sedikitpun mengungkit masalah itu. Hanya para karyawan kantor lainnya yang sibuk bergosip hingga kita harus menikmati makan siang di cafe ini dan bukannya di kantin kantor" jelas Karim panjang lebar.
"Bukannya itu malah bagus yah? Kita tidak mendapat teguran dan dipecat oleh bos, ataupun harus menghadapi kedua sahabat Asyifa. Yang perlu kita lakukan sekarang, adalah menulikan telinga tentang berbagai macam gosip tentang kita yang sedang beredar saat ini!"
"Kok kamu bilang aku bodoh sih, Safira?"
"Yah iyalah, masa kamu tidak merasa aneh sedikitpun tentang semua yang sedang terjadi? Kita itu sudah membuat Asyifa dilarikan ke rumah sakit, bahkan dia sampai harus mengambil cuti karna setelah kejadian itu dia mengalami syok berat! Tapi pak Zidan serta kedua sahabatnya, tidak melakukan apapun terhadap kita!"
"Aku setuju, ini benar-benar aneh! Seperti ada suatu hal besar yang akan datang pada kita" ucap Karin cemas.
Memang sudah tiga hari berlalu sejak kejadian mereka mengunci Asyifa di dalam toilet, hingga menyebabkan gadis itu harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun sejak saat itu, tidak ada satupun hal yang menimpa mereka.
Padahal ketiganya yakin betul, bahwa sebenarnya kedua sahabat Asyifa serta atasan mereka, sudah tau kalau mereka lah dalang dari semua itu.
Tak ada panggilan atau pemecatan dari Zidan untuk mereka, dan tak ada tamparan atau amukan amarah lagi dari kedua sahabat Asyifa seperti yang dilakukan Mira terakhir kali kepada Safira.
"Permisi bu Safira, bu Lia dan ibu Karin" ucap seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam cafe bersama temannya, yang segera menghampiri meja Safira dan gengnya.
"Ada apa?" jawab Safira ketus, saat melihat tanda pengenal karyawan magang yang dikenakan gadis didepannya.
"Maaf karna mengganggu jam istirahat ibu bertiga. Saya di suruh sama pak Zidan, untuk memanggil ibu Safira bersama ibu Karin dan juga ibu Lia untuk segera ke ruangan pak Zidan sekarang"
__ADS_1
"Pak Zidan? Manggil kita bertiga? Untuk apa?"
"Maaf bu Safira, tapi saya juga tidak tau alasannya untuk apa. Saya hanya disuruh pak Zidan seperti itu"
"Mungkin, untuk membahas masalah bu Asyifa kali bu. Secara tadi kami tidak segaja bertemu pak Zidan tepat didepan toilet tempat ibu Safira dan kedua sahabat ibu membully bu Asyifa" ucap gadis magang lainnya.
"Jaga mulut kamu yah! Jangan kurang ajar kamu sama saya, pangkat saya itu lebih diatas kamu!"
"Saya tidak bersikap kurang ajar kok bu, saya hanya mengatakan fakta! Apa salahnya?"
"Kamu!"
Tangan Safira terangkat hendak menampar pipi gadis didepannya, namun dengan cepat ditahan oleh sebuah tangan lainnya.
"Sepertinya kamu suka banget yah melakukan kekerasan, Safira!" ucap Mira sambil melepaskan tangan Safira dengan kasar.
"Jangan ikut campur yah kamu, Mira! Ini bukan urusanmu, jadi jangan bertingkah seperti seorang pahlawan!"
"Jelas aku harus ikut campur juga. Karna gadis yang hampir kamu tampar barusan, adalah anak magang di divisi tempat aku menjadi ketuanya! Dan karena sekarang masih jam kantor, berarti dia masih menjadi tanggung jawabku! Apa kamu paham, Safira?
"Dia kan cuman bawahanmu, bukan keluarga ataupun sahabatmu, jadi tidak perlu sampai seperti itu!" ucap Lia berusaha membela Safira.
"Oh, jadi kami boleh ikut campur tentang keputusan apa yang akan di ambil pak Zidan terhadap kalian? Karna kalian bertiga lah yang sudah membully SAHABAT kami, bukan kah begitu maksudmu?" ucap Angel sinis, segaja memberi penekanan pada kata sahabat.
"Safira, Lia, sebaiknya kita segera menemui pak Zidan. Pasti sekarang, beliau sedang menunggu kedatangan kita bertiga" ucap Karin sambil menarik tangan kedua sahabatnya berlalu dari sana.
"Iya, pergi dan terima hukuman kalian bertiga! Dasar penjahat!" teriak Mira.
"Terima kasih bu Mira dan bu Angel, atas bantuannya tadi" ucap gadis yang dibantu Mira, saat sosok Safira dan gengnya tak terlihat lagi.
"Iya sama-sama, yang terpenting kalian baik-baik saja kan?"
"Kami berdua baik-baik saja kok bu Mira"
"Baguslah. Sebaiknya kalian berdua menjauhi dan jangan pernah mencari masalah dengan Safira serta kedua sahabatnya, karna mereka adalah orang-orang yang berbahaya!"
"Betul yang dikatakan Mira. Lebih baik fokus saja pada pekerjaan magang kalian, supaya bisa cepat menjadi karyawan tetap di perusahaan"
"Baik bu, sekali lagi terima kasih" ucap keduanya bersamaan.
__ADS_1
Bersambung...