The Ugly Wife

The Ugly Wife
Pertemuan William dan Aliya


__ADS_3

William dengan santai sedang mengendarai mobilnya keluar dari parkiran perusaahan untuk pergi menjemput Asyifa. Saat melewati sebuah toko bunga, William tiba-tiba memiliki keinginan untuk membelikan Asyifa sebuah karangan bunga yang indah.


Pria itu pun mengarahkan mobilnya menuju ke toko tersebut. Ketika ia bergegas turun, matanya tak sengaja menangkap punggung seorang wanita, yang terasa sangat familiar namun asing di saat yang bersamaan.


Punggung yang dulu sering dilihat dan sangat disukainya, punggung yang sampai saat ini masih ia rindukan siang dan malam. Namun segera ia kembali teringat pada sosok Asyifa yang sedang menantinya.


"Kenapa kamu harus teringat akan wanita itu lagi, William? Lupakan saja dia, seolah kamu tidak pernah mengenalnya. Sekali pun kalian bertemu, anggap saja dia tidak ada!" batin William dalam hatinya.


Ia pun kembali melanjutkan tujuannya masuk ke dalam toko dan mulai melihat-lihat bunga yang sekiranya akan disukai oleh istrinya. William merasa cintanya pada Asyifa dari hari ke hari semakin bertambah besar, apalagi sejak ia mengetahui ada seorang bayi dalam perut wanita itu.


Setelah menentukan pilihannya pada sebuah karangan bunga dengan warna putih yang mendominasi, William pun membawanya ke arah kasir untuk dibayar.


"Semoga saja Asyifa dan baby boy suka" ucap William tersenyum senang.


Namun langkahnya kembali terhenti saat melihat punggung itu lagi, punggung wanita yang sedang berdiri di depan meja kasir.


"Mungkin hanya mirip saja. Tidak mungkin itu adalah orang yang sama, dia kan sudah lama menghilang"


"Terima kasih mba" ucap wanita itu setelah selesai membayar bunga yang dibelinya.


William yang mendengar suaranya, seketika terdiam membeku dan memandang tak percaya pada wanita yang kini bisa ia lihat dengan jelas wajahnya.


"A_Aliya?" panggil William tercekat.


Aliya yang memang sengaja disuruh Zenith untuk membeli bunga terlebih dulu, sebelum mendatangi perusahaan William juga menjadi sama terkejutnya dengan pria itu.


Aliya tidak menyangka akan bertemu William dengan tak terduga seperti ini, ia bahkan belum menyiapkan hatinya untuk bisa menatap wajah orang yang pernah sangat ia lukai hatinya itu.


"Wi_William____ Hai" balas Aliya terbata, tak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Hai? Kamu bilang hai? Apa kamu sungguh nyata?"


"I_iya, William. Ini aku Aliya yang kamu kenal, yang pernah menjadi kekasihmu dulu, yang pernah sangat kamu cintai sosoknya"


"Astaga, lucu sekali. Kenapa setelah sekian lamanya, kamu baru menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku sekarang?"


"Itu__ A_Aku bisa menjelaskannya William. Tolong berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya padamu. Aku mohon"


"Aku pasti sudah gila, ini semua pasti hanya halusinasiku saja. Iya, tidak mungkin kamu ada dihadapanku sekarang!"


William meletakkan karangan bunga yang dipegangnya di meja kasir, lalu membayarnya dan segera keluar dari toko itu begitu saja. Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan mobilnya menuju ke tempat Asyifa.


Ia ingin segera lari dari bayangan wajah wanita yang kini mulai mengusik pikirannya lagi. Emosi dan air mata William menjadi tak terkendali, seolah semuanya ingin keluar secara bersamaan, sehingga membuat pria itu menjadi teramat sangat tersiksa.


"Tidak, jangan muncul lagi! Pergi, pergi semuanya pergi! Aku benci wanita itu, aku tidak ingin melihatnya lagi sekali pun dalam halusinasiku!" teriak William histeris sambil membunyikan klakson berulang kali.


Dalam kekalutan dan kacaunya pikiran, William berhasil sampai dengan selamat. Ia segera berlari keluar dari mobil untuk berhambur ke pelukan Asyifa.


"William? Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Asyifa bingung melihat tingak William yang sedikit aneh.


"Biarkan aku seperti ini, sebentar saja. Aku sangat membutuhkan bahumu menjadi sandaranku saat ini"


"Apa kamu menangis, Willi? Hei, apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu? Apa kamu mengalami kecelakaan atau semacamnya saat menuju kesini?" tanya Angel tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.


Sedang Mira dan Zidan yang memang sedang menemani Asyifa menanti jemputannya, hanya memincingkan mata seolah tak peduli sama sekali dengan keadaan William.


"Apa? Kecelakaan? Apa benar itu Will, kamu mengalami kecelakaan? Dimana yang luka, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga! Aku akan telpon keluargamu supaya menyusul ke sana"


"Tidak Asyifa, aku baik-baik saja. Aku__aku hanya ingin menangis dan memelukmu tanpa sebab, itu saja. Tidak ada alasan khusus"


"Astaga, apa kamu mengalami perubahan emosi juga sepertiku? Aku memang pernah membacanya di sebuah artikel, kalau suami akan sedikit banyak merasakan apa yang dirasakan istrinya saat hamil, tapi aku tidak menyangka itu akan terjadi padamu"

__ADS_1


"Yah, aku rasa mungkin seperti itu. Maaf karna memelukmu terlalu kencang, apa kamu merasa perutmu baik-baik saja?" tanya William sambil melepaskan pelukannya pada Asyifa.


"Aku baik-baik saja, sayang. Apa perasaanmu sudah kembali normal?"


"Sedikit"


Walaupun di mulutnya William berkata sudah baikan, namun pikiran dan hatinya mendamba untuk bisa kembali pergi ke tempat dimana Aliya berada. Ia sangat ingin memeluk dan menanyakan kabar wanita itu.


Kini perasaan rindu itu semakin meluap, dan William menyesal telah pergi begitu saja tanpa berbicara atau menanyakan dimana sekarang wanita itu tinggal dan bagaimana caranya, supaya mereka bisa berkomunikasi.


Entah mengapa, perasaan benci dan marah yang dirasakannya beberapa menit yang lalu telah menguap hilang begitu saja.


"Mengapa hati manusia sebegitu rumitnya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi menemui Aliya sebelum kehilangam dirinya lagi, atau tetap disini bersama Asyifa?"


"William? Will, sayang? William!"


"I_iyah Asyifa. Ma_maaf, a_aku tidak sadar tadi melamun begitu saja. Apa kamu sedang mengajakku bicara?"


"Kenapa kamu menjadi tidak fokus, dan juga wajahmu terlihat sangat pucat. Apa kamu benar baik-baik saja, kamu tidak sesang sakit kan, Will?"


"Aku sudah bilang, kalau aku baik-baik saja! Kenapa sih, kamu bertanya terus?" ucap William kesal dengan nada yang sedikit meninggi.


Asyifa yang mendapat bentakan dari William, seketika menjadi terkejut. Ia tak menyangka suaminya itu tega membentak dirinya yang sedang hamil.


"Apa-apa kamu! Kenapa membentak Asyifa seperti itu? Dia kan hanya bertanya karna khawati padamu!" marah Mira sambil maju ke depan tubuh Asyifa.


"A_aku, mem_membentak Asyifa barusan? Ti_tidak, aku_aku tidak sengaja. Maaf Asyifa, aku minta maaf"


"Tidak apa. Kamu pasti hanya sedang merasa kelelahan, makanya kamu seperti itu. Aku bisa mengerti, lebih baik kita segera pulang supaya kamu bisa beristirahat di rumah"


Asyifa dengan lembut meraih tangan William untuk mengajaknya pulang, namun tangannya ditepis begitu saja oleh pria itu.


"Maaf Asyifa, tapi aku tidak bisa pulang denganmu sekarang. Aku harus segera pergi menemui orang lain, maaf"


"Iya, tolong antar Asyifa dengan selamat sampai di rumah. Terima kasih" ucap William sekenanya saja, dan berlalu dari sana.


"Hah, apa-apaan itu jawabannya barusan?! Asyifa, kenapa kamu diam saja?"


"Sudahlah Mira, biarkan saja dia pergi. Aku bisa pulang sendiri kok" jawab Asyifa, sambil menahan Mira yang sudah ingin melangkah mengikuti sosok William.


Asyifa hanya bisa terdiam melihat kepergian suaminya itu, dengan tatapan penuh tanya. Ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun Asyifa yakin bahwa janji suci yang mereka ucapkan akan selalu menghubungkan keduanya.


*****


William mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan terburu-buru. Ia sedang mencari sosok Aliya yang memang menjadi alasan dirinya meninggalkan Asyifa begitu saja di perusahaan Zidan.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia melihat wanita yang dicarinya sedang berada di sebuah cafe seorang diri sambil menikmati segelas minuman kesukaannya.


Tanpa membuang waktu lagi, William segera menuju cafe tersebut untuk menghampiri Aliya. Sedang Aliya yang tak menyangka William akan mendatanginya kembali, hanya bisa diam membisu.


Aliya menatap dengan takut-takut ke arah William yang langsung mengambil tempat untuk duduk dihadapannya. Tak ada satu pun yang terlihat akan memulai percakapan, keduanya asyik dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kamu kembali? Kemana saja kamu selama ini? Tadi kamu memintaku untuk memberimu kesempatan menjelaskannya semuanya bukan? Kalau begitu, jelaskan sekarang! Aku ingin mendengarnya"


"Apa kamu akan mempercayai semua alasan yang akan aku berikan padamu?"


"Itu tergantung seberapa masuk akal alasan yang kamu katakan, untuk bisa membuatku percaya"


"Bagaimana kalau aku mengatakan alasanku menghilang dari hidupmu, adalah karna terpaksa mengikuti perintah yang diberikan oleh keluargamu sendiri?" tanya Aliya tak ingin menyembunyikan semua fakta yang ada.


Aliya sendiri berani mengatakan alasan sebenarnya itu pada William, karna memang Zenith lah yang menyuruhnya untuk melakukan semua itu.

__ADS_1


William yang awalnya hanya berekspresi datar, setelah mendengar pertanyaan yang diberikan Aliya seketika wajahnya berubah terkejut. Ia tidak menyangka bahwa ada dua orang wanita yang sama-sama dicintainya yang mendapatkan perlakuan jahat dari keluarganya.


"Kamu juga mendapatkan perlakuan seperti itu dari keluargaku? Kenapa tidak langsung mengatakannya padaku Aliya, dibandingkan memilih melarikan diri seorang diri?" ucap William prihatin.


"Juga? Memangnya siapa lagi yang pernah mendapatkan perlakuan seperti itu selain diriku?" tanya Aliya berpura-pura tidak tahu.


"Ah, i_itu adalah seorang gadis. Beberapa waktu lalu aku sempat dekat sebentar dengan seorang gadis, tapi dia juga menjauh dengan alasan tak disukai oleh keluargaku"


"Ternyata begitu"


Perasaan Aliya menjadi sedih setelah mendengar jawaban William, yang semuanya adalah bohong. Ia sengaja bertanya seperti itu untuk mengetes seberapa William akan berkata jujur padanya tentang Asyifa.


Harapan yang beberapa hari lalu baru saja ia simpan dihatinya, menjadi hilang begitu saja. Aliya mulai merasa tidak enak, seolah hatinya mengatakan bahwa William melakukan semua itu karna memang masih memiliki perasaan padanya.


"William, ingatlah akan Asyifa dan juga anak yang sedang dikandung olehnya. Jangan terlena oleh perasaanmu yang dulu padaku, aku hanyalah sebuah masa lalu di hidupmu William. Merekalah masa depanmu" batin Aliya sedih.


Ingin rasanya Aliya mengatakan semua itu pada William secara langsung, namun sosok pria di ujung cafe membuatnya hanya bisa mengurungkan niatnya itu.


"Maafkan keluargaku, Aliya. Pasti selama ini kamu sangat kesulitan, tapi aku dengan tidak tahu malunya hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku merasa sangat bersalah padamu, maafkan aku Aliya"


"Memang awalnya terasa sangat berat bagiku, namun seiring berjalannya waktu semua luka itu telah membaik. Sekarang aku baik-baik saja, William. Aku juga sudah memaafkan semua yang dilakukan oleh keluargamu padaku, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi"


"Terima kasih Aliya, kamu masih saja baik hati seperti dulu. Aku juga seharusnya tidak percaya begitu saja pada alasan yang dikatakan oleh keluargaku tentang dirimu"


"Memangnya apa yang mereka katakan tentang diriku?"


"Mereka bilang kamu mendekatiku hanya karna ingin mendapatkan uang dariku. Dan kamu pergi begitu saja, karna mommy telah memberikan sejumlah uang padamu"


"Hufffh. Aku memang mengakui diriku adalah seorang yang miskin, tapi aku tidak akan melakukan hal serendah itu Will" jelas Aliya sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


"Iya, aku sekarang tahu kalau semua itu tidak benar adanya. Maafkan aku Aliya"


"Tidak perlu minta maaf, Will. Aku mengerti kenapa kamu bisa sampai berpikir seperti itu. Aku juga mungkin akan berpikir begitu kalau kamu hanya ingin mempermainkan diriku, jika tiba-tiba menghilang begitu saja"


"Aku tidak mungkin seperti itu, Aliya. Aku tulus mencintai dan menyayangimu sedari dulu, bahkan sampai saat ini!"


"Sa_sampai saat ini?" ulang Aliya tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Iya, aku masih mencintaimu. Setiap hari dalam hidupku, dan setiap waktu yang aku jalani, tidak pernah sekali pun aku berhenti mencintai dan merindukan dirimu, Aliya"


William kemudian memegang tanga Aliya lembut, untuk membuktikan ucapannya pada gadis itu. Ingin rasanya Aliya menarik tangan miliknya dan menapar wajah William, supaya sadar kalau yang dilakukannya adalah suatu kesalahan.


"Maaf William, tapi aku tidak bisa menjalin hubungan lagi denganmu"


"Kenapa Aliya? Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Atau, kamu sudah memiliki pria lain yang sedang kamu cintai?"


"Iya William, aku mempunyainya! Dan bukan hanya seorang tapi dua orang pria sekaligus, mereka adalah suami dan putraku yang terpaksa harus ku tinggalkan demi keegoisan keluargamu!"


"Aku tidak memiliki pria lain William, dan aku juga masih sangat mencintaimu. Tapi apa kamu juga masih sama sendiri seperti diriku? Apa tidak ada wanita lain dihidupmu, selama aku pergi?"


"Tidak ada, Aliya. Aku berani bersumpah, kalau hanya kamu wanita yang selalu aku cintai. Pecayalah padaku"


"Apa kamu yakin?"


"Aku sangat yakin, Aliya. Jadi, apa kita bisa memulai semuanya kembali dari awal lagi? Aku janji akan menjaga dan melindungimu dari orang yang ingin berbuat jahat padamu, termaksud keluargaku sendiri"


Nyut. Tiba-tiba rasa sakit mengenai hati Aliya, membuat gadis itu ingin menangis seketika. Hilang sudah harapannya untuk bisa lolos dari rencana jahat ini, kini ia harus dengan terpaksa menerima William.


Dan itu berarti ia juga melukai hati dua orang sekaligus, yaitu hati suaminya dan juga hati Asyifa. Dengan berat hati, Aliya menyambut uluran tangan William sebagai jawabannya untuk mau memulai semuanya kembali dengan pria itu.


"Iya, aku mau memulai semuanya dari awal bersamamu William"

__ADS_1


"Terima kasih Aliya, terima kasih banyak" ucap William sambil berulang kali mencium tangan Aliya dengan bahagia.


Bersambung...


__ADS_2