The Ugly Wife

The Ugly Wife
Berbaikan


__ADS_3

Hubungan antara Asyifa dan Mira dari hari ke hari kian menjauh, membuat Angel yang harus berada di tengah mereka pun kerepotan sendiri.


Perubahan sikap Asyifa yang tidak seramah dulu juga membuat semua orang di perusahaan penasaran, apa yang terjadi dengan gadis itu.


Zidan yang melihat hal itu merasa prihatin terhadap keadaan Asyifa. Pastinya gadis itu sungguh sangat terpukul dengan apa yang terjadi, hingga membuatnya berubah sedatar tembok.


"Kenapa pak Zidan memandangi saya dari tadi? Apa bapak tidak punya pekerjaan yang harus dikerjakan?" tanya Asyifa merasa risih diperhatikan oleh Zidan sedari tadi.


"Apa kamu tidak merasa, sepertinya jabatan kita tertukar?"


"Maksud pak Zidan?"


"Lihat saja sekarang, kamu punya banyak sekali pekerjaan seolah kamu adalah bos perusahaan ini. Sedangkan aku yang adalah bos sebenarnya, malah tidak punya kerjakan yang harus dikerjakan sama sekali"


"Kalau begitu pak Zidan boleh pulang atau bersantai di ruangan bapak sendiri, dari pada melihat saya bekerja"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


"Terserah bapak saja!" jawab Asyifa mulai kesal menghadapi bosnya itu.


"Baiklah, aku akan mengamatimu bekerja dengan saksama" jawab Zidan sambil menopangkan dagunya diatas meja kerja milik Asyifa.


Asyifa yang melihat tingkah Zidan, hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi, kenapa pak Zidan berbicara santai dengan saya? Tidak biasanya bapak bicara menggunakan aku kamu" tanya Asyifa tiba-tiba menyadari ada yang aneh.


"Memangnya kenapa? Apakah ada larangan? Lagipula, ini kan perusahaan milikku, jadi terserah aku ingin melakukan apa saja yang aku inginkan. Bukan begitu?"


"Terserah bapak deh!"


Melihat wajah Asyifa yang terlihat kesal setengah mati, membuat Zidan tersenyum senang. Setidaknya, Asyifa masih bisa menunjukkan ekspresi lain selain ekspresi sedatar tembok.


"Sepertinya dia sudah gila" gumam Asyifa pelan saat melihat Zidan yang sedang senyum-senyum sendiri.


"Apa kamu bilang barusan?" tanya Zidan serius, ia berpura-pura tidak dengar ucapan Asyifa barusan.


"Tidak pak, saya tidak bicara tentang bapak kok. Saya bicara pada diri saya sendiri, jadi bapak jangan khawatir" jawab Asyifa takut Zidan marah padanya.


"Seperti itu? Baiklah, teruskan pekerjaanmu, tak usah pedulikan saya"


"Baik pak" jawab Asyifa patuh.


Tiba-tiba pintu ruangan Asyifa terbuka, dan disana berdiri seorang seorang wanita yang baru pertama kali dilihat oleh Asyifa.


Wajah wanita itu sangat cantik bagaikan seorang dewi, dengan gaya pakaian yang sangat elegan membuatnya tampak begitu mempesona.


"Halo Zidan. Maaf mengganggu pembicaraan kalian Asyifa, benar itu namamu kan?"


"Ah iya" jawab Asyifa spontan.


"Apa yang sedang kamu lakukan sampai datang ke perusahaanku, Kinara? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ke ruangan orang lain?" tanya Zidan dengan nada sedingin es.


"Aku minta maaf Zidan, aku lupa mengetuk tadi karna mendengar suaramu dari luar. Maafkan aku yah Asyifa, lain kali aku akan mengingat untuk mengetuk pintunya terlebih dulu. Kamu tidak marah kan?"


"Tentu saja tidak. Pak Zidan jangan kasar seperti itu, lagipula itu hanya pintu biasa!"


"Baiklah, aku akan melupakannya karna kamu yang memintanya" ucap Zidan berubah lembut.


"Terima kasih banyak pak Zidan yang baik hati dan penuh wibawa" balas Asyifa sambil setengah bercanda.


Kinara yang melihat interaksi Zidan dengan Asyifa, menatap terkejut ke arah keduanya. Belum pernah Kinara melihat Zidan memperlakukan wanita lain seperti itu, sejak hubungan diantara keduanya berakhir.


"Kenapa kamu melamun disitu? Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang sedang kamu lakukan di perusahaanku?" tanya Zidan menyadarkan Kinara.


"Ah itu, aku datang bersama ayahmu kesini. Dia ingin bertemu denganmu, tapi karena kamu tidak ada di ruanganmu, jadi aku yang pergi mencarimu"


"Ternyata kamu datang bersama dengan suamimu yah? Oh iya Asyifa, perkenalkan ini adalah Kinara. Dia ini adalah ibu tiriku, istri kedua ayahku" ucap Zidan dengan nada sinis, memperkenalkan keduanya.


"Halo bu Kinara. Nama saya Asyifa, saya adalah sekretaris pak Zidan"


"Kinara. Senang berkenalan denganmu Asyifa" balas Kinara, memaksakan seluas senyuman dibibirnya.


"Asyifa, aku pergi menemui ayahku dulu yah, nanti aku akan segera kembali kesini" pamit Zidan yang dibalas anggukan kepala oleh Asyifa.


Zidan kemudian melangkah keluar menuju ruangannya sendiri, tanpa mempedulikan Kinara yang masih berdiri diam disana.


"Aku juga permisi dulu, Asyifa"

__ADS_1


"Silakan bu Kinara"


*****


Zidan menatap pria setengah baya yang ada dihadapannya dengan tatapan malas.


"Ada urusan apa yang mengharuskan ayah datang ke perusahaanku?" tanyanya tanpa basa-basi.


Marcel memandangi anak lelakinya yang wajahnya terlihat sangat mirip dengan dirinya dengan pandangan kesal.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan kabar ayahmu terlebih dahulu, sebelum bertanya tentang hal lain?"


"Tidak usah basa-basi ayah, langsung katakan saja alasan ayah datang kesini!"


"Astaga, lihat anak itu Kinara! Apa aku ini bukan ayahnya, sampai dia memperlakukan aku seburuk itu"


Kinara yang baru memasuki ruangan, tersenyum manis saat mendengar ucapan suaminya. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Zidan dan menyentuh pundak pria itu dengan lembut.


"Jangan seperti itu Zidan. Ayahmu sengaja meluangkan waktunya datang kesini untuk bertemu denganmu"


"Jangan menyentuhku sembarangan! Apa kamu tidak malu? Bukankah sudah berulang kali aku katakan, jangan pernah mencoba untuk menggantikan tempat bunda padaku!" ucap Zidan sambil menepis kasar tangan Kinara dari bahunya.


Marcel yang melihat tingkah kasar Zidan pada Kinara, hanya bisa memberikan isyarat pada Kinara untuk duduk disebelahnya.


"Maafkan aku Zidan. Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk menggantikan tempat bundamu" ucap Kinara kemudian berjalan ke arah Marcel.


"Tadi ayah menyuruhku menanyakan kabar ayah bukan? Baiklah, aku akan bertanya sekarang. Bagaimana kabar ayah bersama mantan pacarku, yang ayah jadikan istri muda ayah?"


"ZIDAN!"


"Kenapa ayah marah? Harusnya aku lah yang marah pada ayah, kenapa ayah yang marah kepada ku?"


"Tolong jangan mengungkit hal itu lagi Zidan. Kedatangan ayah kesini adalah untuk membahas hal lain yang lebih penting bersamamu"


"Benarkah? Kalau begitu langsung katakan intinya saja, karna aku sangat sibuk sekarang"


"Bekerjalah di perusahaan ayah Zidan. Jadilah penerus disana, sampai kapan kamu akan mengabaikan kewajibanmu sebagai penerus ayah?"


"Bukankah aku sudah pernah bilang berulang kali, aku tidak akan pernah mau mewarisi harta yang dihasilkan oleh ayah! Kalau ayah ingin seorang penerus untuk mengurus perusahaan itu, ayah bisa meminta istri muda ayah itu untuk melahirkan seorang anak. Bukankah itu lebih baik dari pada ayah mengganggu hidupku?"


"Zidan, jangan bicara seperti itu. Kamu tahu aku punya alasan sendiri kenapa belum bisa memberikan ayahmu keturunan"


"Zidan jaga ucapanmu! Bagaimana pun juga Kinara adalah ibumu, jadi perlakukan dia dengan hormat seperti kamu memperlakukan bundamu sendiri"


"Siapa bilang aku pernah menerimanya sebagai ibuku? Jangan pernah bermimpi untuk diperlakukan baik olehku. Anggap saja itu sebagai hukuman untukmu dariku karna sudah menyakiti hati bunda!"


Marcel yang mendengar kata-kata dari Zidan, hanya bisa memijat dahinya perlahan. Ia tidak ingin membuat hubungannya dengan anak satu-satunya itu menjadi bertambah buruk.


"Lakukan seperti yang kamu inginkan, tapi kamu harus tetap menjadi penerus di perusahaan ayah. Apa kamu mengerti?"


"Aku sudah memberikan jawabanku yaitu tidak, dan selamanya akan seperti itu! Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, silakan keluar dari ruanganku"


Setelah berkata seperti itu, Zidan membuka pintu ruangannya lebar-lebar untuk mempersilakan kedua orang itu pergi. Meskipun Marcel menatapnya dengan tatapan penuh iba, Zidan tetap tak berbelas kasihan.


Akhirnya Marcel dan Kinara mau tak mau, harus pergi dari sana dengan berat hati.


Setelah kepergian kedua orang itu, Asyifa segera pergi ke ruangan Zidan untuk melihat kondisi bosnya itu.


Sedari tadi Asyifa yang berada diruangannya, turut mendengar pembicaraan mereka karna suara-suara teriakan marah dari Zidan dan juga ayahnya.


"Pak, apa saya boleh masuk?" tanya Asyifa dari balik pintu setelah mengetuknya beberapa kali. Karna tidak kunjung mendapat respons, ia pun dengan berani membukanya.


"Masuk saja Asyifa" jawab Zidan dengan suara pelan. Pria itu sedang menelungkupkan kepalanya dimeja kerjanya.


Asyifa pun melangkah masuk dan hanya bisa berdiri diam di dekat sofa yang ada diruangan itu, tanpa tahu harus berbuat apa.


"Kenapa juga aku masuk kesini, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gerutu Asyifa dalam hatinya.


Beberapa menit berlalu tanpa suara membuat Zidan mau tidak mau harus mengangkat kepalanya untuk mencari keberadaan Asyifa. Saat pandangan mereka bertemu, Asyifa hanya bisa tersenyum canggung ke arahnya.


"Astaga, apa yang kamu lakukan dengan hanya berdiri diam disitu Asyifa?" tanya Zidan sambil tertawa kecil.


"Maaf pak, saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya datang kesini karna khawatir dengan keadaan pak Zidan"


"Apa kamu mendengar pembicaraan diantara aku dan ayahku, juga Kinara?"


"Saya tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan pak, tapi suaranya terdengar begitu saja sampai ke ruangan saya. Saya minta maaf pak"

__ADS_1


"Tidak apa-apa Asyifa. Tadi kamu bilang khawatir denganku bukan? Apa kamu bisa melakukan sesuatu untukku?"


"Apa itu pak? Saya akan melakukannya jika saya bisa" jawab Asyifa antusias.


"Duduklah disofa itu Asyifa"


Asyifa menuruti perkataan Zidan dan duduk diam disana. Zidan kemudian menghampiri Asyifa dan duduk disebelahnya, Ia kemudian meletakkan kepalanya bersandar dibahu gadis itu.


Asyifa yang mendapat perlakuan seperti itu pun terkejut, dan ingin menarik bahunya menjauh dari Zidan. Namun dengan cepat, tangannya ditahan oleh Zidan dan digenggam erat oleh pria itu.


"Jangan bergerak Asyifa. Sebentar saja, biarkan aku seperti ini. Aku mohon"


Mendengar permohonan Zidan yang tampak tulus, membuat Asyifa hanya bisa menuruti ucapan pria itu tanpa suara.


*****


Jam menunjukkan pukul 10 malam, namun sedetik pun Asyifa tidak dapat memejamkan kedua matanya.


Tidak biasanya dia seperti ini. Ia adalah salah satu tipe orang yang paling gampang tertidur saat berada diatas tempat tidur, namun kini pikirannya dipenuhi dengan Zidan.


Ia masih tidak bisa mengerti maksud dari pembicaraan diantara Zidan dan ayahnya, serta Kinara yang didengarnya siang tadi.


"Pak Zidan dan Kinara pernah pacaran? Lalu kenapa Kinara malah menikah dengan ayah pak Zidan, dan bukannya dengan pak Zidan? Apa aku yang sudah salah dengar?" gumam Asyifa pada dirinya sendiri.


Asyifa kemudian memilih bangkit dari tidurnya, lalu dengan malas berjalan keluar kamar. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan sangat ingin minum air.


Diluar, Asyifa bertemu dengan Mira yang juga baru saja mengambil air dari dapur. Melihat sosok Asyifa, Mira melewatinya begitu saja.


"Mira tunggu, aku ingin bicara dengamu" ucap Asyifa memberanikan diri.


Sebenarnya ia sangat menyesal setelah memperlakukan kedua sahabatnya dengan sangat buruk, hanya karna masalah dengan William.


"Ada apa? Apa kamu ingin menampar pipiku yang sebelah lagi?" tanya Mira sinis.


"Aku ingin minta maaf padamu. Seharusnya aku tidak memperlakukan kalian berdua seperti itu, mengingat betapa pedulinya kalian kepada diriku. Aku sangat menyesal"


"Gampang sekali yah. Kamu sudah melukai seseorang dengan kata-kata dan perlakuanmu, kemudian meminta maaf"


"Mira, aku sungguh menyesal. Sesaat aku menjadi tidak percaya pada siapa pun karna William yang terlihat mencintaiku, dalam sebulan bisa berubah untuk bertunangan dengan wanita lain"


"Jangan bilang, kalau kamu pikir aku dan Angel sama dengan William? Apa kamu sudah gila, Asyifa?"


"Aku hanya takut untuk kehilangan seseorang lagi dalam hidupku. Aku sengaja menjauhkan diri dari semua orang disekitarku, termaksud darimu dan juga Angel"


"Astaga Asyifa, aku dan Angel tidak akan pernah meninggalkanmu! Berpikir seperti itu pun tidak pernah sekalipun, karna kami tulus ingin bersahabat dengamu"


"Aku tahu. Aku menyesal sekarang dan merasa sangat malu padamu dan juga Angel. Tidak seharusnya aku memperlakukan kalian seperti itu hanya karena masalahku dengan William" ucap Asyifa mulai terisak.


Mendengar ucapan Asyifa, Mira pun tanpa ragu maju untuk memeluk tubuh sahabatnya itu erat.


"Jangan menangis Asyifa. Aku dan Angel tidak pernah sekali pun marah padamu, kami hanya sedikit kecewa"


"Apa yang kalian berdua lakukan tanpa diriku? Apa kalian berpelukkan tanpa mengajak diriku juga?" tanya Angel tiba-tiba muncul.


Sebenarnya Angel sudah mendengar pembicaraan antara Asyifa dan Mira sedari tadi dari dalam kamarnya.


Ia memilih untuk menahan diri tidak keluar, hingga kedua sahabatnya itu menyelesaikan masalah diantara mereka.


"Aku juga ingin meminta maaf padamu, angel" ucap Asyifa saat melihat kehadiran Angel.


"Tenang saja, aku tidak marah padamu Asyifa. Aku bisa mengerti sikapmu menjadi seperti itu, karna rasa benci dikhianati oleh orang yang sangat kamu percayai dan cintai setulus hatimu"


Angel turut bergantian untuk memeluk Asyifa mengikuti Mira.


"Kamu tidak seharusnya merusak kehidupan pribadimu, dan hubunganmu dengan orang disekitarmu hanya karena satu pria seperti William. Kamu berharga dan layak untuk bahagia juga Asyifa, lupakan dia dan tunjukkan kalau hidupmu bisa lebih baik tanpa dirinya"


"Terima kasih Angel, terima kasih Mira. Sekali lagi aku minta maaf"


"Besok aku dan Angel akan melihat-lihat apartemen, dan secepatnya pindah dari sini. Kamu akan ikut bersama kami bukan?"


"Apa aku boleh ikut?"


"Tentu saja boleh! Kita pindah dari sini, dan kembalikan surat kepemilikan serta kunci apartemen ini pada pria berengsek itu!" ucap Angel tegas.


"Hahaha. Baiklah, aku akan ikut bersama kalian. Karna kita sahabat, kita harus selalu bersama terus"


"Anak pintar" ucap Mira sambil ikut memeluk Asyifa dengan sayang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2