
Asyifa bergegas menuju ke arah ruangan Zidan, untuk memberitahu tentang informasi apa yang baru saja diketahuinya tentang Eden dari Elina yang menjadi perawat gadungan.
Tanpa ucapan permisi yang biasanya selalu diucapkannya saat ingin masuk ke dalam ruangan Zidan, atau pun sebuah ketukan di pintu, Asyifa langsung menerobos masuk.
Hal itu sontak saja membuat Zidan yang kini sedang berada dibalik meja kerjanya dengan setumpuk berkas yang sedang ditanda tangani olehnya, langsung mengalihakan fokusnya ke arah pintu.
Tatapan pria itu seketika berubah bingung dan juga khawatir, saat melihat ada yang tidak biasa pada ekspresi wajah Asyifa. Dengan cepat Zidan bangkit dari duduknya, dan juga berjalan ke arah Asyifa.
"Hei, ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Aku baru saja akan mendatangi ruanganmu untuk mengajak makan siang bersama, setelah menandatangani satu lagi dokumen" sapa Zidan, sambil menyelipkan sehelai daun rambut milik Asyifa, ke telinga wanita itu.
"Bukan soal makan siang yang menjadi tujuanku datang ke ruanganmu. Tapi yang menjadi tujuanku, adalah tentang Eden"
"Tentang Eden? Bukannya tadi pagi aku sudah mengatakannya padamu, kalau sampai detik ini juga, baik itu pihak berwajib atau pun Raka dan juga Adam, belum bisa menemukan satu pun petunjuk mengenai keberadaannya. Aku tahu kamu sangat mencemaskan Eden, tapi aku mohon kamu bisa sedikit lebih sabar lagi. Aku janji, pasti akan berusaha semampuku untuk menemukannya"
"Bukan, bukan tentang kemajuan dari pihak berwajib atau pun dari Raka dan juga Adam yang ingin aku bahas. Tapi tentang sebuah kejadian tak terduga yang baru saja terjadi padaku, beberapa menit yang lalu!"
"Kejadian? Kejadian apa yang sedang kamu maksudkan, sayang? Coba duduk dulu, dan jelaskan padaku" ajak Zidan menuntun Asyifa ke sofa yang ada di ruangannya.
"Kamu pasti tidak akan menyangka tadi siapa yang telah dengan beraninya menelponku, saat aku masih berada di dalam ruanganku seorang diri"
"Siapa?"
"Penculik Eden yang menelponku, Zidan! Wanita itu dengan beraninya telah menelpon aku beberapa menit yang lalu!" jawab Asyifa, terlihat kesal.
"Penculik Eden? Maksudmu, si perawat gadungan itu yang mebelponmu?"
"Iya, dia!"
"Apa yang dia katakan padamu? Apa dia telah mengatakan sesuatu yang kasar atau malah memberikan ancaman padamu?" tanya Zidan khawatir.
"Tidak Zidan, tidak. Dia tidak mengatakan sesuatu yang kasar padaku, atau pun sudah mengancamku. Tapi sebaliknya, dia malah ingin mengembalikan Eden padaku dengan cara menyamar sebagai orang lain"
"Menyamar sebagai orang lain? Bagaimana bisa dia berani melakukan hal itu? Coba kamu jelaskan secara lebih mendetail lagi padaku, Asyifa" pinta Zidan semakin penasaran.
Mendengar permintaan Zidan, Asyifa segera menceritakan apa yang dikatakan oleh Elina saat wanita itu menelpon Asyifa dan ketika dirinya berpura-pura menjadi orang lain.
Tapi sayangnya, semua rencananya itu malah dibongkar oleh Asyifa dengan mudahnya, karna ada penjelasan Elina yang terdengar tidak masuk akal bagi Asyifa.
Dan semua itu sampai bisa terjadi, karna Elina memutuskan menelpon Asyifa saat dirinya tengah berada dalam kecemasan dan juga kepanikan akibat kondisi Eden yang tanpa terduga menjadi tidak stabil.
"Dia bilang padamu, bahwa adiknya adalah salah satu korban yang telah dibunuh oleh Eden dan juga ibunya? Apa kamu yakin tidak salah dengar?"
"Tidak, aku yakin itu lah yang dikatakannya padaku sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon begitu saja"
"Ternyata benar dugaanku, kalau wanita itu adalah seseorang yang dikenal oleh Eden dan memang sedang menaruh dendam pribadi padanya" gumam Zidan pelan.
"Tapi kalau memang dia adalah salah satu kenalan Eden, kenapa waktu wanita itu muncul dihadapannya, Eden malah tidak mengenalinya sama sekali? Seharusnya kan dia bisa mengenali wanita itu sebagai kakak dari salah seorang anak yang menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh ibunya"
"Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku ceritakan padamu? Bahwa Eden sempat mengenali sosok wanita itu ketika pertama kali bertemu. Tapi entah mengapa dia malah berpura-pura tidak mengenalinya, dan juga melakukan perkenalan seperti orang yang baru pertama kali bertemu"
Tiba-tiba sebuah kemungkinan yang paling tidak masuk akal muncul di dalam pikiran Asyifa, tentang mengapa Eden melakukan semua itu.
Tapi wanita itu segera menepisnya cepat, seolah tidak ingin mempercayai kalau Eden akan nekat melakukan hal itu. Setelah semua yang Asyifa, dan juga Zidan lakukan demi dirinya.
"Aku rasa, Eden sebenarnya sudah tahu siapa identitas asli dari wanita itu, dan juga tahu apa maksud kedatangannya menemui Eden di panti. Tapi Eden sengaja tidak menunjukan itu semua di depan kita, supaya kita tidak menaruh curiga pada wanita itu" ucap Zidan, menduga-duga.
Sontak saja Asyifa menjadi terkejut saat mendengar dugaan yang Zidan katakan. Karna dugaan itu juga yang sempat terlintas dalam pikiran Asyifa.
Tapi wanita itu tidak ingin mempercayainya, karna ia sangat yakin, bahwa Eden masih ingin hidup panjang dan pasti tidak akan membuat semua usaha yang dilakukan oleh dirinya dan juga Zidan dalam menyembuhkan pria itu, menjadi sia-sia pada akhirnya.
"Aku rasa kamu salah paham Zidan. Eden mana mungkin membiarkan dirinya yang baru saja keluar dari alam maut, kembali masuk ke dalam sana hanya karna seorang wanita yang adalah kakak dari salah satu korban berani mendatanginya. Itu tidak mask akal sama sekali bagiku" bantah Asyifa yakin.
"Tapi bagiku itu sangat masuk akal Asyifa. Apa kamu lupa bagaimana sedih dan putus asanya Eden saat dirinya diusir dari rumah sakit waktu itu? Dia bahkan merasa bahwa dirinya memang pantas untuk mendapatkan perlakuan semacam itu"
"Kali ini berbeda Zidan. Ini bukan hanya pengusiran biasa seperti yanh dilakukan oleh pihak rumah sakit, tapi ini bisa saja adalah balas dendam yang mengerikan. Mana bisa dia tega melakukan semua itu, bagaimana bisa dia mengabaikan semua usaha yang kita lakukan untuk membuatnya tetap hidup!" ucap Asyifa terisak.
"Tenanglah Asyifa. Kita harus bisa memahami posisi Eden yang selalu serba salah, dan apa yang dirasakannya. Dia pastinya merasa kalau dirinya memang pantas untuk mendapat balas dendam atas apa yang dilakukannya di masa lalu"
"Tapi itu semua adalah salah ibunya dan bukan salah Eden. Eden juga salah satu yang menjadi korban wanita gila itu!"
__ADS_1
"Aku tahu Asyifa, aku tahu. Tapi yang lebih penting saat ini ialah menemukan Eden, dan bukannya mempersalahkan yang sudah terjadi. Kamu pastinya mengerti maksudku bukan? Jadi aku mohon tenanglah, sayang" bujuk Zidan, membawa Asyifa masuk ke dalam pelukannya.
Asyifa yang masih merasa kesal, akhirnya menumpahkan semua kekesalan itu melalui air mata yang tumpah dibalik pelukan hangat sang tunangan.
*****
Mobil Zidan memasuki halaman parkir yang ada di depan kantor polisi, dan pria itu segera turun bersama dengan Asyifa untuk masuk ke dalam kantor tersebut.
Yah, Zidan dan Asyifa datang untuk bisa menceritakan langsung tentang informasi yang baru saja di diketahui oleh Asyifa.
Seorang kepala polisi yang bertugas dalam menangani kasus pembunuhan yang telah dilakukan oleh ibu Eden, telah menanti keduanya.
Karna memang sebelum datang, Zidan sudah lebih dulu menelpon polisi tersebut untuk mengabarkan terlebih dulu kalau ia akan segera datang.
"Selamat datang pak Zidan, ibu Asyifa. Mari silakan kita bicara di ruanganku saja" sapa polisi itu ramah, sambil menyalami Zidan dan Asyifa secara bergantian.
Keduanya pun melangkah mengikuti polisi tersebut ke dalam ruangan kepala polisi untuk bisa berbicara secara lebih leluasa, karna memang keadaan diluar sedang penuh dengan kebisingan orang banyak.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu lakukan untuk pak Zidan dan juga Asyifa? Tentunya, pak Zidan dan ibu Asyifa memiliki maksud yang pasti saat datang kesini"
"Benar pak, kami berdua datang karna memang ada yang harus kami bicarakan"
"Silakan pak Zidan, aku siap mendengarkan apa pun itu. Dan juga siap membantu jika memang bisa membantu"
"Kalau boleh aku bertanya, apa waktu semua jasad korban pembunuhan oleh pemilik panti telah ditemukan, ada kah diantara korban itu yang masih memiliki sanak saudara atau pun keluarga, yang datang untuk melihat jasad mereka?" tanya Zidan penasaran.
"Keluarga yah? Sepertinya waktu itu ada beberapa pihak yang dihubungi oleh para bawahanku untuk mengabarkan kasus yang mengemparkan itu. Memanya ada pak Zidan, apa hal itu ada kaitannya dengan hilangnya pak Eden saat ini?"
"Bisa dibilang begitu pak. Orang yang sudah menculik Eden sampai saat ini, beberapa jam lalu baru saja mrnghubungi Asyifa. Dan dari pembicaraan mereka, Asyifa bisa mengetahui identitas pelaku yang ternyata adalah kakak dari salah seorang anak yang menjadi korban pembunuhan"
"Seorang kakak perempuan yah? Apa benar itu adalah orang yang sama dengan gadis muda waktu itu?" gumam pak polisi pelan.
Tapi gumaman tersebut masih bisa di dengar oleh Zidan dan juga Asyifa. Keduanya segera saling melempar tatapan penasaran dengan apa yang diucapkan oleh pak polisi.
"Apa ada seorang yang bapak pikirkan saat ini? Soalnya tadi aku dan Zidan seperti mendengar bapak seperti sedang mengingat sosok seseorang"
"Iya benar. Ada seorang gadis muda yang perawakannya dan usianya terlihat sama dengan ibu Asyifa, yang pernah datang kesini untuk menayakan kebenaran kasus yang terjadi di panti tersebut. Saat dibilang bahwa itu semua benar, dia lalu menangis dalam waktu yang lama hingga jatuh pingsan"
"Aku tidak ingat tepatnya, karna dia berbicara dengan bawahanku waktu itu. Tapi dari yang aku ingat sebelum dia menangis dan jatuh pingsan, wanita itu sempat mengkonfirmasi apa benar keluarganya juga adalah korban, dengan menunjukkan sebuah foto"
"Foto? Apa foto itu masih ada di dalam kantor ini pak? Boleh aku dan Asyifa melihatnya?"
"Foto itu dibawanya kembali pak Zidan. Tapi tidak perlu cemas, karna foto para korban masih tersimpan rapi di lemari arsip dalam kantor ini, jadi kita tinggal mencocokkannya dengan foto yang dilihat oleh bawahanku waktu itu" usul polisi tersebut.
"Benar juga kata bapak. Kalau begitu, aku mohon bantuannya untuk hal tersebut"
"Baik pak Zidan"
Kepala polisi itu pun mengambil gagang telepon yang ada diatas mejanya dan segera menghubungi bagian lain untuk mencari bawahan yang dimaksudkan olehnya.
Tak butuh waktu lama, sebuah ketukan di pintu ruangan itu pun terdengar, dan muncul sosok seorang wanita berseragam yang masuk dengan wajah kebingungan.
Dengan sopan, dia terseyum mengangguk ke arah Asyifa dan juga Zidan, serta tak lupa memberi hormat pada sang atasan. Dalam tangan wanita itu, ada sebuah map berwarna coklat yang bisa ditebak oleh Zidan, sebagai map yang berisikan foto semua korban.
"Perkenalkan, ini lah bawahanku Sela yang waktu itu bertugas untuk berbicara dengan wanita yang tadi ceritakan. Pak Zidan dan ibu Asyifa, bisa langsung bertanya padanya"
"Terima kasih pak"
"Sama-sama bu Asyifa"
"Maaf Mira, kamu pasti terkejut dan juga kebingungan karna dipanggil oleh atasanmu secara tiba-tiba seperti ini. Tapi ada sesuatu yang harus aku dan tunanganku pastikan, dan itu membutuhkan bantuan darimu. Apa kamu tidak keberatan?"
"Ah, tentu saja tidak bu. Ibu Asyifa boleh meminta bantuan dariku sebanyak yang ibu perlukan, dan aku pasti akan berusaha untuk membantu" jawab Sela ramah.
"Begini Sela, apa benar kamu yang waktu itu melihat foto dari seorang wanita seumuran denganku, yang datang kesini untuk mencari informasi bahwa keluarganya merupakan salah seorang korban pembunuhan di panti?"
"Apa wanita yang ibu Asyifa maksudkan itu, adalah wanita yang juga sempat menangis hingga pingsan di kantor kami ini?"
"Iya benar Sela, wanita itu"
__ADS_1
"Kalau begitu, memang benar aku lah yang bertugas untuk melayaninya waktu itu, dan juga membantunya mengkonfirmasi foto adiknya sebagai salah satu korban"
"Adik?" tanya Asyifa dan Zidan bersamaan.
"Iya pak, bu. Waktu itu foto yang ditunjukkan olehnya adalah foto seorang anak kecil yang disebutnya sebagai adiknya. Bahkan saat menangis, dia juga terus-terusan meneriaki nama sang adik"
"Apa kamu bisa menyamakan foto yang waktu itu kamu lihat, dengan foto-foto korban yang ada di dalam map coklat yang kamu bawa?" pinta Zidan.
"Tentu saja bisa pak"
Sela pun mulai membuka halaman map yang berisikan foto korban itu secara perlahan, dan mulai memperhatikannya dengan saksama satu persatu.
Hingga tiba pada halaman terakhir, tapi Sela tetap tidak bisa menemukan foto yang sama dengan yang ada dalam ingatannya. Seolah ada seseorang yang dengan sengaja telah mengeluarkan foto tersebut dari sana.
Untuk memastikannya, Sela pun kembali pada halaman awal map dan mulai mencoba menghitung foto para korban yang ada, untuk mencocokkannya dengan jumlah korban yang diketahui pasti olehnya.
Dan benar saja, hasilnya tidak sama karna ternyata foto yang ada di dalam map itu telah berkurang satu foto.
"Ada apa Sela? Apa ada sesuatu yang salah, apa kamu sudah berhasil menemukan foto anak yang wajahnya sama dengan foto yang dibawa oleh wanita waktu itu?"
"Tidak ada bu. Foto anak itu tidak ada di dalam map ini, mau seberapa banyak kali aku mencari, tetap saja tidak bisa menemukan foto wajah anak yang sama"
"Apa maksudnya? Jadi, kamu sudah salah memberikan informasi pada wanita itu, kalau adiknya juga adalah salah satu korban?" tanya Asyifa panik.
"Aku tidak salah memberikan informasi pada wanita itu, bu Asyifa. Tapi foto anak itu tidak ada di dalam map, karna ada seseorang yang sudah mengambilnya dari sini"
"Mengambilnya? Siapa?"
"Soal itu, aku juga tidak tahu siapa yang sudah melakukannya. Tapi aku akan coba bertanya kepada mereka yang bertugas untuk menjaga map ini"
Seketika itu juga, harapan yang tadinya sempat muncul dalam hati Asyifa dan juga Zidan, redup saat itu juga.
Akhirnya pencarian keduanya harus kembali menemukan titik buntu. Entah kali ini apa yang bisa mereka lakukan untuk mencari pentunjuk lainnya.
Dengan tatapan sedih, Asyifa menatap kepergian Sela yang berjalan keluar ruangan untuk menanyakan kemana foto itu pergi kepada pihak yang bertugas menjaga map tersebut.
"Sepertinya pencarian pak Zidan dan juga ibu Asyifa tidak berjalan lancar, karna adanya kelalaian yang dilakukan oleh bawahanku. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf atas hal terseut" ucap kepala polisi, seolah menyadari kekecewaan yang tengah dirasa oleh Asyifa dan juga Zidan.
"Tidak apa-apa pak. Aku dan Asyifa juga tidak bisa memaksa para bawahan bapak untuk selalu bisa bekerja dengan baik, karna setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya" jawab Zidan mencoba untuk mengerti.
"Terima kasih pak Zidan. Tapi aku berjanji, akan berusaha untu menemukan foto anak itu dan memberikannya pada pak Zidan dan juga ibu Asyifa"
"Baik pak, kami berdua mohon bantuan dan kerjasamanya dari bapak. Sebaiknya kami pulang dulu sekarang, dan menunggu kabar baiknya saja dari bapak"
"Pasti pak Zidan. Pasti akan langsunh aku kabari begitu menemukannya"
"Terima kasih pak. Kami permisi"
"Iya, silakan"
Mau tak mau, Asyifa pun mengikuti langkah Zidan keluar dari ruangan kepala polisi, dan menuju ke arah parkiran dimana mobil Zidan berada.
Tapi ketika keduanya telah bersiap untuk masuk, sebuah suara teriakan yang datang dari arah belakang, membuat niat mereka harus terhenti sejenak.
Dan ternyata itu adalah teriakan yang berasal dari sosok Sela, yang kini tengah berlari-lari cepat ke arah kedua orang itu.
"Sela? Ada apa? Kenapa kau lari-lari segala seperti sedang dikejar seseorang saja?" tanya Asyifa cemas.
"A, aku, aku sudah"
"Atur dulu nafasmu sebelum bicara Sela. Bisa-bisa, kamu malah kesulitan bernafas nantinya" tegur Zidan ikutan cemas, melihat tingkah wanita itu.
Namun Sela yang seolah tidak ingin menuruti perkataan Zidan dan Asyifa, secepatnya menggeleng-gelangkan kepalanya kuat-kuat.
"Aku ingat! Aku__, aku sudah ingat siapa nama anak,__ yang disebut oleh wanita itu ketika menangis disini"
"Benarkah? Siapa namanya Sela?"
"Elisa. Nama anak itu adalah Elisa, bu Asyifa!"
__ADS_1
Bersambung...