The Ugly Wife

The Ugly Wife
Permintaan maaf


__ADS_3

Asyifa menatap punggung pria yang masih sangat ia cintai hingga saat ini dengan tatapan penuh kerinduan. Ingin rasanya ia berlari dan membiarkan dirinya berada dalam pelukan yang sangat ia sukai.


William yang menyadari kedatangan Asyifa beserta Zidan dan juga kedua sahabatnya, segera berdiri untuk menyambut mereka. Ia dengan canggung, melemparkan senyuman namun tak ada satu pun yang membalas.


"Hai semua. Maaf karena datang tiba-tiba dan mengganggu acara kalian"


"Bagus kalau kamu sadar diri. Memangnya ada perlu apa lagi kamu dengan Asyifa sampai datang ke sini tanpa mengabari, buat orang repot saja!" gerutu Mira sinis.


"Mira, jangan seperti itu. Maafkan ucapan Mira barusan yah William, tapi kamu pasti mengerti kenapa dia bersikap seperti itu padamu bukan?"


"Iya Angel, aku sangat mengerti dan sangat menyesal sudah berbuat salah terhadap Asyifa. Aku hanya ingin diberikan waktu sekali lagi untuk berbicara dengan Asyifa, aku janji tidak akan memakan waktu lama"


"Terserah. Yang jelas, kami semua sudah muak melihat mukamu! Ayo Angel, kita duduk di tempat lain" ucap Mira sambil menarik tangan Angel menuju tempat duduk lain yang berada di ruang tamu hotel.


"Pak Zidan, apa bapak bisa memberikan waktu untuk aku bicara berdua dengan William?"


"Baiklah. Aku akan duduk menunggu bersama Mira dan juga Angel. Panggil saja jika kamu membutuhkan sesuatu" ucap Zidan sambil menyentuh puncak kepala Asyifa lembut.


"Baik pak. Terima kasih"


William melihat interaksi kedua orang di hadapannya, merasa ada sedikit rasa perih di hatinya. Ia juga sangat ingin bisa kembali memperlakukan Asyifa seperti yang Zidan lakukan pada gadis itu, namun William sangat sadar bahwa hal itu tidak mungkin bisa dilakukannya lagi.


Sebelum pergi, Zidan melemparkan tatapan mengancam kepada William. Seolah dari tatapannya itu, ia ingin memberi tahu William untuk tidak membuat Asyifa bersedih lagi dan jika itu terjadi, maka Zidan sendiri yang akan memberikannya pelajaran yang setimpal.


"Tenang saja, aku tidak akan membuatnya terluka seperti terakhir kali pertemuan kami" ucap William mencoba meyakinkan Zidan.


Setelah Zidan pergi, Asyifa baru ingin duduk di tempat duduk yang berhadapan dengan William. Sekuat tenaga, ia mencoba untuk membuat dirinya tidak menunjukkan perasaan apa pun terhadap pria itu.


Entah mengapa, melihat sosok William yang nampak menyedihkan di depannya, membuat hati Asyifa sedikit terluka. Ingin rasanya ia menanyakan apa yang terjadi pada pria itu, hingga wajahnya bisa terluka saat ini dan apa ia merasa lelah selama perjalanan ke sini.


"Jangan melihatku seperti itu Asyifa, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, karna tidak sengaja terjatuh saat buru-buru ingin datang menemui dirimu"


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, hingga datang jauh-jauh menyusul ke sini?" tanya Asyifa dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis.


Ia sengaja tak merespons penjelasan William, untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi peduli tentang apa yang terjadi pada diri pria itu. Asyifa tidak ingin William tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.


"Ah iya, aku hampir lupa. Apa kamu melihat pakaian yang sekarang aku pakai? Ini adalah pakaian yang biasa di pakai seorang pria yang akan menjadi mempelai pria dalam sebuah acara pernikahan" jelas William sambil tersenyum kecut.


"Jadi kamu jauh-jauh datang ke sini untuk bertemu denganku, hanya untuk membuatku melihat dirimu dalam pakaian pernikahanmu, begitu?" tanya Asyifa yang seketika menjadi marah karena merasa dirinya kembali di permainkan oleh William.


"Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkannya padamu, bahkan baru beberapa jam yang lalu aku mengira kita tidak akan bisa bertemu lagi. Aku bahkan berpikir, aku sungguh akan menjadi suami dari wanita lain yang sama sekali tidak aku cintai, dan tidak akan bisa memiliki kesempatan untuk kembali mendekati dirimu"


"Kalau kamu hanya ingin berbicara tentang omong kosong, sebaiknya hentikan sekarang juga. Aku tidak punya banyak waktu luang untuk mendengarkan ceritamu, tentang pernikahanmu itu!" putus Asyifa kesal sambil bangkit dari duduknya.


"Aku sudah mengetahui tentang semua yang sebenarnya terjadi selama ini, Asyifa"


Mendengar ucapan William, Asyifa yang semula ingin pergi meninggalkan pria itu, terdiam ditempatnya berdiri. Ia menjadi sangat ingin mengetahui apa yang terjadi setelahnya pada pria itu, setelah mengetahui kebenarannya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Asyifa tanpa bisa dicegah, sambil menatap wajah William prihatin.


"Astaga Asyifa, kenapa kamu sebaik ini? Kamu masih bisa memikirkan bagaimana perasaanku setelah apa yang aku lakukan padamu. Dibandingkan keluargaku, aku lebih jahat karena tidak mempercayai dirimu, dan malah menuduhmu melakukan hal yang tidak kamu lakukan. Bahkan aku memutuskan kontak denganmu begitu saja tanpa ingin menyelesaikan semua masalah diantara kita. Apa tidak bisa kamu marah atau memukuliku sekalian saja?" ucap William panjang lebar, sambil menyembunyikan wajahnya karena merasa sangat malu.


"Aku memang sangat marah dan juga kecewa padamu, Will. Tapi dibandingkan diriku, kamu pasti lebih merasa sakit hati karena dilukai oleh orang yang sangat dekat dan sangat kamu percayai"


"Aku bahkan ingin melompat dari balkon untuk mengakhiri hidupku sendiri supaya tidak jadi menikah dengan Zenith. Tapi mereka bahkan tidak memikirkan perasaanku sedikit pun, dan terus melakukan segala cara agar keinginan mereka bersama atas hidupku tercapai"


"William. Aku sungguh menyesal untuk apa yang kamu alami" ucap Asyifa sambil menutupi mulut dengan kedua tangannya karna terkejut.


"Tidak apa Asyifa. Aku pantas mengalami semua ini, karna sudah melakukan kesalahan terhadap dirimu. Aku hanya merasa seperti tidak sungguh dicintai oleh keluargaku, dan tanpa sadar aku ingin mendatangi dirimu. Aku sungguh minta maaf Asyifa"


"Jangan berkata seperti itu William. Aku yakin keluargamu sangat mencintai dirimu, walau cara yang mereka pakai salah"


"Entahlah Asyifa, aku tidak ingin memikirkan mereka semua. Saat mengetahui semua kebenaran itu, hanya satu yang terpikirkan olehku, yaitu dirimu"


"Apa kamu mendatangi apertemenku? Dari mana kamu tahu aku sedang ada di sini?" tanya Asyifa penasaran.


"Kamu pasti sudah lupa. Dulu kita pernah saling memasang aplikasi pelacak pada ponsel kita, untuk mengetahui di mana pun posisi satu sama lain berada. Untuk waktu yang lama, akhirnya aku kembali menggunakan aplikasi itu untuk menemukan keberadaan dirimu"


"Ternyata seperti itu" gumam Asyifa pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


Waktu berlalu beberapa menit dalam kesunyian diantara keduanya. Hanya suara hiruk pikuk orang-orang disekitar mereka yang terdengar.


"Aku ingin meminta maaf padamu, Asyifa. Maafkan aku untuk semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu, aku sungguh menyesali semuanya"


"Awalnya memang terasa sangat menyakitkan namun perlahan semuanya bisa membaik seiring berjalannya waktu. Tapi ketika melihat dirimu lagi, rasa sakit itu kembali terasa tanpa bisa ku cegah. Aku juga merasa sedikit jahat padamu, karena saat mendengar kalau dirimu sudah mengetahui kebenarannya, perasaan sakit di hatiku seketika menghilang"


"Kenapa kamu harus merasa jahat padaku?" tanya William tidak mengerti maksud ucapan Asyifa.


"Karna aku aku tahu dengan benar, bahwa mengetahui kebenarannya, berarti dirimu ikut jatuh ke dalam rasa sakit. Namun diriku malah merasa terlepas dari semua perasaan sakit hatiku terhadapmu"


"Aku tidak masalah sama sekali, Asyifa. Aku bersungguh-sungguh" ucap William tulus sambil tersenyum menatap Asyifa.


"Tetap saja aku merasa bersalah juga. Tapi William, aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah memaafkanmu untuk semua yang sudah terjadi. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah padaku"


"Terima kasih Asyifa"


"Meskipun aku sudah memaafkan dirimu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa hubungan diantara kita, tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Aku harap kamu mau mengerti"


"Aku mengerti Asyifa, aku tidak mungkin bisa meminta lebih. Kamu memaafkan diriku saja, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat diriku merasa lebih baik. Sekali lagi terima kasih, Asyifa"


"Sama-sama, William"


"Kalau aku ingin menjadi temanmu, apakah itu mungkin terjadi? Apa aku bisa mengirim pesan atau menelponmu sebagai seorang teman? Jika itu berlebihan, katakan saja. Aku akan menerimanya"


"Tentu saja boleh, William. Aku tidak ingin memutuskan hubungan baik diantara kita. Meskipun tidak menjadi sepasang kekasih, tidak masalahkan jika kita menjadi teman saja?"


"Terima kasih Asyifa"


Keduanya kemudian saling melempar senyum pertemanan, sebagai awal untuk memulai hubungan yang baru.


Dalam hatinya, Asyifa berharap apa yang ia putuskan hari ini, menjadi sebuah awal yang lebih baik untuk hubungannya bersama William. Ia tak ingin terburu-buru untuk kembali memulai sebuah hubungan pacaran dengan pria itu, biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya.


Karna jika jodoh, mereka pasti akan tetap menyatu kembali, meskipun terpisah berapa kali pun.


*****


"Sudahlah Mira, tidak baik membenci orang terlalu lama. Aku juga ingin terbebas dari perasaan sesak yang memenuhi hatiku. Dan jalan satu-satunya untuk terlepas dari semua itu, adalah dengan berdamai bersama William"


"Enak sekali jadi dirinya, melukai seseorang dan meminta maaf dengan alasan sepele dan kemudian dimaafkan begitu saja. Sungguh mudah sekali yah guys!" teriak Mira dengan suara keras supaya bisa terdengar oleh William yang berjalan dibelakang mereka bersama Zidan.


"Aku minta maaf kalau kehadiranku membuatmu kesal, Mira. Aku cuman ingin meminta maaf pada Asyifa, tidak lebih"


"Katanya cuman minta maaf, tapi sampai ikut menginap di hotel yang sama juga" sindir Angel yang sama kesalnya dengan Mira.


"Sudahlah Angel, Mira. William hanya menginap beberapa hari karna ingin menghindari dari keluarganya.Tidak perlu di diributkan seperti itu" ucap Asyifa mencoba menjelaskan keadaan William kepada kedua sahabatnya.


Zidan yang berjalan disebelah William, menatap pria itu dengan tatapan tidak suka yang terlihat jelas. Merasa diperhatikan, William balas menoleh ke arah Zidan.


"Aku benar-benar datang ke sini, hanya untuk meminta maaf pada Asyifa. Tidak lebih, jadi tidak usah melihatku dengan tatapan seperti itu"


"Kamu tidak menepati janjimu, sesuai apa yang telah kita sepakati bersama!" bisik Zidan kesal.


"Baiklah, aku juga akan meminta maaf padamu untuk perihal itu. Tapi aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja tanpa meminta maaf pada Asyifa. Aku juga butuh tempat untuk melarikan diri untuk sementara waktu, jadi tolong mengertilah"


"Awas saja kalau kamu menggunakan waktu selama berada di sini untuk mencoba kembali mendekati Asyifa!"


"Untuk yang satu itu, aku tidak bisa janji. Kami sekarang adalah teman, jadi tidak masalah kan jika teman menjadi dekat satu sama lain, bukan begitu?" ucap William mencoba membuat Zidan kesal.


"Sialan! Asyifa, ayo ikut aku pergi sekarang juga. Ada hal yang harus kamu kerjakan untukku!" teriak Zidan sambil menarik tangan Asyifa untuk pergi dari sana.


"Itu namanya penyalahgunaan kekuasaan pak Zidan yang terhormat! Apa anda tidak merasa masalah sama sekali jika ada yang tahu tentang perlakuan tersebut?" tanya William mencoba menghentikan niat Zidan.


Namun pria itu memilih untuk tak mendengar ucapan William, dan terus menarik tangan Asyifa untuk menjauh dari sana.


"Apa? Kenapa tiba-tiba sekali pak? William, aku minta maaf tidak bisa menunjukkan arah kamar untukmu. Tapi Angel dan Mira pasti bisa menunjukkannya untukmu" ucap Asyifa sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Kamu pasti bercanda, kenapa harus kami berdua yang membantunya? Asyifa!"


"Sudahlah Mira, kamarnya juga sudah tidak jauh lagi. Ayo kita antarkan saja dia"

__ADS_1


"Maaf sudah menyusahkan kalian berdua. Dan terima kasih untuk bantuannya" ucap William pelan.


Mira hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas, dan segera menyeret Angel untuk berjalan lebih cepat.


"Pelan-pelan Mira, aku lelah! Meskipun kamu mempercepat langkah kakimu, tetap saja William bisa dengan mudah menyusul. Lihat saja!"


Benar saja. Saat Mira berbalik, William tepat berada di belakang keduanya. Tak tertinggal selangkah pun, dan nafasnya beraturan. Bukan seperti Mira dan juga Angel, yang mulai kesulitan bernafas karna memaksakan diri untuk berjalan cepat.


"Benar-benar menyebalkan!" gerutu Mira frustrasi saking kesalnya.


*****


Asyifa berkeliling melihat kamar Zidan yang ternyata lebih luas, dibandingkan dengan kamar yang ditempati oleh dirinya bersama Angel dan juga Mira, serta karyawan lainnya.


"Besar sekali kamar pak Zidan"


"Kenapa? Apa kamu juga ingin menempati kamar seperti ini?"


"Mana mungkin pak. Meskipun aku ingin, tapi kan ini pasti harganya sangat mahal! Mana sanggup aku membayarnya"


"Kalau begitu, biarkan aku saja yang akan membayarkannya untukmu"


"Jangan berkata aneh-aneh pak. Mendingan bapak jadi pak Zidan seperti biasanya, yang datar dan sedingin kulkas. Kalau bapak seperti ini, jatuhnya jadi aneh pak!"


"Jadi kamu lebih senang kalau aku bersikap dingin dan datar? Berarti akan ada lebih banyak pekerjaan dan jam lembur untukmu juga! Apa kamu tidak masalah sama sekali dengan semua itu?" tanya Zidan pura-pura mengancam.


"Oh iya pak, tadi bapak bilang ada hal yang harus saya kerjakan. Apa itu pak, biar saya kerjakan sekarang saja" ucap Asyifa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu mencoba mengalihkan pembicaraan yah? Dasar, kamu itu sangat mudah terbaca tahu!"


"Apaan sih pak. Yah sudah, kalau tidak ada yang harus saya kerjakan, lebih baik saya keluar saja"


Baru saja Zidan ingin membiarkan gadis itu pergi, ia terbayang kalau di luar nanti Asyifa akan bertemu lagi dengan William. Buru-buru Zidan menghalangi jalan Asyifa dengan tubuhnya.


"Enak saja, siapa yang bilang kamu sudah boleh pergi begitu saja? Ayo sini ikut aku, ada banyak pekerjaan untukmu!"


Zidan membawa Asyifa ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Kemudian ia membuka bajunya di depan gadis itu. Asyifa yang melihat kelakuan Zidan, segera menutup mata dengan kedua tangannya.


"Apa yang sedang pak Zidan lakukan? Kenapa tiba-tiba main buka baju begitu saja di depan aku?"


"Kenapa kamu pakai menutup mata segala, kayak baru pertama kali melihat tubuh seorang pria saja"


"Memang baru pertama kali bapak!" teriak Asyifa kesal sambil mengintip untuk melihat tubuh indah bosnya itu.


"APA?" ucap Zidan kaget. Ia pikir Asyifa sudah pernah melihat tubuh William tanpa baju, ternyata belum. Dan itu berarti, ia adalah pria pertama yang tubuhnya dilihat oleh Asyifa.


Memikirkan hal itu, membuat Zidan menjadi malu seketika. Dengan cepat, ia meraih handuk yang ada di lemari dalam kamar mandi untuk menutupi bagian atas tubuhnya.


"Aku sudah memakai handuk, jadi kamu sudah bisa membuka matamu"


"Bapak mau melakukan apa sebenarnya, sampai buka baju segala?!"


"Kamu tidak usah berpikiran yang aneh-aneh, aku membuka bajuku supaya bisa dicuci olehmu. Itu semua di dalam bath tub adalah pakaian kotorku, kamu tolong cucikan!"


"Kalau begitu, harusnya pak Zidan buka bajunya di luar kamar mandi saja. Kenapa juga harus di dalam sini, dan lagi di depan aku!" gerutu Asyifa masih kesal dengan tingkah bosnya itu.


"Sudah jangan banyak protes. Cepat kerjakan saja apa yang aku perintahkan!"


"Lagian aku ini sekretaris atau pembantu pak Zidan sih, masa di suruh mencuci pakaian kotor milik pak Zidan juga?"


"Aku tidak bisa jika orang asing yang menyentuh barang pribadiku. Harusnya kamu merasa terhormat, karena hanya orang tertentu saja yang bisa"


"Terserah bapak deh. Sudah keluar sana, biar aku bisa mencuci dengan bebas!" perintah Asyifa sambil mendorong tubuh Zidan keluar dari kamar mandi.


Setelah itu, ia segera mengunci pintu dan jatuh terduduk di lantai kamar mandi sambil memengangi dadanya.


"Dasar pak Zidan, bikin jantungku deg-degan tak tentu arah saja!" gumam Asyifa pelan dengan wajah semerah tomat masak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2