The Ugly Wife

The Ugly Wife
Berada di panti


__ADS_3

Ketika Asyifa dan Eden tiba di panti asuhan yang mereka tuju, keduanya disambut hangat oleh semua penghuni panti. Bahkan ibu panti langsung memberikannya sebuah pelukan, seolah mereka telah lama saling mengenal.


Asyifa yang mendapat perlakuan seperti itu, seketika hatinya menjadi sangat tentram. Apalagi disekitarnya telah berdiri beberapa anak perempuan dan laki-laki yang terlihat mengemaskan.


Anak-anak itu tampaknya sangat penasaran dengan sosok Asyifa yang terlihat asing bagi mereka. Asyifa yang merasa kalau dirinya sedang diperhatikan, hanya bisa tersenyum canggung.


"Asyifa, karna aku sudah mengantarmu dengan selamat ke panti asuhan, dan karna kamu sudah berkenalan dengan semua penghuni panti, maka sudah saatnya aku juga aku untuk pamit"


"Kenapa secepat itu? Aku kan masih belum akrab dengan siapa-siapa disini, apa tidak bisa kamu tetap disini sedikit lebih lama lagi? bisik Asyifa pelan.


"Tapi bagaimana dengan mobilku yang aku tinggalkan di pos jaga? Dan lagipula, motor milik paman juga harus dikembalikan"


"Nanti saja kan bisa, Eden. Ayolah, tolong temani aku disini, setidaknya sampai aku sudah merasa sedikit lebih akrab. Oke?"


"Hah, baiklah"


"Terima kasih Eden, kamu memang yang terbaik!" Asyifa dengan terpaksa melontarkan pujian dari mulutnya.


"Tapi kenapa ekspresimu terlihat seperti terpaksa sekali mengatakannya? Apa kamu memang tidak iklas memujiku?"


"Mana mungkin aku begitu, jangan asal menuduh!"


Melihat Eden dan Asyifa yang terlihat asyik mengobrol, ibu panti pun tersenyum senang. Waninita itu menghampiri mereka berdua dan duduk bergabung disana.


"Kalian berdua terlihat sangat akrab, tidak pernah aku melihat Eden bisa seakrab ini dengan seorang gadis"


"Maaf bu, aku sudah bukan lagi seorang gadis tapi aku adalah seorang janda yang sudah pernah menikah sekali"


"Yang benar? Astaga, kenapa wajahmu tidak menunjukkan hal itu? Maafkan ibu yah Asyifa, karna ibu sudah lancang bicara seperti itu padamu"


"Tidak apa-apa bu, aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula, aku cukup nyaman dengan statusku yang sekarang, karna dengan status ini semua pria akan segera lari menjauh dariku"


"Ya ampun, kenapa kamu bisa bicara seperti itu sambil terseyum lebar? Apa kamu tidak ingin menikah lagi? Siapa tahu pernikahan keduamu, bisa berjalan dengan lancar dan juga bahagia"


"Tidak bu. Aku hanya ingin menghabiskan setiap waktu dalam hidupku, seorang diri saja karna rasanya lebih menyenangkan"


Eden dan ibu panti yang mendengar ucapan Asyifa, hanya bisa saling melempar tatapan bingung dan penuh tanya. Keduanya ingin bertanya lebih lanjut tentang maksud dari ucapan tersebut, namun ekspresi Asyifa seolah enggan membahasnya lagi.


Keadaan diantara mereka bertiga seketika menjadi sangat hening dan canggung, tanpa ada seorang pun yang ingin memulai lagi topik pembicaraan.


Beruntungnya, seorang gadis yang berusia sekitar 17 tahunan, datang menghampiri mereka bertiga untuk mengajak makan bersama.


Tapi karna gadis itu bisu, maka ia hanya bisa menggunakan bahasa isyrat dengan cara menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang baru saja dia katakan bu?" tanya Asyifa penasaran.


"Dia bilang, makan malam sudah selesia disiapkan. Dia juga meminta tolong padaku, untuk mengajakmu dan Eden makan bersama dengan anggota panti lainnya di meja makan"


"Ah, begitu. Maafkan aku yang tidak mengerti bahasa isyarat darimu, dan terima kasih karna sudah disiapkan makan malam" ucap Asyifa pada gadis tersebut.


Mendengar ucapan Asyifa, gadis itu menjadi sangat senang. Tanpa ragu dan merasa canggung sedikit pun, ia langsung memeluk lengan Asyifa dan membawanya ke ruang makan.


Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah meja besar dan panjang dengan belasan kursi yang berjejer rapi di kanan dan kirinya. Hampir semua kursi itu sudah berpenghuni, hanya ada empat lagi kursi yang belum di duduki.


Gadis itu memberikan isyarat pada Asyifa untuk segera duduk di salah satu kursi tersebut. Ketika semua kursi telah dipenuhi dengan kehadiran Eden dan juga ibu panti, piring pun mulai dibagikan.


"Ambil makanan yang banyak Asyifa, kamu pasti merasa lapar setelah seharian melalui perjalanan panjang hingga bisa sampai di panti ini"


"Ah, baik bu"


"Eden juga, makan yang banyak. Anggap saja makanan ini sebagai ucapan terima kasih dari ibu, karna Eden sudah membantu menjemput Asyifa di kota"


"Siap bu, aku pasti akan mengambil sebanyak mungkin dan menghabiskannya dengan penuh rasa syukur" jawab Eden tersenyum senang.


Asyifa yang mendengar ucapan Eden, hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas. Asyifa sepertinya sudah mulai merasa terbiasa dengan sosok Eden, yang selalu bisa mengekspresikan diri sesuka hantinya.

__ADS_1


Setelah semua sudah selesai kebagian jatah mengambil makanan, tibalah giliran Eden. Melihat banyaknya nasi dan lauk pauk yang diambil oleh Eden diatas piringnya, membuat Asyifa menatap pria itu kesal.


"Dasar pria tak berperasaan, bisa-bisanya merampas makanan milik ibu dan anak-anak panti sebanyak itu!" bisik Asyifa pelan.


Seolah memiliki pendengaran yang sangat tajam, Eden segera menoleh ke arah Asyifa dan meleletkan lidahnya sambil memasang ekspresi wajah yang mengesalkan.


"Ya ampun, kenapa ada pria yang tingkahnya sangat kekanakan seperti itu? Padahal sudah seumuran denganku"


Namun sekali lagi, Eden terlihat seperti bisa mendengar apa yang diucapkan Asyifa walaupun dengan suaran pelan. Karna pria itu kembali memperlihatkan beberapa ekspresi mengesalkan ke arah Asyifa.


Dan begitulah acara makan malam Asyifa yang dihabiskan dengan menyantap makanan enak, dan sambil menanggapi cerita ibu panti, dan juga tak lupa membalas ejekan-ejekan yang datang dari Eden.


"Ini" ucap Asyifa sambil menyerahkan beberapa lembar uang 100 ke arah Eden.


"Kenapa kamu tiba-tiba memberikanku uang sebanyak itu? Jangan bilang kalau kamu sedang mengejekku, karna tadi aku banyak sekali mengambil makanan"


"Tidak usah berburuk sangka dulu padaku! Uang ini aku berikan, buat kamu bayar uang sewa motor, dan juga sebagai bayaran karna kamu sudah bersedia menjemputku dari kota, dan mengantarkanku hingga sampai kesini"


"Ah begitu, tapi aku tidak melakukan semua itu demi bisa mendapatkan bayaran darimu. Aku melakukannya, karna dimintai tolong oleh ibu panti. Dan untuk uang sewa motor kamu tenang saja, biarpun aku miskin, tapi masih sanggup lah untik membayarnya"


"Aku tetap ingin memberikannya padamu, aku tidak mau harus mempunyai utang budi pada orang yang baru saja ku kenal. Jadi jangan menolaknya, dan terima saja!"


"Kalau aku tetap tidak mau menerimanya, bagaimana? Apa kamu juga akan tetap memaksaku?"


"Tentu saja! Dan bukan hanya memaksa saja, aku bahkan juga bisa sampai menghantuimu setiap saat, sampai kau mau mengambil uang ini dari tanganku!"


"Baiklah, baiklah, aka ku ambil. Sudah kan, apa sekarang kamu sudah merasa puas?" tanya Eden, sambil mengambil uang yang ada ditangan Asyifa.


"Tentu saja aku merasa puas, karna itu berarti aku sudah tidak punya utang budi apa-apa lagi padamu. Yah sudah, sana pulang!"


"Ya ampun, dasar orang kota, tidak ada sopan santunnya sama sekali. Masa aku main diusir begitu saja!"


*****


Keesokan paginya, Asyifa bangun terlambat karna setelah kepergian Eden semalam, ia masih harus membantu para anggota panti lainnya untuk membersihkan dapur dan juga mencuci piring-piring kotor yang menumpuk.


Setelah selesai mandi, Asyifa bergegas keluar dari kamar untuk mencari keberadaan ibu panti. Hari ini, tugas Asyifa adalah menjadi guru untuk mengajar anak-anak panti dengan beberapa mata pelajaran.


"Asyifa, kamu sudah bangun?"


"Ah, iya bu. Maaf karna aku bangunnya agak kesiangan, soalnya masih baru disini"


"Tidak apa-apa nak" jawab ibu panti sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih bu. Kalau boleh tahu, ruangan yang biasa dipakai anak-anak untuk belajar dibagian mana yah? Biar aku bisa langsung kesana, dan mulai mengajar"


"Maaf Asyifa, ibu pikir kamu akan terlambat sekali bangunnya, jadi tugas mengajarmu hari ini ibu berikan pada Eden yang menggantikan"


"Eden? Dia juga biasa mengajari anak-anak panti belajar? Kenapa kemarin selama dalam perjalanan kesini, dia tidak menceritakannya padaku?"


"Iya, Eden biasanya membantu ibu dengan segala macam pekerjaan, termaksud untuk mengajari anak-anak panti. Tapi selebihnya, dia lebih banyak melakukan pekerjaan kasar dan juga berat"


"Ya sudah kalau begitu bu, lagian ini memang salahku yang bangung terlambat. Apa tidak ada hal lain yang bisa aku bantu kerjakan?" tanya Asyifa pasrah.


"Kalau Asyifa tidak keberatan, apakah mau membanti ibu dan beberapa anak panti lain untuk memanen sayuran, dari kebun sayur di belakang panti?"


"Ada kebun disini? Wah, aku mau sekali bu, kebetulan aku juga sudah lama tidak pernah memanen hasil perkebunan"


"Kamu suka berkebun?"


"Suka sekali bu. Waktu kecil, aku mempunyai kebum kecil milikku sendiri yang terletak di belakang dan samping rumah. Setiap hari aku selalu merawatnya, dan waktu panen adalah waktu yang paling aku sukai"


"Hahahaha, ternyata ibu tidak salah menerima kamu datang di panti ini. Kamu ternyata mempunyai banyak sekali kesenangan dalam hal merakyat" puji ibu panti terlihat sangat puas mendengar cerita Asyifa.


"Terima kasih bu"

__ADS_1


"Sama-sama. Kalau begitu, mari ikuti ibu kw kebun dan kamu bisa bernostalgia tentang semua kenangan masa kecilmu disana"


"Baik bu"


Kedua wanita berbeda umur itu pun segera menuju arah belakang panti yang menjadi tempat dimana kebun berada. Ketika sampai disana, Asyifa menjadi sangat terkejut.


Ternyata kebun yang dikatakan oleh ibu panti, bukanlah sebuah kebun kecil seperti dalam bayangan Asyifa, melainkan sebuah kebun yang cukup besar dan luas.


Disana banyak terdapat berbagai tumbuhan yang selalu digunakan orang-orang panti untuk dijadikan bahan makanan mereka, dan juga sebagai cemilan sehat.


Asyifa yang kegirangan, segera menghampiri gadis bisu semalam yang terlihat sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah Nisa untuk mengajaknya bergabung bersama.


"Ternyata guru yang seharusnya bertugas hari ini, malah sedang asyik-asyikan bermain di perkebunan" sindir Eden yang tiba-tiba sudah berada disamping Asyifa.


"Astaga! Kenapa kamu datang tanpa suara dan membuat orang lain menjadi kaget sih? Coba biasakan dirimu untuk membunyikan suara saat ingin menghampiri orang!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, kemana kamu sedari pagi? Kenapa tidak datang tepat waktu untuk mengajari anak-anak lainnya belajar?"


"Ah itu, aku ketiduran karna semalam tidak bisa tertidur lelap. Maaf yah"


"Kenapa tidak bisa tidur lelap? Apa karna kamu berada di lingkungan asing, yang baru pertama kali kamu datangi?"


"Bisa dibilang seperti itu. Saat pindah ke kota ini dan tinggal bersama dengan dua sahabat di sebuah apertemen, aku bahkan setiap pagi sering mengira sahabatku itu adalah ibuku"


"Hah? Yang benat saja, kenapa bisa begitu? Astaga, kenapa. Kamu mempunyai banyak sekali kebiasaan aneh? Dan kali ini, kamu bahkan kesulitan tertidur lelap"


"Entahlah, aku juga bingung"


"Oh iya, lalu bagaimana dengan sahabatmu itu, apa kamu memberitahu mereka kalau kamu sekarang sedang berada di desa ini?"


"Tidak. Awalnya aku memang sengaja tidak ingin memberitahu mereka, tapi sekarang aku berubah pikiran dan ingin mengabari. Tapu semua itu terhalang, karna katamu di desa ini tidak ada sinyalnya" runtuk Asyifa kesal.


"Memang tidak ada sinyal di desa ini, tapi untuk beberapa tempat, masih ada kok yang ada sinyalnya. Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu kesana sehabis memanen"


"Yang benar? Kenapa kamu tidak mengatakan hal itu, sedari awal? Kakau tahu kan, aku tidak usah pusing memikirkannya selama ini"


"Kamu kan tidak bertanya"


"Hah, iyakan saja. Tapi kamu harus tetap menepati janjimu untuk mengantarku kesana! Kalau begitu, aku pergi memanen sayuran dulu di sebelah sana, bye!"


Asyifa pun berjalan ke arah bagian kebun yang khusus menjadi tempat menanam berbagai macam jenis sayuran, dan tanpa rasa bersalah meninggalkan Eden seorang diri disana.


Meskipun kesal, namun Eden hanya bisa senanh melihat wanita yang kemarin terlihat sangat cuek dan asing dengan dirinya, kini sudah mulai terbiasa berada di desanya.


Namun ekspresi itu tiba-tiba berubah seketika menjadi eskpresi menyeramkan yang sulit untik dijelaskan. Entah apa yang sedang Eden pikirkan hingga memasang ekspresi seperti itu.


Tanpa sepengetahuannya, si gadis bisu telah melihat semua tingkahnya dan karna merasa takut, gadis itu berlari menyusul Asyifa ke tempat wanita itu berada.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti sedang ketakutan, seolah baru saja melihat hantu?" tanya Asyifa kebingungan.


"Sudah, dibiarkan saja kak. Dia memang bisa bertingkah aneh seperti itu kadang-kadang. Kita lanjutkan saja memanen sayurannya" ajak seorang gadis lain pada Asyifa.


"Tapi aku rasa dia sepertinya sedang ingin menyampaikan sesuatu padaku, lihat saja gerakan tangannya seolah sedang berbicara dengan bahasa isyarat"


"Aduh, biarkan saja kak. Palingan, dia mau bicara aneh lagi tentang kak Eden, kalau kak Eden bertingkah aneh dan menyeramkan"


"Eden? Bertingkah menyeramkan? Yang benar saja, dia itu bukannya menyeramkan, lihat saja mukanya. Mana ada orang yang takut dengan muka aneh seperti itu" protes Asyifa sambil menunjuk ke arah Eden, yang kini sedang menirukan ekspresi lucu pada anak panti lainnya.


Anak-anak yang mrlihat ekspresi Eden pun langsung tertawa terbahak-bahak, hanya gadis bisu saja yang tidak menunjukkan hal yang sama dengan anak lainnya.


Gadis itu tetao berulang kali mengulang gerakan tangan yang sama ke arah Asyifa, tapi karna tidak mengerti apa artinya, Asyifa pun memilih untuk mengabaikannya.


"Tenang saja, meskipun apa yang barusan kamu katakan itu benar, tapi selama dia bukan seorang psikopat, maka semuanya akan baik-baik saja" hibur Asyifa pada gadis bisu itu, sambil tersenyuk manis.


Namun saat gadis itu mendengar kata psikopat yang diucapkan oleh Asyifa, gadis itu malah melompat-lompat dengan heboh, hingga membuat Asyifa sedikit ketakutan.

__ADS_1


Ibu panti yang melihat semua itu, segera menghampiri gadis bisu dan membawanya masuk kembali ke dalam panti, meninggalkan Asyifa yang masih memikirkan arti dari semua tingkah gadis itu.


Bersambung...


__ADS_2