
"Apa kamu baik-baik saja, bertemu dengan William dan keluarganya barusan?"
"Tentu saja aku tidak baik-baik saja, bertemu dengan mereka. Sejujurnya, kalau bisa aku ingin sekali meluapkan segala amarah yang ada dalam hatiku pada mereka"
"Lalu, kenapa kamu tidak melakukannya tadi?" tanya Zidan, sambil membantu Asyifa naik ke dalam mobil.
"Karna aku berpikir lagi, semua ini terjadi juga karna salahku. Pasangan yang berselingkuh itu mungkin sudah menjadi suatu hal yang harus bisa diperkirakan oleh wanita, tapi tidak seharusnya aku mengabaikan kesehatan kandunganku, hinggan akhirnya dia harus pergi sebelum bisa dilahirkan"
"Apa karna pemikiran bahwa setiap pasangan mungkin akan berselingkuh, yang membuat dirimu tidak bisa menerima cinta dariku?"
"Kenapa tiba-tiba pembicaraannya jadi ke arah sana?" tanya Asyifa bingung.
"Bukan apa-apa. Aku hanya tiba-tiba saja, merasa penasaran akan hal itu"
"Aku belum bisa menerimamu, karna meski pun aku berencana untuk bercerai dengan William, tapi statusku adalah masih istri sah darinya. Tidak mungkin aku menerima cinta pria lain, disaat aku masih berstatus istri orang. Bukankah, itu perbuatan yang tidak terpuji?"
"Kalau begitu, apa kamu akan menerima cinta dariku saat kamu sudah resmi bercerai dari William?" tanya Zidan, menatap wajah Asyifa dengan penuh harap.
"Tidak juga"
"Kenapa begitu?"
"Karna meskipun aku sudah resmi bercerai dari William, aku belum tentu akan langsung jatuh cinta padamu, Zidan"
"Jadi, harus sampai kapan aku menunggu untuk bisa dicintai olehmu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Jika memang kamu masih tetap pada pendirianmu untuk menunggu, maka aku akan membiasakan diri untuk memikirkan dirimu saja. Tapi jika kamu berubah pikiran dan tidak ingin menunggu lagi, maka aku tidak bisa apa-apa selain menerima keputusanmu itu"
"Tentu saja aku akan tetap pada pendirianku untuk menunggumu. Jadi kamu juga harus tetap memegang janjimu untuk hanya terus memikirkan diriku, mengerti?"
"Mengerti pak Zidan yang terhormat. Sudah, nyalakan mobilnya sekarang! Aku harus kembali secepatnya ke rumah sakit, kalau tidak dokterku bisa marah-marah"
"Siap tuan putri"
Zidan pun mengendarai mobilnya untuk kembali menuju ke rumah sakit. Disepanjang perjalanan, dua orang yang berlainan jenis kelamin itu, terus saja mengobrol dengan ceria tanpa henti.
Ekspresi Asyifa pun kembali menjadi ceria lagi, setelah sebelumnya sedih karna harus teringat akan rasa sakit dikhianati, dan rasa kehilangan buah hati untuk selamanya.
Ketika keduanya telah sampai di rumah sakit dan kini berada dalam ruang rawat inap Asyifa, tiba-tiba Kemal dan juga seorang pria berpakaian polisi, masuk untuk bertemu dengan Asyifa.
"Ayah? Kenapa ayah datang dengan seorang polisi, apa yang terjadi?"
"I_ itu, itu karna pak polisi ingin bertemu dengan kamu, Asyifa" jawab Kemal terlihat gugup, karna tak yakin untuk menyampaikan berita jika kini Laras sedang ditahan dalam penjara.
"Bertemu denganku? Memangnya ada perlu apa yah pak, kalau aku boleh tahu?"
"Maksud dari kedatanganku adalah untuk bertemu dengan ibu Asyifa, dan juga karna ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan kejadian yang menimpa ibu beberapa hari yang lalu"
Asyifa yang mendengar jawaban polisi, terlihat sedikit kebingungan. Dengan cepat ia melempar tatapan penuh tanya ke arah Zidan yang juga Kemal, namun kedua orang itu hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kejadian yang mana yah, maksud bapak?" tanya Asyifa berpura-pura tak mengerti.
"Kejadian yang membuat ibu Asyifa harus dirawat di rumah sakit, seperti saat ini. Kami dari pihak kepolisian, meminta kerjasama dari ibu Asyifa, untuk mau menceritakan segala tindak kekerasan yang telah dan pernah dilakukan oleh ibu Laras kepada anda"
"Zidan? Ayah? Apa maksudnya semua ini? Jangan bilang, kalau kalian telah melaporkan ibu ke polisi?"
Zidan yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Asyifa, hanya bisa mengurut keningnya pelan. Pria itu masih belum bisa terbiasa dengan semua kebaikan dari wanita yang ia cintai itu.
Sedang Kemal, masih tetap pada posisi semula, tak berani berkata apa-apa dan lebih memilih menundukkan kepala untuk bisa menghindari tatapan Asyifa.
"Kenapa diam saja? Tolong jawab pertanyaan dariku, apa kalian melaporkan ibuku ke pihak kepolisian?!" ulang Asyifa, terlihat marah.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Bukannya dia memang telah melakukan tindak kriminal padamu? Dan juga bukan hanya sekali saja, melainkan berkali-kali, bahkan dimulai dari sejak kamu masih kecil. Jadi memang sudah sepantadnya dia dilaporkan ke pihak yang berwajib"
"Dia yang kamu sebut sedari tadi, itu adalah ibuku Zidan! Bagaimana bisa kamu tega melaporkan ibuku sendiri? Dan ayah juga kenapa hanya bida diam saja, melihat istri ayah dilaporkan seperti itu?"
__ADS_1
Baru saja Zidan tampak ingin menjawab ucapan Asyifa, namun gerakan tangan dari Kemal segera menghentik niat pria itu. Kemal nampaknya ingin diberikan kesempatan untuk bisa menjelaskan semuanya kepada Asyifa.
"Memang sudah seharusnya kamu memanggil Laras dengan sebutan ibu, dan juga menghormatinya sebagai orang tuamu, sekalipun dia bukanlah wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini. Tapi Asyifa, dia tidak pernah sekali pun melakukan tugasnya sebagai seorang ibu untuk dirimu, malah sebaliknya dialah yang membuat masa kecilmu hingga sekarang, menjadi amat sangat menderita. Tapi apakah kamu merasa benci terhadapnya? Tidak. Kamu tidak pernah membenci dirinya, malah kamu selalu berusaha untuk berbakti padanya dan juga kepada ayah sebagai seorang anak. Sejauh ini ayah selalu sabar melihatmu disiksa, karna ayah menaruh harapan besar bahwa suatu hari nanti, ibumu itu akan mau berubah untuk menerima dirimu sebagai anaknya. Namun setelah sekian lama tidak bertemu dan hal pertama yang dilakukannya, adalah kembali menyiksa dirimu, disitulah ayah sadar kalau dia tidak akan pernah bisa berubah. Jadi sudah saatnya kita membiarkan dirinya untuk menebus segala kesalahannya terhadapmu, sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita ini"
Mendengar penjelasan Kemal yang panjang lebar, membuat Asyifa terdiam membisu. Namun air mata wanita itu telah tak terhitung turun membasahi pipinya, ketika ia kembali mengingat segala yang telah dilaluinya bersama dengan Laras. Selama itu, hanyalah ada tangis penderitaannya saja, tanpa sekali pun tawa penuh suka cita.
"Tapi ayah, biar bagaimana pun juga, dia adalah ibu Asyifa. Asyifa tidak bisa sanggup melakukan semua ini"
"Asyifa, ayah mohon. Setidaknya biarkan ibu menerima hukumannya untuk sekali saja. Semua ini bukan karna kita membenci dirinya, tapi karna kita ingin dia belajar dari kesalahan selama berada dalam penjara"
"Tapi bagaimana kalau semua ini hanya akan membuat ibu semakin membenci diriku?"
"Ibu mungkin akan semakin membencimu, tapi ketika dia sadar bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini padamu adalah sebuah kesalahan besar, rasa bencinya pasti akan hilang begitu saja, dan akan diganti rasa bersalah. Kamu juga ingin ibu berubah ke arah yang lebih baik, bukan?"
"Tentu saja, ayah"
"Kalau begitu, ini adalah saatnya. Semua ini hanyalah salah satu dari tahapan untuk membawa ibu ke jalan yang benar, jadi ayah mohon bantuanmu. Kamu mau kan?"
"Baiklah. Aku akan mencoba sebisaku, untuk membantu ayah" jawab Asyifa dengan terpaksa.
"Bagus sekali, putriku. Kamu telah membuat keputusan yang tepat, terima kasih"
Kemal pun memeluk tubuh putrinya erat, dengan penuh rasa bangga dan juga kasih sayang. Melihat hal itu, Zidan dan polisi yang datang bersama Kemal, tersenyum senang.
"Aku rasa, bapak sudah bisa mengajukkan pertanyaan kepada Asyifa. Aku dan juga pak Kemal akan menunggu diluar, untuk bisa memberikan ruang kepada bapak"
"Terima kasih, pak Zidan"
Dan Asyifa pun ditinggal oleh Zidan dan juga sang ayah, untuk bisa berdua dengan polisi. Dari luar kaca jendela, kedua pria itu bisa melihat jelas kalau kini Asyifa terlihat sangat serius menjawab satu persatu pertanyaan dari pihak berwajib.
*****
Setelah kepergian polisi, Asyifa memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan cara tidur. Ia merasa sangat lelah dengan segala yang terjadi hari ini di kehidupannya. Seolah masalah tak pernah habisnya, datang untuk mengusik dirinya.
Ketika Asyifa telah semakin terlelap ke alam mimpi, Zidan dengan perlahan duduk di kursi yang ada disamping ranjang Asyifa untuk bisa melihat wajah tertidur wanita yang ia cintai itu.
"Bunda rasa, kamu yang selalu ada ketika Asyifa sedang mengalami kesulitan, dan selalu setia mencintainya bertahun-tahun, secara tidak langsung sudah membantunya"
"Bunda? Kapan bunda masuk, kenapa Zidan tidak mendengar suara pintu dibuka?" tanya Zidan terkejut dengan kehadiran Lilian, yang tiba-tiba.
"Bunda baru saja masuk, ketika kamu sedang serius memandangi wajah Asyifa. Bahkan saking seriusnya, kamu tidak sadar akan kedatangan bunda!"
"Ah, begitu yah. Maafkan Zidan, bunda" ucao Zidan sambil tersipu malu.
"Tidak masalah sayang. Bunda juga pernah mengalami masa-masa seperti yang kamu alami saat ini, ketika bunda masih muda"
Mendengar suara-suara yang ribut di dekat dirinya, membuat Asyifa perlahan bangun dari tidurnya. Dengan susah payah, wanita itu melawan rasa kantuknya, agar bisa membuka kedua matanya.
"Astaga, kamu sudah bangun nak? Apa suara bunda dan Zidan lah yang sudah membuat kamu terbangun?" tanya Lilian kaget saat melihat Asyifa membuka matanya.
"Eh, ada bunda. Asyifa tadi ketiduran karna tidak ada teman cerita, kenapa bunda baru sekarang datangnya?"
"Maafkan bunda sayang, tapi bunda sedang berada di luar negeri untuk mengurus beberapa hal, ketika bunda mendapat kabar kalau kamu masuk rumah sakit"
"Apa Zidan juga tahu kalau bunda pergi ke luar negeri?"
"Tentu saja, memangnya kenapa sayang?" tanya Lilian bingung.
"Kok Asyifa tidak tahu kalau bunda pergi ke luar negeri? Katanya Asyifa juga anak bunda, kenapa cuma Zidan saja yang dikasih tahu sama bunda?"
"Jangan bilang kalau sekarang kamu sedang berenkting sok manja kepada bundaku?"
"Kalau iya memangnya kenapa? Masa kamu keberatan? Bukannya baru tadi kamu bilang cinta kepadaku, kok bundanya saja pelit?"
"Cieee, yang sudah mengatakan cinta sama Asyifa. Cieee, yang sudah ada cowok lain yang nembak"
__ADS_1
"Ih bunda, jangan begitu dong. Nanti Asyifa ngambek nih!"
"Hahaha, iya deh, bunda tidak akan gangguin kamu lagi. Oh iya, bunda bawakan kamu buah-buahan nih, jangan lupa dimakan yah"
"Wihh,,, terima kasih bunda sayang"
"Sama-sama. Kalau masih ada hal lain yanh kamu butuhkan, jangan sungkan untuk kasih tahu bunda yah"
"Em, sebenarnya ada satu hal yang pengen banget Asyifa lakuin bunda. Tapi Asyifa takut minta sama Zidan atau pun sama ayah"
"Apa itu sayang?"
"Asyifa pengen ketemu sama ibu Asyifa, yang sekarang berada dalam penjara. Apa bunda bisa bantu mewujudkannya?"
"Tidak boleh!" jawab Zidan tegas.
"Kenapa tidak boleh?"
"Karna nanti, ibu kamu itu akan meracuni pikiranmu, supaya mau membantu dirinya untuk bebas dari hukuman. Itulah sebabnya kamu tidak boleh menemuinya, apa kamu sudah mengerti?"
"Tapi kan____"
"Begini saja Asyifa, kamu boleh menemui ibu kamu, dengan satu syarat" usul Lilian cepat, saat melihat kedua orang itu hendak beradu argumen.
"Syarat apa bunda?"
"Syaratnya, kamu boleh menemui ibumu, kalau kamu sudah selesai menjalani semua sidang perceraianmu dengan William. Bunda tidak mau pikiranmu terpecah belah dengan hal lain, apa kamu setuju?"
"Baiklah bunda" jawab Asyifa pasrah.
"Bagus. Sekarang, apa kamu mau bercerita seputar pengalaman bercerai dengan bunda? Siapa tahu bisa membantumu dalam mempersiapkan persidangan selanjutnya"
"Tentu saja Asyifa mau, dan juga merasa sangat berunrung karna telah dibantu oleh bunda"
"Hah, palingan juga ujung-ujungnya kalian akan gosip dan bukannya saling berbagi pengalaman" sindir Zidan tak percaya.
"Enak saja!" bantah Asyifa dan Lilian secara bersamaan, yang membuat Zidan menatap kedua wanita itu dengan tatapan terkejut.
"Astaga, kompak sekali kalian. Sudah seperti ibu dan anak sungguhan!"
"Kan memang Asyifa adalah anaknya bunda juga. Kenapa, kamu iri yah?" tanya Lilian sambil memeluk tubuh Asyifa erat.
Asyifa yang mendapat pelukan dari Lilian, langsung membalasnya. Tak terasa, setetes air mata perlahan jatuh membasahi kedua pipinya yang putih mulus.
"Asyifa? Kamu menangis?" tanya Zidan terkejut melihat hal itu.
"Ada apa sayang? Apa tiba-tiba saja, kamu merasa sakit di badanmu?"
"Asyifa hanya sedang merindukan sosok seorang ibu. Seandainya saja aku mempunyai seorang ibu seperti bunda, pasti hidupku tak akan semenyedihkan sekarang. Bahkan wajah ibu kandungku sendiri saja, aku tak tahu"
"Asyifa" panggil Lilian sedih
"Sejujurnya aku selalu iri melihat orang-orang disekelilingku, bisa akrab dan tampak sangat bahagia dengan orang tua mereka. Karna sedari aku kecil, meskipun hubunganku dengan ayah bisa terbilang dekat, namun juga kadang terasa sangat jauh"
"Tapi aku yakin, kalau ayahmu sangat sayang padamu. Buktinya kini dia rela membiarkan istrinya masuk penjara, demi kebaikan masa depanmu"
"Aku juga tahu hal itu, Zidan. Tapi setelah hari dimana aku mengetahui bahwa aku adalah anak dari hasil hubungan terlarang, aku merasa sangat bersalah pada ibu, karna diriku selama ini ibu menderita. Apa semua akan menjadi lebih baik, jika aku tidak terlahir ke dunia ini?"
Mendengar pertanyaan Asyifa, membuat Lilian segera menutup mulut dengan kedua tangannya karna terkejut. Sedang Zidan, segera gantian memeluk tubuh wanita itu dengan erat, seolah ingin mengambil rasa sakit yang dirasakan Asyifa.
"Jangan pernah kamu bicara dan mempunyai pikiran seperti itu, Asyifa. Karna aku yakin sekali, kalau ayah dan juga ibu kandungmu, menganggapmu sebagai anugerah terindah dari tuhan dalam hidup mereka berdua"
Asyifa yang mendengar penghiburan dari Zidan, malah menjadi derasa tangisannya. Ia seketika merasa bersalah pada sang ayah dan juga ibu yang melahirkannya.
Namun tanpa mereka semua ketahui, Kemal yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Asyifa, turut mendengar dan menyaksikan kejadian itu. Pria itu pun turut meneteskan air mata untuk semua penderitaan yang dialami sang putri.
__ADS_1
"Maafkan ayah, Asyifa. Maafkan ayah dan juga ibumu yang tanpa sengaja, telah membuat dirimu berada dalam posisi serba salah seperti ini"
Bersambung...