
William memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya, setelah dua hari menghidar dari keluarganya dan juga Zenith, serta keluarga gadis itu.
"William! Akhirnya kamu pulang juga sayang. Mommy sangat mencemaskan dirimu, kamu baik-baik saja kan?" sapa Ratih yang segera menghampiri William.
William yang masih marah pada ibunya atas perbuatan mereka terhadap Asyifa, enggan untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Ia hanya menganggukkan kepala sekilas, lalu berjalan naik ke lantai dua.
Meskipun kesal diperlakukan seperti itu oleh putranya, namun Ratih berusaha untuk tak menunjukkannya sama sekali. Dia lebih memilih untuk menghubungi suaminya agar cepat pulang menemui William.
Sedang William yang sudah berada di dalam kamarnya, segera membaringkan tubuhnya yang terasa penat ke atas kasur.
Baru saja ia akan terlelap, saat bunyi telepon menguntungkan niatnya. Wajah William menjadi cerah seketika, saat melihat nama Asyifa di layar ponselnya.
"Halo, Asyifa. Ada apa?"
"Halo juga William. Maaf mengganggu, apa kamu sedang beristirahat?"
"Tidak, aku sama sekali tidak merasa lelah sedikit pun. Aku hanya sedang berolahraga sekarang, memangnya ada apa?"
"Baguslah kalau begitu. Aku hanya ingin bertanya, apa kamu ingin ikut pergi belanja bersama? Aku ingin mencari beberapa barang untuk di bawa pergi berlibur, lusa nanti."
"Belanja bersama? Kita berdua? Tentu saja aku mau!" jawab William semangat sambil bangkit berdiri.
"Sebenarnya bukan hanya kita berdua saja yang pergi, tapi semua anggota tim akan pergi belanja bersama"
"Ah, ternyata begitu" ucap William kembali terduduk lemas. Secercah harapan yang sempat muncul di hatinya, seketika hilang begitu saja.
"Sudah dulu yah William, Mira sudah ribut memanggilku. Kami berempat akan pergi duluan dan menunggumu di Zero mall"
"Sebentar Asyifa, jangan bilang kamu akan pergi bersama dengan Zidan?"
"Iya. Sampai jumpa di sana yah William" pamit Asyifa sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Sial! Bisa-bisanya, aku terlambat selangkah lagi dari Zidan!" gerutu William kesal. Ia segera menyambar kunci mobilnya diatas meja dan bergegas keluar.
"William, kamu sudah pulang? Kenapa kamu terlihat buru-buru, apa kamu akan pergi lagi?" tanya Rizal yang terlihat baru saja sampai di rumah.
"Iya, daddy. William harus pergi lagi ke suatu tempat bersama teman-teman William"
"Tapi kamu kan baru saja pulang, sayang. Apa tidak sebaiknya kamu beristirahat saja dulu di rumah? Mommy akan masakan makanan kesukaanmu"
"Terima kasih, tapi William akan makan di luar saja. William pamit yah daddy, karna pasti mereka sedang menungguku sekarang"
"Baiklah, hati-hati menyetirnya. Jangan pulang terlalu larut, dan kalau ingin menginap di luar, jangan lupa kabari daddy"
"Baik daddy"
Melihat sosok William yang berlalu dari sana tanpa berpamitan sedikit pun padanya, membuat kesabaran Ratih habis. Ia hendak pergi untuk menyusul William, tapi segera ditahan oleh Rizal.
"Mau ke mana kamu? Jangan bilang, kamu ingin mengajak William bertengkar?"
"Siapa yang ingin mengajak William bertengkar, aku hanya ingin menghentikan dia pergi ke luar. Membiarkannya membatalkan pernikahan dengan Zenith, dan pergi dari rumah tanpa kabar selama dua hari, bukan kah sudah lebih dari cukup untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik!"
"Itu lah mengapa William menentang dirimu sekarang. Semua itu karna sifatmu yang ingin semua keinginanmu untuk selalu dituruti. William itu sudah besar, tidak seharusnya kamu mengatur semua hal yang ada dalam hidupnya"
"Aku melakukan semua ini demi kebaikan William, Rizal! Aku hanya ingin putra kita yang satu itu, juga mempunyai kehidupan rumah tangga yang sempurna seperti kakaknya dan juga kita berdua!"
"Rumah tangga kita tidak sempurna Ratih. Apa kamu tidak menyadarinya sama sekali, kalau aku sengaja mengambil semua perjalanan bisnis dan membiarkan William yang menjalankan perusahaan? Itu semua aku lakukan, untuk menjauh dari dirimu!"
"Apa maksudmu Rizal, bukan kah hubungan kita selama ini baik-baik saja?" tanya Ratih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Itu karna aku tidak menunjukkannya padamu, kalau selama ini aku tertekan dengan sifatmu yang selalu ingin dituruti. Aku merasa seperti kamulah yang menjadi pemimpin dalam rumah tangga ini, dan aku hanyalah seorang yang harus mengikuti semua ucapanmu"
"Tidak. Kamu pasti bohong kan, tidak mungkin rumah tangga kita bisa seburuk itu. Aku sudah berhasil membuat rumah tangga kita sempurna bukan?"
"Aku mohon padamu Ratih, hentikan semua obsesimu untuk menjadikan segala sesuatu menjadi sempurna. Cukup rumah tangga dan kehidupan kita berdua saja yang hancur, jangan sampai itu terjadi juga pada kedua putra kita"
Ratih hanya bisa perlahan jatuh terduduk lemas dilantai, karena tidak percaya semua usahanya telah berakhir gagal. Ia kemudian mulai menangis histeris di sana, seolah tak ingin menerima kenyataan.
"Tidak semua yang ada di hidupmu harus sempurna, seperti yang ditanamkan oleh kedua orang tuamu. Kamu juga berhak untuk bahagia, Ratih" lanjut Rizal, mencoba menenangkan istrinya.
Namun Ratih yang sudah berada diluar kendali, tak ingin mendengarkan apa pun lagi dari Rizal. Ia menutup kedua telinganya dan mulai berteriak histeris, membuat semua pekerja di rumahnya berlari masuk karna penasaran.
"Tuan, apa yang terjadi pada nyonya?" tanya Ida khawatir melihat kondisi majikan wanitanya itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu, hubungi saja Haykal untuk segera datang kemari"
"Tuan muda Haykal memang sedang dalam perjalanan menuju kemari untuk makan siang disini tuan"
"Kalau begitu, hubungi dokter keluarga kita. Suruh dia datang secepat mungkin"
"Baik tuan" jawab Ida dengan patuh menuju telepon rumah.
Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara Kana dan juga Haykal, yang memarahi pekerja lain karena berkumpul di depan pintu rumah.
Keduanya menjadi sama terkejut dengan Ida, saat melihat kondisi Ratih yang masih tetap berteriak histeris sambil tak henti-hentinya menangis.
"Mommy! Apa yang terjadi pada mommy, daddy? Kenapa mommy menjadi seperti ini?" tanya Haykal cemas dan langsung memeluk tubuh Ratih.
Berbeda dengan saat Rizal ingin menyentuh dirinya, kali ini Ratih malah membiarkan saja Haykal untuk memeluknya. Ia bahkan balas memeluk tubuh putra sulungnya itu erat seolah tak ingin terpisahkan.
"Tenanglah mommy, Haykal ada disini. Haykal mohon, jangan menangis lagi"
"Mommy sudah berhasil. Tolong katakan pada mommy kalau mommy sudah berhasil" pinta Ratih dengan suara memelas.
"Iya, mommy sudah berhasil. Apa pun yang mommy lakukan, Haykal selalu tahu kalau semuanya pasti akan berhasil"
Mendengar perkataan Haykal, membuat Ratih menjadi lebih tenang. Hanya sesekali ia nampak masih sesegukan.
Ketika dilihat Ratih mulai tenang dan tertidur, Haykal dengan perlahan melepaskan pelukan ibunya. Ia membiarkan ayahnya mengambil alih posisinya untuk menggendong sang ibu menuju kamar.
"Daddy tahu kamu pasti sangat ingin tahu apa yang terjadi pada mommy. Daddy pasti akan memberitahukannya padamu dan juga Kana, tapi sekarang biarkan daddy merawat mommy terlebih dahulu sambil menunggu dokter datang untuk memeriksanya" ucap Rizal sebelum benar-benar pergi dari ruang tamu.
Kana yang merasakan keresahan Haykal, hanya bisa mengelus pelan pundak pria yang dicintainya itu.
*****
"Astaga, kenapa kalian belanja sebanyak ini hanya untuk liburan selama lima hari saja? Ini namanya pemborosan Angel, Mira!"
"Asyifa, tidak ada salahnya untuk sesekali memanjakan dirimu dengan uang hasil kerja keras sendiri"
"Betul yang dikatakan Angel. Dan juga kita ini akan berlibur ke luar negeri, yah meskipun hanya lima hari saja, tapi harus digunakan sebaik mungkin bukan?"
"Tapi yang jadi pertanyaanku adalah, kenapa harus aku yang membawa semua belanjaan kalian berdua? Apa kalian benar-benar sudah bosan bekerja di perusahaanku?" tanya Zidan sambil mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan tas belanja.
"Tapi bukan berarti kalian bisa menjadikan aku babu kalian berdua juga, Mira! Aku tidak terima, bawa kembali tas belanjaan kalian masing-masing!"
"Astaga, dasar perhitungan. Apa gunanya semua otot besarnya itu, kalau membawakan tas belanjaan saja tidak mau!" gerutu Mira.
"Sini berikan padaku, biar aku juga bantu bawakan barang-barang mereka berdua" pinta Asyifa sambil mengulurkan sebelah tangannya yang tidak memegang apa pun.
"Aku berubah pikiran, biar aku saja yang membawakannya. William, kamu bawakan barang milik Angel, aku akan membawakan barang milik Asyifa dan juga Mira"
Tanpa menunggu persetujuan dari William yang sedang asyik melihat beberapa model kacamata, Zidan menyerahkan semua barang milik Angel pada pria itu.
Sedangkan dirinya sendiri, memaksa Asyifa untuk memberikan barang bawaannya, serta mengambil kembali barang milik Mira yang telah diambil gadis itu.
"Giliran Asyifa yang turun tangan, semuanya bisa dilakukan yah?" sindir Angel.
"Kenapa kamu akhir-akhir ini menjadi sama cerewetnya dengan Mira sih, Angel? Jangan banyak bicara lagi, lebih baik kita pergi cari makan siang saja!" ucap Zidan sambil menarik tangan Asyifa pergi dari sana.
"William, sedang melihat apa? Ayo, pergi makan siang dulu baru kita lanjutkan belanja lagi"
"Kalian duluan saja, Angel. Aku ingin membeli sesuatu, nanti aku akan segera menyusul"
"Baiklah. Ayo pergi Mira"
Setelah memastikan semua orang sudah pergi, William segera melangkahkan kakinya menuju sebuah toko perhiasan yang ada di samping toko kacamata yang baru saja mereka datangi.
Para staf toko menyambutnya dengan ramah, kemudian menuntunnya ke area berbagai model cincin indah terpanjang, ketika William mengatakan ingin membeli sebuah cincin.
"Kalau boleh tahu, cincinnya untuk siapa pak? Mungkin saya bisa bantu pilihkan model yang cocok"
"Saya ingin membelinya untuk gadis yang saya sukai. Saya berencana untuk melamar dirinya dalam waktu dekat ini"
"Romantis sekali. Bagaimana kalau yang ini saja pak? Ini adalah model terbaru yang sangat disukai oleh banyak wanita muda saat ini" ucap staf toko sambil memperlihatkan sebuah cincin dengan model sederhana namun sangat indah, kepada William.
Melihat cincin itu, langsung membuat William teringat akan sosok Asyifa yang juga sangat sederhana namun begitu indah dimatanya.
__ADS_1
"Saya ambil yang ini saja"
"Baik, akan saya bungkus yah pak"
"Tidak usah ditaruh dalam tas belanja, berikan saja langsung dalam kotaknya saja"
"Baik pak"
William keluar dari toko dengan wajah penuh senyuman melihat kotak cincin dalam genggamannya. Ia menjadi tidak sabar untuk segera berlibur dan melamar Asyifa di sana.
"Aku akan memberitahu daddy tentang rencanaku ini saat pulang nanti. Aku yakin daddy pasti akan mendukung keinginanku untuk melamar Asyifa" ucap William pada dirinya, sambil memasukkan kotak cincin ke dalam saku celana dan bergegas menyusul yang lain.
*****
William menatap heran keadaan rumahnya yang terlihat begitu sepi tanpa seorang pun. Biasanya mommy akan segera datang menyambutnya, ketika ia baru saja sampai di depan pintu rumah mereka.
"Ida, dimana kamu?" teriak William mencari pembantu rumah tangganya itu.
"Iya tuan" jawab Ida segera menghampiri William dengan tergesa-gesa turun dari tangga yang menuju ke kamar kedua orang tua William.
"Kemana perginya semua orang, kenapa rumah sepi sekali malam ini?"
"Semuanya sedang berada di kamar nyonya tuan. Ada tuan muda Haykal dan non Kana serta dokter keluarga juga, tuan"
"Dokter? Memangnya siapa yang sakit sampai ada dokter segala?"
"Nyonya yang sakit tuan. Tapi kalau dibilang sakit, tidak ada bagian tubuh nyonya yang luka. Aduh, Ida lupa apa namanya tuan"
"Ya sudah, kamu kembali ke dapur siapkan makan malam saja. Biar aku sendiri yang akan melihat apa yang terjadi"
"Baik tuan"
Meskipun William masih sangat marah kepada ibunya, namun ia tidak bisa merasa tidak khawatir juga saat mendengar kabar ibunya jatuh sakit. Apalagi sampai dokter keluarga mereka pun ikut di panggil, tentunya bukan sakit biasa.
William sangat mengenal seperti apa sifat ibunya itu. Ratih adalah wanita yang tidak akan mau pergi ke dokter hanya karena sakit biasa. Karna baginya, pergi ke dokter saat sakit sama saja dengan menunjukkan bahwa dirinya lemah serta tidak bisa apa-apa, dan ia sangat membenci hal itu.
"William, kamu sudah pulang?" tanya Rizal ketika melihat William masuk.
"Apa yang sudah terjadi pada mommy, daddy? Bukankah sebelum aku pergi, mommy masih baik-bakk saja?" tanya William terkejut melihat kondisi ibunya yang terbaring tak berdaya diatas kasur.
Rizal nampak ragu untuk mengatakannya, karna masih ada dokter di sana. Ia tidak ingin membiarkan orang luar tau tentang kondisi rumah tangganya, cukup keadaan mental istrinya saja yang mereka ketahui.
"Maaf pak Rizal, sepertinya saya harus segera pergi, karna masih ada pasien yang harus saya periksa. Jika ada apa-apa, silakan hubungi saya kapan saja" pamit sang dokter seolah mengerti akan kegundahan yang Rizal rasakan.
"Silakan dok. Terima kasih untuk bantuannya, biar saya antarkan ke depan"
"Tidak usah, saya bisa sendiri. Sebaiknya pak Rizal dan anak-anak menemani bu Ratih saja" tolak dokter kemudian keluar dari kamar.
Rizal kemudian duduk disamping tubuh Ratih sambil mengenggam lembut tangan wanita yang sudah menemaninya selama ini.
"Ini semua salah daddy. Daddy yang membuat penyakit mental mommy kalian kembali kambuh setelah sekian lama"
"Penyakit mental? Apa maksud daddy?" tanya William tak percaya.
"Mungkin kalian berdua tidak mengingatnya, karna saat itu kalian masih sangat kecil ketika mommy kambuh untuk pertama kali sejak pernikahan kami. Dan saat itu, daddy baru mengetahui, kalau ternyata mommy kalian memiliki penyakit mental akibat didikan keras dari kedua orang tuanya"
"Memangnya penyakit mental apa yang mommy derita daddy?" tanya Kana mewakili kedua kakak beradik yang nampak tidak bisa berkata-kata lagi.
"Mommy kalian sangat terobsesi untuk membuat segala hal disekitarnya menjadi sempurna. Bahkan kehidupan daddy telah lama dikendalikan oleh mommy. Dan karena merasa sangat tertekan, daddy hanya bisa menghindarinya dengan melakukan semua perjalanan bisnis sebagai jalan keluar"
"Jadi, membiarkan William mengambil alih perusahaan juga termaksud rencana daddy supaya bisa menghindari mommy?"
"Maafkan daddy William, tapi daddy tidak bisa menahannya lagi. Meskipun begitu, daddy sangat mencintai mommy kalian meskipun rumah tangga kami telah lama hancur"
"Apa daddy mengatakan semua ini pada mommy, makanya mommy bisa kambuh dan jadi seperti sekarang?" tanya Haykal berharap ayahnya akan menjawab tidak.
"Maafkan daddy Haykal. Daddy tidak bisa merahasiakannya lagi, karna melihat sikap mommy kalian yang mulai mengatur kehidupan adikmu. Daddy tidak ingin hidup William menjadi hancur, sama seperti hidup daddy"
Setelah selesai menceritakan semuanya, Rizal menutupi wajahnya dan mulai menangis tanpa suara. William yang melihat betapa menyedihkan Rizal sekarang, hanya bisa memeluk punggung pria itu erat.
"Ini semua bukan salah daddy. Daddy sudah melakukan semua yang bisa daddy lakukan untuk menjaga keluarga ini. Terima kasih daddy" ucap William tulus.
Haykal dan Kana kemudian ikut mendekat ke arah Rizal untuk turut memberikan kekuatan padanya. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat air mata Rizal semakin deras mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Terima kasih karna kalian mau mengerti akan posisi daddy. Daddy harap kalian bisa tetap menerima mommy dalam kehidupan kalian, apa pun yang telah terjadi"
Bersambung...