The Ugly Wife

The Ugly Wife
Menemukan Aliya


__ADS_3

Setelah berhasil membuat Asyifa tenang, William pun menyuruh asistennya untuk membelikan beberapa gaun yang sekiranya cocok dipakai oleh istrinya itu.


Asyifa yang merasa senang karna akhirnya bisa juga pergi mengenakan gaun ke acara mereka, pun kembali membaik perasaannya.


"Bagaimana, apakah gaunnya cocok padaku?" tanya Asyifa menunjukkan penampilannya pada William.


"Tentu saja cocok, kamu terlihat cantik sekali. Apa kamu sudah siap untuk pergi sekarang?"


"Aku rasa sudah"


Keduanya pun segera pergi menuju restoran yang menjadi tempat makan malam mereka bersama. Saat sampai di sana, semua orang telah menanti mereka.


Tapi yang membuat fokus Asyifa dan William terganggu, adalah kehadiran Zenith yang turut hadir ditengah keluarga William. Gadis jahat itu tersenyum meremehkan ke arah Asyifa, untuk mencoba membuatnya kesal.


"Selamat malam semuanya" sapa Asyifa gugup, merasa terusik oleh Zenith.


"Selamat malam juga menantuku, kenapa kalian datangnya terlambat?" balas Rizal ramah.


"Aku minta maaf karna sudah membuat kalian semua menunggu. Tapi ada insiden kecil tadi yang terjadi di rumah kami, daddy"


"Tidak masalah William, kami juga belum terlalu lama menunggu" jawab Zenith, tanpa tahu malu.


"Yang dikatakan Zenith benar, sayang. Ayo duduk ditempat yang sudah mommy siapkan untukmu, disamping Zenith"


"Kenapa aku harus duduk disampingnya? Dan kamu kenapa bisa ada di acara yang diadakan khusus untuk keluargaku?"


"Memangnya tidak boleh yah? Aku pikir ini hanya acara makan malam keluarga kita seperti biasanya, jadi aku juga mengundang Zenith. Karna setahuku Zenith selalu hadir dalam setiap acara keluarga kita" jelas Kana dengan sengaja menekan kata setiap acara, untuk membuat Asyifa cemburu.


"Kenapa kamu seenaknya mengundang orang asing ke acara yang aku buat? Apa tidak bisa kamu bertanya dulu padaku?"


"O_orang asing? Maksudmu aku? Astaga, aku pikir kita sudah seperti keluarga William, kenapa kamu tega sekali berkata seperti itu padaku?"


Zenith yang licik berpura-pura terkejut dan mulai mengeluarkan suara tangisan terisak, untuk mencari simpati. Rizal yang tidak ingin ada keributan terjadi, berinisiatif untuk menghentikan perdebatan.


"Sudahlah William. Zenith hanya ingin ikut makan bersama kita untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang, karna pernikahan kalian batal. Daddy rasa tidak ada salahnya, iyakan Asyifa?"


"Ah, iya daddy"


William tampak masih ingin memperpanjang masalah dengan membantah ucapan sang ayah, namun cengkeraman tangan Asyifa di lengan pria itu seolah memberinya isyarat untuk berhenti saja.


"Sudahlah sayang. Jangan buat perasaanmu menjadi semakin buruk karna berdebat dengan daddy"


"Baiklah. Tapi ingat, aku melakukan semua ini hanya karna permintaan dari dirimu. Aku tidak ingin membuatmu kecewa melihat acaranya rusak, hanya karna aku bersusah payah untuk mengusir seekor serangga" sindir William, sambil melirik sinis ke arah Zenith.


"Iya, iya, aku tahu. Kamu memang suami yang terbaik, terima kasih"


"Sama-sama sayang. Tapi masa cuman ucapan terima kasih saja? Apa kamu tidak ingin menjanjikan jatah malam nanti yang luar biasa padaku?" bisik William yang masih bisa di dengar oleh semua orang.


"William! Jangan minta yang aneh-aneh, nanti di dengar sama semuanya. Ayo, lebih baik kita duduk saja"


Asyifa mendorong tubuh William untuk segera duduk di kursi mereka dengan wajah memerah menahan malu. Meskipun ia tahu, jika semua itu sengaja dilakukan oleh William untuk membuat Zenith menjadi kesal, tapi tetap saja Asyifa merasa itu adalah tindakan yang kurang pantas.


Zenith, Kana, serta Ratih yang turut menonton kemesraan yang terjadi diantar pasangan suami istri itu pun menjadi sangat kesal dan tidak bisa berkutik sama sekali.


Namun berbeda dengan Haykal dan juga Rizal. Kedua orang itu malah asyik tertawa melihat ulah William yang jahil.


"Ehem. Kalian bisa melanjutkan bermesraan saat sudah berada di rumah kalian, Asyifa. Jangan berbuat seperti wanita yang tidak berpendidikan" tegur Ratih, dengan sengaja menyalahkan Asyifa.


"Ayolah mom. William lah yang jahil sudah menggoda Asyifa seperti itu, kenapa mommy menyalahkan Asyifa dan bukannya William?" tanya Haykal heran.


"Sudah, tidak usah bertengkar lagi. William dan Asyifa, daddy ingin bertanya apa tujuan kalian untuk mengumpulkan kami semua disini?"


"Pertanyaan bagus, daddy! Maksud William dan Asyifa mengumpulkan kalian semua, ialah untuk menyampaikan sebuah kabar baik yang akan segera hadir ditengah kami berdua dan keluarga kita"


Setelah berkata seperti itu, William sengaja menghentikan ucapannya dan membantu Asyifa untuk bangkit berdiri. Dengan perlahan, William menyentuh perut wanita itu lembut kemudian menciumnya.


"Apa maksudnya itu, Will?" tanya Haykal kaget hingga ikut berdiri juga.


"Apa kakak masih tidak mengerti juga? Asyifa sedang hamil anak pertama kami!"


"Astaga! Apa itu benaran?" tanya Rizal, tak kalah antusiasnya.


Haykal dan Rizal segera menghampiri William dan memeluknya erat sambil berulang kali mengucapkan selamat, padanya dan juga Asyifa. Hanya ketiga wanita yang memang sudah mengetahuinya yang hanya memasang ekspresi datar.


"Terima kasih, Asyifa. Terima kasih, karna sudah menghadirkan seorang calon keluarga baru ditengah kita semua"


"Sama-sama daddy"


"Aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik, supaya dia bisa lahir ke dunia ini dengan sehat dan tak kurang satu apa pun"


"Pasti kak Haykal, Asyifa pasti akan menjaga dan memastikannya baik-baik saja"


"Kenapa mommy dan kalian berdua tidak merasa kaget, mendengar kabar Asyifa saat ini sedang hamil?"


"Untuk apa mommy harus kaget, jika sudah mengetahuinya lebih dulu Haykal. Itu sama saja dengan mommy berpura-pura"

__ADS_1


"Mommy sudah tahu? Bagaimana bisa, apa Asyifa memberitahukannya kepada mommy lebih dulu?"


"Bukan Asyifa kak, tapi aku. Karna saking senangnya mengetahui Asyifa hamil, tanpa sadar aku malah mengirimkan pesan pada mommy"


"Lalu Kana dan Zenith apa sudah tahu dari mommy juga?"


"Iya sayang. Waktu William mengirimkan pesan pada mommy, aku dan Zenith sedang bersama dengan mommy"


"Kenapa kamu tidak mengatakannya juga padaku, sayang? Ini namanya curang, kenapa hanya mommy yang kalian beritahu?" protes Rizal kesal.


"Untuk apa diberitahu, bukan sesuatu yang penting juga. Apa spesialnya anak dari wanita jelek itu" cibir Zenith pelan.


"Sudah daddy, tidak usah merasa kecewa seperti itu. Sekarang yang lebih penting ialah, kita harus merayakannya dengan meriah!"


"Daddy setuju denganmu Haykal. Pelayan, segera keluarkan semua makanan paling enak yang ada di restoran ini!" pinta Rizal bersemangat.


Mendengar perintah Rizal, beberapa pelayan yang sedang berdiri tak jauh disana segera mengeluarkan semua makanan terbaik yang mereka punya, untuk diletakkan dihadapan keluarga itu.


Selain ketiga wanita yang dengan terpaksa harus turut dalam momen itu, semuanya tampak menunjukkan ekspresi bahagia yang tulus untuk Asyifa.


Ditengah acara, ponsel Zenith berdering, dan yang menghubunginya adalah orang yang disuruhnya untuk mencari Aliya. Dengan cepat Zenith meminta izin untuk menjawab telpon itu diluar restoran.


"Kenapa dia harus menghubungiku ditengah acara keluarga William sih? Awas saja kalau tidak ada hal penting!" gerutu Zenith sambil mengeser tombol jawab.


"Ada apa? Kenapa menghubungiku, apa kamu sudah berhasil mendapatkan informasi tentang wanita itu?"


Setelah bertanya, Zenith tampak diam mendengarkan orang diujung sana berbicara, dengan ekspresi kesal. Namun setelah telpon berakhir, senyuman jahat terbit di wajahnya yang cantik.


"Hahaha...., habislah kamu Asyifa! Sekarang kamu bisa berbahagia menikmati semua yang ada. Tapi tidak lama lagi, kamu akan segera merasakan apa itu penderitaan"


*****


Hari ini adalah hari minggu yang sama seperti hari-hari sebelumnya di hidup Aliya, begitu tenang dan damai. Hanya sesekali kegaduhan terdengar dari dalam kamar utama.


Di dalam kamar itu, ada suami Aliya yang sedang berusaha mengasuh putra mereka. Sedang Aliya sendiri, terlihat sibuk memasak makanan sambil bersenandung ria di dalam dapur.


Tak sedikit pun Aliya merasakan firasat buruk tentang akan adanya bahaya yang sedang datang mendekati mereka sekeluarga.


Aliya dengan senang berpikir bahwa bahaya itu sudah lewat. Karna semalam Haykal memberitahunya berita, tentang Asyifa yang sedang mengandung keturunan dari William.


Wanita itu berpikir bahwa jika berita itu benar, maka tidak mungkin Ratih dan Kana akan tetap tega memisahkan pasangan suami istri yang sedang menantikan kelahiran buah hati mereka. Karna bagaimana pun juga, Ratih adalah seorang ibu yang pernah mengandung pastinya dia bisa mengerti akan keadaan Asyifa.


Tiba-tiba dari arah luar rumah, terdengar bunyi beberapa mobil yang sedang memasuki pekarangan. Aliya tersenyum senang, karna ia pikir yang datang adalah Haykal.


"Siapa yang datang, sayang? Aku lihat di luar ada banyak sekali mobil yang terparkir" tanya Alex yang karna penasaran berjalan keluar dari kamar, sambil menggendong putranya.


"Aku pikir itu mungkin Haykal"


"Haykal? Siapa Haykal, sayang? Apa dia itu pria yang pernah datang menemuimu di rumah kontrakan lama kita?"


Aliya menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Alex. Kemudian berjalan ke arah pintu rumah untuk membukanya, setelah mendengar ketukan disana.


"Aneh. Perasaan yang aku lihat tadi, tidak ada sosok pria itu diantara rombongan yang datang. Apa aku yang salah lihat?" gumam Alex pelan.


Alex baru saja ingin mengatakan hal itu pada Aliya, namun wanita itu sudah lebih dulu membukakan pintu untuk tamu yang datang. Dan ketika melihat siapa yang datang, saat itu juga tubuh Aliya bergetar hebat.


Wajahnya yang cantik nampak berubah pucat seketika, dan ia segera mundur beberapa langkah ke belakang seolah merasa sangat ketakutan.


"Hai Aliya, lama tidak bertemu" sapa Zenith sambil tersenyum manis.


"Ka_kalian? A_apa_apa yang ingin kalian lakukan sampai datang ke rumahku?" tanya Aliya terbata.


"Ada apa, sayang? Siapa yang datang?"


"Jangan ke sini Alex! Cepat bawa putra kita masuk ke dalam kamar, dan kunci pintunya!" teriak Aliya panik, saat melihat sosok Alex yang ingin menghampiri dirinya.


"Kenapa kamu sepanik itu, Aliya? Apa kamu tidak ingin menyapa kami terlebih dahulu? Bagaimana pun juga, kami berdua kan adalah kenalan lamamu"


"Benar yang dikatakan oleh Kana. Selain itu, kami sangat ingin berkenalan dengan suami dan juga anakmu. Bolehkan?"


"Aku tidak pernah punya kenalan seperti kalian berdua, jadi silakan keluar dari rumahku! Keluar dan jangan pernah datang kembali lagi kesini, pergi!"


Aliya yang karna semakin panik, menjadi tak terkendali dan mulai mendorong tubuh Kana serta Zenith menjauh darinya.


Tapi yang terjadi selanjutanya, bukan tubuh kedua wanita itu yang terjatuh ke tanah, melainkan tubuh Aliya. Tubuhnya di dorong tanpa ampun oleh dua orang pria berbadan besar yang ada disamping Kana dan juga Zenith.


"Ups, maaf. Orang suruhanku sudah diajarkan untuk bertindak cepat, kalau tuannya disentuh sedikit saja"


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa tiba-tiba datang dan bertindak kasar seperti ini pada istriku? Tunggu saja, akan aku laporkan kalian semua ke polisi!" marah Alex sambil meraih ponsel yang ada dalam saku celananya.


Pria itu telihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya, membuat Zenith terpaksa harus memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menangani Alex.


Tanpa permisi lagi, suruhan itu segera masuk ke dalam rumah dan merebut bayi yang ada dalam pelukan Alex secara paksa. Membuat Aliya yang melihatnya berteriak histeris.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa mengambil anak orang lain? Cepat kembalikan anakku sekarang juga!"

__ADS_1


"Matikan ponselmu sekarang juga, atau anakmu yang akan terluka!" ancam suruhan itu sambil mengangkat sebuah saputangan ke atas wajah bayi mungil itu.


"Baiklah" Alex yang tidak ingin mengambil resiko kalau anaknya terluka, dengan cepat membuang ponsel miliknya ke atas sofa yang ada di depannya.


"Tidak, jangan lukai anakku! Aku mohon pada kalian, tolong kembalikan bayiku"


"Tentu saja akan kami kembalikan bayimu Aliya, tapi tidak semudah itu. Kalau saja kamu tidak mempersulit keadaan, pasti semua ini tidak akan terjadi"


Mendegar perkataan Kana, Aliya segera bangkit dengan susah payah sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sambil terisak, ia mencoba untuk memohon.


"Baiklah kak Kana, aku akan mengikuti semua yang kalian katakan. Apa pun itu, akan aku lakukan, asal anakku selamat"


"Itu sudah seharusnya kamu lakukan sayang. Karna kamu tidak akan pernah bisa menang melawan kami, apa kamu mengerti?"


"Aku mengerti kak"


"Bagus. Kalau begitu, apa aku dan Zenith sudah boleh bertamu layaknya tamu biasa di rumahmu? Kamu tidak akan membiarkan kami berdiri seharian disini kan?"


"Si_silakan, silakan masuk"


Aliya dengan terpaksa membiarkan kedua wanita jahat itu untuk masuk dan duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Alex yang ingin memprotes, hanya bisa kembali diam setelah melihat isyarat dari sang istri.


Pria itu pun memilih untuk segera mendekati suruhan yang sedang menggendong anaknya untuk diambil kembali. Namun Zenith dengan cepat menghalanginya.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan berpikir untuk mendapatkan anak kalian kembali, sebelum aku selesai menyampaikan tujuanku datang kesini"


"Sayang, kemari" panggil Aliya sambil menepuk tempat duduk disebelahnya yang berhadapan dengan Zenith dan juga Kana.


"Kamu pastinya sudah mengetahui alasan kami berdua datang kesini, dari suamiku bukan?"


"A_aku ti_tidak mengerti maksud kakak"


"Jangan berpikir kamu bisa membohongiku, Aliya. Yang tahu tempat keberadaanmu hanya aku dan Haykal, tapi sehari sebelum aku mendatangi tempat itu, kamu dan keluargamu sudah pindah kesini. Siapa lagi selain Haykal yang bisa mendatangimu untuk membantu kalian bersembunyi?"


"Kak Haykal memang menyuruh kami pindah, tapi aku tidak tahu alasannya apa. Mungkin karna ia ingin menebus kesalahannya padaku di masa lalu"


"Menebus kesalahan? Memangnya apa yang sudah kami lakukan padamu? Kamu lah yang tidak tahu diri mendekati keluarga kami dan mulai menggoda William tanpa tahu malu, jadi wajar saja jika kami ingin menyingkirkan wanita miskin sepertimu!"


"Apa menjadi kaya membuat kalian merasa berkuasa atas segalanya, bahkan atas hidup manusia lainnya? Apa kalian benar-benar manusia?" tanya Alex marah.


"Kami memang berkuasa, itu adalah faktanya. Apa kamu tidak tahu? Pasti seumur hidupmu, selalu hidup dalam kemiskinan yah? Kasihan sekali kamu Aliya, setelah lepas dari William yang kaya raya malah mendapat barang rongsokan sebagai gantinya"


"Tidak usah menjelekkan suamiku seperti itu, Zenith. Langsung katakan saja apa yang kalian inginkan dariku"


"Baiklah, karna kamu terlihat sudah tidak sabaran, akan aku beritahu keinginan kami datang kesini. Yang kami inginkan sangat sederhana, yaitu kamu kembali dalam hidup William dan mendekatinya lagi. Mudah saja bukan?"


"Apa kamu gila? Aku tidak mungkin bisa melakukan permintaan kalian, Zenith. Aku punya anak dan suami yang harus aku urus, sedangkan William juga sudah mempunyai kehidupannya sendiri!"


"Tenang saja, kami tidak akan memaksa kamu untuk melakukannya jika kamu tidak mau Aliya. Tapi sebagai gantinya, aku tidak akan mengembalikan putramu. Bagaimana, sangat adil bukan?"


"Kamu tidak bisa melakukan itu, Zenith!"


"Tentu saja aku bisa, dan sangat bisa. Kalau kalian mengancam akan melapor polisi, maka saat itu juga aku akan menghabisi nyawa anakmu. Jadi sebaiknya kamu pikirkan ulang jawabanmu atas apa yang kami inginkan"


"Baiklah, aku akan ikut kalian pergi. Tapi dengan satu syarat, kalian harus membiarkan suami dan anakku untuk hidup tenang"


"Pilihan yang sangat bagus Aliya. Aku dan Zenith jamin hidup suami dan anakmu akan sangat tenang"


"Tidak, kamu tidak boleh pergi begitu saja Aliya. Aku dan putra kita tidak akan bisa hidup tanpa dirimu, aku mohon jangan pergi" pinta Alex panik.


"Maafkan aku Alex. Tapi aku tidak melihat ada jalan keluar lain selain ini. Aku janji akan cepat kembali, untuk berkumpul lagi bersama kalian"


Aliya memeluk tubuh suaminya untuk terakhir kali sambil menangis pilu. Kemudian berganti memeluk putranya, yang sudah kembali ke tangan Alex.


Namun hal mengejutkan lain kembali terjadi, dua orang suruhan Zenith memegangi tangan Alex dan memaksanya berjalan keluar. Membuat pasangan suami istri itu, menatap ke arah Zenith dan juga Kana dengan tatapan bingung.


"Kenapa kalian membawa suamiku?"


"Tentu saja itu harus kami lakukan, suami dan anakmu juga harus pindah dari rumah ini. Aku tidak ingin Haykal sampai datang kesini dan mengetahui semua yang terjadi" jelas Kana.


"Tapi bagaimana dengan semua barang yang ada disini, dan juga pekerjaanku di pabrik? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja"


"Tinggalkan saja! Aku sudah menyiapkan tempat tinggal baru untukmu, aku juga sudah mempekerjakan seorang pengasuh untuk merawat anakmu. Kedua orang suruhanku ini akan bertugas mengawasimu selama dua puluh empat jam penuh!"


"Apa tidak bisa mereka tetap tinggal disini saja, Zenith?"


"Tidak! Seperti kata kak Kana, aku juga tidak mau mengambil resiko. Selain itu, kalian berdua juga harus menyerahkan ponsel kalian padaku!"


Aliya memang berniat meminta bantuan pada Haykal, atau jika pria itu menyadari dirinya hilang, mungkin saja ia akan mendatangi suami Aliya untuk menyakan apa yang terjadi. Namun kini semua harapannya hilang sudah, tidak ada jalan untuk keluar lagi.


Pasangan suami istri itu hanya bisa menyerahkan ponsel mereka pada Zenith dengan patuh.


"Aku harap kamu mengingat hal ini, suaminya Aliya. Jika kamu mencari cara agar bisa kabur dan menghubungi polisi, maka saat itu juga istrimu akan aku lenyapkan! Apa kamu mengerti?" ancam Zenith sebelum pria itu dibawa pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2