
Asyifa memandangi satu persatu kendaraan yang melintas di jalan raya depan cafe tempatnya berada saat ini.
Tiba-tiba benda pipih disamping tangannya bergetar dan muncullah nama Mira disana.
"Halo Ra, ada apa?" tanya Asyifa setelah mengeser tombol jawab.
"Halo Fa, kamu lagi apa sekarang?"
"Menghitung jumlah kendaraan yang lewat, mungkin?"
"Apa? Jangan bilang kamu masih di Cafe? Apa pekerjaanmu belum selesai juga? Sudah berapa jam kamu berada disana?"
"Yah, aku memang masih di Cafe saat ini dan pekerjaanku sudah selesai sedari tadi. Aku sudah hampir 4 jam disini, mungkin?"
"4 jam? Ini sudah jam makan siang, apa kamu sudah makan?"
"Aku akan menghabiskan minumanku dan kembali ke apartemen untuk makan siang. Jangan khawatir Mira"
"Baiklah kalau begitu, aku dan Angel juga harus segera ke kantin sekarang. Bye, Asyifa"
"Bye, Mira"
Baru saja Asyifa meletakkan kembali hpnya diatas meja, saat seorang pria yang entah mengapa terasa tak asing dengan santai duduk di hadapannya.
"Hai, kita bertemu lagi" ucap pria itu tersenyum sambil menatap wajah Asyifa.
"Kamu...?"
"William. Namaku William, pria yang pernah memintamu untuk berbagi meja dengannya di Cafe ini"
"Ah iya, William! Maaf aku melupakan namamu sesaat"
"Tidak masalah. By the way, sudah dua kali pertemuan kita disini, dan selalu saja mejamu terlihat penuh dengan pekerjaan. Apa kamu sangat suka bekerja, Asyifa?"
"Ah, maaf. Aku akan segera membereskannya" ucap Asyifa malu.
"Tidak perlu Asyifa. Toh aku akan menempati meja lain, karna hari ini banyak meja yang kosong. Aku ke sini hanya untuk menyapamu, karna rasanya tidak sopan jika berlalu begitu saja. Jadi silakan lanjutkan pekerjaanmu"
"Ah, iya. Silakan menikmati waktumu juga, William" ucap Asyifa dengan wajah merah padam menahan malu.
"Kamu juga, dan senang bertemu denganmu lagi Asyifa"
Setelah William berlalu dari mejanya, Asyifa langsung menelungkupkan wajahnya diatas meja dan meruntuki kebodohan dirinya sendiri.
Bagaimana bisa ia berpikir kalau William akan duduk bersama dirinya? Dan kenapa juga Asyifa hanya bisa menjawab perkataan William dengan jawaban-jawaban yang sangat singkat? Seolah ia tak ingin berbicara lebih lama dengan pria itu.
"Dasar bodoh, Asyifa! Kenapa dadamu masih saja berdebar tak jelas, padahal William terlihat sangat santai" gumam Asyifa.
Dengan cepat ia membereskan barang bawaannya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian berjalan ke arah kasir.
Hal yang bisa dan harus ia lakukan sekarang adalah segera pergi dari tempat itu. Ia tidak ingin menjadi semakin salah tingkah saat berhadapan lagi dengan William.
"Permisi mas, saya mau bayar. Boleh saya minta total tagihannya?"
__ADS_1
"Boleh kak, untuk meja nomor 4 yah? Totalnya 150 ribu, mau pake kartu atau cash aja kak?"
"Cash aja mas. Ini uangya" Asyifa menyodorkan selembar uang seratus dan selembar uang lima puluh.
"Terima kasih kak, silakan datang kembali"
"Iya, sama-sama mas"
Saat berada diluar Cafe, Asyifa merasa cacing-cacing di dalam perutnya sudah mulai berdemo meminta asuhan makanan.
"Apa aku cari makan diluar aja yah, dari pada harus masak lagi di apartemen. Bisa-bisa keburu meninggal aku sebelum makanannya masak karna saking kelaparan!"
Dengan cepat Asyifa mengambil hpnya ingin memesan kendaraan online, tapi terhenti karna tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya.
"William, ada apa?" tanya Asyifa saat menyadari kalau William lah yang barusan memanggil namanya.
"Kamu kenapa sudah mau pergi? Apa karna ada aku di dalam Cafe, yang membuatmu menjadi tidak nyaman?"
"Hah? Bu, bukan begitu William, aku memang harus sudah pergi dari sana. Karna bisa-bisa para pekerja disana bosan melihat mukaku"
"Aku tidak mengerti, kenapa bisa mereka bosan melihatmu?"
"Aku sudah berada disana selama 4 jam William. Bukankah kamu juga akan merasa bosan, saat melihat orang dengan wajah yang sama selama berjam-jam?"
"Tidak juga, kalau aku tergantung siapa orangnya. Tapi kalau melihat wajahmu selama berjam-jam, aku rasa tidak akan bosan sama sekali" ucap William yang sukses membuat wajah Asyifa merah padam.
"Mak, maksud kamu?"
"Maksudku adalah, apakah kamu mau pergi makan siang bersamaku sekarang?"
"Yah, karna cacing-cacing diperutku sudah mulai berdemo meminta asupan makanan. Apa cacing dalam perutmu tidak?"
"Kok bisa sama? Diperutmu juga ada cacingnya yah?" tanya Asyifa polos, membuat William langsung tersenyum menahan tawa.
"Jadi kamu mau makan apa?"
"Tapi bukannya kamu baru saja sampai disini? Lihat, pesananmu saja belum ada setengahnya dimakan! Atau belum kamu sentuh sama sekali yah?" tanya Asyifa sambil menunjuk ke arah dalam Cafe.
Di meja yang tadi ditempati oleh William, terlihat makanan serta minuman yang masih tertata rapi, seolah tak pernah disentuh sama sekali.
"Aku tiba-tiba ingin makan nasi padang dan minum es teh saja. Jadi makanan yang aku pesan barusan, aku berikan kepada para pelayan yang bekerja di Cafe untuk dimakan bersama-sama"
"Nasi Padang dan es teh? Kedengarannya sangat nikmat!" ucap Asyifa tanpa sadar.
"Benarkan? Ayo pergi makan bersamaku! Aku tau dimana tempat masakan padang yang sangat enak!"
"Baiklah, ayo pergi! Sebentar, aku pesan kendaraan online dulu supaya kita bisa pergi"
"Tapi aku bawa mobil Fa, apa kamu tidak ingin naik mobilku saja?"
"Ah, kamu bawa mobil yah? Maaf aku tidak tau" ucap Asyifa malu, sadar kalau dirinya kembali salah tingkah.
"Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu tidak tau, kan aku juga belum mengatakannya sedari tadi. Ayo ke mobilku, aku memarkirnya disana"
__ADS_1
"Iya, ayo"
Asyifa mengikuti langkah William dari belakang dengan senang hati, namun langkah mereka harus terhenti karna sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan keduanya.
Seorang pria tampan turun dari dalam mobil dan saat melihat wajahnya, langsung membuat Asyifa terkejut.
"Pak Zidan?"
"Kamu kenal sama pria itu, Fa?"
"Iya aku kenal, Will. Dia adalah bosku di perusahaan tempat aku bekerja"
"Begitu rupanya. Tapi kenapa dia menghadang jalan kita? Apa kamu sudah ada janji untuk bertemu dengannya?"
"Aku tidak ada janji dengannya. Aku sekarang sedang mengambil cuti, dan mengerjakan pekerjaanku dari rumah, lalu mengirimkannya melalui email. Oleh karna itu, tidak ada alasan untuk kami bertemu" jelas Asyifa panjang lebar.
"Maaf, ada perlu apa yah sampai anda menghalangi jalan kami?" tanya William tak suka pada Zidan yang kini ada didepannya.
"Apa saya mengenal anda?" balas Zidan dingin.
"Ah, pak Zidan, apa anda akan bertemu klien di Cafe ini?" tanya Asyifa berusaha mencairkan suasana.
Entah mengapa Asyifa merasa suasana disekitar ketiganya tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin, hingga bulu kuduknya seketika merinding.
"Apakah saya harus bertemu klien dulu, baru bisa datang ke Cafe ini?"
"Bu, bukan begitu pak. Hanya saja pak Zidan tidak pernah ke sini, dan tiba-tiba berada disini, jadi saya pikir pak Zidan ingin bertemu dengan klien" jawab Asyifa asal-asalan.
"Tidak penting apa urusan saya ada disini, yang jelas sekarang kamu harus menemai saya pergi makan siang!"
"Ta, tapi pak..."
"Maaf menyela anda, tapi Asyifa sudah punya janji untuk makan siang bersama saya!" ucap William tanpa sadar ikut menggunakan kata saya dan anda seperti yang Zidan lakukan.
"Saya tidak bertanya apa dia punya janji dengan anda atau orang lain!"
"Bukankah itu sama saja anda menyalah gunakan posisi anda untuk menekan karyawan yang bekerja bersama anda? Asyifa mengatakan bahwa saat ini ia sedang mengambil cuti, itu berarti ia tidak harus menuruti perkataan anda!"
"Asyifa, berapa lama lagi saya harus menunggu kamu untuk ikut pergi bersama saya?" tanya Zidan mengacuhkan perkataan William.
"Ah, se, sebentar pak. Begini William, aku minta maaf. Tapi acara makan siang bersama kita harus batal hari ini, karna aku terpaksa harus ikut bersama bosku. Tapi aku janji akan menebusnya lain kali" mohon Asyifa dengan wajah memelas.
"Baiklah, tidak masalah jika kamu yang memintanya. Tapi aku minta, berikan nomor hpmu kepadaku. Supaya aku bisa menghubungimu, dan menangih janji makan siang kita yang batal hari ini" ucap William mengalah. Ia merasa kasian, melihat wajah memohon Asyifa.
William menyodorkan hpnya kepada Asyifa, yang langsung diterima oleh gadis itu dengan senang hati.
"Terima kasih pengertiannya William" ucap Asyifa mengembalikan hp milik William, setelah selesai mengetik nomornya.
"Ayo cepat Asyifa, saya sudah sangat lapar! Apa kamu ingin melihat saya mati kelaparan disini?"
"Baik pak Zidan. William, aku pergi dulu. Sekali lagi aku minta maaf"
"Hati-hati, Asyifa. Sampai jumpa lagi" ucap William sambil mengelus pelan puncak kepala Asyifa, yang membuat wajah gadis itu kembali bersemu merah.
__ADS_1
Zidan yang melihat interaksi antara Asyifa dan William dihadapannya, hanya bisa menggepalkan kedua telapak tangannya dengan tatapan tak suka.
Bersambung...