The Ugly Wife

The Ugly Wife
Tersangka baru


__ADS_3

Asyifa terpaksa harus mengikuti ucapan Zidan untuk pulang kembali ke panti, dengan perasaan gelisah. Jika bisa, sejujurnya Asyifa ingin tetap berada di tempat itu, dan terus bebicara dengan Zidan.


Karna entah mengapa, Asyifa merasa aman dan tentram ketika mendengar suara pria itu. Seolah semua masalah yang dihadapinya akan langsung teratasi hanya melalui suara pria yang sudah lama tidak dilihatnya itu.


"Bagaimana Asyifa? Apa para polisinya mau untuk datang ke panti ini?" tanya ibu panti, yang langsung menghampiri Asyifa ketika dirinya tiba.


"Aku tadi sudah menghubungi mereka bu, dan katanya mereka akan berusaha untuk tiba secepatnya disini"


"Ah, begitu. Ba_baguslah"


"Iya bu. Kebetulan Asyifa minta bantuan dari mantan bos di perusahaan tempat Asyifa dulu bekerja, jadi mereka pasti akan datang secepat mungkin, karna bos Asyifa itu punya koneksi yang luar biasa di negara kita"


"Ah, iya. Terima kasih Asyifa"


"Sama-sama bu. Kalau begitu, Asyifa masuk dulu ke dalam buat gantian jagain tempat kejadiannya" pamit Asyifa, dan berlalu dari sana meninggalkan ibu panti seorang diri.


Asyifa memeriksa kembali tempat kejadian yang ada didepannya, apakah masih sama seperti yang sempat difoto olehnya sebelum pergi. Dan untungnya masih sama tanpa ada kurang satu pun.


"Kak Asyifa"


"Eh Rora, Nana, kalian kenapa ada disini? Kan kalian semua sudah disuruh berkumpul di ruang tamu tadi"


"Kita memang disuruh berkumpul disana kak, tapi ada sesuatu yang harus aku dan Rora bahas sama kakak, makanya kami datang"


"Apa itu?"


"Dari awal kejadian kita menemukan jasad Elisa, kak Eden juga tidak terlihat lagi sampai sekarang. Padahal biasanya, dia yang paling cepat datang kalau ada sesuatu yang terjadi di panti ini" jelas Nana terlihat bingung.


"Benar juga katamu, kakak juga tidak melihat dirinya sedari tadi. Aneh sekali!"


"Ibu panti juga aneh, sedari tadi dia terlihat sangat gelisah sekali, bahkan untuk duduk barang semenit saja dia tidak bisa. Dari tadi hanya mondar-mandir di ruang tamu kak"


"Aduh, apanya yang aneh dari itu sih Rora? Wajar saja kan kalau ibu panti kita bertingkah seperti itu, kan salah satu anak asuhnya baru saja meninggal di dalam panti ini! Kalau jadi ibu panti, aku juga akan bertingkah sama"


"Tapi Na, masa ibu pa____"


"Sudah, sudah, jangan bahas ibu panti lagi! Yang sekarang harus kita bahas dan pikirkan itu, keberadaan kak Eden dan bukannya ibu panti!" potong Nana kesal.


"Yang dikatak Nana benar, Rora. Yang harus kita lakukan adalah mencari tahu dimana Eden berada saat kejadian pembunuhan Elisa terjadi, karna bisa saja dia adalah pelakunya. Kalian pasti tidak lupa dengan beberapa keanehan yang mengarah pada Eden, bukan?"


"Tentu saja tidak kak. Kalau begitu, apa yang harus aku dan Nana lakukan untuk mencari tahu keberadaan kak Eden?"


"Tidak usah, kalian tetap disini saja untuk bantu mengawasi tempat kejadian, supaya tidak ada yang berani merubah atau pun juga menghapus setiap hal yang ada ditempat ini. Masalah Eden, biar kakak sendiri saja yang akan menanganinya"


"Tapi kak, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada kak Asyifa? Apa tidak sebaiknya kita menunggu para polisi datang dulu?"


"Tidak bisa Rora, kalau menunggu polisinya datang, bisa-bisa Eden sudah keburu kabur duluan. Tadi kakak sudah sempat bertanya dimana rumah Eden, jadi kakak akan coba pergi kesana untuk mengeceknya. Kakak juga akan berhati-hati, jadi kalian tenang saja"


"Baiklah kalau kakak bersikeras untuk pergi, kami akan bantu doa dari sini"


"Iya, dan kakak juga harus cepat kembali!" ucap Rora terlihat hampir menangis.


"Iya, kakak akan cepat kembali. Tapi kalau sampai kakak tidak kembali juga dalam waktu yang lama, maka yang harus kalian berdua lakukan adalah, mencari seorang pria yang bernama Zidan untuk meminta bantuan. Apa kalian bisa melakukannya?"


"Bisa kak" jawab keduanya kompak.


"Gadis pintar! Kalau begitu kaka pergi dulu, tolong jaga lokasinya, dan lakukan seperti yang sudah kakak katakan tadi"


Asyifa pun memilih jalan belakang untuk pergi ke rumah Eden, agar tidak terlihat oleh siapa pun. Karna penerangan yang kurang di sekitar desa, membuat niat Asyifa untuk tak terlihat semakin berhasil.


Dengan langkah terburu-buru, Asyifa berjalan menuju ke arah hutan yang tak jauh dari tempatnya mendapatkan sinyal tadi, karna ternyata rumah Eden berada tak jauh dari sana.


Rumah yang terpencil, dan jauh dari rumah warga desa lainnya, apalagi dekat dengan hutan, pastilah menjadi sarang yang bagus untuk Eden bisa merencanakan suatu pembunuhan. Begitulah pikir Asyifa ketika melihat rumah itu.


Rumah Eden adalah sebuah rumah yang tak terlalu besar dan cukup sederhana. Namun ketika masuk ke dalamnya, Asyifa merasa terkejut karna mendapati penampakannya yang jauh berbeda dari luarnya.

__ADS_1


Barang-barang milik Eden bisa terbilang sudah sangat modern, berbeda dari barang milik warga sekitar atau barang yang ada di dalam panti. Eden bahkan memiliki sebuah leptop dalam kamarnya.


"Yang benar saja kalau dia selama ini selalu hidup di dalam desa? Tapi bagaimana bisa dia memiliki semua barang-barang ini? Yang lebih bikin penasarang lagi, kenapa dia juga tidak ada didalam rumahnya? Apa dia sudah melarikan diri sebelum aku tiba, tapi kenapa semua barang miliknya masih tertata rapi disini? Bahkan tanda-tanda seserang telah pergi dengan tergesa-gesa dari sini juga tidak ada sama sekali!" batin Asyifa bingung.


Karna penasaran, ia pun mulai membuka laptop milik Eden. Setelah beberapa saat menjelajahinya, Asyifa menemukan sebuah riwayat chat yang sangat familiar.


Ternyata itu adalah chatnya dengan orang yang ia pikir adalah ibu panti, tapi nyatanya itu adalah Eden. Pantas saka dia dengan suka rela bersedia untuk menjemput Asyifa ke kota yang jaraknya jauh.


"Sialan! Awas saja kalau aku menemukanmu Eden, akan ku buat kamu menyesal karna sudah berani menyentuh anak-anak panti!"


Sebelum memeriksa ruangan lainnya, Asyifa tak lupa untuk memfoto apa yang baru saja ditemukannya itu. Namun beberapa saat berkeliling, ia tidak menemukan sesuatu yang berarti lagi.


Hingga tiba diruangan yang paling akhir, yaitu kamar mandi. Saat itulah kecurigaan yang Asyifa miliki terhadap Eden menjadi lebih kuat lagi. Di dalam kamar mandi itu, Asyifa menemukan beberapa bercak darah dilantai, dan juga sepasang pakaian pria yang juga berlumuran darah.


Asyifa pun berjalan ke belakang rumah untuk menelpon Zidan dan menceritakan apa yang baru saja ditemukan olehnya, ketika sebuah bekas bekas ditanah berpasir menarik perhatiannya.


"Apa ini? Kenapa bekasnya seperti sesuatu yang besar, sedang ditarik paksa dari rumah ini menuju ke dalam hutan?" tanya Asyifa bingung.


"Atau jangan-jangan, Eden menculik orang lain lagi untui dijadikan sandera? Dasar pria gila, awas saja kalau dia berani melakukan pembunuhan lagi, akan kupastikan dia masuk dan membusui dalam penjara!"


Puas menyumpah, Asyifa dengan berani dan tanpa perasaan takut sedikit pun, mulai berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti bekas tarikan itu.


Meskipun susah untuk bisa terus melihat bekas tersebut ketika sudah berada dalam hutan, namun pada akhirnya Asyifa berhasil sampai di sebuah gubuk kecil yang terlihat seperti berpenghuni.


Bekas tarikannya juga hilang ketika sampai di tempat itu, jadi Asyifa menduga bahwa itu adalah tempat persembunyian Eden. Dengan hati-hati, Asyifa pun mulai mengintip ke dalam gubuk itu melalui cela-cela yang ada didindingnya.


"Eden!" panggil Asyida terkejut, dan dengan suara tercekat.


Serasa tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya, Asyifa beberapa kali mengerjapkan matanya. Bagaimana bisa seseorang yang ia pikir adalah dalang dari semua kejadian, kini malah sedang terikat dalam keadaan pingsan dan penuh luka di dalam gubuk tersebut?.


"Astaga, siapa yang telah melakukan hal itu padanya? Apa yang sebenarnya terjadi, kalau begitu bukan Eden pelakunya? Fokus Asyifa, sekarang yang harus kamu lakukan adalah bukan panik, melainkan harus menolong Eden untuk bisa keluar dari sana!"


Baru saja Asyifa ingin berbalik, ketika secara bersamaan sebuah benda keras menghantam kepalanya dengan kuat, dan membuantnya jatuh ke tanah.


"Tapi siapa? Siapa pemilik suara itu? Ah, sakit, kepalaku sakit sekali, rasanya seperti aku ingin pingsan saja" rintih Asyifa dalam hati, kemudian tak sadarkan diri.


*****


"Dimana kakak kalian yang berasal dari kota itu, kenapa sedari tadi tidak kelihatan juga? Katanya para polisi akan datang secepatnya, tapi apa ini? Sudah hampir dua jam kita semua menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau mereka akan datang!" marah seorang bapak kepada Rora dan juga Nana.


"A_aku dan Rora hanya disuruh sama kak Asyifa untuk menjaga kamar Elisa saja, kami tidak tahu kak Asyifa pergi kemana" jawab Nana berbohong.


"Ya sudah kalau begitu, kita melakukannya sesuai dengan rencana awal saja, untuk langsung menurunkan jasad Elisa dan juga menguburkannya"


"Ja_jangan om, katanya kak Asyifa, kita harus tetap menjaga kamar Elisa agar tetap seperti saat pertama kali ditemukan. Supaya kalau polisinya datang, tidak ada bukti yang hilang atau pun terhapus" cegah Rora cepat.


"Alah, untuk apa kami para orang tua ini harus mendengarkan perkataan seorang wanita asing yang berasa dari kota itu! Memangnya dia siapa, polisi juga bukan!"


"Tapi om, bagaimana kalau hal itu malah membuat pelaku pembunuhannya bisa lolos begitu saja? Apa om mau kalau sampai terjadi pembunuhan lainnya di desa kita ini?" timpal Nana berani.


"Astaga, kenapa sih anak-anak ini menjadi soj pintar sekali dari tadi! Sudah minggir sana, jangan menghalangi jalan!"


Nana dan Rora pun di dorong ke samping begitu saja hingga terjatuh. Beberapa warga yang merasa kasihan pada dua bocah itu, langsung membantu merek berdiri kembali.


Sebenarnya para warga juga tidak setuju dengan usulan bapak tersebut, dan lebih ingin menunggu kedatangan polisi seperti yang diperintahkan oleh Asyifa. Namun karna posisi si bapak itu lebih tinggi dari semua warga desa yang ada disana, mau tidak mau mereka terpaksa menurutinya.


Ketika mereka baru saja akan memengang jasad Elisa, sebuah suara lantang berteriak keras dan seketika menghentikan niat mereka semua.


"BERHENTI! Jangan ada seorang pun yang berani menyentuh jasad anak itu sedikit saja, kalau tidak dia akan langsung aku masukkan ke dalam penjara!"


"Si_siapa kamu?" tanya bapak yang berkuasa itu, entah mengapa terlihat sedikit gugup.


"Aku? Anda bertanya siapa aku? Aku adalah pacar Asyifa, wanita kota yang datang kesini untuk menjadi sukarelawan!"


"Oh, jadi kamu pacar wanita sok pintar itu? Wanita yang membuat kami menunggu dua jam lebih, karna janjinya yang mengatakan kalau para polisi akan tiba di desa ini dengan secepatnya?"

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Dan secepatnya bukan berarti dalam setegah jam atau satu jam akan sampai begitu saja, apa anda pikir aku dan juga para polisi datang kesini dengan cara terbang?! Anda tahu tidak seberapa jauh desa ini dari kota?!" marah Zidan berapi-api.


Seketika itu juga, sang bapak tidak berani lagi berbicara. Apalagi saat dilihatnya para polisi mulai memasuki bangunan panti, sambil mengamati keadaan sekeliling.


"Sudahlah bro, tidak perlu marah-marah dan berdebat. Sebaiknya kita segera memberikan ruang kepada polisi, untuk bisa memeriksa kondisi jasad korban dan juga area kejadian" ucap Adam menengahi.


"Hah, dasar bikin emosi saja!"


"Permisi pak Zidan, apa kami sudah boleh memeriksa keadaan dalam kamar korban?" tanya seorang polisi, yang terlihat seperti adalah pemimpin disana.


"Iya, silahkan pak"


Sebelum memeriksa tempat kejadian, polisi mengarahkan semua orang yang berada di sekitar tempat itu, supaya pergi menunggu di ruang tamu agar tidak menghalangi proses pemeriksaan.


Hanya Zidan dan juga Adam yang diberikan kebebasan untuk berada disana dan ikut melihat proses pemeriksaan. Sedangkan Raka, bertuga untuk menjaga para anak-anak panti dan juga para warga untuk tetap berada di ruang tamu.


Ketika sedang menunggu, Nana dan Rora tak henti-hentinya terlihat gelisah sambil sesekali melirik ke arah jam yang tergantung didinding ruangan.


"Nana, kenapa kak Asyifa belum kembali juga, apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu yang buruk pada kak Asyifa?" tanya Rora terlihat cemas, dan hampir menangis.


"Hush! Jangan berpikiran seperti itu Rora, mungkin saja kak Asyifa masih butub waktu yang lebih banyak untuk memeriksa seluruh isi rumah kak Eden"


"Tapi tetap saja aku khawatir Nana. Apalagi, ibu panti juga tidak kelihatan sejak tadi"0


"Ada apa sih denganmu, kenapa sedari tadi sibuk sekali berbicara tentang ibu panti kita? Apa kamu tidak dengar yang dibilang sama kak Asyifa sebelum pergi? Pelaku dari semua kejadian ini adalah kak Eden, jadi kita tidak usah memikirkan hal lainnya!"


"Tapi ibu panti juga terlihat sangat aneh dan mencuringakan Nana, aku tidak bohong"


"Apanya yang aneh dan mencurigakan dari suatu tindakan gelisah saja?!" tanya Nana, terlihat mulai kesal.


"Dia bahkan tetap gelisah meskipun sudah mendengar berita dari kak Asyifa, bahwa para polisi akan segera datang. Yang anehnya lagi, ia menjadi jauh lebih gelisah sampai terlihat nyaris ingin meledak, setelah mendengar berita itu. Ba_bagaimana, kalau ibu panti lah yang ternyata adalah pelakunya?"


"Rora, tidak mungkin ibu panti adalah pelaku pembunuhan, apa kamu tidak bisa melihat betapa sangat sayangnya ibu panti pada kita semua selama ini? Dia bahkan tidak pernah memarahi atau memukul kita jika berbuat sebuah kesalahan, lalu bagaimana bisa dia membunuh Elisa?"


"Kalau begitu, kenapa bros ibu panti bisa ada di dalam kamar? Bahkan brosnya juga penuh berlumuran darah"


"Bros? Apa maksudmu?"


"Iya, apa kamu ingat saat kau ijin pergi ke wc sebentar dan meninggalkan aku sendirian di dalam kamar? Saat itu ibu panti datang dan meminta tolong padaku untuk mengambilkan segelas air untuknya. Ketika aku kembali, ibu panti terlihat seperti sedang mencari sesuatu di dalam kamar Elisa, dan ternyata yang dicari olehnya itu adalah sebuah bros miliknya"


" Astaga Rora, kenapa kamu baru mengatakan hal ini padaku sekarang?! Tapi tunggu dulu, seingatku tidak ada bros yang terlihat dalam kamar Elisa. Apa kamu tidak salah lihat?"


"Aku tidak salah lihat Nana, itu jelas-jelas adalah bros yang dibuat oleh Elisa sebagai hadiah untuk ibu panti dan selalu dipakai olehnya. Kita tidak melihatnya, karna bros itu berada dibawah tempat tidur Elisa"


"Benar juga, sedari tadi di baju ibu panti tidak kelihatan ada bros itu. Astaga, bagaimana kalau dugaanmu benar kalau ibu pantilah pelakunya? Kak Asyifa pasti berada dalam bahaya sekarang!"


"Ki_kita harus mencari pria yang benama kak Zidan, dan memberitahu semua ini!"


Rora dan Nana pun segera bangkit berdiri, dan ingin pergi menuju kamar Elisa untuk mencari siapa pria yang bernama Zidan. Tapi dengan cepat, Raka menahan keduanya.


"Kalian berdua mau kemana?"


"Kami mau pergi mencari pria yang bernama kak Zidan. Ada hal penting yang ingin kami berdua sampaikan padanya" jawab Nana.


"Tidak bisa dik, kak Zidannya sedang sibuk memeriksa jasad korban dan juga tempat kejadian bersama para polisi"


"Tapi ini sangat penting kak"


"Oke, kakak mengerti kalau apa yang ingin kalian sampaikan sangat penting. Tapi itu bisa dilakukan setelah pemeriksaan disana sudah selesai dilakukan, yah?"


"I_ini, ini soal kak Asyifa. KAK ASYIFA SAAT INI BERADA DALAM BAHAYA!" teriak Rora sekeras mungkin, dalam satu tarikan nafas.


"APA?!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2