
Setelah sampai di tempat pesawat terjatuh, hampir setiap waktu yang dihabiskan Zidan dan timnya, dipakai untuk menelusuri setiap sudut yang memungkinkan menjadi tempat dimana Kemal berada.
Seperti hari ini, hari ke-7 pencarian mereka. Pencarian itu di mulai pagi-pagi sekali dan baru akan berakhir saat hari mulai gelap. Tapi selama itu, belum ada kemajuan sama sekali yang mereka dapat.
Merasa kecewa dan lelah, menjadi makanan wajib mereka selama berada di tempat itu. Namun demi melihat tak ada lagi air mata yang jatuh di pipi Asyifa, Zidan bertekad untuk pantang menyerah.
"Ternyata kamu ada disini. Kenapa tidak pergi membersihkan diri?" tanya Raka membuyar lamunan Zidan, yang masih berada di batas tempat kejadian.
"Raka, apa menurutmu kita akan berhasil menemukan ayah Asyifa?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kemana perginya semangat dan rasa percaya dirimu sebelum kita sampai di tempat ini? Jangan bilang kalau kamu sudah menyerah"
"Aku bukannya menyerah. Aku hanya takut kalau sampai hari terakhir kita berada disini, kita belum juga bisa menemukan om Kemal. Aku takut membuat Asyifa kecewa, Ka"
"Aku bisa mengerti perasaanmu sekarang. Tapi aku juga tidak bisa bilang kalau kita pasti akan berhasil, karna aku bukan tuhan. Karna itu, kita harus minta pada tuhan supaya kita bisa berhasil. Kamu pasti mengerti apa yang ku maksud bukan?"
"Berdoa?"
"Iya Zidan, berdoa. Kita memang bisa saja bekerja keras mencari om Kemal, tapi untuk hasilnya tetap tuhan yang bisa menentukan semuanya"
"Benar juga katamu. Bagaimana kalau kita berdoa bersama sekarang saja?"
"Tentu. Sekalian kita aja dengan Adam dan anggota tim yang lainnya"
Raka dan Zidan pun bangkit dari duduknya untuk pergi menuju tempat peristirahatan. Tapi belum juga keduanya melangkah, sosok Adam terlihat sedang berlari terburu-buru ke arah mereka.
"Ada apa, Dam? Kenapa kamu lari-lari segala, apa ada yang mengejarmu?" tanya Raka keheranan.
"I_itu, tim pencari korban jatuh yang diutus oleh pihak perusahaan pesawat dan juga oleh pemerintah, mengatakan bahwa pencarian mereka dihentikan hari ini"
"Apa? Bagaimana bisa mereka menghetikan pencarian begitu saja?"
"Tapi Zidan, aku rasa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang memag sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mereka telah mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari selama 8 hari penuh" jelas Adam, mencoba meredam amarah yang mulai terlihat jelas di wajah sahabatnya itu
"Aku ingin bicara dengan pemimpin mereka, atau siapa pun yang bertanggung jawab atas keputusan yang kamu katakan itu!"
"Baiklah, akan aku antar. Ayo ikut"
Raka dan Zidan pun mengikuti langkah Adam menuju ke tenda peristirahatan tim tersebut, dan segera meminta ijin untuk bertemu dengan penanggung jawabnya.
Seorang pria yang usianya terlihat sekita umur 50an tahun, menyambut ketiganya dengan wajah serius namun tetap terlihat ramah.
"Selamat malam pak Zidan, dan juga selamat malam sahabat pak Zidan. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tentu saja ada, pak Willy" balas Zidan, sambil membaca nama yang tertera di dada pria tersebut.
"Kalau begitu, silakan duduk terlebih dulu. Apa perlu disiapkan minuman?"
"Tidak, terima kasih. Saya ingin langsung saja membicarakan apa yang ingin saya bicarakan dengan pak Willy"
"Silakan, saya akan mendengarkan"
"Saya baru saja mendengar berita dari salah satu sahabat saya yang mengatakan bahwa, pak Willy akan menghentikan pencarian terhadap korban. Apakah itu benar?"
"Iya benar pak Zidan, saya memang akan menghentikan pencarian dan besok semua anggota tim akan kembali pulang"
"Bagaimana bisa bapak memutuskan hal seperti itu, sedangkam diluar sana masih banyak korban yang belum bisa ditemukan? Apa pak Willy tidak kasian kepada keluarga para korban yang telah menunggu berita dari tim pencari?"
"Saya tahu kalau keluarga korban menaruh harapan besar terhadap kami, tapi kami juga telah melakukan apa yang menjadi tugas kami sesuai dengan peraturan yang ada. Saya tidak mungkin membiarkan anggota tim saya untuk terus selamanya, karna sama seperti korban, mereka juga memiliki keluarga dan kehidupannya sendiri. Saya harap sampai disini, pak Zidan bisa memahaminya" jelas Willy panjang lebar.
Mendengar penjelasan Willy, seketika Zidan merasa seolah baru saja disadarkan. Apa yang dikatakan oleh pria itu adalah sesuatu yang mutlak.
Karna tidak mungkin mereka mengorbankan kehidupan dan juga keluarga mereka, demi beberapa orang yang belum pasti keberadaan dan juga kondisinya, apakah masih hidup atau sudah menjadi mayat.
__ADS_1
Tugas mereka memang untuk mencari korban, tapi selama jangka waktu yang telah ditentukan saja, dan bukan selamanya.
Melihat Zidan yang terdiam dengan wajah sedih, membuat hati Willy sedikit merasa tergerak. Pria itu menghela nafas perlahan dan mulai kembali berbicara.
"Saya tahu perasaan pak Zidan seperti apa sekarang. Karna alasan saya menjadi seperti sekang, juga karna saya pernah mengalami bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga di hidup saya"
"Bapak pernah kehilangan anggota keluarga juga? Siapa pak?" tanya Raka bersimpati.
"Ibu saya, dan kejadiannya juga sama seperti sekarang, yaitu dalam kecelakaan pesawat. Oleh karna itu, saya ingin memberikan suatu bantuan kepada kalian"
"Apa itu? Apa bapak akan memerintahkan anggota tim bapak untuk kembali melakukan pencarian?" tanya Adam penuh harap.
"Dari awal, saya memang berniat untuk melanjutkan pencarian ini, tapi dengan orang yang berbeda. Dan untuk mewujudkan hal itu, saya membutuhkan bantuan dari pak Zidan sekalian"
"Bantuan apa?
"Bantuannya adalah, pak Zidan dan kedua sahabat pak Zidan, harus mengajukan surat penambahan waktu pencarian"
"Jika mengajukan surat itu, berapa banyak hari yang akan kami dapatkan?"
"Seminggu, dan dengan anggota tim yang baru. Saya rasa jika menggunakan kekuatan pak Zidan, hal itu bukanlah hal yang sulit"
"Baiklah. Saya akan menyuruh orang saya untuk mengajukan surat tersebut, tapi saya ingin pak Willy tetap menjadi pemimpinnya"
"Dengan senang hati pak Zidan" jawab Willy sambil tersenyum senang.
"Terima kasih banyak pak Willy, untuk solusi dan juga bantuannya"
"Sama-sama pak Zidan"
Keempat pria itu pun mulai saling berjabatan tangan, sebagai tanda bahwa mereka kini telah berada di dalam satu kapal yang sama.
*****
Willy pun dengan penuh wibawa, mulai menjelaskan satu persatu tentang kondisi wilayah sekitar dan juga memperkenalkan peta kepada para anggota timnya yang baru.
Tepat jam 9, Willy bersama dengan timnya daan juga Zidan bersama timnya, mulai memulai pencarian mereka.
Zidan memilih menyusuri lokasi sekitar seorang diri, karna ada beberapa sudut di peta yang ia rasa belum pernah ditelusuri oleh orang lain.
"Apa kamu yakin akan pergi ke lokasi itu seorang diri, Zidan?"
"Berapa kali lagi aku harus bilang padamu, Raka? Aku sangat yakin untuk pergi kesana, karna entah mengapa firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu disana"
"Tapi bukannya bagian itu, sudah berada diluar dari lokasi yang ditentukan bagi kita untuk melakukan pencarian? Bukannya itu berbahaya?" tanya Adam cemas.
"Memang sudah bukan bagian kita, tapi aku berniat untuk menjelajahinya. Siapa tahu instingku benar, dan aku menemukan suatu petunjuk tentang om Kemal disana.
"Tapi itu terlalu beresiko untuk kamu yang berniat pergi seorang diri. Bagaimama kalau kamu sampai tersesat? Itu pasti akan membuat Asyifa dan bunda Lilian menjadi sangat khawatir"
"Itu tidak akan mungkin terjadi Adam. Aku kan bukan anak kecil, yang tidak tahu membaca arah jalan pulang pada peta. Selama aku memiliki peta ini, aku pasti tidak akan pernah tersesat, jadi kalian berdua tidak perlu cemas"
"Terserah kamu saja lah" jawab Adam dan Raka pasrah.
"Kalau begitu kita berpisah disini, aku akan berjalan duluan. Sampai bertemu lagi di tenda peristirahatan kita" pamit Zidan sambil melambaikan kedua tangannya.
Raka dan Adam yang melihat sosok Zidan berjalan semakin jauh, pun segera bergegas melangkah ke arah sebalinya dan memulai pencarian mereka.
Pada awalnya semua berjalan dengan baik, dan Zidan bisa sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Namun setelah mencari selama berjam-jam disana, tak ada satu pun petunjuk yang di dapatkan oleh pria itu.
Dengan perasaan lelah dan kesal, Zidan pun memilih untuk beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon besar sambil menikmati bekal makan siangnya.
"Hah, aku merindukan wajah Asyifa. Ternyata melelahkan juga melakukan pencarian hingga ke tempat ini. Ataukah ini karna aku yang sudah lama tidak berolahraga, makanya cepat merasa lelah?" gerutu Zidan, memasukkan kembali tempat bekalnya ke dalam tas.
__ADS_1
Suasana yang hangat, dan angin sepoi-sepoi yanh berhembus pelan menerpa wajahnya, membuat Zidan secara perlahan merasakan rasa kantuk yang teramat sangat.
"Aku akan tidur disini sebentar saja, kemudian baru melanjutkan pencarianku lagi"
Dengan beralaskan tasnya sebagai bantal, Zidan pun membaringkan tubuhnya diatas tanah dan menutu kedua matanya, terbang ke alam mimpi.
Tak terasa hari mulai sore, dan cahaya matahari pun perlahan mulai menghilang dari atas bumi, berganti dengan gelapnya malam yang datang menyambut.
Zidan yang merasa adanya suatu perubaham suasana disekitarnya, mulai terbangun dari tidurnya. Ia pun menjadi sangat terkejut saat mendapati sekitarnya telah berubah gelap gulita.
"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran selama ini? Aku harus segera berjalan pulang sekarang juga, untungnya ada senter yang ku bawa dalam tas. Tapi dimana petaku?" tanya Zidan heran, saat menyadari peta yang ia letakkam disampingnya telah hilang.
Ternyata selama dirinya tertidur, angin yang datang berembus tanpa sengaja membuat kertas itu terbang jauh diudara dan hilang begitu saja.
Kini satu-satunya harapan dan penuntun arah jalan pulang Zidan telah hilang, membuatnya benar-benar tersesat seorang diri dihutan belantara itu.
Meskipun kesal dan rasanya ingin marah dengan keadaan yang menimpa dirinya, Zidan lebih memilih untuk membuat tempatnya berlidung dari apa yang telah alam sediakan baginya.
Disisi lain, semua orang menjadi panik seketika saat mengetahui Zidan belum juga kembali dari pencarian, tak terkecuali Raka dan juga Adam.
"Dimana Zidan sekarang, kenapa dia belum juga kembali? Apa jangan-jangan dia benaran tersesat?" tanya Raka panik.
"Tapi mana mungkin, meskipun hari sudah malam, selama Zidan memiliki peta dan juga senter ditangannya sebagai penerang, dia tidak mungkin tersesat"
"Kalau begitu, bagaimana jika peta atau senternya hilang entah kemana? Sudah pasti membuatnya tersesat bukan?"
"Arrgghh! Bisa tidak kamu jangan membuatku juga ikut-ikutan berpikiran negatif? Cobalah untuk berpikiran positif, mungkin saja dia memang sengaja ingin terus melakukan pencarian sedikit lebih lama lagi dan bukan tersesat!"
"Tapi Adam, bagaiaman____"
"Cukup! Aku tidak ingin lagi mendengar setiap kemungkinan buruk yang keluar dari otakmu. Begini saja, kita akan menyusul Zidan kalau dalan satu jam lagi dia tidak juga muncul. Setuju?"
"Tidak bisa. Saga tidak akan membiarkan kalian berdua atau siapa pun untuk masuk kembali ke dalam sana, saat malam hari. Kita hanya boleh menyusul pak Zidan, saat hari telah pagi" ucap Willy tiba-tiba.
"Tapi Zidan tersesat seorang diri di dalam hutan itu pak. Bagaimana kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?" tanya Raka mulai terlihat kesal.
"Tetap tidak bisa"
"Kenapa kami harus mendengarkan ucapan pak Willy untuk masuk kesana? Sebaiknya pak Willy urus saja anggota bapak" timpal Adam, ikut-ikutan kesal.
"Pak Zidan dan saya sudah sepakat untuk bekerjasama, itu berarti anggota saya adalah anggota pak Zidan dan begitu pun sebaliknya. Ketua ditempat ini adalah saya dan pak Zidan, karna pak Zidan tidak ada, berarti sudah menjadi tugas saya untuk mengawasi semua yang ada disini, termaksud kalian berdua"
Mendengar jawab Willy, Adan dan Raka pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Keduanya memilih untuk duduk diam di tanah sambil memandangi ke arah hutan, dengan wajah memelas.
Entah mengapa, Willy seperti mengetahui apa maksud dari tingkah kedua pria tersebut. Benar, mereka sedang berakting supaya bisa diijinkan pergi menyusul Zidan.
"Baiklah, saya akan memgabulkan keinginan kalian untuk menyusul pak Zidan"
"Yang benar pak?" tanya keduanya dengan wajah berbinar.
"Tapi hanya saya yang akan pergi, sedangkan kalian berdua tetap berada disini untuk menggantikan saya mengawasi anggota yang lain"
"Baik pak" jawab keduanya dengan wajah yang berubah menjadj lemas kembali.
"Tidak usah memasang wajah seperti itu, karena sudah tidak akan mempan lagi pada saya. Kalau begitu saya pergi dulu"
"Hati-hati pak!"
"Cepat kembali, dan jangan lupa kembalinya bersama dengan Zidan juga!"
Raka dan Adam terus memperhatikan sosok Willy yang berjalan menjauh masuk ke dalam hutan, yang terlihat menyeramkan karna tak ada satu pun cahaya meneranginya.
Bersambung...
__ADS_1