
Setelah hampir sebulan lebih William dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma, pria itu akhirnya bisa kembali sadar, dan mendapat perawatan untuk segera pulih.
Disisi lain, Asyifa yang mendapat bantuan dari Zidan untuk mengajukan kembali berkas perceraiannya, akhirnya bisa diterima oleh pengadilan.
Diterimanya berkas Asyifa, juga karna berkat adanya campur tangan Rizal dan juga Haykal, yang dengan tegas melarang Ratih atau pun Kana untuk mengagalkan perceraian itu.
Kini Asyifa dan Zidan terlihat sedang berjalan keluar dari gedung pengadilan, dengan wajah penuh senyuman. Keduanya dipanggil untuk melihat jadwal persidangan yang baru saja keluar, hari ini.
"Akhirnya, waktu persidangan yang telah aku tunggu selama ini, bisa keluar juga. Terima kasih banyak, atas bantuan pak Zidan"
"Sama-sama, Asyifa. Tapi, apa kamu benar baik-baik saja?" tanya Zidan cemas.
"Memangnya kenapa aku harus merasa tidak baik-baik saja, pak? Bukannya selama ini aku sendiri yang sudah memutuskan berjuang untuk bisa mendapatkan persidangan ini, jadi pak Zidan tidak perlu cemas"
"Jangan bohong Asyifa. Aku tahu melakukan semua ini, bukanlah hal yang mudah untuk kamu. Karna bagaimana pun juga, William pernah menjadi orang terpenting dalam hidup kamu"
"Pak Zidan benar. Perasaan sedih dan kecewa memang masih aku rasakan, bahkan sampai saat ini, sering kali aku berharap kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi"
"Lalu, apa kamu juga merasa menyesal karna telah mengambil jalan perceraian, dan bukannya rujuk kembali dengan William?"
"Tidak. Mungkin awalnya aku terlihat ragu, tapi melihat banyaknya orang yang ingin aku bisa merasakan bahagia dengan terlepas dari William, perlahan aku juga merasa kalau ini adalah jalan yang terbaik" jawab Asyifa mantap.
"Baiklah. Karna aku percaya kalau kamu adalah wanita yang tangguh, maka ayo kita berjuang bersama hingga putusan akhir"
"Semangat!" seru Asyifa bersemangat.
Zidan yang gemas melihat tingkah Asyifa disampingnya, tak dapat menahan diri untuk tidak mengacak rambut wanita itu dengan sayang, membuat Asyifa menggerutu kesal.
Keduanya pun berjalan ke arah cafe yang dekat dengan pengadilan, untuk mencari makan siang. Cafe yang sama, dimana Asyifa dan Zidan terakhir kali bertemu dengan Aliya.
Memasuki cafe itu, membuat Zidan teringat pada Aliya. Perasaan bersalah karna sudah memperlakukan wanita itu dengan tak ramah, pun menghampirinya.
"Aku jadi merasa bersalah pada Aliya, karna pernah berkata dan bertindak kasar padanya. Harusnya aku percaya pada ucapan Raka, kalau Aliya itu adalah wanita baik-baik"
"Raka? Maksud pak Zidan, Raka yang adalah sahabat baik pak Zidan? Dia kenal dengan Aliya, bagaimana bisa?"
"Itu karna Raka adalah salah satu sahabat baik Aliya, selain Kinara"
"Kinara?" tanya Asyifa lagi.
"Iya, Kinara yang adalah mantan pacarku, yang kini menjadi ibu tiriku. Mereka bertiga adalah sahabat sejak dulu, namun sekarang hubungan mereka menjauh karna keadaan"
"Ah, begitu. Aku tidak menyangka sama sekali kalau ternyata mereka pernah menjadi sahabat baik"
"Mengejutkan bukan? Ternyata istilah bahwa dunia itu hanya selebar daun kelor, benar adanya" ucap Zidan, sambil tertawa pelan.
"Aku juga merasa begitu, pak"
Setelah memesan makanan dan minuman yang ingin dinikmati, keduanya pun kembali terlibat obrolan seru lainnya, seolah bahan pembicaraan yang mereka miliki tak akan pernah habis.
Tapi tanpa sepengetahuan Asyifa, jauh di dalam lubuk hati Zidan, meskipun pria itu merasa sedih atas apa yang menimpa Asyifa, namun ia juga merasa senang, karna dengan berakhirnya hubungan pernikahan Asyifa dan William, itu berarti ia kembali memiliki peluang untuk bisa mengejar cinta Asyifa.
"Asyifa" panggil Zidan, setelah mereka selesai menghabiskan makanan yang tersedia.
"Iya pak Zidan, ada apa?"
"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku kan sudah memintamu untuk memanggilku dengan panggilan Zidan saja, jika kita diluar. Kenapa kami tidak melakukannya?"
"Ah, itu. Itu karna aku hanya belun terbiasa saja, seperti Angel dan Mira pak. Nanti juga aku akan terbiasa, memanggil pak Zidan hanya dengan nama saja"
"Kalau begitu, kamu harus sering- sering melakukannya agar cepat terbiasa. Sekarang, mulai dari cafe ini hingga kita tiba di tempat kerja, kamu harus selalu memanggilku dengan panggilan Zidan saja"
"Baiklah,____ Zidan"
"Kenapa spasi dari baiklah ke Zidan jauh sekali, kayak terpaksa saja"
__ADS_1
"Memang terpaksa" gumam Asyifa pelan.
"Aku masih bisa mendengarmu, Asyifa. Dasar wanita ini, setidaknya kalau mau menggerutu lakukan saja dalam hati"
"Iyakan saja deh pak, biar cepat selesai! Kamu tunggu disini yah, aku mau ke kasir dulu, buat bayar makanan kita" pinta Asyifa sambil bangkit dari duduknya.
Namun dengan cepat, Zidan menarik tangan Asyifa dan menggenggamnya erat, membuat Asyifa menatapnya dengan tatapan heran. Setelah itu, Zidan dengan lembut menuntuk Asyifa untuk kembali ke tempat duduknya.
Wajah keduanya menjadi begitu dengan, seolah hampir bersentuhan satu sama lain. Entah apa yang ingin dilakukan oleh Zidan pada Asyifa, tapi yang pasti Asyifa tanpa sadar hanya bisa menahan nafas dengan susah payah.
Tiba-tiba, Ctak...
Tanpa terduga, Zidan malah menyentilkan jarinya ke atas dahi Asyifa, yang membuat Asyifa langsung mengaduh kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Asyifa kesal, yang tak terima diperlakukan seperti itu.
"Kamu yang apa-apaan, apa kamu sengaja ingin membuat harga diriku jatuh di depan semua orang?"
"Me_menjatuhkan harga dirimu? Sejak kapan aku melakukan hal seperti itu? Aku kan tadi hanya ingin pergi untuk membayar makanan kita, sebagai tanda terima kasih karna pak Zidan sudah banyak membantuku! Kenapa dahiku, malah disentil?" protes Asyifa.
"Asyifa, lihat aku! Aku ini adalah pria tampan yang memiliki karisma dan rasa tanggung jawab yang tinggi, bagaimana bisa aku akan membiarkan makanan yang ku makan, dibayarkan oleh seorang wanita, dan lagi oleh karyawanku sendiri?"
Asyifa yang baru pertama kali melihat sikap narsis Zidan, seketika langsung meletakkan punggung tangannya ke atas dahi bosnya itu, untik mengecek apakah Zidan sedang sakit atau tidak.
"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" tanya Zidan bingung.
"Aku ingin memastikan, apakah bapak sedang sakit atau tidak, karna sekarang tingkah bapak sangat aneh!"
"Asyifa, aku baik-baik saja! Memang sudah menjadi kewajiban seorang pria untuk selalu membayar segala sesuatu, jika berkencan dengan wanita. Jadi biarkan saja aku yang membayarnya, oke?"
"Kencan? Memangnya, kita sedang kencam yah sekarang?" tanya Asyifa kikuk.
"Astaga, dasar mulut bodoh! Itu cuma contoh saja Asyifa, aku bukan bilang kita sedang berkencan sekarang"
"Ah, begitu"
"Apaan sih, pak Zidan. Alay banget" ucap Asyifa, tertawa geli.
Melihat Asyifa yang menanggapi ucapannya dengan tertawa, seketika membuat Zidan ingin dengan serius mengajak wanita itu berkencan benaran.
"Bagaimana kalau, aku benar-benar meminta dirimu untuk berkencan denganku?" tanya Zidan dengan ekspresi serius.
"Ah. Te_tentu saj aku mau! Kita memang bos dan karyawan, tapi kita kan adalah tetangga sekaligus teman juga, jadi tidak masalah kan kalau pergi kencan antar teman. Kebetulan, ada film di bioskop yang sangat ingin aku tonton, apa pak Zidan mau pergi bersama denganku?"
"Tentu saja aku mau, kamu hanya perlu mengirimkanku jadwal filmnya dan aku akan meluangkan waktu untuk pergi"
"Baiklah, itu gampang"
"Aku serahkan padamu. Kalau begitu, aku pergi bayar dulu"
Setelah sosok Zidan sudah sampai di depan meja kasir, barulah Asyifa bisa bernafas dengan lega. Entah mengapa, sedari tadi ia merasa gugup dan sedikit tegang saat mendengar ucapan Zidan.
Entah mengapa, kini Asyifa menjadi percaya dengan ucapan Mira dan juga Angel, yang pernah mengatakan kalau Zidan menyukai dirinya. Tapi bukannya Asyifa ingin bersikap sok jual mahal dengan berpura-pura tidak sadar akan perasaan Zidan, namun karna Asyifa merasa belum siap untuk membuka kembali hatinya untuk orang lain.
*****
William membuat surat yang diantarkan oleh Haykal dan sang ayah dengan perasaan kesal serta marah yang teramat sangat. Pria itu marah, karna merasa dirinya baru saja sedang dicampakkan oleh dua orang wanita sekaligus.
Surat itu adalah surat dari pengadilan yang mengatakan dirinya harus mau hadir di pengadilan tiga hari lagi, untuk mengikuti persidangan terkait tentang perceraian dirinya dengan Asyifa.
"Dasar wanita-wanita sialan, bisanya mereka mempermainkanku seenaknya seperti ini!" marah William.
"Jaga ucapanmu, William! Aliya dan Asyifa adalah wanita yang baik, bahkan terlalu baik untuk terlibat denganmu dan keluarga ini"
"Apa maksud daddy, apa sekarang daddy sedang membela kedua wanita itu? Lihatlah daddy, William menjadi seperti sekarang, itu semua karna mereka!"
__ADS_1
"Kamu menjadi seperti ini, semua itu karna kesalahanmu sendiri William. Jadi tidak perlu kamu menjadikan orang lain sebagai kambing hitamnya"
"Tidak usah ikut campur kak, aku tidak butuh nasehat dari kakak saat ini! Daddy, tolong bantu William"
"Bantu apa, Will?"
"Tolong bantu William, untuk setidaknya masih bisa bersama dengan Aliya atau pun Asyifa. William tidak ingin kehilangan kedua dari mereka sekaligus, daddy"
"Apa-apaan kamu, William! Sejak kapan kamu menjadi pri tak tahu diri seperti ini?!" ucap Rizal, terlihat sangat marah.
Ratih yang melihat kemarahan sang suami, hanya bisa memeluk lengan Rizal dengan lembut, supaya amarah pria itu reda. Namun dengan kasar, Rizal malah mendorongnya tanpa belas kasihan.
"Ini semua karna kamu, Ratih. Sekarang lihat seperti apa jadinya putramu, apa kamu sudah merasa senang?"
"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Dan ucapan William barusan juga tidak ada yang salah, bukannya benar jika dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya? Kamu seharusnya, membatu William untuk tidak jadi bercerai dengan Asyifa!"
"Aku pikir dengan menyuruhmu mengikuti pengobatan mental akan membuat pribadi dirimu menjadi lebih baik, ternyata malah sebaliknya"
"Apa katamu barusan?" marah Ratih yang tidak terima dikatai seperti itu oleh Rizal.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan apa yang aku ucapkan barusan? Kamu memang sudah gila, dan kegilaanmu itu sekarang menular pada putramu sendiri!"
Plak...
Tamparan dari Ratih, seketika mengenai wajah Rizal membuat pria itu tertawa pelan. Entah apa yang dipikirkan oleh Rizal hingga berkata dan bertingkah seperti itu.
"Kenapa kamu tertawa, apa aku seperti bahan lelucon untukmu? Kalau memang aku sudah gila di matamu, kenapa tidak ceraikan saja aku sekalian? Kenapa kamu masih setia ada disampingku setiap waktu?!"
"Itu semua aku lakukan karna aku tulus mencintaimu, dan ingin menemani dirimu hingga sembuh. Tapi sekarang aku juga sudah lelah, maka akan aku turuti apa yang menjadi keinginanmu. Setelah Asyifa resmi bercerai dengan William, maka aku juga akan mengajukann perceraian denganmu!"
Seketika wajah Ratih menjadi pucat pasi, ia tak menyangka kalau Rizal akan dengan tegas menuruti ucapannya. Namun untuk memohon pada pria itu, Ratih merasa egonya tak akan bisa.
Meskipun Kana dan William, mencoba untuk memberikan kode pada Ratih agar mau meminta maaf pada Rizal, namun wanita itu tetap kukuh pada pendiriannya. Rizal yang melihat hal itu, pun berlalu pergi begitu saja.
Setelah beberapa saat kepergian Rizal, baru lah Ratih menyesali betapa bodoh keputusan yang telah ia buat. Wanita itu pun hanya bisa terduduk di kursi, dan mulai menangis.
"Mommy, jangan menangis. Kenapa mommy tidak meminta maaf tadi kepada daddy?"
"Mommy tidak salah, Kana! William pun tidak salah, daddy kalian lah yang egois karna tidak bisa mengerti penderitaan putranya sendiri! Mommy hanya ingin membantu, William"
"Astaga, ayolah mommy. Masa mommy tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Semua keinginan William barusan itu adalah salah mommy, masa mommy mau membantunya?"
"Kakak bisa berbicara seperti itu, karna kakak tidak merasakan bagaimana rasanya selalu kehilangan wanita yang kakak cintai!"
"Aku memang tidak merasakannya. Tapi apa kamu pikir karna aku menikah dengan Kana tanpa banyak drama maka hidup yang selama ini aku jalani selalu bahagia? Aku juga pernah merasakan jatuh bangunmya sebuah hubungan William, bahkan semua orang juga pernah. Tapi aku dan mereka tidak segila kamu dalam menghadapinya!"
"Tidak usah menceramahiku kak. Jika kakak memang masih peduli padaku, maka bantu aku untuk tidak bercerai dengan Asyifa!"
"Tidak, aku tidak akan pernah membantumu. Bukan karena aku tidak peduli padamu, tapi ini aku lakukan karna aku sangat peduli padamu!" ucap Haykal kemudian ikut pergi meninggalkan ruangan William.
Meskipun Ratih dan William memanggil namanya berulang kali, namun Haykal tetap saja pergi tanpa kembali lagi dari sana. Hal itu membuat William menjadi tak terkendali, dan mulai melempar semua barang yang bisa dijangkaunya ke arah dinding.
Ratih dan Kana dengan panik, hanya bisa menekan tombol untik segera memanggil perawat agar segera datang. Tak berapa lama, beberapa tenaga medis pun datang dan memberi suntikan obat penenang kepada William.
Melihat kondisi putra bungsunya yang menyedihkan, membuat Ratih hanya bisa meneteskan air mata. Dengan lembuat ia meraih tangan William dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tidak perlu sedih, sayang. Mommy janji, akan membantu kamu untuk bisa kembali bersama dengan Asyifa, bagaimana pun caranya"
Kana yang mendengar ucapan sang mertua, hanya bisa bergidik ngeri. Ia memang juga berhati jahat, tapi setelah Haykal mengancam akan menceraikan dirinya, perlahan-lahan dengan susa payah, Kana mulai merubah sifatnya itu.
Kini Kana menjadi lebih sadar, dan tak ingin melakukam kejahatan yang sama lagi. Tapi ia bukan berarti sifat jahatnya itu sudah hilang, karna Kana sadar betul, suatu saat nanti ia akan membutuhkannya kembali.
Apalagi, ia hidup berada dekat dengan sosok Ratih dan juga Zenith, yang juga sama-sama jahat dan berbahaya baginya.
"Dasar wanita gila"
__ADS_1
Bersambung...