
Setelah kemarin mendapat pengakuan cinta dari Zidan, semalaman Asyifa tak kunjung bisa tertidur lelap. Dirinya masih merasa bingung dan juga penasaran, tentang ucapan Zidan yang mengatakan telah mencintai dan menunggu dirinya selama bertahun-tahun.
Bahkan di hari liburnya ini, Asyifa lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiam diri di depan tv, sambil kembali mengingat tentanh masa lalunya. Karna mungkin dengan begitu, ia bisa mengingat momen dimana ia berkenalan dengan Zidan.
Sedang Angel dan Mira yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu, hanya bisa menghela nafas cemas. Keduanya mengira Asyifa menjadi seperti itu, dikarenakan belum bisa sepenuhmya iklas dengan kepergian sang calon bayi.
"Argggggg!" teriak Asyifa tiba-tiba, membuat Mira dan Angel yang sedang menikmati sarapan terlonjak kaget.
"Ada apa, Fa? Apa ada yang sakit?" tanya Mira cemas, dan segera menghampiri wanita itu.
"Otak dan pikiranku yang sakit, Ra"
"Hah? Kok bisa, Fa? Apa perlu diperiksa ke dokter, biar aku dan Angel bantu antar"
"Tidak perlu. Obatnya cuman ada sama pak Zidan, jadi kalau kita ke rumah sakit juga nanti percuma saja"
"Pak Zidan? Kok bisa obatmu ada sama pak Zidan? Ya sudah, biar aku bantu ambilkan ke sebelah, kamu tunggu disini"
"Percuma Mira, Zidan pasti tidak akan mau kasihkan obatnya. Bahkan aku sendiri yang minta pun tidak dikasih, dasar pelit!"
"Tumben kamu manggil Zidan dengan sebutan nama saja, biasanya ada sebutan bapaknya di depan. Kalian suda jadi lebih akrab yah?" tanya Angel, merasa heran.
"Aneh kan kalau kami tidak akrab, padahal dia selalu membantuku dalak menyiapkan persidangan? Jadi, bisa dibilang kami jadi lumanyan sedikit lebih akrab"
"Wow, Zidan geraknya cepat juga yah. Kamu bahkan belum resmi menyandang status janda, tapi dia sudah mendekat saja" goda Mira, dengan nada bercanda.
"Tidak lucu, Mira. Aku bahkan hampir saja menyemburkan makanan yang ku makan ke atas wajah Zidan, saat dia menyatakan cinta padaku!"
"APA?!" teriak Mira dan Angel bersamaan.
"Astaga, kenapa kalian berdua teriak seperti itu? Memangnya apa yang kalian kagetkan, bukannya tadi kalian sendiri yang bilang Zidan bergerak dengan cepat, kenapa kalian kaget saat mendengar ceritaku?"
"Tentu saja aku dan Mira kaget, karna tadi Mira hanya bercanda, mana kami tahu kalau semua itu benar terjadi!"
"Lalu, apa jawabanmu atas pernyataan cinta dari Zidan?" tanya Mira penasaran.
"Tentu saja aku tolak"
"Kenapa?" tanya keduanya bersamaan lagi.
"Kenapa? Tentu saja karna aku masih berstatus istri pria lain. Sekali pun aku sudah bukan istri William lagi, aku juga tidak akan mungkin segampang itu menerima Zidan masuk dalam hidupku sebagai kekasih baru. Aku baru saja melalui banyak hal, dan mencari seorang pria bukanlah solusi dari semuanya" jelas Asyifa panjang lebar.
Angel dan Mira pun seketika menjadi terdiam, karna bagaimana pun juga yang baru saja dikatakan Asyifa adalah alasan yang paling logis untuk keadaannya saat ini.
Asyifa bari kehilang anak, dan segera akan kehilangan suami juga, tidak mungkin secepat itu ia mampu menerima pengganti baru dalam hidupnya.
"Maafkan kami, Asyifa. Kami bertanya tanpa berpikir dulu tentang posisimu"
"Tidak masalah, aku bisa mengerti Angel. Aku tahu kalau sejak dulu, meskipun tidak secara terbuka, kalian mencoba membantu Zidan untuk mendekatiku, karna pria yang menurut kalian yang terbaik untukku adalah Zidan. Jadi wajar saja sekarang saat aku akan lepas dari William, kalian kembali mendorongku untuk segera bersama dengan Zidan"
"Yah, begitulah memang maksud kami. Ternyata, kamu juga menyadarinya sejak"
"Lebih tepatnya, aku baru teringat kembali dan menyadarinya baru-baru ini Mira"
"Karna aku dan Mira sudah mendengar keputusan darimu, maka kami berdua akan mendukung keputusanmu itu. Iyakan, Mira?"
"Iya. Jika saat tiba waktunya kamu telah sepenuhnya lepas dari ikatan dengan William, gunakanlah waktumu sebanyak yang kamu inginkan, untuk dirimu sendiri. Aku dan Angel akan selalu ada disampingmu"
"Terima kasih. Tapi aku rasa, kalian berdua boleh tetap menyimpan harapan supaya aku dan Zidan bisa bersama"
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku juga tidak tahu, apakah ini bisa menjadi kenyataan. Tapi saat aku menolaknya, Zidan mengatakan bahwa ia akan tetap menunggu sampai aku siap membuka hati lagi, entah sampai kapan pun"
"Awwww,, so sweetnya Zidan!" seru Mira sambil menggigit jarinya.
"Apaan sih Mira, geli deh liatnya"
"Biarin! Pokoknya mulai malam ini, aku akan terus berdoa supaya Zidan mau untuk tetap menunggumu tanpa batas waktu, dan supaya kamu cepat membuka hati untuk bersaru dengan Zidan!"
"Terserah kamu saja" ucap Asyifa pasrah, melihat kelakuan Mira.
Ditengah kericuhan Mira, tiba-tiba Angel memikirkan sesuatu hal yang sensitif bagi Asyifa. Entah mengapa, ia sudah saatnya Asyifa untuk keluar dari zona nyamannya.
"Asyifa, apa kamu tidak ingin mengunjungi dirinya? Sedari kamu keluar dari rumah sakit, kamu belum pernah sekali pun kesana"
"Angel!" seru Mira mengisyaratkan agar sahabatnya itu diam.
"Aku bukannya mau memaksa kamu pergi, tapi aku rasa kamu tidak bisa untuk terus menghindari hal ini. Bagaimana pun juga, ia berhak mendapat kata-kata terakhir darimu, meskipun terlambat"
"Aku mengerti"
Setelah memberikan jawaban singkat, Asyifa segera berjalan masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi. Tingkahnya itu membuat Mira menatap Angel dengan tatapan marah.
Entah apa yang dilakukan Asyifa, di dalam kamarnya. Setelah beberapa lama, wanita itu kembali berjalan keluar dengan tampilan yang beda. Kini dirinya sudah tidak mengenakan setelan rumah, tapi sudah berganti dengan pakaian serba hitam.
Angel dan Mira yang melihat penampilan Asyifa, hanya bisa memandanginya dengan tatapan tak percaya.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu, bukannya Angel yang mengajakku barusan?"
"Ah, i_iya" jawan Angel terbata.
"Tentu saja aku dan Angel ikut! Bagaimana mungkin kami bisa membiarkanmu pergi sendirian" protes Mira cepat.
"Kalau begitu, kalian tunggu apa lagi? Cepat ganti pakaian kalian, tidak mungkin kalian pergi menemuinya dengan tampilan seperti itu kan?"
"Baiklah!"
Kedua gadis itu pun segera masuk ke dalam kamarnya masing-masing dan mulai sibuk disana. Asyifa yang menunggu, memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, untuk membuat perasaannya sedikit lebih tenang.
Pikirannya penuh dengan ucapan apa yang harus ia katakan pada malaikatnya, saat ia tiba disana. Apa dia harus menceritakan semuanya secara terbuka, tentang mengapa nasib malang sampai bisa menimpa keduanya?.
Asyifa bingung. Tiba-tiba saja ponsel wanita itu berdering, membuantnya terkejut. Saat diperiksa, ternyata Zidan lah orang yang menelpon dirinya.
"Halo, ada apa Zidan?"
"Wah, senang bisa mendengarmu langsung memanggil namaku saja tanpa ada sebutan pak di depannya"
"Aku tidak sedang ingin bercanda. Cepat katakan ada perlu apa kamu menelpon, kalau tidak akan aku matikan"
"Astaga, kenapa kamu bisa berubah menjadi sejahat itu? Bahkan lebih jahat dariku!"
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku matikan saja. Selamat siang, dan semoga harimu menyenangkan!"
"Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakan apa keperluanku, jadi jangan matikan dulu"
"Jadi, apa?"
"Mira baru saja mengirimkanku pesan, kalau dia dan Angel akan pergi menemanimu untuk menemui malaikat dirumahnya. Apa aku juga boleh ikut?"
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak sibuk? Biasanya sekali pun hari libur, kamu akan tetap duduk di depan tumpukan pekerjaan"
"Bertemu malaikat kita lebih penting daripada mengurusi pekerjaan, jadi tolong ijinkan aku untuk ikut juga"
Mendengar Zidan memanggil bayinya dengan sebutan malaikat kita, membuat hati Asyifa menjadi hangat. Wanita itu pun menjadi luluh seketika.
"Baiklah, kamu boleh ikut"
"Terima kasih, Fa. Kalau begitu, perginya pakai mobilku saja yah?"
"Terserah kamu saja"
*****
Asyifa semakin memperlambat langkahnya, saat dirinya telah lumanyan dekat dengan kuburan yang menjadi tempat dimana jasad bayinya kini berada.
Air mata telah mengalir tanpa henti, sejak dirinya turun dari mobil. Rasa sesak yang membuatnya kesulitan bernafas saat mendengar kabar kepergian sang buah hati, kembali menghampiri.
Melihat tubuh Asyifa yang langkahnya semakin bergetar, membuat Angel dan Mira berpandangan cemas. Tiba-tiba tubuh Asyifa ambruk ke atas tanah, dan berlutut disana.
"Ra, apa aku salah mengajak dan memaksa Asyifa datang kesini?" tanya Angel mulai mempersalahkan dirinya.
"Kamu sudah melakukan yang menurut kamu benar kok, Ngel. Biar mau sampai kapan pun Asyifa menundanya, suatu hari nanti dia pasti harus datang ke tempat baby boy"
Tulisan Arcelio, membuat tangisan Asyifa semakin menjadi. Entah siapa yang menamai buah hatinya, Asyifa tak tahu. Tapi ia sangat berterima kasih, karna kini ia bisa memanggil bayinya dengan namanya.
"Arcelio" panggil Asyifa pelan.
"Nama yang bagus bukan?"
"Iya, nama yang bagus sekali"
"Benarkan! Aku sudah yakin sedari awal kalau kamu akan menyukainya juga, saat aku memutuskan untuk memberikan nama itu untuk malaikat kecil kita"
"Kamu, yang menamainya?" tanya Asyifa, menatap wajah Zidan tak percaya.
"Iya, aku yang menamainya. Apa kamu marah, atau keberatan atas kelancanganku? Jika benar, aku minta maaf"
"Tidak. Aku justru sangat ingin bersujud di kakimu, dan mengucapkan terima kasih berulang kali"
"Kamu tidak perlu melakukannya, Fa. Harusnya aku yang berterima kasih, karna kamu telah diberikan kesempatan untuk memberikan nama pada malaikat penghuni surga"
Mendengat ucapan Zidan, Asyifa segera memeluk tubuh pria itu sambil menangis semakin kencang. Ia bisa melihat ketulusan dari mata Zidan, bahwa dirinya benar merasa bayi Asyifa adalah malaikat.
Bayi yang tidak begitu dicintai oleh ayahnya sendiri, bahkan dibenci dan dituduh adalah hasil dari perselingkuhan ibunya, kini begitu dimuliakan oleh pria lain yang bahkan bukan ayahnya.
"Terima kasih Zidan, terima kasih. Terima kasih karna sudah menamai bayiku, kini aku bisa memanggilnya dengan namanya sendiri. Aku sunggu berterima kasih padamu"
"Sama-sama Asyifa. Tapi, masih ada yang harus kamu ketahui tentang nama malaikat kecilmu ini"
"Apa itu?"
"Arti namanya"
"Memangnya, apa arti namanya?"
"Penghuni surga" jawab Zidan sambil tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1