
Angel melirik jam yang tergantung di dinding ruang tamu dengan tatapan cemas dan gelisah.
Mira datang bergabung sambil membawa segelas air es dan meletakkannya di meja, raut wajahnya juga tak jauh beda dengan Angel. Dengan gemas, ia kembali menekan tombol panggil pada nomor yang sedari tadi coba dihubunginya namun tak kunjung ada jawaban.
"Bagaimana?" tanya Angel yang menatap Mira dengan penuh harap.
"Tidak di angkat. Apa tidak sebaiknya kita hubungi saja William? Mungkin mereka sedang mampir ke suatu tempat"
"Tidak mungkin Mira. Tadi William mengirimiku pesan untuk membantunya menghibur Asyifa jika Asyifa sampai di apertemen, karna ada kejadian yang kurang menyenangkan terjadi di rumahnya"
"Kejadian kurang menyenangkan? Apa itu, apa William menjelaskan lebih detail padamu?"
"Sayangnya tidak. Aku juga tidak enak untuk bertanya padanya, ku pikir akan mendengarnya juga nanti dari Asyifa"
"Kalau begitu, berarti William sudah mengantar Asyifa pulang? Lalu, dimana dia sekarang?"
"Aku juga tidak punya petunjuk dimana dia sekarang. Aku sangat cemas Mira, apalagi ini sudah hampir tengah malam"
"Sebaiknya kita tetap menghubungi William untuk memberitahunya hal ini. Dengan begitu, kita bisa pergi mencari Asyifa bersama-sama"
"Baiklah. Aku akan menghubungi William sekarang, kemudian kita bersiap keluar untuk mencari di sekitar Apertemen"
Disaat Angel sedang menelpon William, seseorang yang sudah berjam-jam duduk di depan pintu apertemen mereka sambil menangis di temukan oleh Zidan.
"Asyifa? Apa itu kamu?"
Zidan yang baru saja pulang dari rumahnya ke apertemen, kaget saat melihat sosok Asyifa disana.
Meskipun gadis itu menutupi wajahnya, namun Zidan tetap mengenalinya.
Mendengar suara Zidan, Asyifa buru-buru mengangkat kepalanya sambil menghapus sisa air mata di wajahnya.
"Eh, pak Zidan. Selamat malam pak"
"Kamu habis menangis? Ada apa, apa kamu baru saja bertengkar dengan Angel dan juga Mira?"
"Tidak pak, hubungan kami bertiga baik-baik saja kok"
"Lalu, kenapa kamu duduk di depan pintu apertemenmu sendiri sambil menangis? apa kamu sakit, atau ada masalah dengan kedua orang tuamu lagi dan semacamnya?"
"Tidak ada pak, saya hanya sedang tidak ingin pulang saja"
Melihat Asyifa yang memaksakan seulas senyum dengan kedua mata yang bengkak karna menangis, membuat Zidan hanya bisa menatapnya sedih.
Pria itu menghela nafasnya perlahan "Mau ke apertemen saya?"
Pertanyaan Zidan sukses membuat Asyifa membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
__ADS_1
"Jangan salah paham, saya hanya ingin membantu tanpa ada niatan lain. Saya memang tidak tahu apa yang telah terjadi padamu, tapi lebih baik kamu ke apertemen saya untuk menenangkan diri dari pada duduk disini dan akhirnya masuk angin"
Asyifa tampak berpikir sejenak dan memutuskan untuk mengikuti saran Zidan karna ia memang tidak punya tempat tujuan lain.
"Maaf merepotkan pak" ucap Asyifa yang dibalas senyuman hangat oleh Zidan.
Pria itu membuka pintu apertemennya dan mempersilahkan Asyifa masuk ke dalam lalu menutupnya kembali.
Bersamaan dengan menutupnya pintu, saat itu juga sosok Angel dan Mira berjalan keluar.
*****
Zidan membawakan dua piring nasi goreng yang ia masak untuk dimakan bersama Asyifa ke ruang tamu.
Baru saja akan mengatakan sesuatu, ia terpaksa harus menutup kembali mulutnya saat melihat sosok Asyifa yang sedang tertidur lelap diatas sofa.
Dengan hati-hati, ia meletakkan bawaannya diatas meja kemudian mengangkat tubuh Asyifa masuk ke dalam kamar miliknya lalu membaringkan gadis itu di kasur.
"Lihatlah betapa sangat bengkaknya wajahmu sekarang. Apa pria pengecut itu yang membuat dirimu menangis seperti ini?"
Zidan mengelus wajah Asyifa lembut, sambil menatapnya sedih "Jangan bersedih Asyifa. Apa kamu tau betapa sakitnya hati ini saat melihatmu menangis tadi? Aku rela kamu bersama pria lain selama kamu bahagia, bukan malah menangis seperti ini"
Zidan mengepalkan kedua tangannya sambil menahan amarah. Ia berjalan keluar kamar lalu meraih kunci mobilnya dengan maksud ingin pergi menemui William, untuk memberi pria itu pelajaran karna telah membuat Asyifa menangis.
Saat sampai di tempat parkir, Zidan melihat Angel dan juga Mira yang baru saja turun dari mobil William.
"Pak Zidan, selamat malam pak. Kami berdua, habis dari luar mencari Asyifa bersama dengan pacar Asyifa pak" jawab Angel seadanya.
"Mencari Asyifa?"
"Iyah pak. Asyifa belum juga pulang sampai sekarang, apa bapak melihatnya?"
"Bukannya hari ini Asyifa ada janji dengan pacarnya, kenapa pacarnya sendiri tidak tahu kemana perginya Asyifa?"
Zidan sengaja memancing William dengan ucapannya, saat melihat pria itu sedang berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Ah itu, kata William dia sudah mengantar Asyifa pulang ke sini pak. Tapi mungkin karna sedang sedih, jadi Asyifa enggan kembali ke apertemen" Angel mengatakan apa yang ia ketahui.
"Sedih? Apa yang terjadi, apa keluarga pacarnya tidak setuju Asyifa menjadi kekasih anak mereka dan kemudian menyusun rencana jahat untuk membuat Asyifa terluka?"
Mendengar Zidan yang mengatakan hal jelek tentang keluarganya sambil terus menatap ke arahnya dengan tatapan permusuhan, membuat William menjadi marah seketika.
Ia melangkah maju dan menarik kerah baju yang dipakai Zidan "Apa maksud ucapanmu?"
"Apa maksud ucapan saya? Bukankah anda yang lebih tau jawabannya dari pada saya? Itu kan yang terjadi hari ini di rumah anda?"
"Apakah yang dikatakan pak Zidan itu benar, Will?" tanya Mira penuh selidik.
__ADS_1
"Meskipun ada yang menolak status Asyifa sebagai pacarku dan oleh karna itu membuat Asyifa sedih, bukan berarti keluargaku merencanakannya! Mereka semua baru pertama kali bertemu Asyifa hari ini, jadi jangan asal bicara kamu!"
"Oh ya? Lalu siapa yang menerima Asyifa di keluargamu? Apa itu adalah ibu dan saudara laki-lakimu?"
"Kalau memang mereka yang menerima Asyifa, kenapa? Ada yang salah?"
"Astaga, selain jelek, ternyata anda juga bodoh yah. Menyedihkan sekali!"
Buk...
Satu pukulan William layangkan ke atas pipi Zidan, membuat pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Pak Zidan! William, apa yang kamu lakukan? Kenapa tiba-tiba memukul pak Zidan?"
"Menyingkirlah Angel, biar saya berikan pria bodoh itu pelajaran!"
Zidan maju dan membalas pukulan William secara bertubi-tubi hingga lawannya itu jatuh ke tanah.
Dalam sekejap mata, kedua pria itu saling bergulat dan memberikan pukulan pada satu sama lain tanpa ampun.
Melihat itu, denga panik Mira segera berlari memanggil keamanan untuk memisahkan keduanya.
Setelah keduanya berhasil dipisahkan dengan susah payah oleh dua orang satpam, Mira dan Angel langsung terkejut melihat kondisi wajah kedua pria itu yang babak belur.
"Jangan pernah kamu ikut campur antara hubunganku dan Asyifa, karna kamu bukan siapa-siapanya Asyifa! Kamu mengerti?"
"Kalau saya bukan siapa-siapa bagi Asyifa, dia tidak mungkin berada di apertemen saya saat ini! Justru kamu yang tidak layak untuk menjadi pacar Asyifa karna membiarkannya menangis seperti itu!"
"Apa? Asyifa ada di apertemenmu sekarang?"
Zidan tersenyum puas melihat ekspresi terkejut di wajah William "Iya, kenapa?"
"Sialan!" William maju untuk kembali memukul Zidan namun segera dihentikan satpam.
"Hentikan William, sekarang bukan saatnya untuk berkelahi seperti ini! Pak Zidan, apa benar Asyifa sekarang ada di apartemen bapak?"
"Iya benar. Kamu dan Angel boleh melihatnya, tapi tidak dengan dia! Pak satpam, suruh pria itu pulang, dia yang sudah membuat keributan disini!"
"Bukan saya yang mulai duluan pak, tapi pria itu yang memancing kemarahan saya!"
"Maaf pak, tapi salah satu dari kalian berdua harus pergi dari sini supaya perkelahian tidak terjadi lagi. Saya tidak bisa menyuruh pak Zidan untuk pergi, karna beliau tinggal disini, jadi terpaksa harus bapak yang pergi!"
"Turuti saja ucapan pak satpam dan pulang lah dulu Will. Biar Asyifa, aku dan Mira yang akan mengurusnya"
Dengan terpaksa dan perasaan kesal, William terpaksa masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.
Bersambung...
__ADS_1