The Ugly Wife

The Ugly Wife
Suara itu muncul lagi


__ADS_3

Mira yang menahan kesalnya sejak tadi karna terus-terusan diikuti oleh sebuah mobil yang sama sekali tak dikenalinya, segera turun dari mobil milik Angel dan berniat untuk langsung mendatangi pengikut tersebut.


Namun Angel yang lebih bisa bersabar dan juga berpikiran luas, dengan cepat mencegah niat sahabatnya itu. Bukannya apa-apa, tapi Angel khawatir jika ternyata yang mengikuti mereka adalah seseorang yang berbahaya.


"Mira tunggu! Kamu mau pergi kemana dengan terburu-buru seperti itu?" tanya Angel pura-pura tak tahu niat dari sahabatnya itu.


"Mau kemana lagi, kalau bukan mendatangi orang gila yang semalaman ini malah asyik mengikuti kemana mobil kita pergi? Kayak tidak punya kerjaan lain saja!"


"Apa kamu yakin ingin mendatanginya seorang diri? Bagaimana kalau ternyata dia bukan seseorang yang sedang iseng saja mengikuti kita, tapi malah seorang yang berbahaya?"


"Aduh Angel, mana mungkin ada orang seperti itu yang mengikuti kita? Lagian untuk apa coba, memangnya salah satu diantara kita ada yang mempunyai musuh yang bisa membuat kita diikuti saat malam hari?" ucap Mira tak ingin percaya kata Angel.


"Meskipun begitu, akan lebih baik kalau kita berjaga-jaga saja demi keselamatan diri bersama. Bagaimana kalau kita menghubungi Adam dan juga Raka, untuk mengecek siapa orang tersebut?"


"Kalau kita menelpon mereka datang, yang ada nanti malah kelamaan Angel. Bisa-bisa orang sialan itu sudah pergi duluan, dan kita tidak akan pernah tahu siapa identitasnya!"


"Ayolah Ra. Aku juga ingin melakukan semua ini karna khawatir pada keselamatan kita berdua, jadi tolong turuti saja yah?" bujuknya memelas ke arah Mira.


Melihat ekspresi wajah Angel yang memang juga memancarkan rasa takut sekaligus cemas, Mira mau tidak mau akhirnya merasa sedikit bersalah jika harus memaksakan apa yang menjadi keinginannya.


Dan sudah sewajarnya hal itu dirasakan oleh Angel, apalagi mereka berdua sama-sama seorang perempuan yang tidak mempunyai keahlian bela diri sama sekali.


Meksipun ada pos jaga satpam yang berada tak jauh dari sana, tetap saja menghampiri seorag asing ditengah malam yang gelap ini, terlalu beresiko untuk dilakukan.


"Yah sudah, terserah kamu saja kalau memang ingin menelpon dan meminta bantuan pada mereka berdua"


"Terima kasih Ra, aku akan segera menelpon Raka dan juga Adam sekarang. Setelah kedua pria itu datang, aku janji kita pasti menangkap penguntit kurang kerjaan itu"


"Iya, iya, terserah kamu saja"


Tanpa membuang-buang waktu lagi dan sebelum sahabatnya itu berubah pikiran, Angel segera meraih ponsel miliknya untuk menghubungi Raka.


Setelah menunggu selama beberapa menit sambil tak hentinya mengawasi mobil milik si penguntit itu, Angel akhirnya mendengar nada terhubung diujung telepon.


"Halo, siapa ini? Apakah ada yang bisa aku bantu? sapa Raka dari ujung telepon, dengan suara yang terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur.


"Halo Raka, ini aku Angel yang menelpon. Apa aku tanpa sengaja telah mengganggu waktu istirahatmu?" tanya Angel, merasa sedikit bersalah pada Raka.


"Angel? Astaga maafkan aku Angel, aku tida tahu sama sekali kalau kamu lah yang tadi menelponku. Kamu juga tidak mengganggu waktu istirahatku sama sekali, tadi aku hanya sedang berbaring saja"


"Syukurlah kalau begitu. Aku pasti akan merasa sangat bersalah, kalau benar aku telah mengganggumu"


"Ahahaha tidak kok Angel. Oh iya, kalau aku boleh tahu, ada apa yah kamu menelponku malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang ingin kamu mintai tolong padaku?" tebak Raka tepat sasaran.


"I_itu, aku dan Mira sebenarnya ingin meminta bantuan darimu dan juga Adam untuk bisa memeriksa sesuatu diluar yang berada diluar gedung apertemen kami. Apa kalian punya waktu untuk itu?"


"Tentu saja bisa. Kebetulan, aku dan juga Raka memang menginap di apertemen milik Zidan dari kemarin malam"


Meskipum Mira tidak berbicara dan juga tidak menempelkan ponsel tersebut ke telinganya seperti yang dilakukan oleh Angel, namundari jarak sedekat itu, Mira masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Raka.


Dengan cepat, Mira merampas ponsel milik Angel dari tangan si empunyanya secara perlahan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya sendiri untuk bisa berbicara juga pada Raka.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi, kalau kalian berdua sedang ada dan menginap di dalam apertemen milik Zidan?!" omel Mira, menolak untuk memberikan salam atau pun obrolan basa-basi terlebih dahulu.


"Astaga, kenapa sih kalau kamu yang bicara denganku itu, tidak pernah sopan atau pun lembut sedikit saja? Bikin sakit kuping yanh dengar tahu tidak?!"


"Sudah tidak usah banyak bicara dan juga ikutan mengomel sepertiku, lebih baik kamu dan juga Adam segera keluar bangunan apertemen, untuk membantu kami berdua memastikan sesuatu"


"Memangnya ada apa sih, memastikan apanya juga coba? Ceritakan dulu, supaya kami berdua tidak menahan rasa penasaran" pinta Raka tak sabaran.


"Memastikan siapa yang sedari tadi kurang kerjaan dan juga tanpa henti malah mengikuti kemana pun perginya mobil yang dikendarai oleh Angel!"


"Apa? Diikuti?" teriak Raka dan juga sebuah suara dari arah yang lumanyan jauh dari Raka, yang sepertinya adalah suara milik Adam.


"Yang benar saja kalau kalian berdua sedang diikuti sejak tadi, Ra? Apa dia sempat nekat melakukan hal yang berbahaya terhadap kalian?" yang kali ini adalah suara milik Adam.


Karna sosok Adam adalah pria yang telah ditaksirnya secara diam-diam sejak pertama kali pertemuan mereka, Mira mau tak mau malah kehilangan pita suaranya selama beberapa saat.

__ADS_1


Entah karna merasa grogi untuk bicara berdua dengan Adam melalui telepon, atau karna sedang membayangkan sesuatu yang lain, Mira tanpa sadar tersenyum sendiri.


Angel yang melihat dan menyadari keanehan tingkah laku dari sang sahabat, dengan cepat kembali mengambil alih telepon tersebut dari tangan Mira.


"Halo Adam, ini aku Angel"


"Ah iya, halo Angel"


"Aku ingin menyakinkan kalau yang dikatakan oleh Mira barusan adalah benar, bahwa kami berdua memang diikuti. Tapi orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang berbahaya pada kami, atau lebih tepatnya belum. Itulah mengapa kami meminta bantuan dari kalian berdua, untuk menanganinya"


"Baiklah, aku mengerti. Kalian berdua carilah tempat aman, dan tetap disana sampai kami berdua tiba dibawah. Jangan juga melakukan sebuah pergerakan yang bisa membuat orang tersebut menjadi panik, dan akhirnya memilih pergi dari tempatnya berada sekarang"


"Baik Adam. Kebetulan juga kami berdua memang berada di dalam mobil, dan belum keluar sama sekali"


"Baguslah. Aku dan Raka akan segera kesana sekarang, jadi tunggu lah" pinta Adam sekali lagi, sebelum menutup sambungan telepon.


Angel meletakkan kembali ponselnya ke tempat ponsel yang ada di dalam mobilnya, dan memilih untuk berpindah tempat duduk dari depan ke belakang, demi bisa lebih jelas memperhatikan orang yang ada di dalam mobil yang mengikuti mereka.


Tapi sayangnya, kaca dari mobil tersebut berwarna hitam yang tidak bisa dilihat oleh orang dari arah luar, tapi jika dari dalam dan melihat keluar, itu tentunya masih bisa.


Saat sedang sibuk memperhatikan dan mencari cara supaya bisa melihat letih jelas lagi ke arah mobil itu, Angel dikejutkan oleh ketukan pelan di kaca mobil miliknya.


Saat dilihat, ternyata itu adalah sosok Raka dan juga Adam yang telah ditunggu oleh Angel serta Mira. Segera saja Angel turunkan kaca mobil tersebut.


"Maaf Kalau lama. Tapi mana orang yang kalian berdua katakan sebagai penguntit di telepon tadi?" tanya Raka penasaran.


"Itu disana! Arah jam 9, menggunakan mobil hitam yang kaca keseluruhannya gelap gulita dan tidak biaa dilihat oleh siapa pun dari arah luar mobil.


Mendengar arahan Angel, kedua pria yang sudah siap membantu kedua gadis itu pun berjalan secara perlahan ke arah mobil, untuk mencari tahu siapa yang ada di dalamnya.


Tok... Tok.. Tok...


Adam mulai mengetuk secara perlahan kaca mobil, sebagai permintaan dibukakannya kaca tersebut untuknya.


Namun bukannya melakukan hal yang Adam isyaratkan, pengemudi misterius itu malah menghidupkan mobilnya dan secepat kilat berlalu pergi dari sana.


"Tidak perlu semarah atau pun sekesal itu, Mira. Karna sebenarnya tadi sebelum mobil itu benar-benar pergi dari hadapan kita, aku sudah sempat memfoto plat nomornya"


"Baguslah kalau begitu, Adam. Berarti kita bisa mencari tahu siapa pemilik mobilnya hanya dari plat nomor tersebut" puji Raka ikut senang karnanya.


"Tapi entah kenapa, aku sudah memiliki seorang yang bisa aku curigai di dalam pikiranku yah?"


"Siapa Adam?" tanya Angel dan juga Mira secara bersamaan karna saking penasaran.


"Elina!"


*****


Asyifa yang sedang terlihat sibuk mengurusi segala sesuatu yang sekiranya diperlukan oleh Eden selama berada di rumah sakit, tak menyadari sama sekali kalau tatapan pria itu sedari tadi memperhatikannya.


Untungnya saat itu Zidan sedang keluar sebentar untuk membeli makan siang untuk dirinya dan juga Asyifa, sehingga tidak punya waktu untuk menyaksikan kegiatan tersebut.


Meskipun rasa sukanya pada Asyifa tak sebesar rasa sukanya pada Elina dulu, tapi melalui sosok Asyifa lah Eden yang malang bisa merasakan kasih sayang dan juga cinta keluarga yang sesungguhnya.


"Akhirnya selesai juga! Aku sudah mengatur semua barang yang sekiranya akan kamu butuhkan selama berada di rumah sakit ini, selain makanan pastinya. Karna makanan, yang menyediakannya adalah rumah sakitnya sendiri" jelas Asyifa, sambil terseyum manis ke arah Eden.


"Ah, iya. Terima kasih banyak atas bantuan dan juga perhatianmu terhadapku Asyifa. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal dan menjadi salah satu teman baikmu"


"Astaga, kenapa kamu tiba-tiba saja menjadi sangat drama seperti ini? Apa kamu lupa minum obat, atau malah salah minum obat tadi oleh perawatnya?" tanya Asyida, dengan nada bercanda.


"Aku serius sedang berterima kasih Asyifa. Apa tidak bisa kamu menjawabnya dengan kata sama-sama anak pintar, atau tidak yang terdengar manis di telingaku?"


"Ahahaha. Apaan sih Eden?! Sudah ah, aku harus pergi sebentar untuk mengembalikan tempat makan rumah sakit ini ke tempatnya. Kamu tidak masalah kan kalau harus sendiri untuk sementara disini?"


"Tentu saja tidak masalah"


"Pintar, anak yang sangat pintar sekali. Kalau begitu, aku pergi dulu yah. Bye" pamit Asyifa sambil mengelus pelan puncak kepala milik Eden, yang sedang berbaring.

__ADS_1


Eden yang awalnya merasa senang karna mendapat perlakuan spesial dari Asyifa, seketika suasana hatinya berubah menjadi aneh saat Asyifa telah berada diluar ruangan dan juga menutup rapat pintu tersebut.


Suara-suara yang datang saat dirinya sedang berada di rumah Elina, secara perlahan mulai kembali terdengar di dalam telinga dan juga di dalam pikirannya.


Dengan cepat Eden mengangkat kedua tangannya untuk bisa menutupi telinganya supaya tidak dimasuki oleh suara-suara itu, namun hasilnya percuma.


Semakin Eden berusaha untuk mentupi telinga dan tidak ingin mendengarkan mereka semua, mereka malah menjadi terdengar jelas dan semakin memekik kesakitan yang luar biasa di depan Eden.


Dengan panik Eden mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru kamar rawat inapnya, untuk mencari apakah ada suntikan obat tidur yang bisa digunakan olehnya.


"Obat, obat tidurnya. Aku butuh obatnya, tolong berikan sebanyak mungkin padaku. Aku mohon, tolong berikan padaku supaya mereka semua mau pergi!" gumam Eden menjadi semakin tak karuan.


Yang semulanya tubuh pria itu berada diatas ranjang rumah sakit, kini telah berpindah menjadi diatas dinginnnya lantai rumah sakit sambil memeluk lututnya ketakutan.


Untungnya Asyifa yang telah kembali dari mengantarkan batang pada pihak rumah sakit, cepat membuka pintu ruangan untuk menemukan keadaan darurat Eden.


"Astaga Eden, apa yang sudah terjadi? Apa kamu baik-baik saja, kenapa kamu malah meringkuk dibawah dinginnya lantai rumah sakit?" tanya Asyida bertubi, karna cemas.


"A_aku tidak apa-apa Asyifa. Tadi saat kamu pergi sebentar, suara-suara dari para korban itu kembali bermunculan dan terdengar di dalam telinga dan juga memenuhi pikiranku"


"Kenapa bisa? Bukannya selama kamu sadar dan hingga dirawat disini sekarang, kamu tidak lagi mengalami hal seperti itu? Apa ada sesuatu yang tanpa sengaja telah memicu perasaan takut dan datangnya suara-suara aneh itu ke dalam telingamu?"


"Entahlah. Yang pasti, saat kamu baru saja menutup pintu kamarku dan berjalan pergi menjauhi ruangan ini, suara itu pun perlahan mulai bermunculan"


"Kalau begitu, apa sekarang suara-suaranya masih tetap terdengar jelas di telingamu?" tanya Asyifa memastikan.


"Tidak lagi. Suara itu langsung pergi dan hilamh begitu saja saat dirimu datang dan membuka pintu untuk masuk ke dalam sini"


Meskipun merasa tak yakin dengan alasan yang baru saja dikatakan oleh Eden, tapi saat melihat ketakutan Eden berhenti dengan sendiri dan tanpa adanya bantaun medis sedikit pun, membuat Asyifa mau tidak mau harus mempercayainya.


Tanpa mengatakan sesuatu untuk membalas perkataan Eden, Asyifa lebih memilih untuk segera membantu pria itu naik kembali ke atas tempat tidurnya supaya beristirahat lagi.


"Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa tentang jawabanku tadi? Apa kamu tidak percaya pada ucapanku, dan merasa bahwa itu semua tidak dapat dipercaya?" tanya Eden, karna Asyifa tidak meresponnya.


"Aku bukannya tidak percaya padamu Eden. Hanya saja, akan lebih ingin melihatmu bisa berbaring kembali diatas ranjang terlebih dulu baru memikirkan hal lainnya"


"Baiklah, anggap saja benar seperti itu. Tapi aku juga tidak bohong tentang kedatanganmu yang mampu membuat suara-suara yang mengangguku itu, menghilang begitu saja"


"Iya, iya, aku percaya pada perkataanmu Eden. Tapi sekarang aku harus menghubungi Zidan, untuk membawa dokter supaya bisa kembali memeriksa keadaanmu lagi"


Tanpa menunggu jawaban dari Eden, Asyifa mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana dan segera menekan tombol panggil pada nomor Zidan.


Untuk beberapa saat, Asyifa terlihat sedang terlibat dalam suatu pembicaraan serius bersama dengan Zidan, yang tidak bisa Eden dengar dengan jelas.


Setelah selesai dengan acara teleponanya, Asyifa segera merapikan ruangan yang tadi sempat diberantakan sedikit oleh Eden yang kehilangan kesadarannya sesaat.


"Apa tadi kamu berbicara dengan Zidan dan juga dokter? Apa kata dokter tentang tingkah lakuku yang aneh ?" tanya Eden.


"Aku hanya bicara dengan Zidan Eden, aku menyuruhnya untuk kembali kesini dengan dokter yang menanganimu selama ini sejak pertama kali"


"Ah begitu, aku pikir kamu dan juga Zidan serta dokter itu, mungkin saja akan berpikir bahwa aku sudah gila karna berhalasinasi soranhg diri"


"Mana mungkin kami bisa berpikri seperti itu Eden, kamu kan adalah seorang pasien yang sedang membutuhkan perawatan medis di rumah sakit ini" jelas Asyida beruaaha menghilangkam pemikiran jelek dari dalam diri Eden.


Ketika Eden ingin kembali membuka mulut untuk mengatak sesuatu pada Asyifa, tanpa terduga pintu ruangan terbuka dan disana berdiri sosok Zidan bersama sang dokter yang datang untuk memeriksa keadaannya.


Maka dengan terpaksa, Eden harus menelan kembali kata-kata yang sudah berada diujung lidahnya, dan lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya.


Asyifa dan Zidan yang tidak ingin kehadiran mereka mengganggu fokus sang dokter, pun memberikan ruang secukupnya pada pria itu untuk leluasa memerika Eden.


"Pak Zidan dan ibu Asyifa, apa kita bisa berbicara bertiga di ruanganku? Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada anda berdua terkait keadaan pak Eden" pinta sang dokter sopan, setelah selesai memeriksa keadaan Eden.


"Tapi bagaimana dengan Eden, masa kita biarkam sendirian di dalam sini?" tanya Asyifa mau tidak mau merasa cemas.


"Tenang saja ibu Asyifa. Biar nanti akan aku panggilkan seorang perawat untuk datang kesini, supaya bisa menemani pak Eden"


"Ah, baiklah dok"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2