The Ugly Wife

The Ugly Wife
Perpisahan


__ADS_3

Laras keluar dari perusahaan Z Grup dengan perasaan kecewa serta wajah kesal diikuti sang suami dari belakang.


"Bagaimana bisa tidak ada nama Asyifa atau pun ketiga temannya yang bekerja disini? Apa pak satpam yang salah memberikan alamat kepada kita?"


"Sudahlah bu, sebaiknya kita balik saja ke hotel dan besok kita beli tiket untuk pulang"


"Dasar anak sialan! Awas saja kalau sampai ketemu, akan ku berikan dia pelajaran supaya tidak berani berbuat seperti ini lagi!"


"Biarkan saja dia bu, tidak usah ganggu hidupnya lagi. Untuk masalah uang, kan masih ada ayah yang bisa bekerja"


"Kamu? Bisa apa kamu dengan pekerjaan tidak jelasmu itu? Uang yang kamu hasilkan sebulan bahkan memenuhi kebutuhan kita untuk seminggu saja tidak cukup!"


"Ayah janji akan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan uang yang banyak. Bila perlu bekerja di beberapa tempat sekaligus pun akan aku lakukan, jadi berhenti lah mengganggu Asyifa"


"Dasar, Anak dan ayah sama saja! Sama-sama tidak berguna, bisanya cuman nyusahin!"


Kemal yang mendengar hinaan istrinya itu, hanya bisa terdiam tanpa bisa membela diri. Setidaknya, untuk sementara ia bisa melindungi kehidupan Asyifa dari Laras.


Saat keduanya masih menunggu taksi lewat, Kemal melihat sosok yang sangat dikenalinya sedang berjalan menuju pintu keluar perusahaan.


"Bu, ibu tidak lapar? Bagaimana kalau kita mengisi perut di Cafe seberang itu?"


"Hah, kamu mengajakku ke sana tapi pasti aku juga yang akan bayar kan? Dasar laki-laki tidak bermodal! Ayo, cepat jalan! Kenapa masih berdiri disitu saja?"


"Kamu duluan saja, aku harus pergi ke toilet. Aku akan meminjam toilet di dalam perusahaan ini dan segera menyusul, oke?"


"Lama-lama aku bisa gila kalau harus terus hidup seperti ini! Kenapa dia tidak bisa diandalkan sama sekali? Sama sialnya dengan anak perempuannya itu!"


Meskipun sambil menggerutu, namun Laras tetap mengikuti ucapan Kemal untuk pergi duluan ke Cafe.


Melihat hal itu, dengan cepat Kemal berlari ke arah Asyifa dan menarik tangan putrinya untuk masuk kembali ke dalam perusahaan.


"Ayah?!" seru Asyifa terkejut.


"Iya ini ayah, Asyifa. Syukurlah kamu benar bekerja disini, dan hidup dengan baik. Ayah sangat merindukan mu"


Kemal memeluk tubuh putrinya dengan sayang, tak terasa seterusnya air mata mengalir jatuh di pipinya "Maafkan ayah, Asyifa"


"Ayah, bukannya ayah datang bersama ibu? Dimana ibu sekarang, kenapa cuman ayah sendiri yang ada disini?"


Kemal melepaskan pelukannya dan menatap wajah Asyifa serius "Dengar Asyifa, apa pun yang terjadi dan bagaimana pun caranya, kamu harus tetap menghilang dari jangkauan ibumu! Sudah saatnya kamu hidup bahagian berkat kerja kerasmu sendiri, kamu mengerti kan sayang?"


"Ayah..."


"Ayah akan berusaha untuk memenuhi keinginan ibumu meskipun harus bekerja mati-matian, jadi kamu tidak perlu khawatir!"


"Ayah, maaf"


"Hanya ini yang bisa ayah lakukan demi melindungi kehidupanmu. Maafkan ayah Asyifa karna tidak pernah bisa melindungi kamu dari keegoisan ibumu"

__ADS_1


"Terima kasih ayah"


"Sama-sama nak. Ayah pergi dulu yah, jaga dirimu baik-baik! Ayah menyayangimu"


"Aku juga sayang ayah"


Kemal memeluk putrinya sekali lagi sebagai bentuk perpisahan untuk pertemuan terakhir mereka, kemudian pergi dari sana sambil berurai air mata.


*****


"Hiks... Hiks... Hiks.. " Asyifa terus saja menangis sejak berpisah dengan sang ayah.


William yang datang menjemput Asyifa dan setelah mendengar apa yang terjadi, hanya bisa memeluk tubuh gadis itu sambil berusaha menenangkannya.


"Berhentilah menangis Asyifa, kalau begini terus kamu bisa jatuh sakit"


"Aku harus bagaimana, William? Aku merasa seperti anak durhaka yang membiarkan ayahku bekerja sendirian untuk memenuhi segala keinginan ibu!"


"Jangan salahkan dirimu, Asyifa. Ini semua adalah keputusan yang telah dipilih oleh ayahmu demi kebahagiaan putrinya, jadi jangan berpikir seperti itu"


"Ayah memang tidak pernah berani membelaku tiap kali ibu menyiksa dan memaksaku untuk memberikan semua uang hasil kerja kerasku, tapi aku tau itu semua karena ayah tak berdaya dengan perasaan bersalah telah membuat ibu hidup dalam kemiskinan"


"Ayahmu pastilah pria yang sangat lembut"


"Betul. Ayah pernah berkata, ia tidak bisa marah atau pun memukul ibu yang karna dirinya harus hidup menderita, tapi dia juga tidak bisa membiarkan diriku di siksa oleh ibu. Setiap kali aku dipukul ibu, ayah akan memukuli dirinya sendiri agar mendapat luka yang sama denganku. Saat uangku diambil semuanya oleh ibu, besoknya ayah akan memberiku uang dalam jumlah yang sama meskipun harus bekerja sampai larut malam"


"Ponsel ayah sudah dijual oleh ibu. Itulah sebabnya ayah tidak pernah lagi mengirimiku pesan disetiap pagi untuk sekadar menanyakan kabarku. Aku tidak ingin berpisah selamanya dengan ayahku seperti ini, William!"


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa Asyifa. Semoga di masa depan, akan datang kesempatan untuk ayahmu dan kamu bisa bertemu kembali"


Asyifa hanya bisa menghela nafas kecewa mendengar ucapan William. Saat akan bicara lagi, ponsel gadis itu bergetar dan muncullah nama Zidan disana yang membuat William kesal.


"Halo pak Zidan, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ada apa dengan suaramu, apa kamu baru saja menangis? Apa ada masalah lagi?"


"Bukan sesuatu yang penting. Ada apa pak?"


"Saya cuman ingin mengabarkan, bahwa orang tuamu malam ini akan menginap di Zoe hotel dan mereka akan pulang besok dengan pesawat pagi"


"Ah, terima kasih banyak pak. Saya berhutang budi kepada bapak"


"Tidak masalah. Tapi kamu tidak lupa kan tentang janjimu kepadaku, untuk menceritakan segalanya?"


"Saya tidak lupa pak dan akan menepati janji tersebut!"


"Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang sambil menikmati secangkir kopi? Kamu ada dimana? Biar ku jemput!"


"Maaf pak, saya tidak bisa hari ini karna sedang bersama William. Bagaimana kalau lain kali saja?"

__ADS_1


"Dasar pria berengsek!" gumam Zidan pelan.


"Apa pak? Suara bapak tidak kedengaran"


"Bukan apa-apa, Asyifa. Baiklah, kita bertemu di lain hari saja. Selamat sore!"


"Selamat sore juga pak"


Asyifa meletakkan ponselnya kembali "Maaf, tadi itu pak Zidan. Aku tidak bisa mengabaikannya, takut ada sesuatu yang penting"


"It's ok, sayang" ucap William sambil mengecup bibir Asyifa cepat.


Asyifa terkejut dan segera memandang sekeliling. Untung saja mereka berada di dalam mobil, jadi tidak akan ada yang bisa melihat apa yang barusan terjadi.


Belum habis keterkejutan diri Asyifa, Willaim malah memeluk tubuh kekasihnya itu seolah tak ingin melepaskannya lagi.


Asyifa membalas pelukan itu dengan perasaan heran "Ada apa, William? Kamu bertingkah aneh sekali saat ini"


Sebenarnya saat ini William sedang terbakar api cemburu, setelah ia mendengar percakapan antara Zidan dan Asyifa yang berjanji akan bertemu berdua saja, dan lagi bukan untuk membahas masalah pekerjaan.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang berfikir, bagaimana kalau kita segera menikah saja?"


"Menikah? Kamu serius?"


Mendengar ucapan William yang tiba-tiba, membuat Asyifa langsung mendorong tubuh pria itu menjauh dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Iya, menikah! Kenapa kamu terkejut seperti itu? Jangan bilang kamu tidak ingin menikah denganku?"


"Bukan begitu William, aku hanya tidak menyangka akan mendengarnya secepat ini. Hubungan kita, baru saja berjalan beberapa bulan"


"Sedari awal, aku memang memiliki keinginan yang serius untuk sampai pada tahap pernikahan dengamu Asyifa. Momy dan keluargaku yang lainnya juga terus-terusan memaksaku mengenalkanmu kepada mereka dan segera menikah"


"Keluargamu ingin bertemu denganku? Tapi, aku berasal dari keluarga yang bukan setara denganmu, dan lagi wajahku juga tidak cantik sama sekali. apakah keluargamu akan menyukaiku?"


"Kamu cantik Asyifa dan aku tidak peduli dari keluarga seperti apa kamu berasal! Kalau keluargaku tidak menyukaimu, maka aku akan membuat mereka menyukaimu!"


"Baiklah, baiklah, aku mengerti!"


"Lagipula jika kita menikah, aku tidak akan terlalu khawatir lagi jika ada pria yang mencoba mendekatimu, karna kamu sudah sah menjadi istriku!"


"Pria? Pria mana yang mendekatiku? Hanya ada kamu seorang yang mendekati dan menjadikanku kekasihmu, William. Tidak ada lagi yang lain"


"Di matamu mungkin yang terlihat seperti itu, tapi tidak dengan mataku!"


Asyifa hanya bisa memandang wajah kekasihnya itu dengan heran. Asyifa yakin tidak ada pria lain seperti yang William katakan.


Jika ada pria yang menyukai bahkan mendekatinya, tidak mungkin Asyifa tak menyadarinya sama sekali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2