The Ugly Wife

The Ugly Wife
Aliya


__ADS_3

Di sebuah pekarangan rumah kecil yang sederhana, tampak seorang ibu muda yang sedang duduk sambil mengedong seorang bayi mungil dalam pelukannya.


Aliya, nama ibu muda itu. Menatap jauh ke depan seolah sedang teringat akan masa lalu yang pernah dialaminya.


Perasaannya menjadi tak pernah tenang lagi, semenjak kedatangan kakak dari pria yang pernah sangat ia cintai. Yah, Haykal memang mendatangi Aliya tak lama setelah William menikah dengan Asyifa.


Haykal menyuruh Aliya untuk pergi dari rumah kontrakannya yang ada di kota sebelah dan tinggal di rumah yang telah Haykal siapkan untuk Aliya dan juga keluarganya.


Alasan Haykal melakukan semua itu, karna dirinya memiliki firasat bahwa ibunya akan menganggu kehidupan Aliya demi membuat rumah tangga William dan Asyifa hancur.


Tentu saja Aliya menyetujui semua perkataan Haykal, meskipun dengan sedikit keraguan di hatinya. Karna bagaimana pun, pria itu juga pernah bekerjasama untuk membuat Aliya menderita.


Entah wanita seperti apa yang ingin keluarga itu singkirkan dari sisi William kali ini. Aliya hanya berharap semoga kehidupan wanita itu tidak semenyedihkan dirinya, yang tidak memiliki tempat bersandar saat itu.


"Aliya, apa sedang kamu pikirkan?" tanya suami Aliya yang tampak baru saja pulang dari bekerja.


"Ah, kamu sudah pulang? Maaf, aku tidak mendengar karna sedang melamu"


"Ada apa? Apa kamu masih tidak ingin memberitahuku alasan pria itu datang dan menyuruh kita tinggal disini?" tanya pria itu sambil duduk disamping Aliya.


"Maaf, aku tidak bisa"


"Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya bertanya karna semenjak pria itu datang, kamu menjadi banyak melamu dan tak pernah tidur nyenyak. Aku hanya sedang mengkhawatirkan dirimu, tapi jika kamu tidak ingin membicarakannya juga tidak masalah"


"Terima kasih, sayang"


Alex, suami Aliya hanya bisa membelai rambut istirnya untuk menghibur hati wanita itu yang sedang resah. Meskipun tidak tahu alasan sebenarnya mereka pindah ke tempat ini, namun Alex tetap memilih mengikuti permintaan Aliya.


Karna sejak dirinya menikah dengan Aliya, wanita itu tidak pernah meminta sesuatu padanya. Ia hanya akan selalu menerima apa pun yang diberikan Alex padanya, sambil tersenyum.


Bahkan meskipun harus tinggal di kontrakan kecil dan lingkungan yang kumuh, Aliya tak pernah keberatan. Uang yang diberikan Alex setiap bulannya dari kerja serabutan, hanya cukup untuk makan, pun tidak pernah dikeluhkan Aliya.


Dan saat mengetahui pria yang datang menemui istrinya, telah menyiapkan sebuah rumah di pedesaan dan pekerjaan yang tetap untuknya disebuah pabrik, Alex merasa senang.


Setidaknya Aliya yang cantik bagaikan bidadari, tidak akan terkurung selamanya dalam pemukiman kumuh, karna dirinya tidak mampu memberikan lebih.


"Aku yang terima kasih, karna sudah mau bersama diriku yang miskin ini. Aku sangat beruntung mempunyai istri sebaik dirimu, Aliya"


"Aku sudah mendengar kata-kata seperti itu darimu ribuan kali selama pernikahan kita. Tapi bukan kamu saja yang berutung, aku juga sama. Kamu dengan iklas menerimaku yang yatim piatu dan tidak jelas asal usulnya ini, sebagai istrimu"


"Itu karna aku mencintaimu, sayang. Dan aku juga seorang yatim piatu sama sepertimu"


Aliya pun memeluk tubuh suaminya dengan satu tangannya yang bebas. Aliya berharap kehidupan tenang seperti saat ini, akan bertahan selamanya.


Namun tidak bisa dipungkiri, ada rasa takut dalam dirinya jika Ratih dan Kana akan menemukan mereka.


"Alex, aku punya satu lagi permintaan. Apa kamu bisa mengabulkannya untukku?"


"Apa itu sayang? Kalau bisa aku lakukan, pasti akan ku kabulkan permintaanmu itu" jawa Alex sambil menatap wajah Aliya penuh rasa penasaran.


"Aku tidak tahu cepat atau lambat hal yang aku takuti akan terjadi. Tapi jika mereka menemukan dan ingin membawaku pergi, aku harap kamu bisa menjaga putra kita dengan baik tanpa diriku"


"Apa maksudnya Aliya? Kamu akan dibawa pergi kemana? Dan siapa mereka? Aku tidak mengerti, tolong jelaskan padaku"


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi aku janji, ketika saatnya tiba, pasti akan aku ceritakan semuanya padamu"


"Aku tidak mungkin bisa membiarkan seorang pun untuk menyentuh istriku apalagi sampai membawanya pergi dari hidupku, Aliya. Apa mereka adalah orang-orang dari masa lalumu, yang membuat hidupmu menderita?"


"Iya, mereka adalah orang-orang yang sudah mengambil semua kebahagiaan dari hidupku. Bahkan untuk kembali ke kota kelehiranku sendiri pun, aku tidak bisa"


"Sekarang juga, kamu ceritakan semua masa lalumu padaku. Dari awal hingga akhir, jangan ada satu pun yang terlewatkan!"


"Tidak bisa Alex. Aku tidak bisa membiarkan dirimu ikut masuk ke dalam masalahku, karna jika itu sampai terjadi, mereka pasti akab melukai dirimu juga!"


"Itu tidak akan terjadi, Aliya. Aku janji akan bisa mengatasi mereka semua"


"Tidak, aku tidak ingin mengambil resiko. Bagaimana jika kita terjadi sesuatu pada kita berdua, siapa yang akan merawat putra kita? Setidaknya harus ada seorang diantara kita berdua yang selalu bersamanya"


Alex yang tampak tidak puas dengan jawaban Aliya atas pertanyaannya, ingin sekali memaksa wanita itu mengatakan semuanya. Namun ia dengan berat hati, hanya bisa kembali menuruti keinginan Aliya.


"Baiklah, aku berjanji"


"Terima kasih, alex. Terima kasih" ucap Aliya senang.

__ADS_1


Setidaknya, Alya sudah mendengar jawaban setuju dari suaminya untuk menjaga anak mereka dengan baik. Untuk hal selanjutnya, Aliya ingin menghadapinya seorang diri tanpa melihabatkan keluarganya.


******


Zenith memasuki ruangan khusus di sebuah restoran mahal, yang telah dipesan oleh Kana untuk pertemuan mereka.


Sebenarnya gadis itu enggan untuk datang, mengingat hal memalukan yang telah di lakukan keluarga William pada keluarganya. Tapi saat mendengar pertemuan ini diadakan untuk membantunya bisa bersama dengan pria itu, membuat Zenith menjadi sangat bersemangat.


"Hai mommy, hai Kak Kana. Maaf aku datang terlambat, jalanannya agak sedikit macet"


"Tidak masalah Zenith. Ayo masuk dan duduk di samping mommy"


"Baik mommy"


Zenith pun dengan patuh mengambil tempat duduk disamping Ratih, yang berhadapan langsung dengan Kana.


"Tujuan aku dan mommy memintamu datang ke sini adalah, yang pertama kami ingin meminta maaf atas segala yang telah terjadi. Aku dan mommy terpaksa mengikuti perintah daddy, untuk membatalkan pernikahanmu dan William, Zenith. Aku harap kamu bisa memaafkan kami"


"Tentu saja aku pasti memaafkan kak Kana dan juga mommy. Bagaimana pun juga, hanya kaliam berdua yang selalu mendukungku untuk bisa dekat dengan William"


"Benarkah? Ya ampun, kamu benar-benar baik hati sekali Zenith! Tidak salah mommy memilihmu, terima kasih sayang" ucap Ratih sambil mengengam tangan Zenith.


"Sama-sama mommy. Lalu, apakah alasan lainnya mommy?" tanya Zenith terlihat tidak sabaran.


"Mommy dan Kana sudah memutuskan untuk membantumu mendapatkan William kembali. Bukan begitu Kana?"


"Benar sekali. Aku dan mommy juga sudah menyiapkan rencana yang sangat sempurna itu mewujudkan hal itu. Rencana yang pasti akan berhasil!"


"Apa rencananya kak? Jangan buat aku jadi penasaran!"


"Aku dan mommy berencana untuk membawa Aliya masuk kembali ke dalam hidup William, untuk menghancurkan rumah tangga Asyifa dan juga William"


"Aliya? Maksud kakak, gadis yatim piatu itu? Tidak, aku tidak setuju!"


"Loh, kenapa sayang?"


"Dibandingkan sama Aliya, Asyifa itu tidak ada apa-apanya, Mommy! Zenith tahu banget, seberapa besar William mencintai gadis itu. Kalau kak Kana dan mommy membawa gadis itu kembali, sama saja dengan Zenith tidak akan punya kesempatan lagi!"


"Itu tidak mungkin terjadi sayang, karna Aliya sudah berkeluarga. Kita membutuhkan dirinya hanya untuk sementara saja, setelah tujuan kita tercapai, dia akan mommy pulangkan kembali pada suaminya. Dan setelah itu, kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang ada disamping William"


"Astaga, kamu tenang saja Zenith. Aliya tidak mungkin bisa menolak apa yang aku dan mommy perintahkan padanya. Karna dia sendiri sangat tahu, apa akibatnya jika tidak patuh"


"Senang mendengarnya. Sungguh wanita yang sangat malang, hahahaha"


Zenith tersenyum jahat setelah mendengar keseluruhan rencana yang telah disiapkan. Ia yakin, kali ini pasti bisa memiliki William seutuhnya.


"Kamu juga pasti berpikir ini adalah rencana yang bagus, bukan?"


"Tentu saja Kak. Jadi, kapan kita akan mulai menjalankan rencananya?"


"Itulah yang menjadi kendala bagi mommy dan juga Kana. Kami tidak bisa menemukan keberadaan Aliya sama sekali, meskipun sudah menyewa orang untuk mencarinya"


"Kalau urusan mencari keberadaan orang, mommy dan kak Kana tidak usah cemas. Aku mempunyai orang kepercayaan yang sangat mahir dalam melakukan hal itu"


"Baguslah kalau begitu! Aku juga sedari awal sudah yakin, kalau kamu pasti bisa mengatasi permasalahan ini. Jadi, butuh berapa lama baginya untuk bisa menemukan Aliya?" tanya Kana penasaran.


"Bagaimana kalau kita beri dia waktu selama sebulan? Yah, walaupun aku yakin dia bisa menemukannya lebih cepat dari itu"


"Kamu memang luar biasa Zenith, mommy percayakan hal ini padamu. Sekarang ayo kita merayakan kerjasama ini dengan bersulang"


Ketiganya pun mengangkat gelas berisi minuman alkohol, kemudian bersulang dan meminumnya hingga habis.


Mereka terlihat sangat bahagia. Karna tinggal beberapa langkah lagi, semua yang mereka inginkan bisa terwujud.


Namun sebuah pesan yang masuk tiba-tiba ke ponsel Ratih, menghancurkan semua kesenangan mereka.


Dengan marah, Ratih membanting benda pipih itu ke lantai hingga terbelah menjadi dua, setelah membaca isi dari pesan tersebut yang dikirimkan oleh William.


Kana dan juga Zenith yang melihat tingkah Ratih, menjadi sangat terkejut. Keduanya saling melempar pandang dengan ekspresi kebingungan.


"Ada apa mommy? Kenapa tiba-tiba mommy menjadi semarah ini?"


"Perempuan sialan itu, perempuan itu akan menghancurkan semua rencana kita!"

__ADS_1


"Apa? Perempuan mana yang dimaksudkan mommy? Katakan pada Kana"


"Perempuan sialan itu sekarang sedang hamil anak William, Kana! Dia sedang hamil, apa yang harus kita lakukan? Mommy tidak ingin mempunyai cucu dari rahim perempuan jelek dan miskin itu! Mommy tidak mau!"


"APA?" seru Zenith terkejut.


"A_syifa ha_hamil? Mommy sedang bercanda kan? Lalu bagaimana sekarang, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi semua ini?" tanya Kana panik.


"Apa wajah mommy terlihat seperti sedang bercanda sekarang? William baru saja mengirimkan pesan yang mengatakan Asyifa hamil, dan juga foto alat tes kehamilan yang bergaris dua di ponsel mommy!"


Ratih yang sangat terkejut, menjadi tidak terkendali dan mulai bergerak dengan gelisah sedangkan Kana, hanya bisa duduk terdiam.


Sebuah ide gila seketika muncul di otak Zenith, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum senang.


"Mommy dan Kak kana, tidak usah panik seperti itu. Zenith punya rencana, supaya kita bisa menyingkirkan anak dalam kandungan Asyifa"


"Maksud kamu?"


"Kita tinggal membuat Asyifa mengalami keguguran saja. Dengan begitu, anak yang ada dalam kandungannya, tidak akan pernah lahir ke dunia dan mengagalkan rencana kita"


"A_apa i_itu mungkin Zenith?" tanya Ratih dengan suara terbata, karna merasa sedikit takut mendengar rencana sang menantu.


"Kenapa tidak? Percaya saja padaku mommy, akan ku pastikan anak itu mati dengan kedua tanganku sendiri. Aku tidak bisa membiarkan hal kecil seperti itu, untuk menghancurkan impianku lagi"


*****


Asyifa berdiri di depan cermin dengan wajah ditekuk karna saking kesalnya. Bagaimana tidak, semua gaun yang ada di dalam lemari pakaiannya, tidak ada satu pun yang muat dengan tubuhnya yang sekarang.


Padahal malam ini adalah malam yang sangat penting bagi Asyifa dan juga William. Karna malam ini, mereka akan mengadakan makan malam bersama dengan keluarga William, serta memberitahu semuanya bahwa Asyifa sedang hamil.


Asyifa marah pada dirinya sendiri karna tidak bisa menjaga mulutnya, untuk tidak memakan semua yang ingin dimakannya.


Dan inilah malapetaka yang paling di takutkan oleh Asyifa, yaitu berat badannya naik dengan cepat dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan belum ada tiga bulannya sejak dirinya diketahui hamil.


"Argghh!" teriak Asyifa sambil membuang diri diatas kasur.


William yang terkejut mendegar teriakan Asyifa, segera berlari keluar dengan wajah cemas dan dagu yang masih dipenuhi oleh krim pencukur.


"Ada apa, sayang? Apa perutmu kram lagi, atau sebagainya?"


"Aku baik-baik saja William!"


"Lalu kenapa kamu teriak kesakitan seperti tadi? Aku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu dan anak kita"


"Lihat disana!" tunjuk Asyifa asal ke arah lemarinya berada.


"Astaga, apa yang sudah terjadi? Kenapa semua pakaianmu ada di bawah lantai, apa kamu yang mengeluarkannya?"


Asyifa bangkit dengan kesal dari tidurnya dan berjalan ke arah tumpukan itu berada. Ia mulai melempar semua pakaian itu ke segala arah.


"Hei, hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa membuangnya seperti itu?"


"Semua pakaian ini tidak ada yang berguna lagi, karna tidak ada satu pun diantara mereka yang muat dengan tubuhku yang sekarang! Aku semakin gendut, William!"


"Yang benar saja sayang, itu pasti hanya perasaanmu saja. Memangnya kamu sudah mencoba semua pakaian itu, tidak kan?" tanya William tak percaya, sambil tertawa pelan.


Namun saat Asyifa tidak menjawab, dan wajah istrinya itu semakin sedih, senyuman William pun perlahan menghilang.


"Aku benci badanku yang sekarang! Yang bisa aku pakai di badanku hanyalah daster, dan pakaian-pakaian kebesaran seperti ini. Bahkan baju kerjaku saja sudah hampir tidak muat lagi!"


"Tapi bagiku, kamu tetap cantik sayang. Aku tidak peduli jika kamu menjadi gendut dan bahkan tidak bisa memakai satu gaun pun. Karna yang aku cintai adalah dirimu, bukan penampilan luarmu"


"Aku tidak butuh kata-kata manis darimu William. Sekali pun kamu berkata seperti itu, tetap saja aku tidak mungkin pergi ke acara malam ini hanya dengan menggunakan daster atau pun pakaian over size! Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang yang melihatnya nanti!"


Asyifa yang semakin rustrasi, memilih untuk menyembunyikan wajahnya ke dalam tumpukan pakaian, dan mulai menangis disana.


William yang mendengar jawaban Asyifa, merasa tertampar oleh fakta yang ada. Kini ia bisa mengerti kenapa semua orang selalu berkata, bahwa menjadi seorang wanita itu jauh lebih berat daripada menjadi seorang pria.


Wanita selalu diharuskan menjadi sempurna dalam segala hal. Ketika mereka tidak bekerja dan harus tinggal untuk mengurus rumah, mereka akan dicap sebagai beban karna bergantung pada gaji suaminya.


Saat mereka bekerja sambil mengurus rumah, mereka akan dicap sebagai wanita yang gila akan uang, karna merasa tidak cukup atas uang yang dihasilkan oleh suaminya.


Dan ketika mereka menjadi seorang istri dan belum juga memiliki anak, hanya mereka yang akan dicemooh mandul. Dan saat hamil, mereka juga diharuskan menjaga penampilan dan bentuk tubuhnya agar tetap terlihat ideal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2