The Ugly Wife

The Ugly Wife
Rencana Zidan


__ADS_3

"Ti_tidak, aku harus pergi memastikannya langsung dengan mataku sendiri" ucap Asyifa disela-sela tangisannya.


"Kamu mau kemana dalam keadaan seperti itu, Asyifa?" cegat Zidan cepat.


"Aku mau pergi ke bandara dan bertemu dengan orang dari perusahaan pesawat itu, aku harus mengetahui keadaan ayah saat ini seperti apa!"


"Kami juga akan ikut pergi denganmu. Ayo Angel, Mira"


Keempat orang itu pun segera turun ke lantai satu dan bergegas menuju parkiran dimana tempat mobil Zidan berada.


Tanpa membuang waktu lagi, Zidan segera mengendarai mobil keluar dari area gedung apertemen mereka dengan kecepatan penuh menuju bandara.


Suasana bandara saat mereka tiba, tampak telah dipenuhi oleh banyak orang dari bagian luar hingga dalam.


Ada yang sedang berlari tergesa-gesa menuju suatu tempat, ada juga yang bertengkar, bahkan ada yang terlihat berjalan pulang dengan wajah berlinang air mata.


Asyifa yang melihat semua itu, seketika kaki dan tubuhnya terasa tak bertenaga. Asyifa takut jika harus membayangkan ekspresi apa yang akan menghampiri dirinya.


Apalagi ketika tangis dan kemarahan semakin jelas terdengar, saat langkah keempatnya semakin dekat dengan lokasi yang disiapkan pihak bandara, bagi mereka yang ingin mencari tahu status anggota keluarganya saat ini.


"Asyifa? Ada apa, kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" tanya Angel cemas.


"A_aku takut Ngel. Ba_bagaimana, bagaimana kalau ayah adalah salah satu korban yang tidak selamat? Aku takut untuk mendengar apa pun itu beritanya, bagaimana ini?"


"Apa kamu mau aku saja yang menanyakan hal ini pada pihak perusahaan pesawatnya? Kamu bisa menunggu disini bersama dengan Angel dan juga Mira"


"Tidak. Aku harus mendengarnya langsung dengan telingaku sendiri"


"Baiklah. Kalau begitu, tenangkan dirimu terlebih dulu. Kita bisa menjadi yang terakhir juga tidak masalah"


Mendengar usul Zidan, Asyifa hanya bisa mengangguk patuh. Apa pun kabarnya, Asyifa harus bisa menerimanya dengan lapang dada karna itulah yang diajarkan oleh sang ayah sejak dirinya kecil.


"Pak Zidan, bapak ada disini juga? Apa yang bapak lakukan disini, apa ada keluarga pak Zidan yang menaiki pesawat yang baru saja mengalami kecelakaan?" sapa seorang pria yang tampaknya mengenali Zidan.


"Ah, iya"


"Apa yang bapak lakukan disini, apa ada anggota keluarga pak Zidan yang juga menaiki pesawat yang baru saja mengalami kecelakaan?"


"Iya, ayah dari pacarku yang menaiki pesawat itu. Kalau kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan disini?"


"Aku adalah salah satu orang yang diutus dari perusahaan pesawat, untuk memberikan informasi mengenai status penumpang saat ini, kepada anggota keluarga mereka"


"Aku baru ingat sekarang, kalau kamu juga yang pernah menjadi perwakilan perusahaan itu, saat pertama kali muncul"


"Benar pak. Kalau pak Zidan mau, aku bisa membantu untuk mengecekkan status ayah dari pacar bapak saat ini"


"Aku coba tanya dulu yah"


"Baik pak"


Bukan mulut Zidan yang kini bertanya pada Asyifa, namun tatapan pria itu sudah bisa mewakili niatnya itu, karna Asyifa juga telah mendengar sendiri percakapan keduanya.


Entah apa yang ada dipikiran Zidan dan juga Asyifa, namun tatapan mereka semakin lama bertautan, seolah mereka sedang berbicara pada satu sama lain melalui telepati.


Hingga akhirnya tatapan itu berakhir, dan Asyifa pun menarik nafasnya dalam-dalam, ingin membuka mulutnya untuk memberikan jawaban.


"Mohon bantuannya, pak" putus Asyifa, sambil meminta dengan sopan kepada pria dari pihak perusahaan pesawat itu.


"Baik bu, akan aku bantu. Mohon untuk pak Zidan dan yang lainnya menunggu sebentar"


Pria itu pun hilang ditelan kerumunan orang, berjalan kembalj ke ruang tempatnya bekerja. Asyifa pun kembali terduduk lemas, dengan penantian yang terasa sangat lama.


"Fa, jangan menangis terus. Aku yakin kalau ayahmu pasti baik-baik saja saat ini"


"Benar apa yang dikatakan Angel. Jauh lebih baik jika kita berdoa untuk keselamatan ayahmu, hatimu juga pasti akan menjadi tenang"


"Pikiranku kacau Ra, Ngel. Aku masih belum bisa tenang, kalau belum mendengar kabar bahwa ayah selamat dalam kecelakaan itu"


"Baiklah, kami mengerti. Tapi setidaknya kamu harus berhenti menangis Asyifa, kamu bisa jatuh pingsan. Apalagi kamu belum sempat makan siang sejak tadi"


"Aku mohon berhentilah menyuruhku harus begini dan begitu, Angel! Apa jika ayahmu lah yang menjadi penumpang pesawat itu, kamu masih bisa bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa pun?!" marah Asyifa.

__ADS_1


Angel dan Mira pun seketika menjadi sadar setelah mendengar amarah Asyifa. Merasa sudah melakukan kesalahan, keduanya hanya bisa terdiam.


Zidan yang melihat emosi Asyifa menjadi tidak stabil, segera menghampiri wanita itu dan memeluknya, untuk mencoba membuat dirinya tenang.


Asyifa yang perlahan mulai tenang, tiba-tiba perasaannya kembali menjadi gelisah saat melihat pria itu sedang berjalan kembali ke arah mereka.


"Ba_bagaimana pak? Ayahku baik-baik saja kan, dia ada di rumah sakit mana sekarang? Aku ingin segera pergi menemuinya"


"Ayah ibu, ayah ibu saat ini menjadi salah satu penumpang yang masih belum bisa ditemukan keberadaannya oleh pihak pencari, dan masih berstatus orang hilang"


Hancur, hati Asyifa dan seluruh jiwa wanita iti hancur dalam sekejap saat mendengar berita yang disampaikan padanya.


Tubuhnya luruh jatuh ke lantai, tatapannya jauh lurus ke depan, namun menerawang tak tentu arah pandangnya.


Ingin rasanya ia berteriak sekencang yang ia bisa, namun bibirnya terasa keluh dan kaku untuk berucap, meskipun hanya sepatah kata.


Hanya air mata yang terus mengalir di kedua pipinya tanpa suara, yang menjadi tanda seberapa kesakitan dirinya saat ini. Betapa ia membenci takdir yang terus-menerus menguci kesabarannya sebagai seorang manusia biasa.


Senyum dan suara sang ayah yang penuh dengan ketulusan dan kasih sayang, kembali tergiang dalam ingatan Asyifa, membuatnya ikut tersenyum seperti orang gila.


Kini sosok ayahnya terlihat melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya. Asyifa pun segera bangkit berdiri untuk menyambut pria itu, namun keseimbangannya hilang dan ia pun jatuh tak sadarkan diri.


"Asyifa, Asyifa bangun Fa!"


"Asyifa, plis jangan pingsan seperti ini. Kamu harus kuat Asyifa, aku yakin ayahmu sedang baik-baik saja disana"


"Bu, tolong sadar bu. Kami dari pihak yang bertanggung jawab, akan berusaha sebisa kami untuk menemukan ayah, ibu"


"Asyifa, Asyifa!"


Meski mata Asyifa telah tertutup sepenuhnya, namun telinganya masih bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan cemas yang sedang mengelilingi dirinya.


*****


Dinding kamar dengan nuansa biru laut yang terasa familiar menyambutnya, saat Asyifa membua kedua matanya. Sebuah rasa sakit diatas punggung tangannya, membuat wanita itu melirik ke samping sekilas.


Ternyata dirinya kini sedang dipasangi selang infus, dan sedang berada dalam kamarnya sendiri. Disamping Asyifa juga terlihat sosok Zidan yang sedang tertidur dalam posisi duduk.


"Ummm, kamu sudah sadarkan diri, Fa? Maaf, aku tanpa sadar jatuh tertidur" ucap Zidan yang ikut terbangun.


"Untuk apa memasang alat seperti ini segala ke tubuhku? Tidak akan ada gunanya!"


"A_apa yang akan kamu lakukan, Asyifa?" tanya Zidan cemas, saat melihat Asyifa mulai melepas satu persatu penahan selang infus ditangannya.


"Tentu saja melepaskan benda ini"


"Tapi kamu belum kuat betul Asyifa. Infusnya bahkan belum terpasang sehari penuh, kamu setidaknya perlu dua hari diinfus agar sehat betul, kata dokter"


"Aku tidak membutuhkan semua ini Zidan. Yang aku butuhkan sekarang, adalah mencari dimana keberadaan ayahku, dan mengetahui seperti apa keadaannya saat ini"


"Aku tahu. Tapi setidaknya kamu harus sehat dulu, tidak mungkin kamu bisa mencari om dengan keadaanmu yang lemah seperti sekarang ini"


"Tapi bagaimana kalau aku terlambat, dan pencariannya telah dihentikan?" tanya Asyifa putus asa.


Zidan yang bisa mengerti akan semua kesedihan Asyifa, dengan perlahan membelai wajah wanita itu dengan lembut. Kemudian tangannya berpindah menggenggam kedua tangan milik Asyifa.


Seolah ia sedang mencoba untuk memulai pembicaraan dari hati ke hati, dengan sosok Asyifa yang terlihat sangat rapuh dan hampir kehilangan semua kekuatannya.


"Aku tahu kamu sedih, aku tahu kamu cemas, aku tahu kamu putus asa, dan aku sangat tahu kalau dirimu yang paling hancur saat ini. Tapi bukan berarti kamu bisa membiarkan fisikmu juga ikut hancur bersama dengan perasaanmu, Asyifa. Bukan hal seperti ini yang diinginkan oleh ayahmu, dia pasti ingin kamu tetap bisa berdiri tegar dengan kedua kakimu, meskipun badai yang sangat besar sedang menghampiri dirimu"


"Tapi jika itu yang diinginkannya, kenapa dia tidak ada disini untuk mengatakannya langsung kepadaku dengan mulutnya sendiri! Dan kamu bukan lah ayahku Zidan, jadi berhenti bersikap seolah kamu adalah dia!"


"Aku memang bukan ayahmu, tapi aku adalah orang yanh diberi kepercayaan oleh beliau untuk selalu menjagamu. Jika aku berdiam diri dan membiarkanmu pergi dengan tubuh yang tak sehat untuk mencarinya, bagaimana aku akan mempertenggung jawabkan semua janji yang telah aku ucapkan padanya?"


"Aku tidak peduli tentang semua itu. Yang aku tahu, aku harus pergi sekarang juga untuk mencari ayah, dan kamu tidak punya hak untuk menahanku!"


Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Asyifa berusaha turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar.


Diluar, pandangannya bertemu dengan sosok Angel dan juga Mira, yang ternyata sudah ada disana sedari tadi, karna mendengar suara perdebatan antara Asyifa dan Zidan.


"Kenapa? Apa kalian berdua juga berniat untuk menahan diriku pergi, sama seperti apa yang ingn dilakukan oleh Zidan?"

__ADS_1


"Kami bukannya tidak ingin kamu pergi Fa, tapi apa yang dikatakan oleh Zidan adalah yang terbaik untuk dirimu" ujar Angel dengan hati-hati.


"Ini tubuhku, aku lah yang lebih tahu seperti apa kondisiku, dan juga apa yang terbaik untuk diriku sendiri! Jika kalian masih tetap menahanku, maka aku tidak akan lagi menganggap kalian berdua sebagai sahabat, dan aku juga akan pindah dari apertemen ini!"


"Baiklah, kami tida akan menahanmu lagi. Kamu boleh pergi kemana pun yang kamu inginkan" ucap Mira tanpa terduga, malah menyetujui keinginan Asyifa.


"Mira! Apa yang kamu pikirkan sampai bisa menyetujui keinginan Asyifa? Bagaimana jika saat berada diluar sana, ia malah kembali jatuh pingsan, atau bertemu dengan orang jahat? Apa kamu mau kalau hal itu sampai terjadi padanya?"


"Lalu aku harus bagaimana? Sekeras apa pun kita menahannya, dia juga akan sekeras itu meneriaki niatnya untuk pergi!"


"Tapi____"


"Diamlah Angel, tidak usah menahannya lagi. Kamu ingin pergi kan? Silakan pergi, kami tidak akan menahan dirimu lagi, tapi jangan menyesal jika sesuatu yang buruk nanti menimpa dirimu! Apa kamu tahu kenapa hidupmu penuh dengan penderitaan? Itu karna dirimu sendiri yang tidak pernah bisa mendengar masukan orang lain!"


"Mira, cukup Ra"


"Jangan hentikan aku, biarkan aku berbicara supaya otaknya bisa terbuka! Tidak masalah William, tidak juga masalah ibumu, kamu tidak pernah mau mendengar perkataanku dan Angel. Kamu selalu merasa dirimu bisa memutuskan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, dan apa yang kamu dapat? Cuman penderitaan!"


"Asyifa, jangan kamu dengar dan masukan ke hati semua perkataan Mira. Dia berbicara seperti itu, karna dirinya tidak sadar, dan lagi sedang dikuasai oleh amarah"


"Aku sadar saat mengatakan semua ini, aku sangat sadar! Bahkan saat masalah dengan Safira juga kamu seperti ini, berlagak dirimu bisa sendiri, tapi ujung-ujungnya malah menyusahkan semua orang. Apa tidak bisa sekali saja kamu mengikuti kata orang lain, supaya tidak membuat yang lain kesusahan?"


"Tidak bisa, dan aku tidak mau mendengar perintahmu! Jika kamu merasa bersahabat denganku, menyusahkan dirimu, maka kamu bisa berhenti menjadikanku sahabatmu. Aku tidak keberatan sama sekali!"


"Oh, jadi kamu mau begitu?"


"Iya!"


"Baiklah. Mulai sekarang aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku bukan sahabatmu dan kamu juga bukan sahabatku! Apa kamu puas?"


"Sangat puas. Terima kasih, aku pergi!"


Dengan dipenuhi oleh amarah dan perasaan kesal, Asyifa menyambar kasar tasnya yang diletakkan oleh Angel di meja ruang tamu, saat dirinya pingsan, dan bergegas ke arah pintu.


Ketika baru saja ia hendak memutar gagang pintu, dengan cepat Zidan berlari keluar dari kamar dan dengan tangannya menahan niat wanita itu.


"Jangan pergi"


"Apa lagi sekarang? Apa kamu tidak dengar ucapan teman wanitamu itu, yang bilang kalau diriku hanya akan menyusahkan kalian saja dengan berada di sekitar kalian? Jadi untuk apa kamu masih menahan diriku?"


"Aku tidak keberatan disusahkan olehmu, itu lah mengapa aku menahanmu"


"Hah, terserah apa katamu"


"Setidaknya aku mohon dengarkan apa yang ingin aku katakan padamu, lalu kamu bisa memutuskan apa akan tetap pergi atau tetap tinggal disini"


Mendengar perkataan Zidan, Asyifa nampak berpikir sejenak. Namun karna mengingat jasa pria itu yang sudah banyak membantu dirinya, Asyifa pun setuju.


"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan, sebelum aku berubah pikiran"


"Kita semua akan pergi bersama-sama untuk mencari ayahmu"


"Benarkah?"


"Zidan! Asyifa masih belum sehat!"


"Aku tahu Ngel. Dan semua yanh aku katakan barusan adalah benar, tapi waktunya bukan sekarang. Kita akan pergi saat dirimu sudah sehat, aku yang akan menyiapkan segala keperluan dan juga mencari orang untuk membantu pencarian kita"


"Apa maksudmu? Apa kamu ingin ayahku lebih lama berada diluar sana, yang entah ada dimana?"


"Tidak Asyifa. Selama kamu beristirahat, tim yang aku siapkan akan mulai mencari dan aku sendiri juga akan ikut dalam pencarian itu. Ada kemajuan apa pun, akan langsung aku laporkan padamu"


"Ka_kamu yang pergi mencari ayahku?"


"Iya, kamu percaya kan padaku? Aku janji baru akan menghentikan pencarian setelah om ditemukan. Dan jika kamu suda sehat, kamu boleh ikut mencari juga. Bagaimana?"


"Aku mau. Terima kasih banyak Zidan, aku benar-benar berterima kasih padamu" ucap Asyifa, berhambur ke pelukan pria itu.


"Sama-sama Asyifa"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2