The Ugly Wife

The Ugly Wife
Kehidupan masing-masing


__ADS_3

Hari-hari Asyifa kembali berjalan seperti biasa tanpa adanya masalah yang muncul, membuat gadis itu kembali ceria.


Wajah William sesekali terlintas di pikirannya, dan rasa sakit itu juga ada kalanya sering menyerangnya tanpa bisa dicegah.


Namun Asyifa berusaha untuk mengabaikan semua itu, dan fokus pada apa yang sedang dijalaninya saat ini.


Sosok Mira dan juga Angel yang selalu ada, membuatnya semakin mudah melalui semua itu tanpa harus bersusah payah.


"Aku rasa, kita harus mengambil waktu untuk berlibur ke tempat yang menyenangkan. Aku merasa sangat bosan dengan kehidupan yang menonton seperti ini!" gerutu Mira tak bersemangat, sambil merobek-robek tisu yang ada ditangannya.


"Mana bisa liburan, kita kan punya jadwal yang sangat padat terkait pekerjaan yang sangat kita cintai. Bukan begitu ibu sekretaris Asyifa?"


"Sebenarnya kita bisa saja mendapatkan liburan seperti yang kalian berdua inginkan. Tapi mengingat sifat bos kita, sepertinya itu tidak mungkin akan terjadi"


"Memangnya ada apa?" tanya Mira tetap penasaran, meskipun Asyifa mengatakan itu tidak mungkin terjadi.


"Apa kalian lupa, kalau tiga hari lagi adalah hari ulang tahun perusahaan kita?"


"Benar juga! Tapi tidak mungkin pak Zidan mau membuang waktunya sia-sia hanya untuk memberikan liburan untuk kita" ucap Angel frustrasi.


"Pak Zidan, kami ingin liburan! Berikan kami liburan, liburan, liburan! Apa kita harus melakukan demo seperti ini terhadap pak Zidan?" tanya Mira sambil mempraktekannya dengan suara keras.


Ding.. Dong..


Tiba-tiba bel berbunyi membuat ketiga gadis itu terdiam kaku dan saling berpandangan dengan tatapan ngeri.


"Jangan bilang itu pak Zidan? Kamu sih Mira, kenapa juga pakai acara teriak-teriak segala!"


"Maaf Asyifa, aku lupa kalau pak Zidan tinggal di apartemen sebelah"


Angel dan Asyifa hanya bisa menghela nafas pasrah tanpa bisa memarahi sahabat mereka yang ceroboh itu.


Bel pintu kembali berbunyi lagi, membuat Asyifa terpaksa beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang datang.


"Permisi mbak, saya mengantarkan pesanan pizza dan minumannya" ucap seorang kurir pria setelah Asyifa membukakan pintu.


"Maaf, atas nama siapa yang memesan yah mas? Soalnya saya tidak melakukan pesanan pizza sama sekali, mungkin dua sahabat saya yang memesan"


"Atas nama Mira, mbak"


"Oh iya, itu nama sahabat saya. Biar saya saja yang bayar, bisakan pakai kartu mas?"


"Bisa mbak, silakan"


Setelah membayarnya, Asyifa pun menerima pesanan yang diberikan kurir dan segera membawanya masuk.


"Ini pesanannya tuan putri yang pelupa!" ucap Asyifa sambil meletakkan semua itu dihadapan Mira.


"Astaga, aku lupa kalau memesan makanan. Apa yang datang barusan bukan pak Zidan, melainkan kurir pesan antar?"


"Iya. Sudah ku bayar juga, jadi tenang saja dan makan dengan santai"


"Kamu itu benar-benar pelupa yah, dasar!" tutur Angel gemas.


Disisi lain, Zidan yang juga turut mendengar pembicaraan ketiga gadis itu, sedang sibuk mencari-cari tempat yang bagus untuk dijadikan tempat berlibur.


Raka dan Adam yang melihat wajah serius Zidan, seketika menjadi penasaran. Mereka mencoba untuk mengintip ke dalam layar ponsel sahabatnya itu.


"Apa yang sedang kamu lihat sampai serius seperti itu?" tanya Raka penasaran.


"Astaga, aku lupa kalau ada kalian berdua disini!" ucap Zidan sambil menepuk pelan dahinya sendiri.


"Kami sudah tidak heran lagi, bukan begitu Raka? Jangankan kehadiran kami berdua, bahkan jika ada malaikat yang lewat saja, mungkin tidak akan terlihat olehmu" ucap Adam mengeluh tentang kebiasaan sahabatnya itu.


"Aku minta maaf, oke? Tapi sekarang, aku sangat butuh bantuan kalian berdua"


"Memangnya apa yang bisa kami lakukan untukmu yang bisa melakukan segalanya seorang diri?"


"Tolong bantu aku mencari tempat yang bagus untuk dijadikan tempat berlibur" pinta Zidan kepada Adam dan juga Raka.


Mendengar permintaan tidak biasa Zidan, membuat Adam dan Raka saling melempar tatapan heran.


"Tempat berlibur? Siapa yang ingin berlibur, tidak mungkin kamu yang ingin berlibur kan?" tanya Adam tak percaya.


"Lebih tepatnya untuk semua karyawan di perusahaanku berlibur. Sebentar lagi kan ulang tahun perusahaan, jadi aku ingin merayakannya"


"Tumben banget kamu ingin merayakannya bahkan sampai repot-repot seperti ini. Biasa juga kamu melewatkannya seperti hari-hari lain tanpa perayaan apa pun"


"Aku hanya ingin melakukannya berbeda kali ini Raka, anggap saja sebagai bonus dariku karna semua karyawan sudah bekerja keras selama ini"


"Apa bukan karena kamu ingin memberikan liburan menyenangkan untuk sekretarismu yang bernama Asyifa itu?"


"Apa maksudnya itu Raka, apa Zidan sedang menyukai seorang gadis?" tanya Adam penasaran.


Zidan menatap Raka penasaran, bagaimana bisa Raka mengira dirinya melakukan semua itu untuk Asyifa?.


"Jangan menatapku seperti itu. Belum lama ini, Kinara sempat curhat denganku tentang kedekatanmu dengan Asyifa yang tidak biasa. Jadi aku hanya asal menebaknya, kalau kamu menyukai gadis itu"


"Untuk apa kamu masih berhubungan dengan wanita seperti Kinara? Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali pada Zidan?" tanya Adam terlihat kesal.


"Aku juga ingin hubunganku dengannya bisa berakhir seperti hubungan kalian berdua dengannya. Tapi masalahnya dia adalah sahabatku dari kecil, aku tidak mungkin bisa mengabaikannya begitu saja"


Zidan mengerti akan posisi Raka yang serba salah berdiri ditengah masalah hubungannya dengan Kinara. Itulah sebabnya, Zidan tidak mungkin memaksa Raka untuk memutuskan hubungan persahabatannya dengan Kinara.


Dari Raka jugalah Zidan mengenal dan bisa menjalin hubungan dengan Kinara, meskipun ia harus memaksa Raka dengan susah payah untuk membantunya.


Karna entah mengapa, Raka tidak setuju jika Zidan harus menyukai Kinara. Dan alasan itu akhirnya Zidan ketahui dengan sendirinya, saat ia sudah memantapkan hatinya untuk melamar gadis itu.


"Berhenti membicarakan wanita itu, aku tidak ingin mendengar namanya lagi. Pokoknya, aku minta tolong pada kalian berdua untuk membantuku. Apa kalian bisa?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa" jawab Adam dan Raka bersamaan.


"Kalau begitu, aku serahkan urusan ini pada kalian. Nanti kirimkan saja foto dan detail alamat tempatnya ke ponselku"


"Tapi sebelumnya, kamu ingin tempat berlibur seperti apa? Di pantai atau semacamnya?" tanya Adam memastikan.


"Pantai, kedengarannya menyenangkan. Tapi kalau bisa yang dekat dengan hotel, karna kami pasti butuh tempat untuk tidur"


"Tenang saja, aku tahu beberapa tempat yang sesuai seperti keinginanmu!"


Setelah itu, Adam dan Raka mulai sibuk mengumpulkan foto beberapa tempat dari ponsel keduanya.


Tak lama kemudian, setelah foto dirasa cukup untuk dikumpulkan, ketiganya mulai berdiskusi tempat mana yang akan mereka pilih.


*****


"MIRA! ANGEL! Cepat ke sini, cepat!" teriak Asyifa histeris.


Masih dengan berbalut handuk dan badan yang setelah kering, Asyifa keluar dari kamar untuk mencari sosok kedua sahabatnya itu.


"Ada apa sih Asyifa, masih pagi sudah heboh sendiri?" tanya Mira yang nampaknya baru saja terbangun dari tidurnya.


"Astaga, kamu baru bangun Mira? Kamu juga baru selesai mandi Asyifa? Kalian berdua ngapain saja, padahal sudah dibangunkan sedari tadi!" gerutu Angel yang sudah berpakaian rapi, dan tengah duduk menikmati sarapannya di ruang tamu.


"Aduh, ini kan baru jam 7 pagi. Waktu kita masih banyak sebelum jam masuk kerja, aku juga bukan gadis yang membutuhkan waktu lama untuk bersiap"


"Bukan saatnya untuk membahas semua itu, karna ada hal yang lebih mengejutkan yang menanti kita!" ucap Asyifa kesal sambil menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Mira dan juga Angel.


Kedua gadis itu segera membaca tulisan yang ternyata adalah pesan yang dikirimkan oleh bos mereka.


"Ini bukan mimpi kan, Fa? Ini benaran pak Zidan akan merayakan ulang tahun perusahaan? Berarti kita akan mengadakan pesta dong!"


"Awalnya aku juga sama sepertimu Ra, mengira pak Zidan akan mengadakan pesta di perusahaan. Tapi setelah mengecek email yang dikirim pak Zidan, ternyata kita akan merayakannya dengan berlibur ke pantai dan menginap di hotel mewah selama 3 hari 3 malam!"


"APA??" tanya Mira dan Angel bersamaan, terkejut mendengar penjelasan Asyifa.


"Lihat ini kalau kalian tidak percaya!"


Asyifa memperlihatkan beberapa foto dari tempat yang akan menjadi tujuan mereka nantinya.


Beberapa foto pantai yang indah dengan pasir putih bersih menghiasinya, dan foto hotel mewah lengkap dengan keterangan fasilitas yang akan mereka nikmati, terpampang jelas disana.


"Astaga, akhirnya kita akan liburan juga! Terima kasih banyak pak Zidan, Asyifa sangat menyanyangimu !" ucap Angel sambil melakukan tarian gembira.


"Kok aku sih yang disebut? Kan kalian juga bersyukur dapat liburan dari pak Zidan!"


"Masalahnya pak Zidan hanya mau kamu Fa, bukan aku atau pun Angel!"


"Maksudnya apa sih? Kalian berdua jangan bicara yang aneh-aneh deh!" ucap Asyifa sambil berjalan masuk kembali ke kamarnya.


Setelah kepergian Asyifa, Angel dan juga Mira saling berpandangan. "Kamu juga sudah tahu kalau pak Zidan menyukai Asyifa, Ra?"


"Berarti hanya Asyifa saja yang tidak peka! Dasar kurang pengalaman sahabatmu itu, keduanya pun tertawa terbahak-bahak.


"Sudah, berhenti tertawa. Sana cepat siap-siap, nanti kita bisa terlambat benaran pergi kerjanya"


"Siap bos"


Disisi lain, di sebuah butik mewah tempat berbagai model gaun pengantin indah dijual, tampak lah William dengan wajah suramnya sedang duduk disalah satu kursi yang ada di ruang tunggu.


Sedang dikursi lain, tampak Ratih bersama seorang wanita paruh baya lainnya sedang asyik berbincang.


"Apa kalian semua sudah siap untuk melihat calon mempelai wanita kita dengan gaun indahnya?" tanya Kana sambil memegang tirai dihadapannya.


"Jangan bercanda lagi Kana, cepat buka tirainya. Kami semua tidak sabar untuk melihat Zenith dalam balutan gaun pengantin"


"Astaga, baiklah mom. Ini dia calon mempelai wanita kita!"


Saat Kana membuka tirai sepenuhnya, tampaklah Zenith yang begitu mempesona dengan gaun pengantin yang sangat indah.


Semua orang disana termaksud para pekerja yang bekerja di butik itu, memuji betapa cantiknya Zenith. Namun tidak begitu dengan William, ia hanya sekilas melihat ke arah Zenith dan mulai fokus pada layar ponselnya.


Zenith yang kesal melihat hal itu, segera berjalan turun dan menghampiri William.


"Bagaimana penampilanku sayang, apa aku terlihat cantik? Apa kamu menyukai gaun pengantin yang aku kenakan?" tanya Zenith sambil melakukan gerakan memutar.


"Apa pun yang kamu pakai, pasti akan bagus karna wajahmu memang sempurna" jawab William, mau tidak mau harus melihat ke arah Zenith.


"Kamu bisa saja sayang, aku kan jadi malu. Baiklah, karna kamu menyukainya, aku akan memakai gaun ini di pesta pernikahan kita"


"Pilihan yang bagus putriku, bunda juga setuju dengan ucapan William. Kamu terlihat sempurna!" ucap wanita disamping Ratih, yang ternyata adalah ibu dari Zenith.


"Terima kasih bunda" ucap Zenith kemudian kembali ke balik tirai untuk melepaskan gaunnya.


"Dimana saya harus membayar gaun itu?" tanya William pada salah satu pekerja disana.


Mendengar pertanyaan William, seorang wanita anggun yang adalah pemilik butik segera menghampirinya dengan wajah penuh senyuman.


"Mari ikut saya tuan, akan saya bantu untuk menyelesaikan pembayarannya"


William kemudian hanya bisa mengikutinya ke arah meja kasir.


*****


"Ternyata kamu masih disini. Aku dari tadi menghubungimu, kenapa tidak diangkat?" tanya Angel melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Asyifa.


Ia meletakkan sebuah kotak makanan di hadapan sahabatnya.


"Aku dan Mira terpaksa makan siang duluan tadi, karna kamu tidak kunjung datang ke kantin. Ini aku sengaja bawakan makan siang untukmu"

__ADS_1


"Terima kasih Angel. Maaf aku tidak bisa makan siang bersama kalian, karena harus mempersiapkan banyak hal untuk acara perusahaan kita nanti"


"Apa ada yang bisa ku bantu? Mungkin karena akan ada acara, jadi pekerjaanku jadi sedikit berkurang hari ini"


"Kamu sungguh ingin membantu? Kalau kamu tidak keberatan, apa kamu bisa mencetak daftar hadir untuk semua karyawan perusahaan kita dan meletakkannya dalam satu map?" tanya Asyifa dengan wajah penuh harap.


"Tentu saja bisa, itu pekerjaan gampang. Lalu, kamu akan melakukan apa?"


"Aku tinggal menghubungi hotel dan juga tempat berlibur untuk memesan tempat. Kemudian aku juga harus mencari beberapa bus sebagai kendaraan kita kesana"


Setelah itu, keduanya mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Akhirnya selesai juga. Apa kamu sudah selesai juga Ngel?"


"Sudah, Fa. Ini map yang berisikan daftar hadir para karyawan, aku sudah mengecek ulang dan tidak ada satu pun yang tertingal"


"Terima kasih banyak Angel"


"Sama-sama. Oh iya, karma pekerjaanmu sudah selesai, sebaiknya kamu makan siang dulu. Aku akan menemanimu" ucap Angel mengingatkan.


Saat Asyifa telah selesai menikmati makan siangnya ditemani oleh Angel, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.


"Masuk" pinta Asyifa pada orang yang mengetuk. Setelah pintu terbuka, tampaklah Kinara disana.


"Halo Asyifa, kamu sedang ada tamu yah? Maaf mengganggu tiba-tiba" ucap Kinara meminta maaf saat melihat kehadiran Angel.


"Tidak apa-apa bu Kinara, dia ini adalah teman saya. Dia juga salah satu karyawan disini, namanya Angel. Angel perkenalkan, ini ibu Kinara, keluarganya pak Zidan"


"Halo bu Kinara"


"Halo juga Angel"


"Apa ada yang bisa saya bantu bu Kinara? Ibu datang untuk bertemu dengan pak Zidan?"


"Iya Asyifa. Aku ingin mengantarkan makan siang untuk Zidan, tapi saat ke ruangannya dia tidak ada disana"


"Apa bu Kinara sudah coba menghubungi ponsel pak Zidan?"


"Aku rasa dia tidak akan mau mengangkat telepon dariku, kamu sendiri juga lihat kan bagaimana sikapnya padaku?"


"Kalau begitu, apa mau saya bantu hubungi pak Zidan?"


"Kalau kamu tidak keberatan"


"Silakan duduk dulu bu Kinara, biar saya hubungi pak Zidannya"


"Terima kasih, Asyifa"


Setelah menemukan nomor dengan nama Zidan diponselnya, Asyifa langsung menekan tombol panggil.


"Halo pak Zidan, bapak sedang dimana? Ada ibu Kinara datang, ingin bertemu dengan bapak. Saya akan menyuruhnya menunggu diruangan bapak" jelas Asyifa cepat kemudian mematikan sambungan telepon.


Angel dan juga Kinara yang melihat hal itu, menatap Asyifa dengan tatapan terkejut. Mereka tidak menyangka Asyifa ternyata bisa seberani itu terhadap atasannya yang galak.


Semua itu karena Asyifa memang sedang dalam keadaan kesal pada Zidan, yang selalu memberikan banyak tugas padanya, bahkan pada hari sebelum mereka pergi berlibur bersama.


Jadi Asyifa sengaja menunjukkan rasa kesannya itu secara terang-terangan sebagai tanda protes.


"Mari bu, saya temani ke ruangan pak Zidan. Pak Zidan juga akan segera menuju kesana"


Kinara kemudian mengikut langkah Asyifa ke ruangan Zidan. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pria itu muncul juga.


"Ada apa lagi kamu datang kesini? Ini bukan rumahmu, jadi kamu bisa datang sesuka hatimu Kinara!" marah Zidan tanpa sedikit pun basa-basi.


"Jangan marah-marah seperti itu Zidan, masih ada Asyifa disini. Kamu mungkin bisa membuatnya takut"


"Maaf, saya akan memberikan kalian waktu untuk berbicara berdua" ucap Asyifa seketika menjadi sadar, tidak seharusnya ia tetap berada disana. Baru saja ia ingin melangkah pergi dari sana, namun dihentikan oleh Zidan.


Pria itu memegang tangan Asyifa sebagai tanda agar ia tetap berada dekat dengan dirinya.


"Asyifa tidak pernah takut sedikit pun padaku, jadi kamu tidak usah mengkhawatirkannya. Jelaskan saja, apa tujuanmu kali ini datang perusahaanku!"


Kinara yang melihat hal itu menatap ke arah tangan kedua orang dihadapannya dengan pandangan tak suka. Namun Zidan tidak memperdulikannya sama sekali.


"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang kesukaanmu, Zidan. Kamu pasti belum makan siang, bukan?" ucap Kinara sambil menyodorkan sebuah tas bekal ke arah Zidan.


"Untuk apa repot-repot mengantarkan makan siang untukku, lebih baik kamu membawa makanan itu untuk suamimu"


"Ayahmu pasti akan memakannya juga di rumah. Aku sengaja memasak dalam porsi banyak, karna memang ingin membawakannya untukmu juga"


"Tidak perlu, aku akan meminta Asyifa untuk memesankan makan siang untukku. Bawa kembali saja makananmu itu!"


Mendengar ucapan Zidan, membuat Kinara sangat sedih dan juga malu. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun.


"Pak Zidan jangan seperti itu! Bu Kinara kan sudah jauh-jauh membawakannya ke sini, apa bapak tidak bisa menerimanya?" marah Asyifa sambil melepaskan tangan Zidan dari tangannya.


"Tidak apa-apa Asyifa. Aku lah yang salah, sudah seenaknya datang tanpa persetujuan dari Zidan"


"Baguslah kalau kamu tahu diri!"


"Sebaiknya aku pulang sekarang. Sampai jumpa lagi Asyifa" pamit Kinara tanpa melihat wajah Zidan lagi, segera pergi dari sana.


Baru saja tangannya memegang gagang pintu, suara Zidan kembali terdengar.


"Jangan pernah datang dan muncul lagi dihadapanku Kinara. Tolong jalani kehidupan kita masing-masing tanpa perlu menemui satu sama lain"


Zidan mengatakannya dengan nada yang sulit dijelaskan. Tidak ada nada kebencian disana, hanya ada nada penuh permohonan tulus dan juga kesedihan mendalam.


Membuat Kinara yang mendengarnya tak henti meneteskan air mata dan segera berlalu dari sana secepat kakinya melangkah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2