
William menemukan Asyifa yang berdiam diri di balik tembok dekat halaman dengan ekpresi yang sulit ia mengerti.
"Sayang, ada apa? Kenapa berdiam diri disini?"
"Ah, kamu sudah selesai telponnya?"
Asyifa yang mendengar suara William dari arah belakang tubuhnya, seketika panik dan tidak tau harus menjawab apa. Asyifa hanya bisa mengalihkan topik ke hal lain.
"Iyah, baru saja selesai. Tadi sekretarisku di perusahaan yang menelpon, untuk membahas soal rapat kami dengan klien besok"
"Oh, begitu"
"Kamu sengaja menungguku disini yah, supaya bisa kembali bersama?"
Seperti di berikan jawaban oleh William, Asyifa hanya bisa mengiyakan perkataan pria itu dengan terpaksa.
"Aku cuman merasa kurang nyaman untuk berbaur bersama keluargamu tanpa dirimu juga, jadi aku menunggu disini"
"Sayang, kamu harus menjadi lebih berani lagi untuk mendekatkan diri dengan keluargaku. Meskipun Kana terlihat seperti tidak menyukaimu, tapi masih ada momy dan juga kak Haykal yang berpihak padamu"
"Tidak ada satu pun dari keluargamu yang menyukai diriku, Will. Tapi aku tidak mungkin mengatakan hal itu padamu, karna hanya akan membuat hubungan kalian menjadi rusak" ucap Asyifa dalam hatinya sambil menatap sedih wajah kekasihnya itu.
"Sayang? Kamu dengar kan apa yang aku katakan barusan?"
"Iya sayang, aku dengar dan sangat mengerti. Aku pasti akan berusaha, oke?"
"Baru kali ini kamu memanggil ku dengan panggilan sayang. Aku suka mendengarnya, thank you dear"
William menarik tubuh Asyifa dan mengecup dahi gadis itu lembut "Ayo kita kembali sekarang, bersama-sama"
Asyifa seolah mendapatkan kekuatan melalui sikap William. Dalam hatinya, ia ingin berusaha untuk mendapatkan hati keluarga William seperti yang pria itu katakan.
Ratih yang melihat sosok William dan Asyifa muncul, melemparkan senyum jahat ke arah Haykal dan juga Kana.
Itu adalah isyarat bahwa mereka akan menjalankan rencana selanjutnya, untuk membuat Asyifa menyerah menjadi kekasih William.
"Kalian sudah kembali?"
"Iya mom. Maaf, kalau kami membuat kalian menunggu lama"
"Ya ampun, tidak apa-apa sayang. Ayo duduk kembali, ada yang mau momy sampaikan"
William dan Asyifa kembali duduk di kursi masing-masing "Memangnya, apa yang mau momy sampaikan kepada aku dan Asyifa?"
"Akan ada satu orang lagi, yang akan segera datang dan bergabung bersama kita disini untuk menyambut Asyifa!"
"Siapa mom?"
__ADS_1
"Orang itu adalah daddymu William"
"Apa daddy akan pulang hari ini, mom?"
"Iya sayang. Sekarang daddymu sedang dalam perjalanan pulang ke sini, mungkin sebentar lagi akan sampai"
Tiba-tiba dari arah luar rumah, terdengar suara klakson mobil yang di bunyikan secara berulang-ulang kali.
Hal itu membuat semua orang yang ada disana tersenyum senang. Kecuali Asyifa seorang, yang tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi.
Asyifa menatap William untuk meminta jawaban "Yang membunyikan klakson adalah daddyku. Dari dulu, itu adalah ciri khasnya untuk menyampaikan kedatangannya pada orang rumah"
Melihat sosok pria yang baru saja datang dan akan bergabung bersama mereka, William dan juga Haykal segera bangkit berdiri dan memeluknya.
"Selamat datang di rumah, daddy. Kami sangat merindukanmu" ucap keduanya bersamaan.
Setelah kedua kakak beradik itu, Kana juga ikut melakukan hal yang sama.
Kemudiam tiba lah saatnya giliran Ratih. Wanita itu maju dan memeluk serta memberikan kecupan mesra pada kedua pipi sang suami.
"Selamat datang sayang, kami semua sangat merindukanmu"
Rizal tersenyum bahagia saat mendapat sambutan hangat dari keluarganya.
"Terima kasih semuanya. Tapi, ada acara apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul disini, biasanya kalian hanya akan menyambutku tanpa menyiapkan pesta kecil seperti ini"
"Oh ini, maaf karna tidak memberitahukan hal ini lebih dulu padamu sayang. Sebenarnya, semua ini kami persiapkan untuk menyambut pacar William yang datang berkunjung"
"Benar sayang. Asyifa, kemarilah sayang, ayo perkenalkan dirimu pada daddy"
Asyifa yang sedari tadi hanya berdiri diam, dengan perasaan ragu dan hati-hati, mengikuti perintah Ratih untuk maju.
"Nah, ini pacarnya William daddy, namanya Asyifa. Asyifa, kenalkan ini daddynya William, namanya daddy Rizal"
Asyifa mengulurkan tanggannya untuk menyalimi Rizal "Halo om, perkenalkan nama saya Asyifa"
Rizal memandangi gadis di depannya dengan saksama sambil ikut mengulurkan tangannya untuk menyambut Asyifa.
"Gimana sayang, cantik kan anaknya? Anak kita beruntung banget kan, dapatin pacar seperti Asyifa"
"Cantik? Perasaan daddy, dari semua cewe yang pernah dekat sama William, baru ini yang paling jelek. Penampilannya juga sederhana sekali"
Asyifa yang mendengar perkataan itu, tak berani mengangkat kembali mukanya setelah menyalami Rizal karna malu.
Hatinya benar-benar hancur mendapat perlakuan seperti itu. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga, namun dengan sekuat tenaga ditahannya.
"Daddy, kenapa cara bicaranya seperti itu tentang pacar William?"
__ADS_1
"Loh, dimana salahnya? Daddy hanya berkata secara jujur sesuai dengan apa yang daddy lihat selama ini, itu saja!"
Sejujurnya, apa yang dikatakan Rizal adalah murni kebenaran. Dirinya memang memiliki kebiasaan untuk mengatakan segala sesuatu sesuai dengan kenyataannya, bukan maksud untuk melukai perasaan Asyifa.
Itu lah mengapa Ratih sangat ingin Asyifa bertemu muka dengan sang suami. Karna dengan sifat Rizal yang seperti itu, justru akan sangat membantu rencananya dalam menyingkirkan Asyifa dari William.
William melihat tubuh Asyifa bergetar menahan tangis hanya bisa membawanya pergi dari sana.
"Maaf, sepertinya kami tidak bisa berada disini lebih lama lagi. Ayo Asyifa, kita pergi!"
*****
William menatap sosok Asyifa yang wajah dan tubuh bagian atas gadis itu tertutup selimut tebal miliknya, dengan tatapan sedih dan perasaan bersalah.
"Sayang, berhenti lah menangis. Aku sedih melihatmu seperti ini, aku minta maaf karna kamu harus mengalami hal yang membuat perasaanmu terluka"
Asyifa enggan menjawab ucapan William. Hanya suara tangisannya yang terus terdengar dari balik selimut.
Dengan perlahan, William membuka selimut yang menutupi tubuh pacarnya itu dan memeluknya erat.
"Aku mencintaimu Asyifa, tidak peduli apa kata orang-orang sekalipun tentang dirimu! Jadi ku mohon, berhentilah menangis dan jangan pikirkan semua itu"
Mendengar kata-kata William, bukan membuat Asyifa tenang namun menjadi marah dan mendorong kuat tubuh pria itu menjauh.
"Orang-orang itu adalah keluargamu William! Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Mereka tidak menyukaiku William, bagaimana bisa aku menutup mata dan pura-pura tidak tahu akan semua itu?"
Melihat Asyifa yang mulai marah, membuat ekpresi William semakin sedih.
"Daddy bukannya tidak menyukaimu Asyifa, hanya saja sifat daddy membuatnya bebicara secara terbuka tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Dia pasti akan menyukaimu jika kalian saling mengenal lebih jauh"
"Lalu bagaimana dengan yang lain?"
"Yang lain menyukaimu Asyifa. Hanya Kana yang tidak menyukaimu, momy dan kak Haykal tidak sama seperti dia"
"Apa kamu yakin yang lain juga menerimaku? Apa kamu yakin momy dan juga kak Haykal menerima diriku?"
"Apa maksudmu? Tentu saja sayang! Bukannya kamu juga melihat sendiri, bagaimana hangatnya perlakuan mereka kepadamu? Jadi kamu tidak usah khawatir lagi, oke?"
Asyifa memandangi wajah William dengan tatapan tak berdaya. Ingin sekali ia teriak dihadapan pria itu, dan mengatakan bahwa tak ada satu pun keluarganya yang menerima Asyifa.
"Aku mau pulang!"
"Asyifa, aku mohon jangan seperti ini"
"Aku lelah William. Aku mau pulang, ku mohon!"
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang. Kita bicarakan ini lagi besok, oke?"
__ADS_1
Asyifa menutup kedua matanya untuk menghindar menjawab pertanyaan William. Melihat hal itu, William hanya bisa menghela nafas perlahan dan mulai menghidupkan mobilnya.
Bersambung....