
Eden memandang takjub ke depan sebuah bangunan besar dan juga megah, yang oleh Asyifa, dikatakan sebagai tempat dimana para anak panti yang dikanlnya kini tinggal.
Entah sudah berapa lama pria itu duduk memantung diatas kursi rodanya tanpa mau bergerak sedikit pun dari sana.
Bahkan saat Zidan bersikeras untuk segera mendorong kursi rodanya masuk ke dalam bagunan panti itu, Eden memohon untuk memberinya waktu sedikit lagi.
"Apa benar, bangunan ini kamu belikan untuk para anak panti yang ku kenal tinggal? Kamu tidak bohong kan kak?" tanya Eden, masih dengan tatapan takjub.
Zidan hanya bisa memutar kedua matanya malas, karna ini sudah ke sepuluh kalinya Eden menanyakan pertanyaan yang sama padanya, sampai Zidan menjadi bosan.
"Eden, mau sampai kapan kamu akan terus mengulang pertanyaan yang sama? Aku kan sudah menjawabnya dengan jelas, kalau ini memang bangunan yang ku belikan untuk para anak panti tinggal. Karna sekarang, aku lah yang akan bertanggung jawab atas mereka semua menggantikan posisi ibumu"
"Aku tahu kamu sudah mengulang jawaban yang sama untuk ku dengar, kak. Tapi entah mengapa, aku masih saja tidak percaya. Ini bahkan terlalu besar untuk belasan anak panti tinggali"
"Siapa bilang hanya belasan anak panti? Aku berniat untuk mencari anak-anak lain yang hidup terlantar di jalanan, dan membawanya kesini untuk dirawat sebaik mungkin. Dan kalau punya rejeki lebih, aku bahkan berniat untuk membangun panti-panti lainnya"
"Wah! Aku tidak menyangka sama sekali, kalau di zaman sekarang ini, masih ada orang kaya yang memiliki hati sebaik kakak. Apalah dayaku yang tidak memiliki apa-apa, jangan kan untuk membangun panti, membiayai perawatanku sendiri saja tidak bisa. Tapi ada satu yang bisa aku lakukan untuk kakak, aku akan bantu mendoakan semoga apa yang sudah kakak rencanakan, bisa berjalan lancar. Bagus kan?"
"Apanya yang bagus! Aku memang sangat membutuhkan doa dari banyak orang, tapi aku juga membutuhkan bantuanmu!"
"Ba_bantuanku? Apa maksdunya kak? Aku yang sekarang duduk diatas kursi roda dan sebentar lagj akan dipenjara, memangnya bisa memberikan bantuan apa untuk kakak?" tanya Eden bingung.
"Aku tidak meminta bantuannya sekarang, tapi nanti setelah kamu suda kembali pulih seperti sedia kala, dan juga bebas dari masa hukumanmu"
"Ah, kalau begitu, aku pasti bisa melakukan apa saja untuk kakak. Tapi, apa kakak bisa memberitahuku secara lebih pastinya, bantuan apa yang bisa ku berikan? Aku hanya sedikit merasa penasaran"
"Rahasia. Sudah, ayo kita masuk. Kalau kamu masih tidak ingin masuk, aku akan dengan senang hati meninggalkanmu sendirian di luar sini. Ayo Asyifa" ajak Zidan menarik tangan Asyifa masuk ke dalam bangunan panti.
Untungnya, Eden tidak benar-benar ditinggal seorang diri disana, melainkan bersama dengan seorang perawat yang memang telah diberi tugas oleh Zidan untuk merawat Eden, selama pria itu masih belum pulih.
Eden yang kesal, hanya bisa mengerutu pelan dengan bibir dimayunkan ke depan. Perawat yang melihat tingkah Eden, mau tidak mau harus tertawa karna merasa lucu.
"Astaga! Aku sampai lupa kalau ada anda juga dibakang, maafkan aku sus" ucap Eden, sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa pak Eden, anda tidak perlu meminta maaf segala pada saya. Apa saya sudah diperbolehkan untuk mendorong kursi roda pak Eden ke dalam bangunan panti sekarang?"
"Ah iya, boleh sus"
Dengan hati-hati, perawat itu mendorong kursi roda Eden masuk ke dalam bangunan panti. Tapi ketika melihat banyaknya lorong dan juga ruangan yang ada disana, seketika Eden dan suster itu menjadi bingung harus pergi kemana.
Apalagi, sosok Zidan dan juga Asyifa sudah tak terlihat lagi. Disaat sedang kebingungan, datang lah seorang pria yang sepertinya adalah petugas kebersihan, menghampiri Eden dan juga perawat tersebut.
Setelah bertanya, ternyata dia diutus oleh Zidan untuk menunjukkan jalan yang harus diambil untuk menuju ke tempat semua orang sedang berkumpul sekarang.
Dengan patuh, Eden dan perawat itu segera mengikuti langkah pria tersebut ke arah halaman tengah bangunan tersebut.
Dan betapa terkejutnya Eden, saat melihat semua anak panti kini tengah berkumpul ditengah halaman itu untuk menyambut kedatangan Eden dengan nyanyian gembira.
Bahkan beberapa meter diatas kepala mereka semua, ada sebuah spanduk besar berwarna putih yang bertuliskan: "selamat datang di rumah baru kak Eden".
Seketika itu juga, air mata Eden mengalir turun tanpa bisa dicegah olenya. Perlahan, bersamaan dengan lagu nyanyian yang hampir mencapai akhirnya, suara tangis Eden pun kian membesar. Membuat semua anak panti pun ikut meneteskan air mata bersama dengannya.
"Selamat datang di rumah baru kita kak Eden, dan selamat karna telah keluar dari rumah sakit. Semoga kak Eden cepat pulih kembali, dan bisa bermain bersama kita lagi" ucap Rora sedih.
"Mulai sekarang, kita semua yang akan gantian merawat kak Eden, sama seperti kak Eden dulu merawat kita" timpal Nana, sama terlihat sedihnya.
__ADS_1
"Selamat datang kak Eden!" teriak semuanya secara serempak, hingga suara mereka penuh terdengar diseluruh penjuru bangunan panti itu.
"Terima kasih. Terima kasih banyak atas semua ucapan dan doanya. Terima kasih, kalian semua benar-benar adalah malaikat yang hidup di dunia. Padahal aku___, padahal ibuku sudah___, hah! Aku tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang, aku sangat malu sekali menatap wajah kalian" jawab Eden, disela-sela tangisnya.
Tak tega melihat sosok Eden yang seperti kesulitan bernafas karna tangisnya, Nana pun memberikan isyarat pada teman-temannya untuk mendekat ke arah Eden terlebih dulu dan memeluk pria itu penuh kasih sayang.
"Kak Eden tidak salah, jadi kak Eden tidak perlu merasa malu terhadap kami semua. Sekali pun kak Eden memang benar bersalah, tapi setidaknya kak Eden sudah menyesali kesalahan itu, dan siap untuk menerima hukuman yang diberikan pada kakak" hibur Nana.
"Iya, kak Eden tidak bersalah" timpal anak lain.
"Benar. Kak Eden tidak salah, kami bangga pada kakak, karna sudah berani melawan ibu panti sampai harus terluka seperti ini"
"Kak Eden tidak perlu sedih lagi, karna kita semua adalah satu keluarga. Kak Zidan juga sudah berjanji, akan membantu meringankan hukuman kak Eden. Iyakan kak Zidan?"
"Iya Rora, kakak akan berusaha semampu kakak, supaya kak Eden kalian tidak terlalu berada lama disana"
"Terima kasih kak Zidan"
"Sama-sama sayang"
Melihat suasana yang dipenuhi dengan air mata dan perasaan sedih serta kerinduan yang meluap-luap, Asyifa mau tidak mau harus merasa haru.
Apalagi melihat Rora yang kini sedang memeluk tubuh Zidan erat, membuat Asyifa seolah sedang melihat masa depan keluarga yang akan dibangunnya bersama Zidan nanti.
"Astaga, kenapa wajah kita semua dipenuhi dengan air mata? Padahal sekarang kan kita sedang merayakan kembalinya kak Eden kalian, harusnya kita bersenang-senang dan bukannya menangis" protes Asyifa, sambil menghapus air matanya sendiri.
"Benar yang dikatakan Asyifa, kita harus bersenang-senang sekarang. Ayo keluarkan semua makanannya, dan putar lagu-lagu yang bernada gembira!" pinta Zidan.
*****
Asyifa dan Zidan bersama dengan beberapa pekerja yang bekerja disana, membantu untuk mengantarkan mereka satu persatu kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur untuk tidur.
Ketika keduanya kembali lagi ke tempat acara, sudah ada beberapa orang yang terlihat sedang membersihkan disana. Namun yang anehnya, sosok Eden beserta perawatnya tidak ada.
Bahkan setelah Eden menyuruh orang untuk mengelilingi bagunan pantu demi mencari keberadaan keduanya, hasilnya tetap nihil. Mereka tidak dapat ditemukan dimana pun.
"Ada apa ini Zidan, kenapa tiba-tiba mereka berdua menghilang begitu saja?" tanya Asyifa, mau tidak mau menjadi sedikit panik.
"Tenang lah Asyifa, aku akan mencoba untuk memghubungi nomor perawatnya. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, oke?"
"Baiklah, cepat hubungi dia"
Zidan pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Saat dihidupkan, layar ponsel pria itu menampilkan adanya empat panggilan tak terjawab yang berasal dari Adam.
Merasa lebih penting untuk menghubungi sang perawat, Zidan dengan pasti malah mengabaikan riwayat telpon dari Adam dan mencoba untuk menghubingi perawat Eden.
Namun meski sudah beberapa kali dihubungi, tidak ada satu pun dari telpon Zidan yang mendapat jawaban oleh perawat terdebut, sehingga membuat Zidan merasa sedikit kesal.
Jalan yang tersisa yang bisa diambil oleh pria itu, hanyalah menghubungi Adam untuk mencari tahu apakah ada cara lain supaya bisa terhubung dengan perawat Eden.
"Halo Zidan, dari mana saja kamu? Apa kamu sedang sibuk, aku sedari tadi mencoba untuk menghubungi karna ada___"
"Kita bicarakan apa yang ingin kamu bahas denganku nanti saja, karna ada yang jauh lebih penting dari itu sekarang!" potong Zidan cepat.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Inti ceritanya adalah, setelah kami selesai berpesta untuk merayakan kembalinya Eden dengan para anak panti, tiba-tiba Eden malah menghilang bersama dengan perawat yang kamu rekomendasikan untuk merawat Eden"
"Sebentar, aku tidak mengerti maksudmu. Eden sekarang hilang, dengan perawat yang aku carikan untuk merawatnya?" tanya Adam, dengan nada bingung.
"Iya, apa lagi yang tidak kamu mengerti dari ucapanku yang sudah sangat jelas itu! Dan aku menghubungimu, karna ingin bertanya apakah ada cara lain untuk menghubunginya, karna sedari tadi aku menelpon nomornya, tidak diangkat sama sekali"
"Zidan, aku rasa ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi disini. Tapi aku juga ingin kamu untuk tetap bersikap tenang bersama Asyifa, jika mendengar apa yang akan aku katakan setelah ini"
"Kesalahpahaman? Apa maksudnya, Adam? Aku tidak mengerti sama sekali, yang aku mengerti adalah Eden menghilang sekarang dalam keadaan belum benar-benar pulih, dan kita harus secepatnya menemukannya!" ucap Zidan mulai terlihat kesal.
"Aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi wanita yang menghilang bersama Eden, karna dia bukanlah perawat yang aku carikan!"
"Apa? Apa maksudmu dengan bukan dia perawat yang kamu carikan untuk merawat Eden? Dia bahkan tahu siapa namamu saat berkenalan denganku dan Asyifa"
"Demi tuhan, dia bukanlah perawat yang aku carikan untjk merawat Eden Zidan. Karna perawat yang seharusnya datanh merawat Eden hari ini, sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit akibat kecelakaan"
Deg!
Jantung Zidan seketika berhenti berdetak untuk sesaat, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Adam.
Firasat buruk bahwa akan adanya kejadian lain yang sedang mengancam keselamatan nyawa Eden, pun menghampir diri Zidan.
Entah mengapa, Asyifa yang berdiri didekat Zidan juga bisa langsung memahami hal tersebut saat melihat ekspresi wajah Zidan yang terlihat berubah pucat.
"A_ada apa Zidan? Semunya baik-baik saja bukan, Adam pasti akan menghubungi wanita yang menjadi perawat Eden kan?"
Adam yang bisa mendengar pertanyaan cemas yang berasal dari Asyifa, namun tidak mendengar adanya jawaban dari Zidan, tahu bahwa dirinya harus ikut turun tangan juga dalam masalah tersebut.
"Zidan, dengarkan aku. Cobalah untuk mulai menjelaskan situasi sebenarnya pada Asyifa secara perlahan, dan aku juga akan segera menuju kesana sekarang"
"Cepatlah Adam. Kalau tidak, aku mungkin akan menggila saat berhasil menemukan wanita itu!" jawab Zidan sadis, dan menutup sambungan telepon begitu saja.
Setelah selesai berbicara dengan Adam di telepon, Zidan pun mengikuti perintah pria itu untuk mulai menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi pada Eden saat ini.
Seketika itu juga, tubuh Asyifa jatuh terduduk lemas diatas tanah dengan ekspresi terkejut bukan main. Wanita itu tidak habis pikir, kalau ternyata masih ada orang jahat disekitarnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Zidan? Kita harus segera menemukan Eden, sebelum wanita itu melakukan hal jahat padanya! Aku tidak ingin melihat tubuh Eden harus kembali ke dalam keadaan antara hidup dan mati lagi seperti sebelumnya!"
"Aku tahu Asyifa, aku juga tidak ingin hal itu terjadi lagi pada Eden, sama sepertimu. Tapi kita juga jangan sampai bertindak gegabah, apalagi melihat wanita itu sampai berani membuat perawat sebenarnya harus berada di rumah sakit sekarang, berarti dia sudah merencakan semua tindakannya dengan sangat baik"
"Jadi maksudmu, kita sebaiknya menelpon polisi untuk melaporkan kasus ini, dan membiarkan mereka yang bertindak sedang kita hanya diam saja? Begitu? Tidak! Aku tidak mau Zidan, jika kamu ingin menunggu sampai polisi datang, silakan tunggu sendiri! Aku mau mulai mencari Eden!" putus Asyifa tegas, dan juga terlihat marah.
Melihat sosok tunangannya yang menjauh, mau tidak mau Zidan juga harus mengikuti kemana Asyifa pergi, karna tidak ingin ada hal buruk yang ikut menimpa wanita itu.
Tapi bahkan sampai memeriksa setiap sudut yang adalah di seluruh bagunan itu, Asyifa mau pun Zidan tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan Eden maupun wanita yang mengaku sebagai perawatnya.
Dengan putus asa, Asyifa mulai kembali menangis sambil menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh kekar Zidan. Wanita itu tidak tahu lagi harus mencari kemana dan harus berbuat apa supaya bisa menemukan Eden.
Zidan yang tidak ingin salah bicara lagi dan malah membuat suasana hati Asyifa menjadi lebih kacau, hanya bisa terdiam sambil tanpa henti mengusap punggung wanita itu lembut.
"Aku takut Zidan. Aku sangat takut kalau sampai sesuatu yang buruk kembali terjadi pada Eden, aku mohon tolong temukan dia secepatnya" pinta Asyifa disela tangisnya.
"Pasti, pasti kita akan segera menemukannya sayang. Aku juga berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal pada wanita itu, kalau sampai dia melakukan sesuatu pada Eden" sumpah Zidan, mengertakkan giginya penuh amarah.
Bersambung...
__ADS_1