The Ugly Wife

The Ugly Wife
Permintaan Zidan


__ADS_3

Zidan masuk ke dalam apertemen miliknya dengan ekspresi wajah kesal. Tanpa melihat keadaan disekitarnya lagi, pria itu langsung saja menghempaskan tubuhnya ke atas salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


Adam dan Raka yang ternyata masih berada di dalam apertemen tersebut, sontak saja langsung memandang heran ke arah sosok sahabat mereka itu.


Sambil menduga-duga apa yang sudah terjadi pada Zidan, Raka dan Adam mulai terlihat asyik berbisik dengan suara ribut yang makin membuat Zidan kesal.


"Apa-apaan sih kalian? Kenapa kalian yang tadi diam-diam saja, malah menjadi sangat ribut dan juga mengganggu konsentrasi orang lain?!" ucap Zidan tak tahan lagi.


"Kok jadi kami berdua yang salah sih? Kalau bukan karna kamu yang barusan masuk dengan ekspresi wajah kesal seperti tadi, aku dan Adam juga tidak akan meributkannya"


"Benar kata Raka, aku juga turut melihat eskpresi wajahmu yang kesal. Memangnya, ada sesuatu yang telah terjadi yah selama kamu dalam perjalanan mengantarkan Kinara pulang k rumahnya?"


"Astaga! Atau jangan-jangan, kamu malah baru habis bertengkat hebat dengan Kinara? Kali ini apa lagi alasanya kamu sampai bisa bertengkar dengannya?" tanya Raka heboh, mencoba menebak yang telah terjadi.


"Apa itu benar Zidan? Apa dia mengatakan atau melakukan suatu tindakan yang sudah melewati batas kesabaranmu lagi?" timpal Adam, ikut penasaran.


"Hufhhh! Masih baik kalau dia bertingkah seperti yang kalian berdua katakan barusan, tapi sayangnya dia malah tidak melakukan satu pun perbuatan yang membuatku menjadi kesal padanya"


"Lalu kalau bukan karna Kinara yang telah membuatmu kesal, siapa lagi pelakunya? Apa ada orang menyebalkan lainnya yang kamu temui?" tanya Raka mulai tak sabaran.


"Tidak ada. Tidak ada orang menyebalkan yanh sudah aku temui sepanjang perjalanan tadi, tapi aku menemukan orang tersebut saat sampai di rumah Kinara"


"Siapa? Memangnya siapa yang bisa kamu temui di rumah tersebut, selain Kinara dan juga ayahmu? Tapi karna ayahmu sedang ada di luar negeri, maka selain Kinara berarti tidak ada orang lain lagi yang bisa kamu temui. Jadi siapa yang sedang kamu maksudkan?"


"Ayahku, Raka. Orang menyebalkan yang aku temui dan membuat perasaanku menjadi sekesal ini, adalah ayahku sendiri yang pada kenyataannya sudah kembali dari perjalanan bisnisnya" jawab Zidan dingin.


Mendengar jawaban Zidan, Raka dan Adam mulai saling melemparkan pandangan heran. Meskipun Zidan memang tak menyukai sang ayah yang telah merebut kekasihnya, tapi dia tak pernah sekali pun mengatakan ayahnya sebagai seseorang yang menyebalkan.


Tapi melihat perubahan Zidan yang secara terang-terangan memberikan geler tersebut pada Marcel, berarti apa yang telah dilakukan oleh pria tua itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai hal sepele.


Tapi apa? Kalau hanya karna cemburu melihat Zidan mengantar Kinara pulang, biasanya kan yang akan menjadi target kekesalan Zidan ialah Kinara, dan bukannya Marcel.


"Memangnya, apa yang sudah om Marcel perbuat padamu Zidan? Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk tentang bunda Lilian atau bahkan menaruh perasaan cemburu padamu yang terlihat sedang bersama Kinara?"


"Aku tidak tahu apa harus mengatakan semua dugaan buruk tentang ayah yang ada di dalam kepalaku ini kepada kalian berdua. Tapi yang pasti aku merasa pribadi ayah yang dulu aku kenal, mulai sangat berubah"


"Hah? Memangnga kenapa dengan pribadi om Marcel, bukannya dia adalah orang tua yang hangat dan juga pengertian? Meskipun perna mengambil Kinara darimu, tapi om kan selalu meminta maaf setiap kali bertemu denganmu. Memangnya apa yang berubah dari semua itu?" tanya Adam.


"Sekali lagi aku benar-benar tidak tahu apa mengataka dugaanku ini pada kalian berdua adalah yang terbaik, karna aku takut nantinya malah tidak dipercayai oleh kalian"


"Ya ampun. Tolong jangan berbelit-belit dan langsung saja katakan pada kami apa yang sebenarnya sudah terjadi!" paksa Raka kesal.


"Aku merasa kalau sepertinya ayahku telah melakukam tindak kekerasan dalam rumah tangga kepada Kinara"


"Apa?!" tanya Raka dan Adam bersamaan terlihat sangat terkejut.


"Hahaha, hahaha. Kamu pastinya sedang bercanda kan, ayahmu mana mungkin bisa setega itu pada Kinara yang adalah istri muda kesayangannya. Aku sendiri juga tahu seperti apa dia memanjakan Kinara bak seorang ratu" ucap Raka tak percaya.


"Benar kata Raka. Aku juga tidak pernah sekali pun melihat om Marcel marah atau pun melakukan kekekeran fisik sekecil apa pun pada Kinara. Bagaimana bisa kamu berpikir ayahmu melakukan semua itu?"


"Karna sudah dua kali aku tanpa sengaja telah menemukan tanda-tanda kekerasan tersebut. Dan tadi, adalah kali pertama aku melihat secara langsung ayahku dengan berani telah melakukan kekerasan kepada Kinara"


"Wah! Entah mau diceritakan bagaimana pun juga olehmu, aku masih tidak bisa percaya kalau om Marcel bisa setega itu. Memangnya kekerasan apa yang sudah dilakukannya pada Kinara tadi?" tanya Adam ingin tahu.


"Dia menamparnya dengan keras, hingga tubuh Kinata sampai harus jatuh terduduk di atas tanah halaman rumah mereka. Bukan itu saja, dia bahkan menatap wajah istrinya dengan ekspresi mengerikan"


Raka dan Adam yang masih tak bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zidan, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedari awal, ayah sahabatnya itu memang tak pernah bisa terduga perbuatannya.


Seorang kepala keluarga yang terlihat sangat mencintai istri dan juga anaknya, tiba-tiba saja kedapatan selingkuh dengan pacar dari anaknya sendiri.

__ADS_1


Lalu sekarang, Marcel yang diketahui tak pernah melakukan kekerasan rumah tangga bahkan saat dirinya masih berstatus sebagai suami Lilian, secara tak terduga mengalami kecurigaan dari sang anak bahwa dirinya tengah melakukan hal tersebut.


"Om Marcel benar-benar tak pernah terduga yah kelakuannya. Dulu aku bahkan tidak yakin sama sekali kalau om bisa berselingkuh dari bunda Lilian, meskipun sudah melihatnya secara langsung. Sekarang om ternyata juga melakukan kekerasan rumah tangga yang bahkan tidak pernah dilakukannya sekali pun saat masih berstatus suami bunda Lilian"


"Raka! Astaga, apa yang sudah kamu katakan barusan di depan Zidan! Apa kamu tidak bisa memikirkan perasaannya sedikit, bagaimana pun kan om Marcel itu adalah ayahnya" protes Adam yang kesal mendengar ucapan jujur yang dikatakan Raka.


"Kamu tidak perlu memarahi Raka, Adam. Karna apa yang dikatakan oleh Raka barusan, sepenuhnya adalah fakta yang sebenarnya. Lagian, aku juga ingin meminta bantuan dari kalian berdua terkait masalah ayahku itu"


"Bantuan? Memangnya bantuan apa yang kamu butuhkan dariku dan juga Raka, jangan bilang kalau kamu ingin menyuruhku dan Raka untuk mengawasi om Marcel?"


"Benar sekali. Itulah yang aku harapkan dari kalian berdua, kalian bisa melakukannya bukan?" tanya Zidan penuh harap.


"Sebelum mengiyakan permintaanmu itu, aku lebih dulu ingin mendengar cerita tentang bagaimana kamu tanpa sengaja menemukan bekas kekerasan om Marcel pada Kinara. Apa kamu bisa menceritakannya pada kami, siapa tahu hal itu bisa menjadi langkah awalku dan Raka untuk membuktikan kecurigaanmu"


"Tentu saja"


Setelah berkata seperti itu, mulut Zidan pun mulai menuturkan kata demi kata untuk bisa menceritaka semua kejadian saat dirinya mendapati bekas kekerasan tersebut.


Berawal dari Zidan yang tak sengaja melihat sosok ayahnya dan Kinara sedang berada di rumah sakit, dengan keadaan Kinara yang harus memakai sebuah kursi roda, serta mengunjungi dokter.


Berlanjut kepada makan malam keluarga yang dihadiri ayahnya dan juga Kinara, serta dirinya dan sang bunda, Zidan bersama Lilian tak sengaja melihat bekas lebam pada wajah Kinara seperti habis dipukuli oleh seseorang.


"Mereka bahkan sampai pernah mengunjungi seorang dokter di rumah sakit yah. Aku rasa, dokter tersebut bisa menjadi langkah awalku dan Raka. Apa kamu tahu siapa nama dari dokter tersebut?"


"Aku tahu siapa namanya dan juga profesi dokternya sebagai apa. Karna kebertulan, dia adalah salah seorang teman baik dari ayahku yang juga dekat denganku"


"Kakau begitu, dari pada aku dan Adam yang mendatanginya untuk mengorek informasi tentang apa yang terjadi pada Kinara waktu itu, kenapa tidak kamu saja yang melakukan rencana itu? Kamu kan dekat dengannya, apa tidak bisa meminta langsung padanya?" usul Raka percaya diri.


"Apa kamu pikir aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu katakan barusan? Aku sudah melakukannya Raka, tapi sama sekali tidak berhasil. Itulah sebabnya aku meminta bantuan dari kalian berdua, karna mungkin saja kalian bisa berhasul melakukannya"


"Kalau cara halus yang kamu lakukan tidak berhasil, maka kami berdua terpaksa harus bertindak dengan cara yang sedikit kotor bukan?" tanya Adam memastikan.


"Yah, bisa dibilang seperti itu. Tapi kalau saja kalian sampai ketahuan, kalian bisa memberi namaku sebagai orang yang telah menyuruh kalian kok. Aku pasti akan langsung datang untuk membereskan masalahnya. Kalian bisa kan melakukannya?"


"Aku juga" timpal Raka ikutan.


"Terima kasih guys. Aku pasti tidak akan pernah melupakan kebaikan yang telah kalian berdua lakukan padaku selama ini. Semoga kalian berhasil!" sambut Zidan senang.


*****


DI APERTEMEN SEBELAH YANG DIHUNI OLEH ASYIFA, ANGEL, DAN JUGA MIRA:


Asyifa yang baru saja selesai mendapatkan semburan amarah dari kedua sahabatnya karna sudah menyembunyikan fakta penting bahwa hubungan pertunangannya dengan Zidan telah berakhir, hanya bisa terduduk lemas diatas kasur miliknya.


Sedangkan Mira dan Angek yang memilih duduk di kasur lain yang diletakkan begitu saja dilantai, masih terus menatap tajam wajah Asyifa tanpa berkedip.


"Astaga, mau sampai kapan sih kalian berdua akan terus menatap wajahku dengan tatapan psikopat itu? Aku kan sudah meminta maaf berulang kali tadi, apa kalian berdua tidak bisa menerima permintaan maafku?" tanya Asyifa cemberut.


"Hah! Kami pasti akan menerima permintaan maafmu itu Asyifa, tapi bagaimana bisa aku dan Mira menghilangkan perasaan kesal yang ada dalam hati kami begitu saja?"


"Benar kata Angel! Aku menjadi semakin kesal saja setelah mengingat bagaimana cara kami mengetahui hal itu dari Zidan. Apalagi ditambah dengan kehadiran Kinara yang tak tahu bagaimana malah bisa berada disana bersama Zidan, membuat marah saja!"


Angel yang sedari awal sudah memberikan larangan keras kepada Mira untuk jangan sampai membahas tentang kehadiran Kinara, langsung menyenggol kasar tangan gadis itu dengan tatapan kesal.


Mira yang seolah baru tersadar akan apa yang dikatakannya setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Angel, dengan secara spontan langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tanggannya.


"Kenapa Mira? Kenapa kamu tiba-tiba saja menutup mulutmu dengan ekspresi kaget seperti melihat hantu? Ah, jangan bilang karna kamu baru saja membahas tentang Kinara yah?"


"Ma_maaf Asyifa. Meskipun semarah apa pun aku, dan sekali pun kamu yang memutuskan hubungan itu, tapi mendengar berita Kinara ada bersama Zidan, pastilah bagimu tetap bukan berita baik kan?"

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa kamu berpikiran seaneh itu sih Ra? Aku baik-baik saja kok, lagian aku juga sudah melihat lebih dulu Zidan yang sedang bersama Kinara. Aku kan yang lebih dulu keluar dari apartemen kita dibandingkan dengan kalian berdua" jawab Asyifa, mencoba tersenyum kecil.


"Ah, benar juga. Tapi tetap saja, aku tidak seharusnya membahas perihal kehadiran Kinara padamu. Itu kan bukan sesuatu yang baik untuk dibahas, maafkan aku Asyifa"


"Bohong sih kalau aku bilang tidak merasakan apa pun saat melihat Zidan sedang bersama dengan Kinara, yang katanya sangat dibenci olehnya. Tapi mau bagaimana lagi, itu kan hak Zidan ingin dekat dengan siapa pun. Aku juga tidak bisa melarangnya karna sudah bukan seseorang yang memiliki hubungan spesial dengannya"


Mendengar jawaban Asyifa yang memang ada benarnya, tapi dengan eskpresi wanita itu yang kelihatan dangat sedih, membuat Mira dan juga Angel memandangi sahabat mereka dengan tatapan prihatin.


Mira dan Angel tidak tahu harus mengatakan apa untuk bisa menghibur Asyifa yang tengah bersedih, karna kesalahannya ada pada diri Asyifa yabg seenaknya memutuskan sebuah hubungan yang telah susah payah dibagun oleh Zidan.


Tapi tidak mungkin mereka tega menyalahkan Asyifa secara terang-terangan, karna wanita itu pasti akan semakin sedih. Padahal saat putus dari Zidan dan beberapa hari setelah itu, Asyifa masih terlihat biasa saja dan juga mampu mengonntrol suasana hatinya.


Namun mungkin karna hari ini melihat pemandangan yang lain dari Zidan, membuat suasana hati Asyifa menjadi hancur lebur seketika itu juga.


"Sabar Asyifa. Aku yakin kalau kamu memang berjodoh dengan Zidan, pasti akan kembali bersama lagi. Tapi kalau tidak berjodoh, aku hanya bisa berharap semoga nantinya kamu bisa menemukan pria yang lebih baik dari Zidan" hibur Angel tulus.


"Menemukan yang lebih baik dari Zidan? Yah, tidak ada buruknya juga untuk kita berharap seperti itu. Karna seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit masih ada langit, maka diatas pria sebaik Zidan, pasti masih ada yang jauh lebih baik lagi bukan?"


"Terima kasih yah guys. Tapi aku tidak yakin bisa menemukan pria yang jauh lebih baik lagi dari Zidan, karna bagiku dia adalah yang paling sempurna"


"Tidak juga deh. Kan masih ada satu orang lagi yang juga menyukaimu dan sepertinya dia pria yang baik, meskipun tidak sekaya seperti Zidan sih"


"Satu orang lagi yang menyukaiku? Siapa yang sedang kamu bahas sekarang, Ra? Aku sepertinya tidak sedang dekat dengan teman pria baru deh"


"Tuh kan! Pasti penyakit kurang peka miliknya kamu lagi deh, makanya tidak bisa menyadari kalau ada seorang pria di dekatnya yang juga menyukainya" sindir Mira kesal.


"Wajar saja kalau dia tidak sadar Ra, kan waktu pria itu sadar dan mulai berniat untuk menunjukkan perasaannya terhadap Asyifa, Asyifa malah sudah resmi menjadi milik orang lain. Mana sempat Asyifa menyadari perasaan pria lain disekitarnya"


"Benar juga sih katamu Ngel. Tapi kan pria itu sekarang semakin berani menunjukkan apa yang dirasakannya pada Asyifa, masa Asyifa masih tidak menyadarinya juga?"


"Apa sih yang sebenarnya sedang kalian berdua bahas, aku sama sekali tidak bisa mengerti apa itu. Pria mana juga yang sedari tadi kalian maksudkan?" tanya Asyifa kesal.


"Pria yang kamu maksudkan itu adalah Eden, Asyifa! Dia kan juga sangat menyukaimu, apa kamu tidak bisa menyadarinya sama sekali?"


"Apa?!" tanya Asyifa kaget.


Asyifa langsung saja memandangi wajah kedua sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa mereka berdua malah membahas seorang pria yang telah ditolongnya itu, sedang jatuh cinta padanya?


Itu sama sekali tidak masuk akal bagi Asyifa. Karna sepertinya yang semua orang tahu bahwa Eden saat ini sedang berada dalam masa pemulihan, mana bisa menyempatkan diri memikirkan masalah percintaan.


Dan lagi, masih ada kasus ibunya yang akan menanti dirinya ketika sudah dinyatakan telah sembuh total. Bagi Asyifa, perkataan Mira dan Angel bena-benar tidak masuk akal.


"Kalian berdua, bagaimana bisa menduga bahwa Eden menyukaiku? Apa kalian pikir dengan semua keadaannya saat ini, dia bisa memikirkan masalah percintaan?"


"Aku dan Mira juga tahu kalau keadaan Eden saat ini bukanlah keadaan yang bisa dengan senang hati memikirkan masalah percintaan. Tapi kami juga tidak bohong saat bilang Eden menyukaimu, karna itu bisa terlihat jelas dari tatapan matanya. Iyakan Ra?"


"Iya! Bahkan saat melihatmu, dia tidak akan membiarkan dirinya berkedip meski hanya untuk sekali saja. Apalagi saat melihatmu yang sedang bermesraan dengan Zidan, dia pasti akan terlihat kesal dan wajahnya akan berubah mejadi merah padam. Kamu harus melihatnya sendiri supaya percaya!"


"Mendengar semua perkataan kalian berdua, membuatku tidak bisa berkata apa-apa dan juga tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Karna meski melihat semua yang kalian bilang, aku pasti tetap tidak akan percaya. Kami kan adalah keluarga, mana bisa untuk kami menyukai satu sama lain"


"Keluarga? Sejak kapan kamu mempunyai hubungan keluarga dengan Eden, Asyifa?" tanya Mira kaget.


"Sejak aku memutuskan untuk menolong dan juga merawatnya hingga sembuh, saat itu aku telah resmi menjadi keluarga barunya. Apa ada yang salah?"


"Ckckck. Kasihan sekali kamu Eden, sudah susah payah mencintai wanita yang sudah bertunangan, sekarang setelah wanita itu tak lagi bertunangan, malah dianggap sebagai anggota keluarganya. Sungguh kisah cinta yang tragis" ucap Mira, dengan nada yang seolah sangat prihatin.


"Hentikan omong kosongmu Mira, karna Eden tidak menyukaiku sama sekali seperti yang kalian berdua duga. Sekali pun dia ternyata benar menyukaiku, pasti hanya sekedar suka biasa sebagai penolong, dan bukannya jatuh cinta segala! Sudah ah, aku mau keluar buat pesan makan malam!"


Setekah berkata seperti itu, Asyifa bergegas keluar kamar meninggalkan Mira dan juga Angel berdua saja disana. Meskipun mereka kesal melihat sifat kurang peka Asyifa, tapi Angel dan Mira juga tidak bisa memaksanya untuk percaya dengan apa yang mereka katakan.

__ADS_1


Jadi Mira dan Angel pun tak berniat untuk membahasnya lagi di depan Asyifa, dan ikut memesan makan malam lewat aplikasi online pesan antar makanan.


Bersambung...


__ADS_2