
Setelah Asyifa selesai berbicara dengan Zidan, dan setelah Mira serta Angel selesai meletakkan karangan bunga yang mereka bawa diatas makam Arcelio, ketiga orang itu pun pergi meninggalkan Asyifa seorang diri.
Ketiganya sengaja melakukan hal itu, supaya Asyifa menjadi lebih leluasa untuk menyapa dan berbicara dengan anaknya. Mereka menunggu wanita itu, di sebuah tempat yang disediakan tak jauh dari sana.
Tubuh Asyifa masih tetap mematung selama beberapa saat, dimana langkah kakinya terhenti. Dengan sekuat tenaga, Asyifa coba untuk menghentikan tangis dan mengukir senyuman di wajahnya.
Dengan perlahan, ia semakin dekat dengan bagian kepala makam, dan memilih duduk di dekat sana. Tak lupa juga ia meletakkan karangan bunga miliknya, dan berdoa sesaat.
"Hai, anak bunda yang tampan" sapa Asyifa setelah menyelesaikan doanya.
"Meskipun bunda belum sempat melihat wajah Arcelio, tapi bunda yakin anak bunda mempunyai wajah yang sangat tampan, setampan ayah Arcelio" lanjutnya.
Kembali berbicara tentang William, membuat luka di hati Asyifa terasa perih lagi. Namun ia harus menceritakan semuanya pada sang anak, karena Asyifa ingin Arcelio yang melihat mereka dari surga, tidak menjadi sedih ketika tahu ayah dan bundanya berpisah setelah kepergiannya.
"Pasti sekarang Arcelio sudah merasa senang berada diatas sana, kan? Bunda minta maaf sayang, karna tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi sungguh, bunda sangat mencintai dan menyayangi anak bunda"
"Di dunia ini, banyak orang yang sayang sama kamu nak, ada tante Mira dan tante Angel, ada om Zidan dan om Haykal. Ada tante Kana, nenek dan juga kakekmu, serta yang paling penting adalah ayah Arcelio"
Setelah berkata seperti itu, Asyifa tak bisa lagi menahan air matanya, dan ia pun mulai menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu, Zidan yang tak tega segera menghampiri Asyifa untuk menemaninya.
"Ada satu hal lagi yang ingin bunda beritahu pada Arcelio, yaitu bunda dan ayah harus mengakhiri hubungan pernikahan kami karna sesuatu hal" ucap Asyifa sambil terisak.
Karna Asyifa terlihat tidak bisa melanjutkan bicaranya, akhirnya Zidan pun dengan spontan memilih untuk meneruskannya.
"Tapi biar pun begitu, dengan mengambil keputusan ini, bisa membuat hidup ayah dan bunda Arcelio menjadi lebih baik"
"Terima kasih" ucap Asyifa tanpa suara ke arah Zidan, yang dibalas dengan senyuman oleh pria itu.
"Oleh karna itu, Arcelio tidak boleh bersedih saat melihat ayah dan bunda berpisah. Tapi Arcelio harus bertumbuh menjadi anak yang kuat, supaya bisa membantu om untuk selalu menjaga bunda dari atas sana" lanjut Zidan.
"Apa yang dikatakan om Zidan benar nak, kamu tidak boleh bersedih. Selain itu bunda juga berjanji akan sering datang menemui Arcelio, supaya kamu tidak kesepian"
Setelah itu Asyifa membiarkan tubuhnya memeluk makam sang anak, dan kembali menangis untuk kesekian kalinya. Zidan yang melihat, hanya bisa mengelus pundak Asyifa perlahan.
"Kita sudah terlalu lama berada disini Asyifa, sudah saatnya kita kembali ke apertemen. Ayo berpamitan pada Arcelio"
"Arcelio, bunda pamit pulang dulu yah. Bunda janji akan segera kembali untuk bertemu dengan Arcelio lagi. I love you my boy" pamit Asyifa sambil mencium bagian atas makam.
Kemudian dibawah bantuan tangan Zidan, ia perlahan berjalan ke arah dimana Mira dan Angel sedang menunggu. Keempatnya pun lalu berjalan menuju ke arah parkiran untuk kembali ke mobil Zidan.
Selama perjalanan kembali ke mobil, suasana sunyi tanpa seorang pun berani bersuara menyelimuti mereka semua. Namun sesuatu yang mengejutkan, telah menanti mereka semua di parkiran.
Di dekat mobil Zidan yang sedang terparkir, berdiri sepasang suami istri yang wajahnya terlihat telah menjadi gabungan untuk menghasilkan wajah Asyifa.
"Asyifa, itu bukannya ayah dan ibumu? Kok bisa mereka ada di tempat ini?" tanya Mira sambil menunjuk ke arah pasangan itu.
__ADS_1
"Ayah, ibu?" panggil Asyifa terkejut.
"Anakku, kamu baik-baik saja kan?" tanya sang ayah segera menghampiri Asyifa, saat melihat kedatangan anak perempuannya.
"Aku baik-baik saja, ayah"
"Apanya yang baik-baik saja? Lihatlah betapa kurus tubuhmu, dan betapa tak terurusnya penampilanmu"
"Aku memang sebelum ada kejadian seperti ini, sedang dengan sengaja menurunkan berat badanku ayah"
"Asyifa, ayah sudah mendengar semua cerita tentang apa yang telah kamu alami selama ini dari Haykal. Kamu tidak perlu berusaha untuk menyembunyikannya lagi dari ayah"
"Kak_ Ha_ Haykal?"
"Iya. Waktu pesta penikahanmu baru saja selesai, Haykal tanpa tak terduga membelikan ayah ponsel baru yang di dalamnya telah tersimpan nomornya"
"Apa dia juga yang sudah memaksa ayah dan ibu untuk datang sampai kesini?"
"Tidak, semua ini adalah murni keinginan dan rencana dari ayah sendiri. Sebenarnya ayah ingin datang seorang diri, tapi entah mengapa semua tentangmu malah diketahui oleh ibumu" jelas Kemal setengah berbisik.
"Tidak apa ayah. Mau sampai kapan pun kita menyembunyikannya dari ibu, pasti suatu saat nanti akan diketahui juga"
Laras yang sedari tadi terus mengawasi dan hanya berdiri diam sambil mendengar semua percakapan diantara anak dan ayah itu, tiba-tiba melangkah maju ke arah keduanya.
Plak...
"Masih berani kamu menatap wajahku? Dasar tidak tahu malu! Apa kamu ingin menjadi anak durhaka, dengan mengabaikan kedua orang tuamu yang dengan susah payah sudah membersarkanmu?!"
"Laras, jangan seperti ini. Aku mohon untuk menyelesaikannya dengan baik- baik"
"Diam! Kamu juga sama saja seperti anakmu yang tidak tahu diuntung, masih baik aku tidak mencekiknya sampai mati saat dia baru saja lahir! Tapi setelah besar, dia malah dengan seenaknya malah menjadi sombong"
"Aku sedikit pun tidak pernah punya niatan untuk menjadi durhaka kepada ayah dan ibu, atau mengabaikan kalian"
"Lalu, kenapa kamu menghilang begitu saja? Kamu bahkan sampai pindah tempat kerja dan juga pindah apertemen tanpa sepengetahuan kami, kamu juga mengganti nomor ponselmu!"
"Itu semua Asyifa lakukan supaya Asyifa bisa memiliki waktu untuk diri Asyifa sendiri, bu. Selama ini Asyifa selalu bekerja keras untuk mendapatkan uang, tapi yang ibu lakukan hanya menghabiskan semua uang itu. Aku juga cape, harus menjadi mesin penghasil uang untuk ibu!"
Plak...
Sekali lagi Laras memberikan sebuah tamparan di atas pipi lain milik Asyifa, karena kesal dengan perkataan sang putri.
Laras yang semakin marah, baru saja akan menampar Asyifa lagi, saat tangan besar milik Zidan menepisnya dengan kasar. Laras langsung melemparkan pandangan tak suka pada pria itu.
"Apa-apaan kamu? Kamu jangan sok-sokan mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain yah!"
__ADS_1
"Maaf jika aku terkesan lancang mencampuri urusan tante dan Asyifa, tapi aku rasa dengan melakukan kekerasan, bukanlah cara yang baik untik menyelesaikan suatu masalah"
"Aku tidak butuh ceramah darimu! Terserah aku jika ingin memukul anak yang aku lahirkan sendiri, sebanyak apa pun yang aku inginkan"
"Kalau memang itu keinginan tante, maka jangan salahkan aku juga jika sampai menelpon polisi untuk segera datang kesini" ancam Zidan.
"Polisi? Ya ampun, kenapa pria bodoh ini sombong sekali. Memangnya siapa sih kamu ini, kenapa terlihat ingin sekali membantu anakku, apa kamu menyukainya?"
"Iya, aku menyukai Asyifa. Dan oleh karna hal itu, aku tidak akan membiarkan anda melukai Asyifa sedikit pun. Kalau tidak akibatnya akan anda tanggung sendiri!"
"Astaga, aku jadi takut. Memangnya kamu siapa sampai aku harus mendengarkan apa yang kamu katakan?"
"Aku Zidan, pemilik perusahaan tempat Asyifa dan kedua sahabatnya bekerja, dan sekaligus tetangga apertemennya kami" jawab Zidan padat dan jelas.
"Berarti kamu bos? Kenapa tidak bilang dari tadi, aku dengan kurang ajar jadinya malah meremehkan dirimu"
"Tidak masalah. Justru aku lebih senang seperti itu, karna jadi tahu warna asli sifatnya tante itu seperti apa"
Ucapan Zidan membuat Laras hanya bisa tersenyum kikuk, serta wajahnya menjadi merah karna menahan malu.
"Hahaha, kamu bisa saja bercandanya. Tapi Asyifa itu sangat bodoh yah, bagaimna bisa setelah menikah dengan pria kaya, ia malah ingin segera bercerai sekarang"
"Laras, jaga ucapanmu. Asyifa melakukan semua itu bukan tanpa sebab, itu semua dia lakukan karna William lah yang bersalah dengan berselingkuh dibelakangnya" marah Kemal pada istrinya.
"Itu semua karna anakmu saja yang jelek dan tidak pandai menyenangkan suaminya, jadi wajar saja dia selingkuh dengan wanita yang jauh lebih menarik dari istrinya"
"Aku rasa kata-kata tante sudah keterlaluan. Asyifa tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan wajah yang biasa saja, jadi bukan salahnya hingga William memilih bersama dengan wanita lain" bela Mira.
"Diamlah, aku tidak sedang berbicara dengan wanita tomboy sepertimu. Dibandingkan anakku, kamu yang paling menjijikan dan tak layak untuk memiliki pasangan!"
Mendengar hinaan Laras, Mira tanpa pikir panjang segera maju untuk memberikan pelajaran pada wanita tua itu. Namun dengan cepat ditahan oleh Angel.
"Aku rasa sudah cukup kami meladeni semua ucapan tante, dan sekarang saatnya kami harus pulang kembali ke apertemen. Ayo kita pergi, semuanya" ajak Angel sambil menatap tajam wajah Laras.
"Kalau kalian ingin pulang, yah pulang saja! Tidak usah mengajak anakku segala, karna aku masih punya banyak hal yang harus aku bicarakan dengannya. Bukan begitu, Asyifa?"
"Mungkin ibu punya, tapi aku rasa aku tidak punya hal yang harus dibicarakan lagi. Apa ibu tidak merasa malu sama sekali, dengan bertindak seperti ini?"
"Malu? Kenapa aku harus malu?"
"Kenapa? Bukannya ibu sendiri yang paling tahu jawabannya? Ibu tidak berhak menuntut untuk dibiayai masa tuanya olehku, karna selama aku menjadi anak ibu, tida pernah sekai pun ibu memperlakukan aku seperti keluarga. Ibu selalu menjadikanku mesin penghasil uang kapan pun ibu membutuhkan semua kertas itu!"
"Jaga ucapanmu Asyifa! Jangan bertindak kurang ajar, kamu!"
"Ibu, aku mohon berhentilah merasa berhak dan berjasa atas sesuatu yang bahkan tidak pernah jadi bagian dari keikutsertaan ibu sejak awal!"
__ADS_1
Bersambung....