
Pagi itu William berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya dengan terpaksa.
Sebenarnya ia enggan untuk turun, namun William tidak ingin membuat momynya sedih karna melewatkan sarapan bersama keluarga mereka yang lengkap dengan kehadiran sang daddy.
"Astaga, ada apa dengan wajahmu adik ipar? Apa semalam kamu bertengkar dengan seseorang?"
Kana, gadis itu pura-pura terkejut seolah baru pertama kali melihat wajah William yang babak belur. Namun pada kenyataannya, ia sudah melihat semua itu saat semalam pria itu pulang ke rumah.
"Pelankan sedikit suaramu saat berada di meja makan Kana, tidak baik! Memangnya ada apa dengan wajah William?"
Ratih berbalik dan menatap wajah anak bungsunya. Haykal dan Rizal juga melakukan hal yang sama, kemudian terkejutlah mereka bertiga.
Ratih dengan cemas melangkah maju dan ingin menyentuh wajah William "Sayang, kenapa wajahmu bisa jadi seperti ini?"
"Siapa yang memukulmu, Will? Katakan padaku, aku pasti akan membuatnya masuk ke dalam penjara!"
"Lupakan kak, aku baik-baik saja. Momy juga tidak usah cemas, ayo kita lanjut sarapan bersama"
"Apanya yang baik-baik saja William? Lihat wajahmu, bengkak dan dipenuhi memar serta luka! Cepat katakan, siapa yang sudah berani memukulmu?"
"Sudahlah momy. Ini adalah masalah William, biarkan William sendiri yang mengatasinya"
"Apanya yang mengatasinya sendiri, momy tidak terima wajah anak momy di pukuli hingga terluka parah seperti ini! Daddy coba katakan sesuatu, jangan hanya diam saja!"
Rizal menatap wajah istri dan anak bungsunya itu secara bergantian dan hanya nisa menghela nafas perlahan.
"Ratih, apa yang dikatakan oleh William ada benarnya, biarkan dia mengatasi sendiri masalahnya. Dia sudah bukan anak kecil lagi yang membutuhkan bantuan kita setiap saat, jadi biarkan dia mandiri"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak sedih atau khawatir melihat keadaan anakmu seperti sekarang?"
"Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak cemas dan juga khawatir pada keadaan William, tapi kalau dia membutuhkan bantuan dari kita sebagai keluarganya, dia pasti akan mengatakan hal itu secara langsung. Aku hanya ingin memberikan anakku kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, itu saja"
William menatap wajah sang daddy dengan tatapan penuh rasa terima kasih, karna ia tidak ingin momynya tau bahwa semua itu berkaitan dengan Asyifa.
Sedari Haykal dan William kecil, Ratih selalu bersikap berlebihan jika sesuatu terjadi kepada kedua putranya dan ia akan sangat membenci orang yang menjadi faktor utama anaknya terluka.
Itulah sebabnya William enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, karena mungkin saja itu bisa membuat Ratih tidak menyukai Asyifa lagi.
"Terima kasih daddy" ucap William sambil tersenyum.
Melihat hal itu, membuat Kana merasa sangat tidak puas. Setelah William membentak dirinya dan mengajarinya dengan keras saat acara makan bersama, membuat Kana semakin tidak menyukai Asyifa bahkan membencinya.
Baginya, Asyifa adalah gadis miskin yang tidak tahu diri dimana ia harus berada.
__ADS_1
Kana ingin mertuanya itu memperlihatkan secara jelas ketidaksukaan terhadap Asyifa dihadapan William, supaya dirinya juga bisa ikut menyiksa gadis itu semaunya.
"Sebentar, jangan bilang wajahmu jadi seperti ini karena Asyifa? Bukannya semalam setelah mengantarnya pulang, tiba-tiba kamu pergi lagi setelah menerima telepon dari sahabat Asyifa yang mengatakan bahwa ia hilang, apa aku salah?"
"Apakah yang dikatakan oleh Kana itu benar, Will? Semua ini penyebabnya adalah Asyifa, pacar kamu itu?"
"Jangan bawa-bawa Asyifa mom, dia tidak tahu sama sekali tentang semua ini. Dan untuk kamu Kana, jangan bicara sembarangan karna kamu tidak tahu apa-apa!"
"Kalau begitu kenapa tidak ceritakan saja yang sebenarnya terjadi kepada kami semua? Apa kamu takut momy akan membenci Asyifa, jika tau kalau dialah penyebabnya?"
"Diam Kana! Jangan menguji kesabaranku, karna kamu akan menyesal nantinya!"
William memandangi Kana dengan tatapan tajam yang langsung membuat gadis itu diam tak berani bersuara lagi.
Kana tahu betul seperti apa sifat William, meskipun terlihat seperti malaikat, namun ia bisa berubah seketika menjadi iblis yang tak berperasaan saat marah.
"Berikan nomor telepon Asyifa pada momy sekarang juga! Biar momy sendiri yang akan bertanya langsung padanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam!"
Ratih berusaha meraih ponsel William yang berada ditangan pria itu, namun buru-buru dihentikan oleh Haykal.
"Momy tenanglah, jangan seperti ini!"
"Tenang? Bagaimana bisa kamu menyuruh momy tenang, Haykal? Lihat apa yang terjadi pada wajah adikmu, akibat ulah gadis jelek dan miskin itu!"
"Iya, kamu tidak salah dengar, momy memang baru saja menghina gadis itu! Katakan padanya, bahwa momy tidak akan pernah menerima dirinya dalam keluarga ini, jadi jangan pernah bermimpi!"
"Jadi, momy menentang hubungan William dan Asyifa? Begitu?"
"Iya! Jangan pernah membawanya masuk ke rumah ini lagi! Momy akan mengusirnya, bahkan sebelum kakinya menyentuh halaman rumah kita!"
"Jangan berlebihan seperti itu Ratih! Mungkin saja Asyifa memang menjadi penyebabnya, tapi pasti bukan Asyifa yang memukuli wajah anakmu hingga babak belur seperti itu. Tidak pantas kamu menjatuhkan amarahmu pada gadis itu"
"Yang dikatakan daddy ada benarnya juga mom, lagipula yang namanya laki-laki sudah biasa jika sesekali menyelesaikan suatu masalah menggunakan tinjunya"
Rizal berpihak kepada William mencoba untuk membuat istrinya itu mengerti, sedangkan Haykal terpaksa mengikuti karna tak ingin sang adik bertengkar dengan momynya.
Kana yang melihat semua itu, diam-diam tersenyum penuh kesenangan. Sudah lama ia tidak melihat pertengkaran secara langsung seperti saat ini, bahkan ia menginginkan pertengkaran yang lebih besar lagi.
"Daddy dan Haykal tidak usah membela gadis miskin itu! Lihat saja, momy akan mencari dan memberikan pelajaran yang setimpal padanya, dasar gadis pembawa sial!"
"CUKUP MOMY!"
"William? Apa kamu baru saja membentak momymu ini nak? Kamu meninggikan suaraku pada momy, demi membela gadis itu?"
__ADS_1
Ratih memandangi wajah putra bungsunya itu dengan tatapan terkejut, seumur hidupnya tidak pernah sekalipun ia dibentak oleh Haykal ataupun William. Bahkan dibandingkan dengan Haykal, William adalah anak yang lebih penurut terhadap dirinya.
Bagaimana bisa putra yang sangat penurut itu, berani membentak dirinya hanya demi seorang gadis jelek dan miskin? Hal itu membuat ketidaksukaan dihati Ratih, berubah menjadi perasaan benci yang teramat sangat pada Asyifa.
"Iya, aku memang baru saja membentak momy!Untuk ke depannya aku mohon, jangan pernah berkata jelek tentang Asyifa apalagi sampai menghina dirinya! Jika sampai terjadi, William sendiri bahkan tidak tahu apa yang bisa William lakukan terhadap keluarga ini!"
"Hentikan William! Tidak seharusnya kamu berlaku kasar seperti itu terhadap wanita yang sudah melahirkanmu!"
"Bukannya daddy sendiri yang mengajarkanku untuk melindungi gadis pilihan William? Lagipula selama ini William tidak pernah membantah satu pun ucapan momy, tapi William tidak bisa tinggal diam jika ada yang menjelekkan bahkan sampai menghina gadis yang William cintai!"
"Apa gadis itu lebih berharga dibandingkan momymu sendiri?" tanya Ratih dengan berlinang air mata, berharap William akan luluh dan memilih dirinya.
"William tidak pernah bilang seperti itu, tapi momy dan Asyifa sekarang sama-sama menempati posisi yang sama dihati William. William tidak akan terima jika ada yang menghina momy ataupun Asyifa, jadi tolong mengertilah!"
"TIDAK! Momy tidak terima jika harus berada diposisi yang sama dengan gadis pembawa sial itu! Sampai kapan pun, momy tidak akan menerima dirinya di rumah ini!"
"Kalau begitu, biar William saja yang keluar dari rumah ini!"
Semua yang ada disana seketika terkejut mendengar ucapan William, bahkan Kana memuji kehebatan Asyifa dalam hatinya karena sanggup membuat William menentang ibu mertuanya.
Tubuh Ratih tiba-tiba terhuyung ke belakang, membuat Kana yang berada didekatnya harus membantunya untuk duduk.
"Apa yang kamu bilang barusan William? Keluar dari rumah ini, hanya karena gadis itu? Kamu tidak benar-benar serius kan, sayang?"
"Aku serius mom, William akan melakukannya jika momy tidak mau menerima Asyifa!"
"Sudah cukup, hentikan semua perdebatan kalian berdua! Asyifa akan tetap diterima di rumah ini oleh semua anggota keluarga, dan William tidak perlu keluar!"
"TIDAK! Momy tidak setuju daddy, dan tidak akan pernah setuju sampai kapan pun!"
"Kalau begitu William yang akan keluar, dan jangan berharap untuk bertemu William sampai momy berubah pikiran tentang Asyifa!"
William berjalan keluar lalu masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari rumah, untuk membuktikan ucapannya bukan hanya sekadar gertakan semata.
"Sayang, lakukan sesuatu! Apa kamu akan membiarkan William benar-benar keluar dari rumah ini begitu saja?" ucap Ratih histeris sambil menarik baju suaminya.
"Momy tenanglah, mom. William pasti akan kembali, percaya sama Haykal!"
"Menurutku tidak mungkin William akan kembali deh sayang, kamu tidak lihat betapa serius wajahnya tadi?"
Haykal menatap Kana dengan tatapan marah, ia tidak ingin istrinya itu membuat keadaan semakin parah.
"Tenangkan dirimu, sayang. Aku akan mencoba berbicara dengan William nanti, saat ia sudah lebih tenang"
__ADS_1
Bersambung...