
"Kenalkan mom, ini adalah pacarku yang bernama Asyifa. Asyifa, ini adalah momy ku yang paling cantik!"
"Halo tante, nama saya Asyifa" ucap Asyifa mengenalkan namanya sambil mengulurkan tangan kepada wanita dihadapannya, yang masih nampak anggun dan cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
Ratih menatap Asyifa dari atas hingga bawah secara terang-terangan, membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan salah tingkah.
Namun sedetik kemudian, raut wajah itu berubah drastis saat dirinya menyadari bahwa William sedang menatapnya dengan wajah penuh harap.
Ratih maju dan langsung memeluk tubuh Asyifa lembut "Selamat datang di rumah kami, senang bertemu denganmu Asyifa"
"Terima kasih tante. Aku juga senang bisa bertemu dengan tante dan yang lainnya"
Asyifa membalas pelukan Ratih sambil melemparkan senyuman terbaiknya pada sepasang suami istri muda yang sedang berdiri di belakang ibu William.
Dengan cepat Ratih melepaskan pelukan Asyifa di tubuhnya seolah merasa jijik terhadap gadis itu tanpa sempat dilihat oleh William.
Namun dengan mahirnya, ia tetap memasang seulas senyuman palsu di depan semua orang seolah menerima kedua pasangan itu.
"Oh iya Asyifa, kenalkan, ini kakak William yang bernama Haykal dan istrinya yang bernama Kana"
"Halo kak Haykal, halo kak Kana"
"Halo juga Asyifa" jawab keduanya bersamaan.
"Nah, karna kita sudah saling mengenal satu sama lain, bagaiman kalau kita langsung saja ke halaman belakang untuk berbincang santai sambil menikmati makanan yang sudah mony siapkan untuk menyambut Asyifa?"
"Sebentar mom. Asyifa membawakan sesuatu untuk momy sebagai hadiah"
"Ya ampun, kamu tidak perlu repot-repot sampai harus membawakan hadiah segala, Asyifa sayang. Momy sudah cukup senang hanya dengan kamu datang memenuhi undangan momy!"
"Tidak repot-repot kok tante. Aku dengar dari William kalau tante suka banget sama kerajinan tangan, jadi aku beliin guci itu sebagai hadiah. Semoga tante suka yah"
Ratih menerima tas belanjaan yang diberikan Asyifa sambil melirik ke dalamnya dengan pandangan menghina tanpa seorang pun sempat melihat.
"Terima kasih yah sayang, momy suka sekali hadiahnya. Kana, tolong letakkan di atas meja, dalam kamar momy"
"Baik mom"
"Ayo semuanya kita ke taman belakang duluan, biar nanti Kana menyusul"
Haykal memimpin semuanya menuju halaman belakang rumah yang di tengah-tengahnya telah ada sebuah meja dengan enam buah kursi mengelilinginya.
Asyifa yang melihat berbagai macam jenis hidangan makanan yang ada diatas meja, hanya bisa berdiri diam saking takjubnya dengan semua itu.
__ADS_1
"Banyak banget makanannya tante. Kayaknya tante deh yang kerepotan menyiapkan semua ini, maaf yah"
"Momy memang suka memasak kok, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Dan satu lagi, jangan panggil tante tapi panggil momy! Kamu mengerti?"
"Mengerti tante. Eh, maksud saya momy"
Asyifa duduk di kursi yang ada di samping William, saat dilihat semua orang sudah duduk di tempat mereka masing-masing.
Ratih dengan senyuman palsunya yang tampak antusias, menyodorkan berbagai masakan untuk dicicipi satu persatu oleh Asyifa.
"Bagaimana rasa masakan momy?
"Rasanya sangat enak tante! Eh, maksud ku sangat enak momy"
"Syukurlah kalau begitu. Sering-sering lah datang ke rumah ini Asyifa, dan momy akan masakan banyak makanan enak hanya untukmu, oke?"
William yang mendengar ucapan sang ibu, tersenyum penuh kebahagiaan sama seperti Asyifa yang menatapnya senang.
Gadis itu mengira kalau ibu William sungguh menyukai dirinya dan merestui hubungannya dengan William.
*****
Ketika semua orang sedang asyik menikmati santapan dengan tenang, Ratih malah tampak sibuk memberikan sinyal kepada sang anak mantu secara diam-diam, tanpa di ketahui oleh William atau pun Asyifa.
"Ehem. Asyifa, apa aku boleh bertanya sedikit tentang dirimu?"
"Cuman hal-hal yang umum kok William, jadi tenang saja. Jadi bagaimana Asyifa, apakah boleh?"
"Boleh kok kak"
Meskipun berkata boleh dan sudah berlatih menyiapkan diri untuk hal seperti ini ketika bertemu keluarga William, namun hati Asyifa tetap saja tidak bisa tenang.
"Apa pekerjaan kedua orang tuamu?"
"Astaga Kana, kenapa kamu bertanya hal yang sensitif seperti itu?" ucap Ratih terkejut.
"Loh, memangnya salah yah mom kalau bertanya seperti itu? Memangnya kalian tidak penasaran? Kita kan perlu lebih mengenal calon keluarga baru kita, kan sayang?"
"Tapi tetap saja, itu adalah privasi Asyifa sayang. Kamu boleh tidak menjawab pertanyaan istri saya tadi, Asyifa"
Melihat Kana yang langsung cemberut wajahnya, membuat Asyifa merasa tidak enak terhadap wanita itu.
"Aku tidak apa-apa kok kak Haykal, aku akan menjawab pertanyaan kak Kana tadi. Ayahku hanya seorang pekerja serabutan dan ibuku adalah ibu rumah tangga"
__ADS_1
"APA? Ya ampun, kasian sekali! Lalu, bagaimana kalian hidup selama ini, Asyifa? Apakah kalian mengemis di jalanan?" tanya Kana dengan ekspresi menghina.
Mendengar hal itu, wajah Asyifa merah padam dan hanya bisa tertunduk menahan malu.
"Apa maksudmu Kana? Jangan berkata kurang ajar seperti itu kepada pacarku!"
"Astaga William, kenapa kamu marah? Aku hanya mencoba prihatin terhadap kekasihmu yang berasal dari keluarga miskin, itu saja! Apa aku salah?"
Brak!
William memukul meja dengan kedua tangannya sambil menatap wajah kana geram. Semua yang ada disana tampak terkejut, tak terkecuali Ratih dan juga Kana sendiri.
"Cukup Kana! Mungkin kedua orang tuaku dan juga kak Haykal masih bisa tahan dan pura-pura buta terhadap sikap munafikmu itu! Tapi jangan lakukan itu terhadapku atau pun pacarku, atau kamu akan menanggung sendiri akibatnya!"
"William, tenang lah, nak! Mungkin Kana hanya sedang bercanda dengan Asyifa"
"Bercanda? Candaannya itu, sama sekali tidak lucu mom! Kak Haykal, tolong ajarkan istrimu itu untuk bisa bersikap sopan santun kepada orang lain!"
"Baiklah William. Aku pasti akan mengajarinya, jadi tenangkan dirimu, oke?"
"Kana, sekarang minta maaf lah pada Asyifa dan Asyifa tolong maafkan Kana"
"Maafkan aku Asyifa, karna sudah bicara tidak sopan terhadapmu"
Kana terpaksa meminta maaf kepada Asyifa bukan karna di suruh oleh sang mertua, namun karna tatapan William padanya yang seakan ingin membunuhnya saat itu juga.
"Tidak apa-apa kak Kana. Semuanya, aku permisi ke toilet sebentar"
"Biar aku antar. Kami permisi sebentar" ucap William sambil bangkit dari duduknya diikuti Asyifa.
Asyifa menenangkan dirinya beberapa menit di dalam toilet dengan William yang setia menunggunya di luar.
Saat keluar, ia melihat William yang tampak sedang serius berbicara dengan seseorang di ponselnya tentang masalah pekerjaan.
"Kamu duluan saja, aku akan segera menyusul setelah ini" ucap William tanpa suara.
Asyifa mengangguk mengerti, kemudian berjalan kembali menuju tempat mereka berkumpul.
Saat hampir sampai, langkah Asyifa tiba-tiba terhenti. Ia tak sengaja mendengar percakapan Ratih, Kana dan juga Haykal tentang dirinya.
"Momy, aku benar-benar tidak rela harus minta maaf pada gadis miskin dan jelek itu!"
"Sabar lah sayang, momy juga sangat tidak tahan harus melakukan kontak fisik dengan gadis jelek itu! Tapi kita harus tetap berpura-pura baik kepada Asyifa supaya William tidak curiga"
__ADS_1
"Aku setuju dengan ucapan momy! Dengan begitu, akan menjadi mudah bagi kita untuk bisa menyingkirkannya dari hidup William selamanya!"
Bersambung...