
Waktu menunjukan pukul 04.50, telihat Haqi dan Chanan berjalan menuju rumah Arin dan membawa 2 tas besar. Lalu mereka menekan bel.
Ting, tong…..
Terdengar suara langkah kaki dari dalam dan seseorang membuka pintu, tetapi itu bukan lah Arin melainkan Maria.
“Hey bawa apaan tuh banyak bener.”
“Game dong emangnya apa lagi haha.”
“Bukan kah kau terlalu cepat datangnya Maria.”
“Engga juga ko cuma dari jam 3 aja hahaha.”
Mereka masuk lalu menuju ruang tamu. Disana ada Arin yang sedang duduk di sofa sembari membaca buku.
“Selamat datang.”
“Yo.”
“Boleh kan langsung aku setting consolenya Rin ?.”
“Ya silahkan.”
“Wah, kalian membawa semua itu, Playstation, Nitendo, dan VR set sungguh ?.”
Maria melihat kedalam tas yang di bawa oleh mereka berdua
“Ya tentu saja bukanya kita akan berlomba.”
“Yang kalah teraktir ya.”
“Kukuku .. siapa takut.”
Mereka bertiga memasang muka jahat dan tersenyum, setelah itu Maria menuju dapur dan membuka kulkas.
“Kaya nya kurang bahan deh kalau untuk memasak.”
“Ya kalau untuk 4 orang bakal kurang.”
Arin menghampirinya dan melihat isi kulkas.
“Setelah aku dan Haqi selesai menyusun ini bagaimana kita ke super market yang berada dipusat kota, sekalian membeli makanan.”
“Boleh saja sih.”
Mereka berempat setuju untuk berbelanja.
------------------------------------
Setelah Haqi dan Chanan selesai mereka langsung pergi menuju super market karena sudah pukul 06.30, mereka pergi berjalan kaki dan mengobrol sepanjang jalan.
“Ngomong-ngomong mau makan apa ?.”
“Aku ingin makan daging sih.”
Haqi menjawab,
“Belakangan ini aku nonton anime tentang memasak dan melihat chiken Katsudon, dan sangat ingin memangakanya.”
“Oi Chanan bukannya itu berlebihan untuk masakan rumahan.”
Maria membalas ucapannya dengan ejekan.
“Kalau itu aku bisa membuatnya.”
__ADS_1
Dengan terkejut ketiganya melihat kearah Arin yang berbicara dengan santai.
“Woah seriusan nih ?.”
“Kalau gitu kita buat yu.”
“Ya biarkan aku yang memilih bahan makananya, kak Haqi dan Chanan beli saja makanan dan jangan lupa kal-- .”
“Cokelat dan kripik ketang kan ?.”
“Ya.”
Selagi berbicara mereka pun sampai di tempat tujuan, dan langsung membagi menjadi dua kelompok. Arin bersama Maria, dan Chanan bersama Haqi yang langsung berlari menuju tempat makanan ringan berada.
Arin dan Maya membagi tugasnya.
“Kak maya tolong ambil tepung terigu, tepung roti, Olive oil, souyu dan saus.”
“Oke rin.”
Arin pun pergi menuju bagian belakang dimana berbagai macam daging, ikan, udah dll dijual. Diapun pergi mengambil daging ayam bagian dada dan membeli 8 potong. Lalu mengambil 1 pack telur, bawang bombay.
Setelah selesai memilih bahan dia mencari Maria, sesaat bertemu denganya dia terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Kenapa kak ?”
“Eh rin, ini nyari souyu nya gak ketemu.”
“Oh kalau itu di sebelah sini.”
Kemudian dia berjalan di depan dan mengambil souyu dan menyimpannya di keranjang belanja.
“Wah ada banyak macamnya ya.”
“Oh kenapa gitu ?.”
“Karena kecap asin yang dibuat tidak memakai garam tambahan, soy sauce dari jepang di buat murni menggunakan fermentasi kedelai, jadi rasanya cocok untuk masakan asal sana.”
“Kamu banyak tau ya ?”
“Engga juga, harusnya kakak yang lebih tau, kan mau jadi dokter jadi harus bisa kasih saran makanan untuk pasien loh.”
“Tapi aku hanya tertarik dengan makannya saja haha.”
Sambil tertawa mereka berjalan mencari Haqi dan Chanan.
“Huuuh.. kakak juga cewek kan setidaknya bisa masak.”
“Ya kalau cuman masak mie instan bisa loh, dan bukannya kamu yang melarangku untuk memasak.”
“Itu karena kalau kakak memasak, mau bahan masakan sebagus apapun hasilnya sama akan menjadi mengenaskan.”
“Tidak sampai seperti itu ah jahat sekali adikku ini.”
sambil mengelus kepala Arin akhirnya mereka melihat Haqi. Telihat dia sedang mengobrol dengan orang selain Chanan, kemudian menghampirinya.
“Oh apakah kalian selesai sudah selesai ?.”
“Ya, dan itu ?.”
“Ah ini Alvan penghuni nomer 7.”
“Oh kamu, aku Maria tinggal di kamar nomer 16.”
“Halo kak, aku alvan.”
__ADS_1
Setelah berkenalan merekapun berjalan menuju kasir untuk membayar.
“Bukannya kebanyakan ?”
Tanya Maria kepada Chanan
“Ga tau tuh Haqi yang ambil banyak.”
Kemudian keduanya menatap kearahnya.
“Iya ini.”
Dia melihat kearah Arin.
“Ah jadi gitu.”
“Huhu apa yang telah kamu lakukan ?.”
“Ti- tidak ada.”
Haqi mengalihkan pandangan dari mereka berdua.
“Eh gimana kalau Alvan ikut dengan kita.”
Lalu Arin memasang muka kesal tanpa diketahui oleh Haqi yang sedang menatap Alva, Maria dan Chanan yang menyadari itu menggelengkan kepalanya.
“Ah maaf kak aku ke sini dengan teman, dan akan berkumpul lagi habis ini jadi tidak bisa.”
“Wah gitu ya, sayang banget.”
Lalu keduanya menghela nafas lega setelah melihat jawaban Alvan.
------------------------------------
Setelah selesai membayar dan membawa 4 plastik besar penuh dengan makanan mereka pun pergi keluar super market, di sana terlihat sekumpulan anak yang sedang berdiri menunggu Alvan, salah satunya adalah Cindy. Dan dia menghampirinya, dan mengucapkan perpisahan kepada Haqi dan yang lainya.
“Maaf menunggu.”
“Bareng siapa tu Al.?
“Ah itu temen 1 apartemen.”
“Woaah ada wanita cantiknya bikin iri anak ini.”
“Ya kalau gitu besok kita akan maen kesana.”
“Sebaiknya jangan.”
“Kenapa?.”
“Gapapa haha !.”
Dengan begitu mereka pun pergi meninggalkan super markter, akan tetapi Cindy melihat kebelakang dan memperhatikan sesuati.
(Seperti pernah melihat cewe itu tapi dimana, sudah lah.)
Dia pun mengikutin teman-teman nya yang lain.
“Hebat ya pangeran, banyak gitu teman wanita nya.”
“Bikin iri ya sial.”
“Sudah diam ayo pulang dan memasak udah lapar banget ini.”
Kemudian mereka berjalan kembali menuju rumah, Arin menyadari tatapan dari Cindy kepadanya tetapi dia tidak peduli dan mengabaikanya.
__ADS_1