
Intan yang telah selesai berganti pakaian keluar, dia terlihat senang karena tubuhnya mudah digerakan, dia melakukan peregangan karena sudah lama tidak menggerakan tubuhnya. Semua orang termasuk Almya menghela nafas dengan kelakuannya, padahal baru saja diberikan sebuah peringatan oleh Maria, tetapi dia tetap melakukan gerakan-gerakan ceroboh yang dapat membuat cideranya semakin memburuk.
Maria menghela nafasnya, ia ingin menghampiri gadis yang sedang melompat-lompat dengan senyuman yang sangat lebar, Dia berniat untuk memukul bagian tubuh Intan dengan cukup keras agar anak itu diam. Tetapi sebelum dia dapat melakukan itu Almya mendekati Intan lalu berdiri di hadapannya tanpa berbicara.
Intan yang melihat ekspresi dari kakaknya tersenyum berhenti melakukan peregangan.
“Hmmm… Kak ?”
Dia tau saat kakaknya hanya diam tersenyum menatapnya tanpa mengatakan apapun adalah disaat dia sedang sangat marah. Aura di sekitarnya terasa sangat mencekam, Intan dapat melihat bayangan sebuah harimau yang sedang ingin menerkam mangsanya dari belakang Almya.
“DIAM DAN DUDUK DI SANA.”
Gadis itu langsung duduk di lantai menghadap kearah kakaknya, senyuman itu benar-benar menakutkan bagi Intan, lalu dia menundukan kepalanya.
“Kenapa kakak Marah ?”
“Kenapa ?”
Setelah mendengar perkataan itu Intan diam tidak dapat berbicara apapun, dia tau kalau pertanyaan yang dirinya tanyakan tadi, malah menambahkan amarah terhadap kakaknya.
“BARU JUGA DI BILANGIN JANGAN TERLALU BANYAK GERAK, MALAH MULAI MELOMPAT-LOMPAT LAGI, KENAPA SIH KAMU TIDAK BISA MENDENGARKAN PERKATAAN ORANG HAH !!!!”
Semua melihat adegan ini, diam menyaksikan Amarah dari Almya, berbagai reaksi dapat terlihat dari ekspresi semua orang, Haqi serta Chanan tidak menyangka kalau Almya dapat marah seperti ini, Maria dan Maya menggigit bibir mereka agar tidak tertawa, lalu Alvan, Kalia dan Cindy hanya diam melihat itu.
“SELAMA INI AKU DIAM TIDAK MEMARAHIMU KARENA KAMU SEDANG SAKIT TAU !”
Jika ini di luar ruangan suaranya mungkin akan membuat semua orang memandangi mereka, untungnya saat ini mereka berada di dalam ruangan laboratorium milik Maria jadi suara tidak akan terdengar keluar.
“BELUM LAMA INI JUGA KAMU BARU KELUAR DARI RUMAH SAKIT KAN !”
“Ta.. Tapi itu, bukan Salahku !”
“DIAM.”
Intan langsung menundukan kepalanya, saat ini Maria serta Maya benar-benar sedang menahan dirinya agar tidak tertawa, Haqi dan Chanan mendekati mereka lalu menegurnya.
“Woi kalian jangan ketawa.”
“Tapi, Ini benar-benar lucu !”
“Benar kata kak Maria, aku tidak pernah liat Intan kaya gini.”
“APA KAMU TIDAK TAU, BETAPA AKU MENCEMASKAN DIRIMU YANG TERUS MENERUS MASUK RUMAH SAKIT, CINDY SERTA ALVAN SUDAH BERBAIK HATI INGIN MEMBANTUMU MEMBAYARKAN BIAYA RUMAH SAKIT DAN PENGOBATAN MENGGUNAKAN HEALINGPOD !!”
Almya berjalan menuju Intan lalu memegangi kepalanya dengan tangan kanan, lalu mengangkat dagu gadis itu agar menatap matanya.
__ADS_1
“APA KAMU MAU, AKU MEMBUAT KAMU BALIK LAGI KE RUMAH SAKIT ?”
“Ti.. Tidak Kak, Ma, Maafkan aku.”
Amarah dapat terlihat dari sorotan matanya, wajah Intan membiru lalu menutup matanya. Memang benar kalau gadis itu sudah masuk ke rumah sakit 2 kali dalam waktu yang sangat berdekatan, hal yang pertama saat dia menjadi korban dari penyerangan yang di lakukan SMA Utara, Lalu yang kedua adalah perkelahiannya dengan Arin, tentu saja fakta perkelahian dengan sahabatnya tidak diketahui Oleh Almya, karens semua orang berusaha menyembunyikannya termasuk Intan.
“KALAU GITU MULAI DARI SEKARANG SAMPAI KAMU BENAR-BENAR SEMBUH HARUS DIEM DI RUMAH DAN MENDENGAR SELURUH PERKATAANKU, MENGERTI !!!!!”
“Ba.. Baik.”
“JAWABNYA YANG BENER !”
“BAIK.”
Almya melepaskan wajah Intan lalu berdiri dan berjalan menuju tasnya, semua orang diam karena sedikit takut dengan Amarah yang dikeluarkan gadis itu, mereka tidak menyangka kalau luapan amarahnya akan benar-benar menakutkan.
“Kalau gitu, Semuanya ayo pulang.”
Dengan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apapun dia mengajak semua orang untuk pulang.
“I.. Iya.”
“Tentu.”
“Hahaha, ayo kembali karena semuanya sudah selesai.”
Semua orang pun mengecek kembali barang bawaan mereka.
Setelah selesai semua orang pergi keluar meninggalkan ruangan, mereka berjalan keluar dari gedung lalu berjalan menuju halte bus.
Terlihat sikap Intan yang sedikit Aneh, dia selalu melihat kearah Alvan serta Cindy, mereka berdua menyadari tatapannya, seolah gadis itu ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tidak dapat menyampaikannya dengan benar.
Sesampainya di halte bus, Maya yang melihat kelakuan dari sahabatnya cukup kesal lalu mendorongnya ke hadapan Alvan serta Cindy yang sedang mengobrol.
“Ehh, Maya.”
Sembari melihat kearah temannya dia memandang dengan ekpresi kesal, Maya malah tersenyum sembari mengejeknya, seolah-olah dia sedang berkata “Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja bodoh.” mereka saling berbicara melalui tatapan masing-masing.
Alvan, Cindy dan Kalia melihat itu hanya saling memandangi dan menerka-nerka dengan apa yang akan terjadi, sampai akhirnya Intan bangkit lalu menatap keduanya.
“Alvan, Cindy.”
“Ya ?”
Setelah mengatakan itu Intan kembali diam, dia sedang berpikir, perkataan apa yang sebaiknya dia katakan kepada mereka berdua.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, karena Sudah membantuku serta Arin, aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa, tapi terima kasih banya.”
Intan menundukan badannya, Mereka berdua saling memandang lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Santai saja tan.”
“Tapi-, banyak hal yang terjadi diantara kita, jadi aku tidak harus berbuat apa.”
Cindy menyadari perkataan itu, awalnya mereka adalah musuh yang saling menyerang dan mengancam satu sama lain, tetapi sekarang hubungan itu berubah, tetapi mereka masih bingung dengan hubungan mereka saat ini.
“Kalau gitu !”
Cindy mengulurkan tangannya kepada Intan, dia sedikit kebingungan lalu memiringkan kepalanya.
(Dasar bodoh, Cindy mengajakmu bersalaman.)
Maya melihat itu menjadi semakin kesal dengan temannya, selang beberapa detik Intan Meraih tangan itu.
“Aku Cindy, Kelas 1 A, mohon bantuannya.”
Intan cukup terkejut, tetapi dia senang dengan tindakan gadis yang berada di depannya.
“Intan, 1 F, mulai sekarang mohon bantuannya.”
Semua orang memandangi mereka dengan senyuman, Almya tentu bingung dengan tindakan mereka, dia mengira keduanya sudah berkenalan cukup lama, sampai Cindy ingin membayarkan seluruh biaya rumah sakit. Tetapi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya karena melihat situasi yang sangat bagus dihadapannya.
Bus datang semua orang bersiap masuk ke dalam.
“Ah.”
Cindy berbalik badan lalu menatap Intan, tatapannya menjadi serius dengan senyuman yang terbilang menakutkan.
“Aku lupa mengatakan sesuatu.”
“Ya ?”
“Jangan lupa tetapi janji itu !”
“Janji ?”
Cindy berjalan masuk menuju tempat duduk tanpa peduli lagi dengan Intan.
Intan berpikir cukup lama dengan maksud dari janji yang di maksud, sampai akhirnya dia mengingat kalau Cindy pernah menyuruhnya untuk berbaikan dengan Arin, itu adalah bayaran yang harus dia bayar atas semua biaya pengobatan.
__ADS_1
Dia duduk di sebelah Almya lalu memandangi ke uar jendela.
(Tanpa disuruh, Aku pasti akan berusaha untuk berbaikan dengan Arin, tapi terima kasih.)