
Para pemain yang bertanding berkumpul di tengah lapangan dan saling bersalaman, Freya datang mendekati Arin.
“Haha, sudah kuduga aku tidak akan menang melawan jenius bahkan telah melakukan hal seperti itu.”
Arin dan beberapa orang timnya berhenti berjalan dan melihat ke belakangannya. Dia menatapi ekspresi wajah dari orang yang berada dihadapannya gadis itu terlihat menahan untuk menangis.
“Aku, Jenius ?”
Mereka saling bertatapan mata.
“Masih ada orang lain di luar sana yang lebih bagus dan berbakat dariku.”
“.…..”
“Dan aku tau jenius sebenarnnya, meski aku mengejar dia dengan sekuat tenaga, bahkan tidak dapat menyamainya.”
Saat ini dia memikirkan Nia dia sangat berbakat dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Arin oleh karena itu dia dijuluki sebagai destroyer atau nightmare. Semua orang yang berhadapan dengannya akan buat dia putus asa dan menyerah.
Lalu dia menatap kearah Maria yang sedang mengeluarkan handphone miliknya dan memfoto dirinya dari jauh, sudah satu tahun latihan boxing dia tidak pernah mendekatinya sama sekali, latihan tanding yang mereka lakukan akan menjadi kekalahan bagi Arin. Oleh karena itu dia tau Jenius itu seperti apa.
“Aku tau satu hal, Mereka yang berlatih tanpa menyerah suatu hari akan mejadi seperti itu, meski butuh waktu lama, tapi bukan kah itu yang kau lakukan sampai sekarang ?”
Dia berbalik arah dan berjalan menjauh. Naila, Tina dan Kirana yang mendengar percakapan tadi.
“Sudah kuduga Arin itu gadis yang baik.”
“Benar Naila, dia memang seperti itu, tapi dibandingkan dengan dulu dia berubah sih.”
“Kau tau dia dulu kapten ?”
“Tentu saja kami juga pernah berhadapan, dan aku tau siapa jenius yang di maksud oleh Arin tadi.”
Dia tersenyum.
“Siapa itu kapten ?”
“Dia adalah Nia, kemampuannya benar-benar hebat dan gerakan Streetball yang di gunakan Arin tadi adalah gerakan orang itu.”
“Apakah sehebat itu ?”
Tina sangat penasaran.
“Iya Jenius sebenarnya adalah gadis itu, tapi sudah lama aku tidak melihatnya.”
Mereka berjalan mengikuti para anggota lain yang menuju ruang tunggu.
------------------------------------
Para murid dan penoton lainnya merasa sangat senang dengan Kemenangan Klub basket SMA Barat.
“Hebat, aku tidak menyangka dengan tinggi sekitar 170 dia bisa melakukan dunk.”
“Aku pertama kali melihat wanita melakukan Slam dunk.”
“Menurutku yang paling bagus adalah ketika dia berhadapan dengan kapten dari SMA Utara dia melakukan tipuan yang biasa dilakukan oleh para Streeball player.”
“Benar musuh terkecoh dan bahkan melompat kearahnya.”
“Duet mereka sangat hebat bisa membalikan keadaan.”
“Tentu saja itu teknik yang biasa mereka lakukan saat SMP dulu.”
Berbagai reaksi keluar, kebanyakan dari mereka memuju permainan Arin dan Intan.
“hahahahaha.”
Maria tertawa dan menutupi matanya menggunakan tangan kanan miliknya, meski begitu orang yang berada disekitarnya masih bisa menyadari dan melihat bahwa dia mengeluarkan air mata.
(Sudah lama aku tidak melihat Arin terlihat seperti itu, Sial Air mataku tidak berhenti mengalir.)
“Tahanlah kita akan bertemu dengan Arin kan nanti.”
“Benar jika dia melihatmu seperti ini, dia akan cemas.”
Haqi dan Chanan tersenyum dan mencoba menenangkannya.
“Berisik, aku tau.”
Alvan dan teman-temannya yang tidak menyadari dengan situasi ini hanya diam dan melihat itu.
__ADS_1
(Semenjak Arin masuk ke lapangan dan mengikat rambutnya, sifat ketiga orang ini sedikit berubah, lalu saat melihat Arin melakukan teknik mengecoh mereka sangat senang.)
Cindy mengamati itu dan sangat penasaran.
(Siapa itu Nia ?, aku belum pernah melihatnya.)
“Ah Arin memberiku pesan katanya dia ingin membeli makanan, dan akan menunggu di depan pintu keluar.”
Maria melihat Handphone miliknya.
“Baiklah kalau gitu ayo keluar, Kalian juga ikut kan ?”
Haqi melihat Alvan dan teman-temannya.
“Gimana ?”
“Boleh saja.”
“Aku sudah merasa haus dari tadi.”
“Kalau gitu ayo.”
Alvan bertanya kepada Cindy, Kalia, dan Daniel mereka setuju.
Mereka semua berjalan bersama keluar menuju pintu keluar.
“Kalian duluan lah.”
Chanan berhenti.
“Kenapa ?”
“Aku akan ke toilet, belikan aku juga makanan qi.”
“Iya.”
Setelah mengatakan itu berbalik badan dan pergi, Maria dan yang lainya pergi menuju pintu keluar.
------------------------------------
Di ruangan tunggu SMA Barat Klub basket terlihat sedang mengobrol dan sangat gembira, beberapa klub lain datang menyapa mereka dan memberi selamat, Kana sangat senang dengan hasil pertandingan kali ini dan terus menyombongkan dirinya kepada para pelatih dari klub lain.
Terilhat Riana membaringkan dirinya di kursi panjang, Maya menggelarkan handuk yang dibawanya dan tiduran lantai, Mika duduk di sebelahnya dan menyenderkan dirinya ke lemari loker .
Kirana mengejeknya.
“Diam kamu main di menit terakhir.”
Riana agak kesal dan membalas.
“Aku tidak kebagian bermain.”
“Aku juga.”
“Benar kami juga.”
Lina, Lana, Tina, Dan Olivia sedikit kecewa karena tidak dapat kesempatan bermain.
“Tapi kalau bermain juga, munngkin aku hanya akan menjadi beban.”
Olivia memasang ekspresi murung.
“Oh iya mana Arin ?”
“Arin pergi untuk bertemu dengan Kak Maria.”
Intan menjawab.
“Eh kenapa tidak mengajakku.”
Lana terlihat sedikit kecewa dan ingin bertemu idolanya.
“Dan dia mengatakan tidak akan datang saat pembagian penghargaan nanti.”
“Eh kenapa ?”
Seluruh anggota terkejut mendengar perkataan Intan.
“Tidak tau, pelatih juga sudah mengatakan tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Intan ada yang mencarimu.”
Kana memanggilnya dari Pintu di sana terlihat Danti dan Citra datang untuk menyapa mereka. Dia berjalan keluar dan Kirana mengikutinya dari belakang.
“Citra lama tidak bertemu.”
“Lama tidak bertemu.”
Mereka saling menyapa dan tersenyum.
“Wah tidak kusangka kalau kapten dari SMA Selatang datang ke sini.”
“Hahaha ku dengar kau sedang cidera, Ternyata kapten bisa bermain juga di quarter terakhir.”
Kirana dan Danti saling mengejek, mereka sudah kenal sejak SMP.
“Selamat ya Kalian berhasil menjadi juara 1.”
“Kalian juga juara 3 kan ?, selamat.”
“Ngomong-ngomong, kemana Arin ?”
“Beli makan bersama kak Maria.”
“Padahal aku ingin memberikan selamat kepadanya.”
Mereka berempat mengobrol dan sedikit menjauh dari pintu masuk, karena di sana berkumpul beberapa murid dari berbagai klub yang datang untuk mengucapkan selamat.
“Di babak terakhir aku melihat pertandingan kalian, dan merekamnya lihatlah.”
Citra mengambil handphone miliknya dan melihatkannya kepada Intan.
“Melihat permainan kalian aku merasa sangat nostalgia.”
“Aku juga, karena sudah lama tidak bermain dengan Arin.”
“Tidak ku sangka kalau kalian akan melakukan duet, yang biasa dilakukan oleh Ace kita.”
Setelah selesai menonton video dia memasukan handphonenya ke dalam saku.
“Saat meihat Arin melakukan Streetball tadi aku seperti meliat Nia, Aku benar-benar merindukan Masa-masa saat SMP dan bermain dengan semuanya.”
Citra menundukan kepalnya.
“Tapi tidak ku sangka kalau Nia akan meninggalkan kita terlebih dahulu.”
“Apa maksudmu ?”
Intan kebingungan, dan Citra menatapnya dan terkejut.
“Eh ?…… Jangan-jangan kamu tidak tau ?”
Dia menyadari kalau Citra sekelas dengan Arin Saat SMP.
“Ah.. Aku ingat kamu dan Arin sekelas saat kelas 3 kan, apa kamu tau kenapa dia bisa berubah seperti itu, dan apa maksudmu dengan Nia meninggakan kita, pergi kemana dia ?”
(Jangan bilang kalau Intan tidak mengetahuinya ?)
Citra menyadari kalau temannya tidak mengetahui apapun yang terjadi tahun lalu.
“Intan ?”
“.….”
“Apa kau benar-benar tidak mengetahui apapun ?”
“Iya, aku mencari tahu ke sana sini dan menanyakan ke beberapa teman di sekolah tentang perubahaan Arin, tapi mereka malah balik bertanya kepadaku.”
“Sangat sulit untukku mengatakan ini,.. dan aku tidak tau kenapa Arin menyembunyikannya darimu.”
“Kumohon, jika mengetahuinya beritahu aku.”
Intan menatapnya dan memohon sembari memegang tangannya. Dia menarik nafas.
“Nia pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak akan bisa kembali lagi kepada kita.”
“Apa maksudmu ?”
Intan yang kebingungan memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Satu tahun yang lalu Nia meninggal akibat kecelakaan.”
Sesaat setelah mendengar itu dia terdiam membeku, suara di sekitarnya menjadi tidak terdengar padahal banyak orang yang sedang berbicara.