
Lima Hari berlaru sejak Intan kembali bersekolah. Seluruh teman kelas banyak yang mencemaskannya dan berencana untuk mengadakan pesta saat dia benar-benar sembuh total.
Setelah selesai Makan siang bersama seluruh Anggota Klub basket Arin pergi menuju atap sekolah, terlihat beberapa Murid sedang makan bersama, dia berjalan menuju kursi kosong dan duduk, lalu mengeluarkan handphone dan mengenakan Earbuds miliknya. Dia mengenakan Jaket Hodie untuk menutupi wajahnya. Belakangan ini dia menjadi bahan pembicaraan seluruh sekolah karena Seorang Ratu Es yang terkenal tidak pernah berbicara dengan siapa pun mulai makan bersama dengan seluruh klub basket. Oleh karena itu belakangan ini dia sering kali menutupi wajahnya karena untuk menghindari pandangan kepadanya.
Saat dia sedang asik mendengarkan musik, seorang Gadis datang menghampirinya dan berdiri di depannya.
“Hey bisa kita bicara sebentar ?”
Arin Melihat dari kaki menuju wajahnya dengan perlahan, Di sana terlihat Cindy beridiri di depannya.
------------------------------------
Beberapa Menit sebelumnya, Cindy terlihat menuju kelas F dan mencari seseorang. Akan tetapi orang yang dia cari tidak ada, dia tidak berani bertanya karena terlihat seluruh kelas F memiliki rasa permusuhan kepadanya. Devina juga tidak ada di dalam kelas. Jadi dia pergi mencari di tempat lain.
Seluruh murid kelas F sangat menyukai Arin meski dia jarang berbicara dan terlihat tidak sopan kepada orang yang mengajaknya berbicara, akan tetapi mereka semua tau kalau dia selalu datang pertama dan pulang terakhir untuk membersihkan kelas, meski hari itu bukan gilirannya untuk piket. Perlahan seluruh orang di kelas memaklumi sifatnya yang seperti itu, dan berkat Intan yang selalu berkata.
“Arin itu dulu gadis yang baik, mungkin terjadi sesuatu yang membuatnya berubah.”
Seluruh Kelas F akhirnya berpikir kalau sesuatu terjadi padanya, tetapi tidak ada yang berani menanyakan itu dan membiarkannya bersikap seperti biasa. Belakangan ini dia cukup dekat dengan beberapa orang dan orang di kelas mulai memberanikan diri untuk berbicara kepadanya.
Seketika Cindy datang menuju kelas F seluruh orang di kelas menatapnya dengan tajam. Pada dasarnya mereka sangat membeci Knight of Prince, meski dirinya saat ini sudah tidak termasuk fans klub itu.
Cindy berjalan berkeliling dia ke kantin tempat dimana Arin biasa menghabiskan waktu bersama beberapa temannya. Tetapi tidak terlihat seorang pun di sana. Akhirnya dia menyerah dan kembali menuju kelas 1 A. Terlihat Naila sedang mengobrol dengan beberapa teman di kelasnya. Cindy mengingat kalau dia adalah anggota dari klub basket dan mendekatinya.
“Naila ada waktu ?”
“Tentu, ada apa ?”
“Apa tau Arin ada dimana saat ini ?”
Saat mendengar nama Arin dia memasang wajah serius.
“Kenapa ?”
“Iya sudah sewajarnya kamu waspada, tapi tenanglah aku hanya ingin berbicara dengannya.”
Cindy menghela nafasnya saat melihat ekspresi yang dikeluarkan teman sekelasnya.
“Lagi pula kondisiku seperti ini, dan mana mungkin aku akan melakukan sesuatu kepada penyelamatku.”
Dia menatap lurus dan menyampaikannya dengan tulus.
“Aku tau belakangan ini kau sedikit berubah, tapi jika kau lakukan sesuatu kepada Arin kali ini aku yang akan menghadapimu terlebih dahulu.”
“Kau jadi dekat dengannya ya.”
“Tentu saja dia adalah temanku.”
“Teman ya ?”
Cindy memasang ekspresi sedi,h Naila yang melihat itu akhirnya memberitahu lokasi Arin.
“Setelah selesai makan aku melihatnya berjalan menuju atap sekolah, mungkin dia ada di sana, Ingatlah jangan melakukan sesuatu yang buruk.”
“Terima kasih, Tenang saja.”
__ADS_1
Cindy menundukan kepalanya dan pergi meninggakan kelas. Teman-teman yang melihat itu mulai bertanya kepada Naila.
“Seriusan dikasih tau ?”
“Kamu taukan apa yang terjadi diantara mereka ?”
“Iya mau bagaimana lagi setelah melihat ekspresi itu, belakangan ini dia sedikit berubahkan.”
“Iya sih, tapi yang kita bicarakan itu Cindy loh.”
“Tidak mungkin manusia dapat berubah dengan cepat.”
“Memang, tapi aku harap dia berubah menjadi lebih baik.”
“.….”
“Yah jika kamu berkata seperti itu hahaha.”
Kemudian mereka tertawa, tetapi Naila mulai melihat kearah pintu dan mulai mencemaskan Cindy dan Arin.
“Aahh.. tetap saja aku mengkhawatirkan mereka, Aku pergi dulu untuk mengawasi mereka.”
“hahahaha Selamat jalan.”
“Hati-hati dijalan hahaha.”
Naila melambaikan tangan dan mulai berlari menuju atap sekolah, di tengah jalan dia bertemu dengan Intan dan Maya, setelah mendengar apa yang terjadi akhirnya mereka pergi ke atap sekolah untuk melihat apa yang akan terjadi.
------------------------------------
Arin melepaskan earbuds yang ia kenakan dan memasukannya ke dalam saku jaket, lalu dia melepas Hodie yang menutupi wajahnya dan menatap lurus kearah Cindy.
“Maafkan aku, dan terima kasih Banyak karena telah menyelamatkanku.”
Dia menundukan kepalanya.
“Meski aku telah melakukan hal jahat kepadamu waktu ini, Aku tidak tau harus mengatakan apa. Jadi aku hanya bisa meminta maaf kepadamu.”
“.….”
Cindy yang tidak mendengar jawaban dari Arin terus menunduk di depannya. Arin melihat sekitarnya, tidak ada orang di atap kecuali mereka berdua. Dia merasa bersyukur untuk saat ini karena tidak mengundang banyak perhatian. Dia menghela nafas panjang dan mulai berbicara.
“Ku beri tau satu hal.”
Mendengar jawaban akhirnya dia mengangkat kepalanya.
“Aku hanya melakukan balas dendam atas tindakan mereka yang membuat Intan berada di rumah sakit. Kau hanya berada di sana saat itu, bukan berarti aku menyelamatkanmu.”
“Tapi mau bagaimana pun kenyataan kamu menyelamatkanku adalah kenyataan, Aku akan melakukan apapun agar mendapatkan maaf darimu.”
“.…..”
“Kumohon jika ada yang bisa aku lakukan katakan saja.”
Arin sedikit kesal dengan apa yang terjadi dihadapannya dia melihat kearah tubuh Cindy yang terluka. akhirnya dia mengingat sesuatu dan tidak melewatkan kesempatan ini.
__ADS_1
“Apa pun kau bilang ?”
“Iya selama aku bisa memenuhi syarat itu.”
“Kau kaya kan ?”
“Apa kau mau uang ?”
“Aku tidak butuh hal seperti itu.”
Arin kesal dan memukul kursi, Cindy terkejut menutup matanya.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa ?”
“Sekarang seluruh Klub sedang melakukan pertandingan, Aku ingin kau merekam seluruh pertandingan Dari sekolah Utara.”
“Bukan hanya basket ?”
“Iya seluruh pertandingan yang di ikuti Sekolah Utara, Entah itu tenis basket dan lainya.”
“Tapi kenapa ?”
“Kau tidak perlu tau untuk apa, yang perlu kamu lakukan adalah rekam dengan Kamera yang bagus dan berikan itu kepadaku.”
“Baiklah, tapi apa cukup hanya dengan ini ?”
Arin menyadari orang yang mengawasi mereka dari tadi dan menatap kearah pintu.
“Hey apa sih yang mereka bicarakan aku sangat penasaran.”
“Jangan berisik nanti Arin menyadari kita di sini.”
“Benar May kamu diem dan lihat saja.”
Intan, Naila dan Maya bersembunyi di balik pintu dan mengintip apa yang sedang di bicarakan. Arin sudah menyadari keberadaan mereka dari awal, karena tangannya dari tadi memegang Trigger yang berada di dalam saku jaketnya.
“Iya kau cukup melakukan itu.”
“Baiklah.”
Arin berdiri dan berjalan menjauh dari Cindy.
“Dan Sebaiknya kau meminta maaf kepada yang lainya.”
Dia pergi menuju pintu, Ketiga orang yang mengintip panik saat melihat Arin mendekati mereka.
“Hey Arin ke sini cepat kabur.”
“Engga akan keburu lebih baik bersembunyi di balik lemari itu.”
“Cepat-cepat.”
Mereka bertiga bersembunyi dibalik Lemari yang berada di sudut ruangan dekat pintu menuju atap. Arin membuka pintu dan saat dia ingin menuruni tangga dia berbicara dan memandangi lemari itu.
“Jika kalian berpikir aku tidak mengetahui kalian bersembunyi di sana dan mengintipku dari tadi, kalian terlalu naif.”
__ADS_1
Intan, Maya dan Naila keluar dan tertawa. Lalu Arin menuruni tanggan dan kembali menuju kelas 1 F, Ketiganya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan dan bertanya terus menerus sepanjang jalan. Akan tetapi tidak ada jawaban dan Arin hanya tertawa.