TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 100. Pemulihan 3


__ADS_3

“Ma.. Maria, Berapa banyak yang kamu pesan ?”


Almya terkejut dengan kelakuan gadis yang berada di hadapannya saat ini, dia sudah makan lebih dari 5 piring, lalu sebuah robot berbentuk troli makanan datang lagi kemeja mereka membawakan makanan lainnya.


“Ah sisanya adalah manisan.”


“Sungguh, kemana masuknya itu ha, ha, ha ?”


Mendengar candaan itu, Almya tertawa tetapi Mata serta ekspresinya mengatakan hal lain, tawaan yang terkesan memaksa karena terkejut dengan adegan yang saat ini terjadi dihadapannya.


“Untuk manisan itu beda lagikan ?”


Dengan senyum lebar sembari mengambil beberapa kue yang dibawa oleh robot ke atas mejanya.


Almya hanya mampu mengeluarkan senyuman bodoh memandangi itu, orang-orang yang makan bersama meraka hanya bisa tertawa melihat itu, karena sudah terbiasa melihatnya makan tanpa henti.


“Aku sungguh iri dengan tubuhmu, dari dulu meski makan banyak tapi tetap saja seperti itu.”


“BENAR,”


Cindy yang duduk di sebelah Alvan mengeluarkan suara tinggi, yang membuat teman-temannya terkejut.


“Meskipun setiap hari makan dengan sembarangan, tapi tubuhnya tetap bagus dan seksi, aku sungguh iri dengan kak Maria.”


“Haha, iya memang benar Maria itu aneh, mungkin jika kamu olahraga sepertinya tiap hari mungkin bisa seperti itu.”


Chanan tertawa lalu menjelaskan sembari memeriksa handphonenya.


“Tapi olahraga setelah makan juga malah memperburuk sih haha, terlebih lagi otot itu lebih berat dari lemak.”


“Tapi ya, kalau ditimbang juga, berat badan Maria sama Arin lebih besar dari kita.”

__ADS_1


Gina yang sedang memakan menjawab.


“Eh ko  bisa ?”


“Kalian belum melihat tubuh berika langsung ya ?, Perut mereka saja berotot tau.”


Otot umumnya mempunyai masa yang jauh lebih berat dari pada lemak, otot cenderung lebih padat dan tidak memiliki luas permukaan seperti lemak.


“Kalian tidak memperhatikan tubuh Arin tadi ?, Baju renang yang dia gunakan cukup ketat dan membuat lekukan otot di tubuhnya terlihat tau !”


Maya yang menyadari itu menjawab sembari mengingat kembali pemandangan Arin memakai baju renang. setelah menjalani pola latihan yang diberikan oleh Maria tanpa mengeluh tubuh Arin menjadi cukup berotot. Dapat di lihat dengan jelas saat Arin menggunakan pakaian boxingnya saat latihan.


“Karena terlalu khawatir aku tidak sempat memperhatikan hal itu.”


Di saat semuanya sedang makan sambil mengobrol, Chanan terus memperhatikan layar handphone miliknya, dia terus memonitoring keadaan kedua gadis yang sedang dalam perawatan.


Berbeda dengan Intan, Detak jantung milik Arin berdetak cukup cepat. Dia dengan cepat sadar kalau hal yang menyebabkan itu adalah kondisi Arin yang kurang stabil belakangan ini, serta mimpi buruk yang kembali dialaminya terus menerus. Ini membuat Chanan sedikit cemas akan kondisi gadis itu.


(Saat kondisi Pasien tidak stabil, dosis obat bius akan dengan cepat kehilangan efeknya, semoga saja ini tidak mengganggu pemulihan mereka.)


Dulu mereka akan menghibur Arin dengan cara mengajaknya berkeliling atau bermain game saat gadis mengalami mimpi buruk, bahkan ketiga orang itu pernah menginap beberapa hari di rumah Arin karena permintaan Amalia untuk menghibur anaknya yang selalu terbangun di tengah malam.


Alvan yang menyadari tingkah laku Chanan menatap kearah Handphone dan melihat status yang di tampilkan.


(Detak jantung Arin meningkat, Apa gadis itu mimpi buruk lagi ?)


Tentu saja dia menyadarinya, karena beberapa hari ini dia selalu tidur di samping tempat tidur Arin, dan selalu mendengar erangan serta ekspresi kesakitan yang di keluarkan gadis itu. Berulang kali dia mencoba untuk mencoba untuk membangunkannya tetapi niatnya diberhentikan  mengingat Arin menjaga jarak dari dirinya. Karena di dalam hatinya yang paling dalam dia tidak ingin di benci oleh Arin, tanpa dia sadari perlahan-lahan Alvan menjadi tertarik dengan gadis itu.


“Oh iya, Kalia mana ?”


Maya yang menyadari kalau sahabat dari Cindy tidak datang bertanya.

__ADS_1


“Ah dia ada urusan.”


“Hmm.. jadi ga akan kesini ?”


“Ke sini ko, dia yang paling ribut ingin liat Arin cepet sembuh.”


Sembari memakan sebuah kue Cindy berbicara lalu mengecek handphone miliknya.


“Maria, aku ingin bertanya ?”


Almya memandang gadis itu yang sudah menghabiskan 4 piring bolu yang di pesannya.


“Apa itu ?”


“Kenapa Arin sama Intan di bius ?”


Maria yang masih mengunyah kue di mulutnya, mulai menghabiskan makananya terlebih dahulu.


“Iya, tentu saja supaya tidak bosan ?”


“Eh ?”


“Sebenarnya bius digunakan untuk orang-orang yang mengalami luka serius, tapi berdiam diri di dalam sebuah tabung selama berjam-jam pasti membosankan iya kan ?”


“Tentu.”


“Karena itu lebih baik di bius agar tertidur, dengan begitu kondisi pasien saat di dalam healingpod akan tetap stabil.”


“Gitu ya.”


Semua orang melihat Maria yang sedang menjelaskan.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu di kantin cukup lama, setelah itu Maria mengajak orang-orang berkeliling untuk melihat fasilitas yang tersedia di Universitas Selatan. Lalu mereka pergi ke taman untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya setuju untuk menunggu di sana. Karena akan tidak adil jika hanya Haqi serta Alvan yang harus menunggu sampai pengobatan selesai.


Kalia yang urusannya sudah selesai datang membawa makanan langsung menuju taman, Maria terlihat senang, semua orang hanya bisa tertawa melihat kelakuan dari gadis yang kerjaannya hanya makan.


__ADS_2