TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 89. Penyergapan 1


__ADS_3

Sebuah bus sedang melaju dari kota Selatan menuju kota Barat, terlihat penumpang yang menaikinya cukup penuh, anak-anak sedang mengobrol tentang anime yang mereka lihat dan berdiskusi tentang itu.


“Tuhkan dia itu raja iblis yang sebenernya kuat.”


“Benar aku tidak menyangka kalau protagonis yang selama ini dihina adalah orang terkuat di benua itu.”


Chanan yang duduk di belakang mereka terlihat seakan ingin ikut dalam pembicaraan.


“Hey… jangan ganggu anak-anak.”


Haqi yang berada di sebelahnya menegur.


“Aku tau.”


Dia sangat ingin ikut bergabung dalam percakapan mereka dan memasang wajah kecewa.


Di belakang mereka terlihat Maria dan Kalia duduk bersama, Maria sedang mengetik sebuah pesan untuk Gina.


“Dengan ini selesai.”


“Selesai apanya kak ?”


“Ah aku bilang ke Gina, kalau mau pulang ke apartemen dulu.”


Terlihat Alvan yang duduk dan mengawasi sekitarnya, entah kenapa dia merasa sangat gelisah saat ini.


“Al kamu gak apa-apa ?”


“Ah…”


Cindy yang berada di sebelahnya mulai mencemaskan tingkah laku sahabatnya.


“Engga kok.”


bus yang mereka naiki berjalan di jembatan perbatasan, lalu tiba-tiba saja kendaraan itu berhenti. Beberapa penumpang mulai menanyakan apa yang terjadi.


“Kenapa tiba-tiba berhenti ?”


“Apa yang terjadi ?”


“Ada anime yang aku ingin lihat.”


“Aku ada meeting, ada apa ini ?”


“Maaf saya akan memeriksanya sebentar.”


Supir dari bus  berdiri lalu pergi keluar untuk mengecek mesin, karena indikator pada layar semuanya mati total, bus yang mereka kendarai sudah menggunakan tenaga listrik.


“Lama nih.”

__ADS_1


“Ah sialan.”


Terlihat beberapa penumpang sudah mulai kesal.


5 menit kemudian supir itu kembali ke dalam bus lalu berbicara.


“Mohon maaf, sepertinya mesin mengalami gangguan dan mati, aku sudah menekan tombol darurat jadi pihak perusahaan akan segera datang, jadi mohon bersabar.”


Maria berdiri dan berbicara kepada teman-temannya.


“Jalan aja yu, udah lewat perbatasan ini.”


“Lumayan jauh loh kak.”


”Dekat ko, lagi pula tiap pagi kita sering lari ke sini kan.”


Dia melihat kearah Haqi dan Chanan.


“Boleh aja sih.”


“Sepertinya akan lama, jadi aku setuju.”


Lalu gadis itu menatap kearah Cindy dan Alvan.


“Terserah saja sih.”


Maria tersenyum dan mulai berjalan kearah pintu keluar di ikuti oleh Chanan, Haqi, Kalia, Cindy dan Alvan.


“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”


Setelah mereka turun, beberapa penumpang mulai mengikuti mereka meninggalkan bus itu, karena kesal harus menunggu lebih lama lagi.


Mereka berjalan sampai menuju sebuah sembari melihat pemandangan, Cindy memandangi kearah sungai yang mengalir di bawah jembatan.


“Pemandangan malam hari di sini cukup bagus ya.”


”Tentu saja, kamu belum pernah melihatnya ?”


Haqi menjawab.


“Ini adalah salah satu tempat favorit Arin loh.”


“Dulu anak itu sering diam di sini berjam-jam haha.”


Mereka berjalan sembari bercanda hinggal akhirnya melewati jembatan.


“Kalau gitu aku lewat sini ya.”


Maria berhenti dan menunjuk kearah kiri.

__ADS_1


“Eh, kamu ga akan ke rumah sakit ?”


“Sudah beberapa hari aku tidak kembali ke kamarku kan ?”


“Kalau gitu kita juga kembali dulu ke apartemen,”


“Tidak.”


Haqi dan Chanan mencemaskan dirinya tetapi Maria dengan cuek menjawab lalu melipatkan tangannya.


“Aku baik-baik saja, lebih baik kalian ke rumah sakit, Gina sendirian.”


“Baiklah, tapi hati-hati.”


“Tenang saja.”


Setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan mereka.


“Kalau gitu aku akan antar Cindy dan Kalia kembali.”


“Oke van.”


Haqi dan Chanan berjalan menuju rumah sakit.


“Apa tidak apa-apa membiarkan kak Maria sendirian ?”


“Benar wanita berjalan sendirian malam hari, cukup berbahaya.


Alvan, Cindy dan kalia menatap kearah tiga orang yang meninggalkan mereka, melihat raut wajah kedua gadis yang berada di depannya Alvan berkata.


“Huh, mau bagaimana lagi, yang penting sekarang aku akan mengantar kalian pulang dulu.”


Mereka bertiga pun berjalan.


Sepanjang perjalanan Cindy dan Kalia berbicara dan bercanda satu sama lain, Alvan berjalan di belakang mereka memperhatikan sekelilingnya.


(Aku masih bisa merasakan tatapan seseorang, tapi dari mana.)


Tempat di sekeliling mereka sangat sepi, tidak ada orang lain selain mereka bertiga.


“Kok sepi banget ya ?”


“Benar, entah kenapa aku teringat kenangan buruk.”


“Cih.”


“Kenapa Al ?”


Alvan menjentikan lidahnya lalu menyimpitkan wajahnya.

__ADS_1


“Cindy, Kalia jangan menjauh dariku.”


Tiba-tiba Sekumpulan orang datang membawa kayu, besi dan berjalan kearah mereka bertiga.


__ADS_2