TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 68. Mulai bergerak


__ADS_3

Seorang gadis sedang berada di sebuah tempat yang terlihat seperti tempat penelitian, di sana terlihat alat-alat modern yang sudah sangat canggih, gadis itu sedang meneliti sebuah obat yang telah diberikan oleh Arin.


“Terbuat dari apa sebenarnya obat ini ?”


Dia sudah melakukannya cukup lama dan hasil tidak keluar, komposisi yang di gunakan tidak dapat terdeteksi dan membuat gadis itu kebingungan. Handphone miliknya yang berada di dalam saku berbunyi lalu dia menangkatnya.


“Apa kau sudah mengetahui sesuatu ria ?”


Chanan menghubunginya.


“Belum komposisi yang terkandung di dalamnya sama sekali tidak dapat terdeteksi dengan alat yang kugunakan.”


“Bukan….nya laborato….rium di sa..na cu….kup ba…gus ?”


Saat mereka berbicara terdengar suara angin yang cukup mengganggu dan membuat suara Chanan tidak terdengar dengan jelas.


“Kau berada dimana suaramu tidak jelas karena suara angin.”


“Ahh itu Arin.”


“Eh ?”


Maria melihat arah handphone miliknya, di sana terlihat mereka dalam sebuah room voice yang terdiri dari 3 orang.


“Arin kamu lagi dimana ?”


“Hmmm.. Langit ?”


Dia menyadari kalau Arin saat ini sedang berada di atas sebuah gedung tinggi dan diam di sana.


“Kau keluar ya, hati-hati.”


“Ya.”


“Apa ada perkembangan dari obat peningkat kekuatan itu ?”


Setelah mendapatkan obat itu dari Ina, keesokan harinya Arin membawanya kepada Chanan dan Maria untuk diteliti, mereka berdua sangat terkejut karena dia berhasil mendapatkan obat yang sangat ingin diteliti. Saat Arin memberitahukan asal usul obat itu Maria terlihat marah karena Chanan tidak mengerjakan pekerjaannya dengan benar.


“Komposisinya sangat aneh aku tidak dapat mengetahui apa saja yang terkandung di dalamnya, tapi aku yakin akan satu hal ?”


“Apa itu ?”


Arin bertanya.


“Ini semacam drugs, aku yakin ini.”


Setelah mengatakan itu mereka diam untuk sesaat.


“Narkoba, berarti orang yang memakan itu akan kecanduan ?”


“Ya, itu pasti.”


“Oh iya.”


Saat mereka berdua sedang mengobrol Arin berbicara.


“Saat beberapa hari ini aku keluar aku melihat orang-orang yang mencurigakan di dalam sebuah gang sempit dan sedang melakukan suatu transaksi.”


“Dimana itu rin ?”

__ADS_1


Chanan terkejut dan bertanya.


“Pusat kota, dan saat bertemu dengan Ina orang yang menyerang kami berbicara sesuatu yang aneh.”


“.….”


“.…..”


“Padahal akhirnya aku menjadi seorang Esper tapi dikalahkan dengan mudah, itulah yang orang itu katakan.”


“Jangan bilang ?”


Terdengar suara Chanan membantingkan suaranya ke meja, lalu suaranya terdengar menjauh.


“Mereka sudah mulai menyebarkannya.”


Maria menyadari maksud dari Arin. Dia melihat kearah jam menunjukan pukul 22.00.


“Arin aku akan kembali sekitar jam 11 malam, gimana kalau kamu ke sini dan pulang bersama ?”


“Boleh saja.”


“Kalau gitu aku tunggu ya.”


Setelah mengatakan itu Maria memutuskan sambungan itu dan mulai kembali meneliti obat yang sangat membuat dia penasaran.


------------------------------------


“Lagi-lagi Arin pergi dari kamarnya ya ?”


Terlihat Alvan yang sedang berjalan membawa katung plastik. Dia baru saja kembali dari mini market sehabis membeli perlengkapan sehari-hari.


Pria itu berjalan menuju apartemen stars. Sesampainya di sana saat dia ingin menaiki tangga terdengar suara Chanan yang cukup keras, sedang berbicara dengan seseorang.


“Ketua kirimkan beberapa tim untuk mengecek setiap gang, sudut yang berada di kota, aku rasa seseorang menyebarkan sebuah Drugs di pulau Aurora saat ini.”


Alvan mendengar percakapan itu tapi dia tidak bisa mendengar cukup jelas lawan bicara dari Chanan.


“Iya, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan orang yang mencurigakan yang aku temukan di pertandingan antar SMA kemarin.”


Dia mengeluarkan ekspresi terkejut.


(Sudah kuduga kalau Chanan waktu itu pergi untuk mencari sesuatu.)


“Kurasa ini bukan organisasi biasa, jadi lebih baik berhati-hati.”


Setelah itu suara Chanan tidak terdengar lagi, Alvan mulai berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Di sana dia meletakan barang bawaanya di atas meja lalu membaringkan dirinya di atas kasur.


“Apa semua pristiwa yang terjadi belakangan ini saling terkait satu sama lain ?”


Dia berpikir dan memandangi atap apartemen miliknya.


“Kurasa tidak ya haha, dan Chanan itu adalah Anggota Shield kan pasti dia memiliki banyak misi-misinya sendiri yang lebih penting sekarang.”


Dia bangkit dari kasurnya dan duduk.


“Aku ingin melakukan sesuatu kepada hubungan Arin dan Intan, apa yang sebaiknya aku lakukan ya untuk memperbaiki hubungan kedua gadis itu.”

__ADS_1


------------------------------------


Seorang gadis sedang berbaring di kasurnya dan berbicara dengan seseorang melalui handphone miliknya.


“Maya gimana ini, selain saat sedang ujian aku sama sekali tidak bisa bertemu dengan Arin.”


Suaranya terdengar cukup sedih saat mengeluh kepada temannya.


“Hmm.. aku juga sama sih.”


“Apa Arin menghindariku ?”


Maya berpikir saat ingin menjawabnya.


“Mungkin ?”


“Kenapa kamu malah kaya nanya balik gitu sih ?”


“Karena aku memang tidak tahu.”


“AAAHHHHH AKU INGIN BERBICARA EMPAT MATA DENGAN ARIN.”


Intan terlihat kesal dan berteriak sambil kepalanya di tutupi dengan bantal.


“Maya besok bantu aku cari Arin.”


“Bukannya kamu sendiri yang bilang akan berusaha sendiri ?”


“Memang benar, tapi kalau sampai keburu libur aku takut malah tidak dapat bertemu lagi dengannya.”


Maya menarik nafasnya dan menjawab.


“Baiklah, tapi akan sangat sulit loh untuk mencari keberadaan anak itu ?”


“Kenapa ?”


(Dia pasti pergi saat kita mendekati tempatnya.)


Intan yang tidak mengetahui kalau Arin dapat mendeteksi seseorang dengan kekuatan Aerokinesis miliknya. Dengan begitu dia dapat dengan mudah kabur kalau ada seseorang yang mencarinya.


“Pokoknya besok setelah ujian selesai pokoknya kita berusaha tahan Arin agar tidak keluar kelas ya.”


“Iya, tapi ku pikir akan sulit hahaha.”


“Ayolah May berusaha dulu.”


“Oke-oke.”


“Kalau gitu sampai ketemu besok.”


“Iya.”


Setelah memantikan telepon itu Maya berpikir dan menatap keluar jendela.


“Aku rasa besok juga kita tidak akan bisa berbicang dengan anak itu.”


Lalu menutup jendela dan menguncinya. Dia mematikan lampu dan pergi tidur ke kasur untuk tidur.


Sesuai dengan perkiraan Maya, mereka berdua tidak dapat berbicara pada Arin besok. Gadis itu datang saat ujian akan di mulai dan dia membereskan ujianya terlebih dahulu dan keluar kelas pertama kali.

__ADS_1


__ADS_2