TRIGGER

TRIGGER
Cerita Sampingan 1 Datangnya Alvan


__ADS_3

Hari ini aku akan keluar dari rumah dan tinggal sendirian di sebuah apartemen tempat kenalan ayahku. Karena tidak boleh pergi sendiri orang tuaku mengutus 2 orang mengantar menuju tempat tersebut.


Sesampainya di sana bodyguard menenkan bel dan beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu, akan tetapi setelah pintu terbuka gadis itu kembali menutupnya.


Tentu saja setelah melihat kedua orang yang berpakaian serba hitam seperti mafia pasti akan bereaksi seperti itu, sudah ku katakan tidak perlu menempatkan penjaga.


Lalu beberapa saat kemudian pintu itu terbuka kembali, kali ini orang berbeda yang membukanya, akan tetapi ekspresi dan tindakan yang dilakukanya hampir sama.


“Maaf mengganggu, apakah ini benar rumahnya ibu Amalia ?”


“Saya mengantar tuan muda untuk menyewa apartemen di sini ?”


“Ah anak dari teman ayah ya ?, kalau gitu mari kita masuk dulu ke dalam tidak enak mengobrol di sini.”


Kami pun mengikutinya ke dalam rumah.


------------------------------------


Kami duduk di ruang tamu, di depan ku ada dua orang wanita yang pertama kali aku lihat. mereka adalah tante Amalia istri dari teman ayahku dan di samping itu Arin anak dari mereka berdua.


Arin masih mengenekan pakaian sekolah, gadis itu berambut panjang dan memiliki postur tubuh yang bagus, dia tidak menyadarinya tetapi ia cukup terkenal di sekolah dengan berbagai julukan. yang paling terkenal dikalangan anak laki-laki adalah “Ratu Es”.


Setelah penerimaan sekolah banyak lelaki yang berusaha mengajaknya berbicara, akan tetapi tidak dianggap olehnya. Aku kira hanya lelaki yang dia hiraukan, akan tetapi saat para gadis mengajak mengobrol, respon yang sama keluar darinya. dengan wajah tidak peduli dia menghiraukan semuanya. Dari situlah dia mendapat julukan itu dan terkenal dikalangan pria karena sikap dingin yang terlihat elegan.


“Alvan ya, lelaki terpopuler di sekolah.  Salah satu dari 6 Esper berperingkat S yang ada, aku Arin.”


Setelah berbicara gadis itu berdiri dan meninggalkan ruang tamu,


“Maaf ya, atas tidak sopannya anak ibu.”


“Tidak apa-apa tante, paman tadi sudah menjelaskan sedikit situasinya.”


Sebelum datang ke sini, paman meneleponku dan menjelaskan sedikit tentang sifat anaknya.


“Alvan maaf tapi nanti, kalau anak paman agak tidak sopan ke kamu, tolong dimaafkan ya.  banyak hal yang terjadi sekarang dia jadi agak dingin kepada orang lain.”


“Baik, paman saya mengerti.”


Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya dan tidak berani bertanya lebih lanjut karena akan tidak sopan, karena pasti ada penyebabnya, mungkin perlahan aku akan mengetahuinya setelah berkenalan dengannya.


Tante Amalia mengantarku menuju ke apartemen. aku menempati kamar nomer 7, jika ruangan ini dibandingkan dengan kamarku, ukuranya adalah tiga kali ruangan ini. Meskipun begitu, sekali saja aku ingin tinggal ditempat sederhana seperti ini.


------------------------------------


Keesokan harinya di sekolah, seperti biasa aku dengan teman-temanku berkumpul di taman sekolah saat istirahat dimulai. Kali ini aku melihat pemandangan yang tidak biasa, Arin sedang makan bersama dan mengobrol dengan dua anak peremuan. Mereka asik mengobrol dan dan bercanda bersama ini adalah ekspresi yang tidak pernah kulihat hingga saat ini. Karena dari awal masuk sekolah dia sangat cuek dan tidak pernah mengobrol dengan orang lain.


------------------------------------


Saat sore hari di apartemen aku mendapatkan pesan kalau salah satu temanku masuk ke rumah sakit, oleh karena aku bergegas keluar dari kamar dan mengunci pintu apartemen.


saat mau menuruni tangga, dari lantai 2 aku melihat Arin sedang berbicara dengan seorang lelaki yang sepertinya penghuni apartemen ini, ekspresinya terlihat sama saat sedang berada di sekolah, berbeda dengan dia yang biasanya.


Setelah itu aku turun dan bertemu keduanya di lantai 1. Sepertinya ia akan membagikan buah -buahan untuk para penghuni. aku juga berkenalan dengan Haqi. Seperti biasa Arin sangat dingin kepadaku dan pergi menuju lantai 3, karena situasi mendesak aku pun  bergegas pergi kerumah sakit.

__ADS_1


------------------------------------


Di rumah sakit beberapa temanku sudah berkumpul, dan katanya dia diserang oleh seseorang dan mengalami berbagai luka ditubuhnya. Dan ternyata ada beberapa siswa di rumah sakit ini dengan keadaan yang serupa.


Malam harinya aku menuju ke kamar nomer 4, dimana kamar Haqi berada lalu menekan belnya. Lalu ia keluar dari kamar membawa sebuah kantung plastik dan memerikanya kepadaku.


“Yo.. ini ambilah !”


“Makasih ka, maaf ngerpotin.”


“Haha gapapa, dan ga usah sopan gitu panggil aja Haqi.”


“Tapi itu tidak sopan”


Dengan agak malu ia menjawabnya.


“Tak apa lagi pula aku tidak peduli dengan panggilan haha.”


“Baik, kalau gitu permisi.”


“Tunggu.”


Saat Alvan berbalik untuk kembali ke kamar dia  dihentikan .


“Soal tadi sore Arin tidak sopan ke kamu, maafin ya.”


Haqi menggaruk kepala bagian belakangnya dengan tangan kanan dan kaki kirinya mengetuk-ngetuk lantai dengan perlahan.


“Tante dan paman menjelaskan sedikit tentang itu, jadi tidak masalah ko.”


“…….”


“Dulunya Arin tidak seperti itu, aku sudah di sini selama 5 tahun jadi sudah kenal lama, dulu dia tidak seperti itu.


Senyuman terlihat saat Haqi membicarakan Gadis itu.


“Seorang gadis ceria yang ramah terhadap semua orang.”


“…….”


“JIKA BUKAN KARENA KEJADIAN ITU. “


Haqi tiba-tiba menaikan nada bicara, mengepalkan tangannya dan membuat ekspresi marah  yang sangat menakutkan.


Alvan terkejut melihat itu dan dia sedikit mengambil langkah mundur.


“Jika saja waktu itu aku lebih kuat, mungkin saja.”


Lalu dengan nada agak rendah Alvan bertanya


“Kejadian itu ?.”


“Ahh.. maaf maaf, lupakan saja yang aku katan tadi, sampai jumpa.”

__ADS_1


Dia terlihat gelisah dan mencoba mengalihkan pembicaraan tersebut. lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.


Alvan yang kebingungan kembali menuju kamarnya dan memikirkan pembicaraan yang menjanggal di dalam dirinya.


(Arin yang dulu itu ramah ya ?, kalau melihat dia yang sekarang, sepertinya itu adalah kebohongan.)


Ia pun menghela nafasnya dan menyimpan buah ke dalam lemari es.


“Huh,, sebenarnya apa yang terjadi.”


------------------------------------


Keesokan harinya sebelum aku berangkat ke sekolah bel apartemen berbunyi.


Ting, tong….


Saat aku membuka pintu di sana berdiri tante Amalia yang terlihat kecapean. Mungkin dia berlari menuju kamarku dengan sangat terburu-buru.


“Permisi Alvan.”


“Oh tante, ada apa pagi-pagi seperti ini.”


“Ituu.. tante memiliki pemintaan untuk kamu.”


“Kalau itu yang bisa aku lakukan boleh, dengan senang hati aku akan membantu.”


“Bisa tidak tolong jaga Arin nanti setelah pulang sekolah.”


“Boleh saja, tapi kenapa tante ?.”


“Tadi pagi ada berita kalau beberapa anak sekolah dari SMA Barat diserang, jadi bisa tidak jaga Arin.”


“Jadi itu masuk berita ya, temanku juga menjadi korbannya dan sedang dirawat.”


“Alvan Rank S kan dan sangat kuat, jadi kalau bisa tante mohon lindungi Arin yang tidak memiliki kekuatan.”


Dengan ekspresi sangat sedih Amalia memintanya.


“Tante takut sesuatu terjadi lagi kepada Arin.”


Sambil membungkukan badannya ia memohon.


Aku terkejut dengan ekspresi tante Amalia, dia bahkan sampai membungkukkan badannya kepadaku. Meskipun aku tidak tau apa yang terjadi kepada Arin, tapi melihat orang-orang di sekitarnya seperti ini, aku rasa dia telah menjalani berbagai masalah.


“Baik tante tidak usah memohon seperti itu, lagi pula ayah dan paman itu teman yang sangat dekat, dan aku juga merepotkan keluarga tante dengan tinggal disini.”


Dengan senyuman tulus ia menjawab. Sembari memegang bahu Amalia untuk membuatnya berhenti membungkuk.


“Makasih ya.”


Sambil mengelap sedikit air mata dengan tanganya Amalia berterima kasih dan kembali menuju rumahnya.


“Melihat ekspresi tante pagi ini, dan ka Haqi malam tadi, aku semakin penasran”

__ADS_1


Aku masuk ke dalam kamar dam mengambil tas, lalu pergi menuju sekolah.


(Tapi dengan sifat dia yang sekarang, sepertinya aku harus mengikuti secara diam-diam. Aku akan menyelidiki apa yang terjadi pada Arin nanti.)


__ADS_2