
“Oi Chanan, bukannya ini musim Panas kenapa dingin begini!”
Tubuh Haqi bergetar, dia kedinginan lalu memeluk tubuhnya sendiri.
“Banyak faktor sih, seperti awal pergantian musim, atau arah angin yang berhembus pada suatu wilayah!”
“Tapi ini benar-benar dingin.”
Mendengar keluhan dari sahabatnya Chanan cukup kesal, karena dirinya juga mengalami hal yang sama, sudah lebih dari 10 menit mereka berdiam diri di halaman depan Rumah Arin.
“Tapi ya… tahan lah, ini juga demi teman Arin yang terluka.”
“Aku penasaran kenapa anak itu bisa sampai seperti itu ya ?”
Tentu saja kedua pria itu harus bersabar, ketika seorang gadis yang sedang terluka parah tengah di obati, kedua pria itu hanya bisa mengeluh ke dinginan. Hal itu tidak sebanding.
“Kalian berdua ayo masuk!”
Pintu terbuka, di sana terlihat Gina menyuruh keduanya untuk masuk ke dalam.
“Akhirnya!”
“Lama banget, dingin tau!”
Chanan serta Haqi mengikuti gadis itu dari bekakang.
Mereka melihat Maria dan Devina yang duduk di sofa sedang berbicara, sedangkan Arin dan Ina duduk di meja makan sambil makan coklat.
“Apakah sudah mendingan ?”
“Iya, Terima kasih atas perhatiannya kak!”
Devina menundukan sedikit kepalanya.
“Lain kali kamu harus hati-hati!”
Maria menegurnya, gadis itu sedang duduk santai menatap televisi.
‘Salah satu bank terbesar di daerah barat mengalami perampokan, para pelaku membakar gedung lalu melarikan diri dari petugas keamanan.’
Mereka melihat sebuah berita yang cukup mengejutkan, kebakaran besar terjadi, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, tetapi banyak sekali orang yang mengalami luka-luka akibat pertarungan dengan para pencuri serta akibat kebakaran api.
“Lagi ?, kali ini para penjahat itu sampai membakar gedung!”
Chanan terkejut melihat berita itu, dia menggaruk kepalanya dengan ekspresi kesal, karena atasannya di Shield pasti akan menyuruhnya untuk mencari bukti melalui CCTV seperti sebelumnya.
‘Di duga pelaku sama seperti dengan bank-bank sebelumnya’
Devina memperhatikan televisi dengan serius sembari berpikir lalu bergumam dengan perlahan.
“Entah kenapa belakangan ini banyak sekali kejahatan.”
Semua orang di rumah ini kecuali gadis itu mengetahui penyebab utama kenapa orang-orang mulai bertindak seperti sekarang. Penyebaran obat yang dapat meningkatkan kekuatan Esper adalah faktor utama atas kejadian ini.
“Oh iya ngomong-ngomong kenapa kamu sampai harus bantuin guru di sekolah ?”
Ina penasaran lalu bertanya sambil memakan coklat, mulutnya terlihat seperti marmut yang sedang mengunyah makanan.
“Ah ituu… Belakangan ini banyak sekali murid di SMA Barat yang kemampuan espernya terbakit, Aku, Kalia dan beberapa anggota osis harus melakukan Input ke bank data.”
__ADS_1
Mendengar perkataan itu Chanan menyimpitkan matanya lalu melihat dengan tajam kearah Devina.
“Apa itu benar ?”
“Eh?, ya !”
Devina terkejut dengan tatapan itu, Ekspresinya seperti sedang mengatakan “Ada apa dengan Chanan ?”, lalu dia menoleh ke yang lain, semua orang seperti sedang kesal akan sesuatu. Gadis itu merasa dia seudah mengatakan hal yang salah, tapi entah apa.
“Huh.. Apa para sialan itu lagi!”
Sembari mengela nafas Maria bericara. Ekspresinya benar-benar terlihat kesal, dia sedang mengingat kembali orang-orang yang sudah mengincar Arin di rumah sakit.
“Pastinya, Apa sih yang mereka incar!”
“Sampai detik ini kita masih belum tau siapa pelaku sebenarnya, aku sangat kesal!”
Gina dan Chanan berbicara dengan nada tinggi, mereka semua benar-benar penasaran dengan identitas dari pelaku yang sudah menyebarkan obat dan menargetkan mereka.
“Mereka ?”
Devina yang tidak mengetahui apapun mengeluarkan suaranya karena sangat penasaran, gadis itu memiringkan kepalanya dengan wajah polos.
Tidak ada jawaban sama sekali dari semua orang, mereka hanya diam dengan ekspresi kesal, saat Devina menoleh ke meja makan dia melihat seorang gadis memasang ekspresi ketakutan sembari menunduk.
(Kenapa gadis itu ?)
Ina menundukan kepalanya, setelah mendengar berita gadis itu entah kenapa merasa sangat bersalah akan sesuatu. Padahal dia bukan dalang atau orang yang melakukan kejahatan.
(Jika saja aku tau orang-orang yang sudah memberikan Kevin pil itu, aku bisa mencegah mereka berbuat kejahatan seperti ini.)
Melihat tingkah laku semua orang, Arin sangat tidak suka dengan suasana di rumahnya saat ini, dia berjalan menuju tangga sembari berbicara.
“.….”
Mendengar perkataan itu Devina diam sesaat, kepalanya tidak dapat memproses informasi yang baru saja masuk ke otaknya.
“HA, OBAT APA ?”
“Arin, jangan libatkan orang lain!”
Chanan Terlihat tekejut ketika Arin membeberkan informasi penting, karena sampai saat ini, kejadian itu hanya di ketahui oleh orang-orang penting saja.
“Tak apa, dia juga korban dari mereka!”
Dengan nada datar gadis itu berbicara lalu menaiki tangga.
“Hmm!!!”
Devina memperhatikan sekitarnya, suasananya benar-benar aneh, dia tidak tau harus mengatakan apa.
“Obat ?, obat ya, AH AKU INGAT!”
Dia berdiri dari sofa, wajahnya terlihat sangat terkejut.
“Orang-orang yang menyerangku, mengatakan memakan Obat, atau apalaht!”
“Hahaha, ternyata kamu di serang oleh orang-orang bodoh ya!”
Maria tertawa dengan penuh senyuman mengejek.
__ADS_1
“Para bedebah itu makan obat untuk membangkitkan kekuatan mereka!”
“MARIA!”
Chanan mendekati Gadis itu sembari berteriak.
“Apa salahnya ?, Arin benar kok, setidaknya gadis ini harus tau dengan kenyataan, terlebih lagi dia di suruh mengisi data dari orang-orang yang melakukan kecurangan!”
Haqi, Gina serta Ina hanya dapat menghela nafas mereka melihat perdebatan itu, mereka tau maksud dari Chanan, jika Devina tau lebih dari ini dia pasti ingin ikut mencari tahu bersama mereka, yang membuat dirinya nanti akan terlibat lebih jauh. Kemungkinan paling buruk, gadis itu akan ditargerkan seperti mereka.
“Jika memang tidak boleh tidak usah kok kak!”
Seolah membaca situasi Devina akhirnya mencoba menenangkan suasana.
“Tidak apa-apa kok, Cindy dan Kalia aja tau!”
“Gitu ya ?”
Maria tersenyum kepada Chanan, tatapannya seolah akan membunuh dalam sekejap.
“Cih, terserah!”
Chanan yang kesal berjalan menuju meja makan lalu duduk disebrang Ina.
“Ya intinya, Belakangan ini ada seseorang yang menyebarkan obat yang mampu membangkitkan atau meningkatkan kekuatan Esper!”
Dengan eskpresi terkjut Devina mendengarkan penjelasan.
“Pertama kali kita mengetahui itu adalah saat SMA Utara menyerang Cindy, mereka yang dihajar habis habisan oleh Arin memakan obat untuk meningkatkan kekuatannya!”
Mendengar informasi yang masuk, dia benar-benar terkejut dengan semua fakta yang baru saja terungkap.
“Aku mendapatkan sampel obat dari Ina dan menelitinya, Tapi laboratorium milikku disusupi dan sebagian sampelnya dicuri!”
Dengan sangat santai Maria berbicara, Gina hanya tertawa kecil melihat kelakuan dari temannya.
“Setelah itu kita ditargetkan oleh suatu organisasi, Ledakan di Rumah sakit juga berkaitan dengan kami!”
Haqi sedikit tertawa saat menatap ekspresi Devina, gadis itu terkejut, karena sampai detik ini ledakan yang terjadi di rumah sakit barat tidak diketahui kebenarannya.
“Terlalu banyak yang masuk ke otakku, aku tidak dapat memprosesnya!”
Devina memegangi kepalanya.
“Hahaha, Ayo lanjutkan main gamenya!”
Maria menarik Gina lalu berjalan mendekati consol yang berada di dekat televisi.
“Ah kamu menginap saja hari ini!”
Gina tersenyum.
Karena sangat berbahaya jika keluar jam segini, sekarang pukul 00.55, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, terlebih lagi mereka pernah diserang. Gina takut saat mereka keluar malam hari akan kembali ditargetkan.
“Apa tidak apa-apa ?”
“Sebaiknya menginap juga, ayo bermain game!”
Haqi yang ingin cepat-cepat merubah suasana menjadi menyenangkan setuju dengan pendapat Maria, akhirnya mereka mempersiapkan game selanjutnya.
__ADS_1