TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 2. Pria Rank S


__ADS_3

Setelah menutup pintu Arin menundukan kepalanya dengan ekspresi terheran-heran. Membuat ibunya bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.


“Rin kenapa ditutup lagi tidak sopan loh.”


“I…. Itu, ada mafia  di depan.”


“Mafia ?, mana mungkin ah, coba minggir biar ibu yang buka.”


Lalu dia membuka pintunya. Di sana berdiri dua orang mengenakan pakaian serba hitam. Ibunya mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Arin, tetapi sesaat sebelum pintu ditutup kembal. Orang itu bertanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama.


“Maaf mengganggu, apakah ini benar rumahnya ibu Amalia?”


“I….. Ya benar, A… Ada keperluan apa ya ?”


Dengan wajah yang agak panik dia bertanya.


“Saya mengantarkan tuan muda untuk menyewa apartement di sini.”


Kedua orang itu menoleh belakang mereka.


“Ah anak dari temen ayah ya ?, kalau gitu mari masuk dulu ke dalam, tidak enak mengobrol di sini.”


Setelah dipersilahkan masuk keduanya mengangguk, di belakang ada seorang lelaki yang terlihat sangat familiar, dia melihat Arin dan tersenyum padanya.


------------------------------------


Arin pergi ke dapur mengambil air minum untuk diberikan kepada tamu.


(Kaya pernah lihat, dimana ?)


Dia terus memperhatikan lelaki tadi yang ternyesum padanya. Lelaki itu juga memperhatikannya dengan sangat hati-hati.


Dia membawa teko dan 3 gelas lalu membawanya menggunakan  Platther. Setelah itu dia menyajikannya dan menuangkan air. Kemudian ia duduk di sebelah ibunya.


“Halo tante saya Alvan, mulai hari ini saya akan menyewa apartemen ini mohon bantuanya.”


“Ah ini Alvan, saya sudah mendengarnya dari suami saya, maaf ya suami saya tidak di sini karena sangat sibuk akan kerjaanya.”


“Ya tadi juga saya sudah berbicara dengannya, maaf katanya tidak bisa menyambut.”


“Kerjaannya makin lama malah makin banyak ya.”


Selagi ibunya mengobrol, akhirnya dia menyadari bahwa lelaki yang ada di depanya itu adalah orang yang sangat terkenal di sekolahnya.


“Ah ngomong-ngomong ini anakku namanya Arin, semoga bergaul dengan baik.”


“Saya Alvan mohon bantuanya.”


Lalu dia mengangkat tanganya, berniat bersalaman.


“Alvan ?, lelaki terpopuler di sekolah.  Salah satu dari 6 Esper berperingkat S. Aku  Arin.”


Arin berdiri, akan tetapi dia bukan berniat untuk membalas salam.


“Kalau gitu bu aku ke kamar dulu.”


“Rin ga sopan tau ke tamu kaya gitu”


Tanpa peduli dia pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamarnya, dia tidak berniat untuk berteman dengan Alvan. Terlebih lagi dekat dengan seseorang yang terkenal diantara para wanita di sekolahnya, yang ada hanya akan menambahkan musuh  ke dalam lingkungannya. Arin hanya ingin menjalani hari-harinya dengan sangat damai.


“Maaf ya, atas ketidaksopannya anak ibu.”


“Tidak apa-apa tante, paman sudah menjelaskan sedikit tentang sifat Arin.”


“Kalau begitu tuan muda,karena sudah selesai kami akan kembali.”


“Ya hati-hati.”


Kedua penjaganya berdiri dan meninggalkan ruangan.


“Kalau begitu sekalian kita liat kamar untuk Alvan gimana ?”


“Baik tante.”

__ADS_1


Keduanya pergi menuju apartemen yang berada di sebelah rumah, dia dibawa menuju lantai 2. Lebih tepatnya kamar nomer 7 yang berada di ujung.


“Nah mulai hari ini kamar nomer 7 kamu yang isi.”


“Terima kasih tante, maaf merepotkan sampai mengantar kemari.”


“Tidak apa-apa ko.”


“Kebetulan tadi ibu selesai masak, gimana kalau ikut makan ?”


“Engga usah Tante, kebetulan tadi udah makan.”


“Yaudah kalau gitu ibu permisi dulu ya.”


Alvan masuk untuk melihat kamarnya. Amalia meninggalkannya dan kembali menuju rumah.


------------------------------------


Dalam sebuah kamar seorang wanita sedang berganti pakaian. Ia mengambil baju yang ada di lemari dan mulai mengganti bajunya, lalu  dia duduk di kasur dan menatap atap.


(Hmm, salah satu dari esper terkuat tinggal di apartemen ini. Yang jadi masalah adalah dia sangat popular dikalangan perempuan di sekolah. Jika ada yang tau mungkin dapat menyebabkan masalah, sebisa mungkin jangan sampai bertemu di sekolah. Apa lagi pergi atau berangkat bersama, hubungan antar manusia sungguh merepotkan, aku tidak ingin terlibat sama sekali.)


“Rin turun dulu, makan.”


Terdengar teriakan dari bawah, kamar Arin berlokasi di lantai dua di rumah ini.


Ia pun  bangkit dari tempat tidur dan mulai berjalan keluar dari kamar dan pelahan menuruni tangga, ia melihat ibunya sudah makan terlebih dahulu, Arin mendekati meja makan dan menarik kursi dan duduk di kursi itu, lalu mengambil piring dan mengambil nasi dan lauk pauk yang ada.


“Arin, bisa tidak lain kali jangan seperti itu.”


“……….”


“Padahal dulunya kamu sangat sopan dan imut loh.”


Dengan nada bercanda sambil memeluk dirinya sendiri.


“……….”


“……….”


“Yah tapi lain kali jangan seperti itu loh.”


“……...”


Karena tidak dijawab Amalia pun bangkit karena telah selesai makan dan menuju dapur untuk mencuci piring setelah itu pergi ke kamar tidurnya.


Arin yang masih makan sendiri akhirnya selesai dan mencuci piring, lalu ia kembali ke kamarnya dan mengambil dompet. Setelah itu ia pergi keluar rumah. Sesaat menutup pintu dan berjalan keluar rumah. Ada seorang pria yang sedang berjalan keluar dari apartemen dan menuju kearahnya.


“Eh Arin, mau kemana jam segini ?”


“Kak Haqi, ke mini market beli makanan buat ngemil.”


Haqi penghuni kamar nomer 4 lantai 1 di apartemen yang dikelola oleh keluarga Arin. Ia sudah tinggal di sini lebih dari 5 tahun, dia menyewa apartemen saat masuk SMA dan saat ini dia sedang berkuliah di salah satu universitas di wilayah barat. Tingginya sekitar 175 cm berambut pendek, berwarna hitam.


“Ah kebetulan nih mau beli perlengkapan buat mandi. Gimana kalau bareng ?, cewe sendiri keluar malam gini bahaya tau.”


“Iya.”


Ia cukup dekat dengan Arin karena sudah mengenalnya sejak kecil. Mereka pun berjalan bersama. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol bersama.


“Oh iya katanya bakal ada penghuni baru ? Haqi bertanya.


“Iya, tadi sekitar jam 6 sore sudah dateng”


“Oh udah ketemu, orang nya gimana rin ?”


“Hmm.. ya.”


“Kenapa ?”


“Kakak tau kan di SMA ku ada seseorang pria tampan yang sangat popular dan dia salah satu dari esper terkuat.”


“Hoo… apakah Arin yang kecil itu sudah beranjak dewasa ?”

__ADS_1


“JANGAN BERCANDA” Sambil memukul bahu Haqi dengan keras.


“Haha maaf-maaf, kenapa emangnya dengan orang itu ?”


“ya, dialah penghuni baru ?”


“HAH ? HAAAAAAAAAAA ?”


Haqi yang tekejur berteriak dengan keras dan berhenti berjalan dan menatap Arin dengan terkejut.


“Berisik, diliatin sama orang lain”


“Ma.. Maaf”


Setelah itu mereka sampai di mini market yang tidak jauh dari rumah. Kemudian mereka berpisah untuk membeli keperluan masing-masing. Setelah membayar Haqi terlebih dahulu menunggu Arin di luar. Ia terkejut melihat kresek yang dibawa oleh Arin penuh dengan makanan seperti kripik ketang, permen, coklat, dan lainya.


“Wah beli sebanyak itu dong.”


“Yah ngerjain tugas paling enak sambil ngemil, masa ga tau ?”


“Ehh bukannya kebanyakan ?, nanti gemuk loh.”


“Ga dimakan semua hari ini juga.”


Mereka berjalan pulang menuju rumah, di depan mini market ada sebuah taman, dan taman itu dipenuhi anak muda yang sedang berkumpul.


“Aneh yah biasanya daerah sini sepi ? , tapi sekarang banyak orang.”


“Ya, kalau diperhatikan itu mereka sepertinya bukan orang sini !!”


Mereka berdua memperhatikan orang yang berkumpul di taman, terlihat seperti mendiskusikan sesuatu, karena jaraknya sangat jauh jadi tidak terdengar, keduanya pun berjalan dan melakukan obrolan.


“Oh iya ngomong-ngomong, berarti kamu pergi ke sekolah engga sendiri lagi yah mulai besok?”


Arin berhenti berjalan dan mengeluarkan hawa membunuh kearah Haqi dengan tatapan sinis seolah-olah akan membunuh hanya dengan menatapnya, Haqi pun merinding dan terkejut.


“JANGAN BERCANDA KAK”


“…….”


“Siapa juga yang mau berangkat bersama dengan orang itu.”


“………”


“Yang ada para perempuan di sekolah akan datang untuk membunuhku.”


“Ahh… yah itu mungkin sih.”


Mereka pun berjalan lagi, kali ini Arin berjalan di depan Haqi dan menjaga jarak darinya.


(Wah marah nih gimana dong.)


Sesampainya di depan apartement Haqi berbicara.


“Kalau gitu aku duluan ya.”


“Ya.”


Setelah berpisah dengan Haqi, Arin menuju rumahnya, membuka gerbang dan pintu, lalu menuju kamarnya, ia menyimpan belajaan di atas meja belajarnya dan disusun dengan rapih.


“Hah… Entah kenapa hari ini melelahkan, kalau gitu lanjut ngerjain tugas saja.”


------------------------------------


“Kalau gitu gimana dengan kita menyerang sekolah Barat terlebih dahulu.”


“Sekelompok anak orang kaya  berkumpul di sanakan ?”


“Lagi pula mereka sangat sombong, dan ada anak kelas satu berperingkat S.”


“Untuk jadi sasaran kita ini sangat cocok, tapi hati-hati agar tidak ketahuan oleh  guru atau petugas sekitar karena akan berbahaya.”


“Haha kalau gitu setuju, kita jalan kan rencananya.”

__ADS_1


Kelompok yang berkumpul di taman tersenyum dan tertawa, lalu mereka membubarkan diri setelah berdiskusi panjang, karena rencara sudah disusun dengan rapih dan akan segera dijalankan.


__ADS_2