
“Huaaaaaa….!”
Maria bangun dari tidurnya ia berjalan menuruni tangga sembari meregangkan tubuhhnya. Dia melihat sekitarnya Arin, dan Gina sedang memasak di dapur lalu Ina serta Devina duduk di meja makan mengamati keduanya. Haqi sedang duduk di sofa, dia terlihat masih sangat mengantuk.
“Mana Chanan ?”
“Gak tau!”
“Ah tadi dia bilang keluar bentar!”
Ina yang mengetahui itu menjawabnya.
Lalu dia duduk di sofa dan melihat kearah jam, jam menunjukan pukul 12:21. sudah waktunya makan siang. Maria melewatkan sarapan paginya, memang jarang dia untuk makan di pagi hari pada hari liburnya. Kali ini dia terbangun karena mencium aroma makanan yang sedang di buat oleh Arin.
“Rin udah belum Aku lapar!”
Haqi, Ina dan Devina dapat mendengar suara dari perut Maria, seperti seseorang yang belum makan selama 2 hari.
“Bentar lagi!”
Haqi mengambil handphone miliknya, lalu mengirim pesan kepada Chanan untuk menyuruhnya segera kembali karena makanan akan segera siap.
Devina dari tadi terus memperhatikan Arin, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
(Tidak ku sangka kalau Arin pandai memasak!”)
Gadis itu terus menerus terkejut dengan apa yang dia lihat, seseorang yang seharusnya Rank E ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar. Meskipun sikap acuh tak acuhnya masih sama dengan saat berada di sekolah, tapi kelakuan yang dia keluarkan saat berada di rumah sangat berbeda. Devina berpikir terus menerus kenapa itu bisa terjadi.
(Mungkin karena orang-orang di sini adalah kenalannya dari lama ?)
Dia masih belum mengetahui tentang masa lalu Arin seperti Cindy, Kalia dan Alvan. Mungkin jika dia mengetahui kalau Arin dulunya adalah gadis yang gampang menangis dirinya akan lebih terkejut lagi dari sekarang.
Arin yang sedang memasak dapat merasakan tatapan dari Devina, tetapi dia tidak memperdulikannya sama sekali. Karena reaksi ini pasti dikeluarkan oleh semua orang yang mengetahui ternyata dirinya mampu menggunakan kemampuan Esper Rank tinggi. Meski tatapan itu cukup mengganggunya.
------------------------------------
“Orang-orang itu terus menerus berusaha masuk ke sistem jaringan miliku!”
Chanan sedang memperhatikan layar monitor di kamarnya, dia mengamati seseorang yang sedang berusaha menembus firewall miliknya. Tanpa dicari tahu dia sudah dapat mengetahui kalau dalang dalam penyerangan ini adalah organisasi yang sudah menargetkan dirinya belakangan ini.
Dia menyiapkan jaringan palsu agar dapat melacak keberadaan musuh, tetapi musuh dengan cerdik langsung mematikan jaringannya ketika sadar kalau Chanan sedang melacak mereka.
“Siah.. mereka melarikan diri lagi!”
Chanan terlihat kecewa.
Organisasi itu dengan mudah mengetahui keberadaan dirinya. Tetapi dia sampai saat ini masih belum mengetahui indentitas dari musuhnya. Tentu indentitas dapat dengan mudah di akses melalui Bank data. Karena setiap penduduk pulau Aurora terdaftar di sana. Terlebih lagi musuh sudah mengetahui nama mereka.
__ADS_1
“Huuh.”
Chanan menjauhkan kursinya dari meja komputer lalu duduk dengan santai sambil memandangi atap. Handphone miliknya bergetar dia melihat Haqi mengirim sebuah pesan.
“Makanan sudah siap ya!”
Melihat itu Chanan berdiri .
“Baiklah kita lanjutkan ini nanti.”
Dia berjalan keluar menuju rumah Arin.
Sesampainya di sana tanpa mengetuk pintu dia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat Arin, Ina, Gina serta Devina sedang Makan di meja makan, sedangkan Maria dan Haqi makan di Sofa. Chanan berjalan menuju sofa. Di atas meja terlihat piring makanan yang sudah disediakan untuknya.
“Dari mana saja kamu ?”
Maria bertanya.
“Ada kerjaan!”
Sembari duduk di samping Haqi.
“Nanti ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian!”
“Hmmm..”
“Engga sekarang aja ?”!
“Lebih baik nanti saja!”
Temannya dapat memahami itu, berbeda dengan Maria yang seperti tidak peduli, hanya terus memakan masakan buatan Arin. Ekspresi puas dapat terlihat pada raut wajahnya.
(Sebenarnya aku ingin segera mengatakan kepada mereka, tapi tidak baik karena ada Ina dan Devina. Jika mereka sampai terlibat bisa berbahaya.!)
Sebenarnya dalam hati Chanan dia sangat tidak ingin melibatkan teman-temannya untuk terlibat dalam bahaya. Tapi tidak ada tim yang lebih baik dibandingkan dengan teman-temannya dari apartemen Star. Haqi yang mampu memprediksi masa depan menggunakan Prekognisi miliknya, Maria yang memiliki angel eye, dapat dengan mudah melihat musuh dari jarak jauh. Lalu Arin yang dapat mendeteksi keberadaan seseorang menggunakan Aerokinesis miliknya.
------------------------------------
30 menit berlalu, kecuali Ina, Devina dan Gina semua orang sedang berada di beranda lantai 2. ketiga orang itu menatap kearah Chanan yang memandang serius kearah mereka.
“Jadi mau apa kamu mengumpulkan kita semua di sini ?”
Sembari duduk pada sebuah kursi Maria dengan santai bertanya.
“Tadi pagi aku di panggil oleh atasan ke kantor Shield!”
Dengan Agak ragu Chanan berbicara.
__ADS_1
“Mereka menyuruhku menyelidiki organisasi yang menyebarkan obat peningkat kekuatan!”
Tiba-tiba Maria tersenyum, tetapi raut matanya seolah-olah dia sedang marah dan menatap kearah Chanan dengan tajam.
“Aku ingin meminta bantuan kalian untuk menyelidiki identitas dari organisasi itu!”
“Apakah mereka orang-orang yang sudah menintai kita selama ini ?”
Haqi bertanya.
“Kemungkinan besar iya, karena siapa lagi yang mampu menyimpan penyadap di rumah sakit, telebih lagi kata Alvan ada beberapa penyadap di dalam ruangan Arin!”
Ini pertama kalinya Arin mendengar tentang penyadap yang berada di rumah sakit saat dia di rawat, Gadis itu menatap ketiga orang yang berada di hadapannya dan di sampingnua dengan bergantian. Mereka menyadari tatapan sinis itu tetapi menoleh kearah lain.
“Jadi atasanmmu menyuruh kita yang sudah terlibat dengan mereka untuk menjadi umpan demi mengungkapkan identitas dari para pelaku kan ?”
Dengan senyuman yang sangat menakutkan Maria bertanya.
“Kurang lebih seperti itu!”
“Aku setuju, aku sangat ingin memukul orang-orang yang sudah berusaha meledakan drone di ruangan milik Arin!”
Jika saat itu kekuatan prekognisi milik Haqi tidak aktif, kemungkinan besar mereka semua menderita luka berat dan paling parahnya meregang nyawa. Maria masih marah sampai sekarang soal itu.
“Para bajingan itu terus menerus mengganggu kita, ini saatnya mereka merasakan tinjuku!”
“Tunggu Maria, bukannya berbahaya. Mengingat mereka dengan mudah menyimpan penyadap di rumah sakit tanpa ketahuan!”
Haqi terlihat kurang setuju dan mengajukan pendapatnya sembari berjalan ke tengah.
“Chanan sudah memeriksa semua CCTV di rumah sakit barat, tapi kita tidak dapat menemukan orang yang menyimpan penyadap itu di sana, kemungkinan besar mereka adalah organisasi besar!”
“Kau takut ?”
Bukan berarti Haqi takut, tapi dia tidak ingin melihat teman-temannya masuk ke dalam bahaya, dia tidak ingin merasakan kembali rasa sakit akibat kehilangan seseorang.
“Aku tidak memaksa kalian untuk ikut, aku tau ini akan menjadi sangat berbahaya.”
“Kamu gimana rin ?”
Mendengar perkataan Haqi, Arin berjalan menuju tembok pembatas dengan perlahan.
“Entahlah, tapi aku sangat ingin memukul orang-orang yang membuat kehidupan santaiku menjadi berantakan!”
Ketiga orang itu mengerti dengan perkataan Arin, setelah semua hal yang di lewati gadis itu, akhirnya dia hanya ingin menghabiskan masa SMAnya dengan santai, tapi setelah terjadi penyerangan terhadap Intan semuanya menjadi semakin kacau dan hancur, terlebih lagi hubungan dia dan Intan menjadi cukup renggang. Dan semua itu di sebabkan oleh Organisasi yang menyebarkan obat peningkat kekuatan kepada orang-orang.
“Aku ikut!”
__ADS_1
Terlihat kekecewaan di mata Haqi.
Tanpa disadari Gina, Devina, dan Ina sedang menguping mereka dari balik pintu, semua orang kecuali Chanan menyadari itu. Arin merasakan mereka melalui kekuatannya. Haqi dapat melihat masa depan jadi menyadari gerak-gerik itu, sedangkan Maria merasakan hawa keberadaan dari belakangnya, lalu memeriksanya menggunakan angel eyes miliknya.