
Seorang pria sedang duduk bersantai menyandarkan punggungnya ke sebuah kasur yang berada di belakangnya dan membaca buku. Setelah selesai berpatroli bersama komite disiplin Alvan langsung kembali ke kamarnya dan bersantai di sana. Karena peringatan Dari Intan dia akhirnya tidak mengikuti Arin lagi.
(Setelah hari itu aku tidak pernah berbicara dengan Cindy sama sekali, bagaimana ini.)
Emosinya saat itu benar-benar mencapai batas dan membentak sahabat baiknya dengan sangat kejam, dia sedikit menyesal dengan tidakannya saat itu dan ingin berbaikan, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk meminta maaf, itu yang membuat dia kebingungan untuk saat ini.
“Apa yang harus aku lakukan.”
Saat Alvan sedang berpikir dan membaca buku, dari lantai bawah terdengar keributan, lalu dia pergi keluar kamar dan mengecek apa yang terjadi.
Di sana terliat Haqi dan Chanan yang sedang berdebat dengan memasang wajah yang sangat panik dan langsung berlari entah kemana. Dia langsung menuruni tangga dan mengejar mereka.
“Chanan cepat kalau tidak Arin dalam bahaya.”
“Ini sudah lari sekuat tenaga, jangan banyak bicara, beritahu saja teman yang lain siapa tau mereka dekat dengan tempat itu.”
“Aku sudah mengirimkannya sebuah pesan di grup lime, tapi tidak ada jawab.”
“Di saat seperti ini mereka pada kemana sih.”
Mereka berdua lari sekuat tenaga menuju kearah taman dimana Arin, Maya dan Cindy sedang melawan para siswa dari SMA Utara.
“Hey apa yang terjadi ?”
“WOOOAAAAAAHHH.”
Alvan yang berhasil mengejar mereka langsung bertanya, akan tetapi Haqi dan Chanan terkejut dengan kehadirannya saat ini.
“Sejak kapan ?”
“Itu tidak penting, saat ini Arin sedang dalam bahaya dia diserang di taman dekat perbatasan kota Selatan, Kita akan ke sana dan membantunya.”
Dia terkejut setelah mendengar ucapan Haqi dan mempertanyakan itu.
“Eh serius ?, ko bisa kalian berdua tau itu?”
“ITU TIDAK PENTING UNTUK SAAT INI.”
Haqi yang mendengar ucapan Alvan membentak nya dengan keras sambil berlari sekuat tenaganya. Dia menyadari kalau situasi saat ini bukan sebuah lelucon dan tidak mempertanyakan kembali bagaimana mereka mengetahui itu.
“Baiklah kalau gitu aku pergi untuk mengecek nya terlebih dahulu.”
Szzzttt….
Setelah mengatakan itu sejumlah Listrik berkumpul di sekitar tubuhnya, dan dia menghilang dari Hadapan Haqi dan Chanan. Alvan dapat bergerak sangat cepat saat dia menggunakan kekuatan elektrokinesis miliknya untuk menyelimuti tubuhnya. Tubuhnya akan menjadi seperti magnet yang memiliki kutub yang berbeda dengan bumi dan membuat dia bisa berlari dengan sangat kencang saat ini, dia juga bisa berdiri ditembok dengan mengendalikan eletromagnetik yang berada disekitarnya.
Dari kejauhan dia melihat pohon yang melayang di udara.
__ADS_1
“Apa-apaan ini.”
Dia manambah kecepatannya, di depan sana terlihat dua orang gadis yang terjatuh di tanah akan tertimpa oleh pohon yang terbang kearah mereka dengan jumlah yang sangat banyak.
Alvan langsung mengumpulkan kekuatannya dan menerjang pepohonan dan benda yang berada di depan kedua gadis itu dan menyerangnya menggunakan listrik. Seketika sebuah petir menghantam seluruh benda dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping.
------------------------------------
Maya yang melihat Adegan di depannya terkejut, saat melihat seluruh benda yang menuju kearah Arin di hancurkan oleh petir yang menghantamnya. Tapi dia bernafas dengan lega karena temannya berhasil menghindar dari serangan yang sangat berbahaya itu. Dia menggelengkan kepalanya dan melakukan teleportasi ke samping Arin, lalu membantunya untuk berdiri.
“Ini jangan sampai dihilangkan lagi.”
“Ya, Istirahatlah sisanya serahkan padaku.”
Setelah memberikan Trigger milik Arin Maya yang kelelahan langsung duduk di tanah dan mengatur nafasnya.
(Prince tak kusangka dia dapat menghancurkan semua itu dengan sekali serang, Esper dengat pringkat S memang berada di level yang berbeda, mengerikan.)
Maya memandangi pria yang berdiri di depannya.
Alvan berbalik Badan dan melihat Arin, dia terlihat cukup baik-baik saja. Akan tetapi di belakang kedua gadis itu ada seseorang yang terluka cukup parah dan sedang memegangi bahunya, sejumlah darah keluar dari beberapa bagian ditubuhnya dan menempel di bajunya.
“CINDY ?”
Dia menyadari kalau itu adalah sahabat baiknya dan memasang ekspresi marah saat ini.
Cindy menangis ketika melihat temannya datang untuk meyelamatkan dia.
Arin yang sudah memegang Trigger berjalan menuju kearah Alvan.
“Untuk saat ini aku akan berterima kasih.”
Dia memandang kearah Alvan dengan wajah kesal.
“Ya, tapi musuh ada disana.”
“Aku tau.”
Alvan sangat bersyukur datang tepat waktu dan berhasil menahan semua serangan musuh, dia juga tidak tahu kalau Cindy akan ikut terlibat dalam insiden kali ini.
“HAHAHAHA TAK KUSANGKA SANG PANGERAN AKAN DATANG UNTUK MENYELAMATKAN KALIAN, KARENA SUDAH ADA DI SINI AKANKU HABISI KAU JUGA.”
Lalu seluruh benda yang berada di sekitar mereka kembali melayang ke udara dan mulai menyerang kembali.
Arin yang melihat itu langsung mengeluarkan bilah pisau cutternya dan mengayunkan tangannya dari kiri ke kanan . Angin yang sangat besar menghempaskan seluruh benda itu dan memotongnya menjadi serpihan kecil.
Alvan yang berdiri di sampingnya terkejut melihat Arin dapat menggunakan kekuatan Esper, dia sangat tidak menyangka kalau gadis yang berusaha dia lindungi memiliki kekuatan yang sangat kuat.
__ADS_1
(Bohongkan, dia seorang Trigger, dan apa-apaan kekuatan ini ?)
“Majulah, waktunya ronder ke 2, akan ku hajar lagi kau.”
Dengan eskpresi mengejek dia berjalan perlahan.
Kevin yang Marah menggunakan kekuatan telekinesisnya terus menerus dan menerbangkan seluruh benda yang berada di sekitarnya menuju Arin, Tetapi berhasil ditangkis dan dihancurkan dengan mudah. Dia melihat musuh yang berjalan perlahan menuju kearahnya dan tersenyum menjadi lebih kesal. Lalu saat dia mau mengguakan kembali kekuatannya, tiba-tiba dia memuntahkan darah yang sangat banyak dari mulutnya dan terjatuh ke tanah.
Arin yang melihat musuh tiba-tiba terjatuh dan mengeluarkan darah pun berhenti berjalan dan mengamatinya dari jauh.
(Dia sudah mencapai batasnya, atau itu efek dari pil yang dia makan sebelumnya.)
Semua orang terkejut melihat pria itu tiba-tiba mengeluarkan Darah dari mata hidung dan bahkan telinganya. Karena jika seorang Esper terlalu banyak menggunakan kekuatan dia hanya akan kelelahan seperti Maya, atau jika mereka memaksakan diri untuk menggunakan kemampuannya dia akan merasa pusing, pingsan, atau muntah seperti apa yang di alami oleh Intan.
“AAAAAAAAAAAAAHHH SIALAN APA YANG TERJADI, DARAH INI TIDAK MAU BERHENTI.”
Kevin terus mengeluarkan darah dan dia mulai merasakan sakit di seluruh tubuhnya saat ini.
“AAAKKKHH INI SAKIT.”
Kedua temannya yang dihajar oleh Maya akhirnya tersadar dan berjalan mencari temannya, dia terkejut melihat Kevin yang sudah terkapar di tanah berlumuran darah.
“HEY KEVIN KAU TIDAK APA-APA, TEGANYA KALIAN MELAKUKAN INI.”
Blaise yang marah memandangi Arin.
“AKU BAHKAN BELUM MELAKUKAN APA PUN, DAN APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA ORANG ORANG DARI SMA BARAT LEBIH DARI INI, JANGAN BILANG KALIAN MELUKAI ORANG LAIN TETAPI TAKUT UNTUK DI LUKAI BALIK ?”
Arin yang kesal mendengat ocehan musuh membalasnya dengan sangat marah.
“Kemungkinan besar ini efek dari pil yang dia makan.”
Hera melihat dan menyimpulkan apa yang dia lihat saat ini.
“JANGAN HARAP AKU AKAN MELEPASKAN KALIAN SEMUA.”
Kemudian Arin berlari kembali kearah musuh.
SING!!!!!!!!
Tiba-tiba sebuah benda seperti bola tenis berwarna hitam terlempar di atasnya dan memancarkan cahaya terang, yang membuat seluruh orang yang melihat itu menjadi tidak dapat melihat untuk sementara dan memejankan matanya.
“Sial itu Flash bang.”
Semua orang tidak menyadari kalau beda itu adalah sebuah bom cahaya untuk membuntakan musuh untuk sementara waktu dan telat untuk menutup mata mereka atau membalikan badan mereka.
Alvan, Maya, dan Cindy juga terkena efek dari bom itu dan mereka semua menutup matanya.
__ADS_1
Saat pandangan mereka semua mulai kembali nomal, musuh yang seharunya di hadapan mereka sudah tidak ada dan mengilang tanpa jejak.