
“Sayang sekali tadi, tapi kita berhasil menyamakan poin lakukan lah yang terbaik, menang atau kalah tinggal 1 quarter lagi.”
Kana menatap kepada para pemain yang saat ini sedang duduk beristirahat sebentar. Olivia membagikan minum kepada mereka, Arin mengambil botol minum itu dan hanya meminum sedikit, dia menatap kearah sebrang lapangan dimana para pemain SMA Utara berada, terlihat Freya sedang merasa kesal dan menendang kursi.
(Bagaimana anak itu tau kami menggunakan kekuatan.)
“Tenang Freya, quarter terakhir kalian harus menang.”
Pelatih menenangkannya.
“Tapi dia sepertinya tau.”
“Iya dari awal dia sudah memandangiku.”
Semua anggota klub melihat kearahnya.
“Tapi tenang saja, tanpa ada bukti kita akan baik-baik saja.”
“Bagaimana kalau ketahuan ?”
Terlihat beberapa orang panik.
“Itu tidak akan mungkin terjadi jadi bermain seperti biasa, dan kalian akan memenangkan permainan ini.”
Dengan percaya diri dia mengatakannya untuk menenangkan para anggota, mereka memiliki ekspresi yang lebih baik saat ini.
Freya menatap Arin yang sedang berdiskusi dengan anggotanya.
(Aku benar-benar membenci orang sepertinya, aku tidak akan kalah.)
Bel Quarter ke empat berbunyi para pemain kembali menuju lapangan SMA Utara pemain masih sama dengan sebelumnya, Tetapi SMA Barat terlihat ada pergantian pemain, Kirana menggantikan Mika untuk menjadi Center dia sangat bersikeras memaksa agar dapat dimainkan pada babak terakhir, Mika meminta untuk diganti karena dia sangat kelelahan, Kapten yang melihat itu merasa senang, Kana pasrah dan membiarkan dia bermain dengan syarat agar tidak memaksakan diri.
Bola dimulai dari lawan, mereka melakukan defend saat ini.
Freya melihat kesempatan karena dia tau kalau kapten tim lawan baru sembuh dari cidera, dia mengoper bola ketemannya yang berhadapan dengan Kirana. Musuh benar-benar meremehkannya dan dia dengan sigap melakukan blok, bola keluar dari lapangan.
Musuh mengoperkan bola kembali kepada Freya, mereka melakukan Pasing terus menerus, dan saat celah terlihat mereka kembali menggunakan kekuatan untuk membuat pandangan Riana melihat sebuah ilusi dan melakukan shotting.
“Haha ternyata benar-benar menghilang.”
Kirana melihat itu tertawa dan tersenyum.
“Kapten musuh mendapatkan poin, kenapa malah tertawa.”
Naila menegurnya.
“Tidak, hanya saja aku benar-benar tidak menyangka mereka bisa melakukan hal seperti itu.”
Dia mengambil bola dan mengopernya kepada Maya, mereka melakukan serangan.
------------------------------------
“Teknik apa sih yang SMA Utara lakukan dalam permainan, Para pemain SMA Barat terkadang diam dan telat melakukan gerakan.”
“Dan akhirnya mereka dengan mudah kegilangan poin, BERJUANG LAH.”
Para penonton yang penasaran dengan teknik yang digunakan musuh berdiskusi dan terus menyemangati mereka.
“Aku merasa aneh, mereka tidak melakukan gerakan istimewa sama sekali, tapi dapat dengan mudah beberapa kali mengecoh Athena.”
__ADS_1
“Benar, dia adalah pemain terbaik saat kejuaraan SMP dan dengan mudah mengalahkan mereka yang menggunakan teknik street ball, aku tidak mengerti.”
“Kata para pemain yang telah bertanding dengan mereka, aku dengar kalau musuh tiba-tiba menghilang dan sudah ada di pinggir atau sudah mencetak angka.”
Mereka terus berdiskusi dan memikirkan cara untuk menghentikan gerakan musuh.
“Ah tidak, lagi-lagi mereka melakukan itu, Center benar-benar tidak bereaksi sangat gila.”
“Apa mereka melakukan kecurangan ?”
Terdengar seorang penonton mengajukan pendapatnya.
“Harusnya tidak mungkin, Liat kamera di sana menyala, di situ sudah terdapat alat untuk melacak gelombang ESP.”
“Jika ada kecurangan itu akan berbunyi, dan ada pengawas yang memonitoring akan langsung datang.”
Beberapa orang menjelaskan.
“Ah maaf ya aku mengatakan sesuatu yang buruk.”
“Tidak apa-apa, karena teknik yang mereka gunakan benar-benar membingungkan.”
“AYO SERANG.”
Maria berteriak terus menerus mendukung Arin. Haqi yang berada di sampingnya merasa sangat nostalgia dengan suasana saat ini. Mereka sering menonton pertandingannya saat SMP.
(Sejak Arin berhenti bermain basket, aku merasa ada sesuatu yang hilang, tapi momen ini sangat menyenangkan.)
Dia tersenyum dengan lebar dan menatap kearah lapangan.
“Aaahhh… lagi-lagi mereka melakukan itu sialan.”
Daniel terlihat sangat kesal saat melihat Musuh menyerang dan mencetak poin.
Cindy juga sudah terlihat sangat kesal.
“Aku sudah tidak tahan lagi, Kak Maria bolehkah aku mengganggu orang itu sekarang, aku tidak bisa melihat mereka terus melakukan hal seperti ini, dan saat ini mereka ketinggalan cukup jauh.”
“Sebentar lagi Alvan, Aku tidak melihatnya dengan jelas tapi tunggu sebentar lagi.”
Haqi memberitahunya.
“Tapi waktu tinggal 6 menit lagi dan sekarang poin mereka tertinggal 10.”
“Karena Haqi melihat sesuatu, maka tunggu sebentar lagi, aku juga ingin sekali memukul wajah wanita itu.”
Alvan dan teman-temannya terkejut melihat perubahaan ekspresi yang tiba-tiba di keluarkan oleh Maria.
------------------------------------
Arin dan timnya sedikit terdesak, karena dari tadi tim lawan saat menyerang terus menerus menggunakan Visual Inhibition. Freya melakukan Dribble di depannya dan tiba-tiba menghilang dan tengah melakukan lay up.
(Ilusi sangat menyebalkan.)
Dia melihat waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi. Kana melakukan Time out karena alur pertandingan sudah diambil alih oleh SMA Utara dan Skor saat ini adalah 53 vs 64 poin, terakhir dan seluruh pemain berkumpul.
“Hahaha mereka benar-benar menghilang dihadapan kita.”
Kirana tertawa dengan situasi saat ini.
__ADS_1
“Jangan tertawa kita ketinggalan 10 poin tau.”
Riana terlihat kesal dan terlihat sangat kelelahan.
Arin menarik nafasnya dan menatap kearah Intan.
“Tan kau bisa bermain ?”
Seluruh anggota melihat kearanya yang mengajak Intan untuk bermain.
“Tidak dia masih belum pulih sepenuhnya.”
Kana dan beberapa orang lain menolaknya.
“Prince kau dengarkan, tanyakan pada Kak Maria apakah Intan dapat bermain di menit terakhir atau Tidak ?”
Semua orang kebingungan melihat Arin berbicara sendiri.
“Ngomong sama siapa.”
Dia melihat ke kursi penonton di sana terlihat Alvan sedang berbicara dengan Maria.
Maria melingkarkan tangannya dan memberikan isyarat boleh.
“Kak Maria mengijinkanmu bermain, Kita akan melakukan Itu.”
“Itu ?”
Intan terlihat kebingungan dan mulai melepaskan jaket miliknya.
“Apakah duet yang sering kau lakukan dengan Nia ?”
“Ya, Maya, Kirana, Riana, Naila, mereka memang bagus dalam bermain basket, tapi tidak ada yang pernah bermain bersamaku sampai saat ini, jadi tidak mungkin.”
Semua orang kebingungan dengan pembicaraan keduanya.
“Tapi aku tidak sebagus Nia dalam melakukan gerakan cepat.”
“Kau akan memerankan peranku, Apa ada yang membawa Karet?”
Arin bertanya kepada anggota lain, Olivia mengambil karet dari tas miliknya dan memberikannya.
“Ini aku membawanya.”
Dia mengambil itu dan mengikat rambutnya menjadi ponytail.
“Eh ?”
Entah kenapa Intan melihat sesaat melihat sosok Nia dihadapannya.
(Melihat Arin mengikat rambutnya, entah kenapa sekilas aku melihat Nia, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, aku harus mencari cara menghubungi dia.)
“Naila maaf tapi kamu akan digantikan oleh Intan.”
“Tidak apa-apa ko rin, Intan hati-hati.”
“Tentu saja.”
Kana terlihat pasrah dengan keputusan para pemainnya yang sangat egois.
__ADS_1
“Baiklah terserah kalian tapi hati-hati.”
Waktu time out berakhir. Mereka kembai menuju lapangan.