TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 10. Kondisi kalia


__ADS_3

Seorang gadis terbangun dari tidurnya. Kemudian dia melihat ke arah kanan, di sana terlihat Maria yang sedang tertidur pulas. Ia pun keluar dari kamar dan menuruni tangga. Terdengar suara dari ruang tamu, itu adalah Haqi Dan Chanan yang sedang bermain game.


“Jangan bilang dari kemarin belum tidur.”


“Wah Arin.”


“Eh udah bangun.”


“Kalau kamu udah bangun, berarti ini jam berapa.”


“Sekarang jam 7 kurang,”


“Keasikan main jadi lupa waktu, tapi sebentar lagi lawan boss terakhir.”


“Ayo kita selesaikan hingga beres Qi.”


“Oke.”


Arin meninggalkan mereka berdua yang kembali fokus kepada game dan menuju kamar mandi untuk untuk mencuci muka. Selesai mencuci muka dia membuka lemari dan menganti pakainya, dia bergagas keluar rumah untuk melakukan olahraga pagi.


“Kak jagain rumah ya.”


“Siap.”


“Serahkan pada kami Rin.”


Kemudian ia menutup pintu, tapi jika diliat mereka hanya fokus ke bermain game tapi Arin pasrah dan memulai melakukan pemanasan ringan sebelum berlari.


Saat melakukan pemanasan tiba- tiba empat orang datang menghampirinya dan bertanya.


“Permisi kalau Apartemen Stars dimana ya ?”


Yang bertanya adalah teman-temannya Alvan yang sedang mencari lokasi  dimana tempat tinggalnya saat ini.


“Tepat di sana.”


Setelah memberitahu mereka Arin langsung berlari dan memulai olahraganya.


“Terima kasih.”


Teman-temannya alvan tidak menyadari bahwa gadis yang mereka tanya tadi adalah Arin karena menggunakan jaket hoodie.


“Tidak terlihat jelas tapi gadis itu cantik ya.”


“Ya.”


“Tapi aku kaya pernah lihat dimana ya.”


“Beneran ?.”


Cindy merasa pernah melihat dan mendengar suara itu entah dimana, mereka pun bergegas menuju apartemen Stars dan menuju kamar nomer 07.


------------------------------------


Mereka tiba di depan kamar dan menyalakan bel, setelah beberapa menit pintu terbuka. Terlihat Alvan yang sangat mengantuk sedang membuka pintu sambil menuap.


“Cepat sekali kalian datang, bukanya terlalu pagi.”


“Kita tidak sabar jadi berkumpul dan memutuskan datang pagi.”


“Ya kalau gitu silahkan masuk.”


Kemudian semuanya masuk ke dalam kamar Alvan teman-temannya mulai memperhatikan ruangannya.


“Di lihat dari luar ini lebih seperti kos kosan dari pada apartemen iya kan.”


“Ya hanya memiliki 3 lantai juga.”


“Ah tidak sebenarnya ini 4 lantai, ruangan paling atas digunakan untuk mencuci pakaian atau mengadakan pesta katanya.”


“Tapi dengan harga tergolong murah dan lumayan dekat dengan sekolah tempat ini cocok.”


“Aku mau melihat lantai paling atas ah.”


“Ah kalian laki-laki jangan ke lantai 3 ya karena di larang masuk, itu daerah khusus wanita.”

__ADS_1


“Hey jika kau bilang seperti itu malah penasaran kan.”


“Kata Haqi kalau sampe ketauan kalian mencoba mengintip atau mengendap-endap bakal dikenai kutukan, beberapa penghuni pria banyak yang kabur setelah terkena kutukan itu.”


“Haha kau percaya yang gituan tidak kusangka, tapi seram sih kalau iya.”


“Sebaiknya kau langsung ke lantai atas jangan sampai buat Alvan malu karena tingkah laku kalian.”


Cindy memarahi teman-temen prianya.


“Baik bu.”


Kemudian beberapa temannya pergi keluar kamar dan menuju lantai atas.


“Al dari tadi pagi aku tidak bisa menghubungi Lia.”


“Udah coba ditelepon.?”


“Ya aku tapi tidak dijawab sama sekali, kenapa ya.”


“Mungkin masih tidur.”


Meskipun terlihat santai tetapi Di dalam hati keduanya, mereka takut sesuatu yang buruk terjadi pada Kalia karena pergi sendirian pada malam hari, tetapi keduanya mencoba berpikir positif.


lima menit kemudian teman-temannya kembali ke kamar dan mereka mulai duduk dan berbincang.


“Engga buruk loh, aku juga ingin pindah ke sini kayanya.”


“Jangan bilang kalau kau mau bersama Al ya ?.”


“Huhu kamar wanita ada yang kosong ga ya ?,”


“Kalian ini ya !.”


Mereka berbincang dan berbicara sambil memakan beberapa cemilan yang mereka bawa. Kemudian handphone milik Cindy berdering dan ada telepon yang masuk, lalu dia mengangkatnya.


“halo Kalia ? kemana aja dari tadi pagi diteleponin tapi ga diangkat.”


Tetapi suara yang menjawab bukan suara seorang wanita.


“Eh siapa ini mana Kalia.?”


“Ini Daniel kali-.”


“Eh dimana kenapa handphone nya bisa ada di kamu ?”


Cindy memotong pembicaraan


“MAKANYA DENGERIN.”


Terdengar suara teriakan dari telepon itu dan semuanya memandang ke arah Cindy


“Saat ini kalia sedang dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri.”


“HAH APA .?”


“Kalian sebaiknya ke sini, ke rumah sakit sekarang.”


“APA YANG TERJADI PADA KALIA JELASKAN DANEIL.:


“Semuanya sedang berkumpul iyakan ? cepat datang saja ke sini aku akan menjelaskan semuanya sini, ingat kamar 305.”


“Baiklah.”


Telepon pun ditutup dan semua orang yang di dalam ruangan melihat cindy yang berteriak dengan ekspresi marah dan sedih.


“Kenapa Cin.?”


“Katanya Kalia masuk rumah sakit.”


“HAAA…?”


Semuanya terkejut dan berteriak bersama.


“Jelasinya nanti aja aku juga tidak tau lebih baik kita sekarang kesana, Daniel akan menjelaskan sesampainya di sana.”

__ADS_1


“Baiklah.”


“Aku akan berganti pakaian dulu kalian tunggu di luar.”


“Baik.”


Semuanya keluar menuruni tangga dan menunggu di  lantai satu.


Alvan dengan cepat mencuci muka dan mengganti pakaianya. Kemudian mengunci pintu kamar dan berlari menuju yang lainya.


“Kalau gitu ayo cepat.”


Semuanya mulai  berlari menunuju rumah sakit.


(Kalau saja kemarin aku mengantarkan dia.)


Alvan mengepalkan tanganya dengan sangat kuat dan marah terhadap dirinya sendiri


------------------------------------


Sesampainya di rumah sakit mereka bergegas menuju ruangan yang merawat Kalia. Terlihat Daniel duduk di sebelah Kalia yang baru sadarkan diri.


Kalia tinggal sendiri di kota ini, karena dikeluarganya dia adalah orang yang kekuatan espernya terbangkit dan keluarganya berada di luar negeri. Oleh karena itu Daniel yang mengurus semua surat yang harus diisi di rumah sakit dan menunggunya.


“Kalia ?”


“Oh Cindy maaf membuat kalian cemas !!.”


Semuanya bernapas lega melihat temanya tidak separah murid lain yang diserang. Hanya kepalanya yang dibalut.


“Kamu gapapa ?.”


“Ya kata dokter juga tidak apa-apa, tetapi untuk berjaga-jaga sebaiknya dirawat selama tiga hari.”


Lalu Daniel menjelaskan situasi yang dia tahu kepada teman-temannya.


“Saat aku tahu kalau handphone milik Kalia tertinggal, aku berusaha mengerjar kalian, tetapi di tengah jalan aku melihat dia sudah tegelak dan mengeluarkan dari kepalanya lalu menelepon ambulan dan membawanya ke sini.”


Saat sedang berbicara tiba tiba salah satu temannya berteriak.


“WOI BUKANYA KALIAN PULANG BARENG KALIA YAH KENAPA BISA SEPERTI INI ?.”


Cindy dan Alvan tidak bisa membalas pertanyaan tersebut. Karena itu terbukti benar mereka seharusnya pulang bersama dan membiarkan Kalia sendirian, di saat situasi sekolah sedang seperti ini. Ini adalah kesalahan keduanya.


“Dudah jangan salahkan Cindy dan Alvan.”


“Tapi !!!.”


“Akulah yang egois, Saat itu Alvan berusaha mengantarku, tapi dengan sombongnya memasang barier, yang ternyata dapat ditembus hehehe.”


“Tidak ini salahku, maaf.”


Alvan menyalahkan dirinya sendiri dan menundukan kepalanya


“Bukan salahmu, ini salahku yang menghentikan Al yang berusaha membujuk.”


“Sudahlah kalian berdua, lagi pula aku tidak apa apa.”


Mereka berdua pun saling meminta maaf akan situasi yang tejadi.


“Baiklah lebih baik kamu beristirahat dulu agar cepat pulih kami akan kembali.”


Lalu mereka semua bergegas keluar dan berkumpul di depan rumah sakit. Dan Cindy memulai percakapan.


“Aku tidak akan memaafkan mereka.”


“Ya tentu saja.”


“Komite disiplin lagi nyari relawankan, aku akan ikut, dan mencari mereka semua.”


Cindy dengan sangat menyesal dan marah membulatkan tekadnya


“Ya kami juga akan ikut membantu.”


“Tentu saja Cindy kita semua akan membantu.”

__ADS_1


__ADS_2