
“Aku tidak menyangka bunga bunga di taman bisa secantik ini.”
“Tentu saja, bunga juga banyak kegunaanya, kaya mawar yang di sana, biasanya digunakan untuk produk kecantikan, minuman atau makanan !”
“Hmmm benar sih.”
“Skincare yang ku gunakan buatan aku sendiri loh, mau mencobanya ?”
“Eh, sungguh ?”
“Tentu mau kak Maria !”
Maria, Almya, dan Kalia sedang mengobrol sembari melihat-melihat berbagai bunga yang berada di taman universitas selatan, saat ini dia sedang menjelaskan berbagai kegunaan dari beberapa bunga yang berada di dekat mereka, seperti dapat di gunakan sebagai obat, menjadi toping pada makanan, atau di sajikan menjadi sebuah teh herbal.
Dari kejauhan Alvan, Haqi, Chanan, Gina Maya dan Cindy yang duduk di meja taman melihat kearah mereka sembari memakan cemilan yang di bawa oleh kalia.
“Al, dari tadi kamu liatin terus kak Maria, jangan bilang kamu lagi jatuh cinta ?”
Dengan tatapan tajam sembari menoleh kearah Alvan, Cindy berbicara dengan nada kesal.
“Uhuk, uhuk, uhuk.”
Alvan yang sedang memakan kripik kentang terkejut dan membuat tenggorokannya tersedak, akhirnya dia batuk kesakitan, semua orang yang melihat itu tertawa.
“A.. apa yang kamu bicarakan Cindy.”
“Jangan bohong, dari tadi kamu menatapnya dengan tatapan panas gitu.”
“HAHAHAHAHA, Prince sungguh ? HAHAHAHAHA.”
Mendengar itu Maya tertawa dengan keras, dia tidak dapat menahan itu lalu memukul-mukul meja. Matanya mengeluarkan Air mata dan ekspresinya benar-benar mengejek Alvan.
“Bukan begitu..”
Menoleh kearah Maria yang sedang mejelaskan sembari tersenyum dengan sangat lembut.
“Jadi apa dong ?”
“Gimana ngejelasinnya ya !”
“.….”
“Melihat kak Maria yang sekarang tersenyum, berbicara seperti ini, aku tidak dapat percaya bahwa dia adalah orang yang menghabisi 50 orang pria sendirian.”
“Hmmm.”
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, Cindy mulai memperhatikan gadis itu, sembari mengambil sebuah kue dan memakannya.
“Menghajar 50 orang, Kapan ?”
Maya yang tidak tau tentang penyergapan yang di lakukan oleh geng Hammer bertanya dengan ekspresi bingung, sembari memegangi perutnya dia masih tertawa dengan tanpa henti.
“Banyak hal yang terjadi may.”
Cindy dengan agak acuh menjawab, lalu memandangi Maria yang sedang memetik sebuah bunga.
“Kak Maria itu, di sebut gadis cantik dari Universitas selatan kan ?”
“Hahaha, kamu juga di sebut sebagai prince, pangeran terganteng dari SMA barat kan ?”
Gina tertawa melihat tingkah laku Alvan, lalu dia mencoba menjelaskan apa yang dia tau tentang Maria.
“Tentu saja kamu tidak akan percaya, jika melihat dia seperti ini sekarang.”
Seorang gadis menggunakan jas putih berpakaian bagaikan profesor, dengan paras yang sangat cantik, tubuh yang ramping, payudara besar. Dia bagaikan perwujudan dari dewi yang akan di puja oleh para lelaki yang melihatnya.
“Tapi aku dulu juga pernah melihat adegan dia bertarung saat kami pulang malam hari.”
“Kenapa tuh kak ?”
“Ada orang yang berusaha mengggoda kami, lalu orang-orang itu dengan gigih dan memaksa kami untuk ikut.”
“.….”
“Iya aku tau sih kak Maria adalah dewa petarung dari gym monarch.”
Cindy berbicara sembari melihat ekspresi dari Haqi serta Chanan yang terlihat ketakutan dan wajah mereka membiru. Mereka mengingat kembali adegan dimana Maria pernah menghajar beberapa orang.
“Tidak-tidak, kamu meremehkan sesuatu Cindy.”
Haqi menjelaskan sembari menundukan kepalanya ke meja dan memeganginya.
“Boxing dan street fight itu sangatlah berbeda, kalau boxing ada peraturannya, tapi kalau pertarungan di jalan, Gadis itu dapat melakukan apapun yang dia mau.”
“Benar, terlebih lagi meningat kepribadian Maria yang asli, itu sangat menakutkan.”
“Tapi ya, Maria itu tidak pernah menggunakan ilmu bela dirinya, jika soal perkelahian di jalan.”
Chanan menambahkan penjelasan, sembari menggenggam kedua tangannya.
“Sifat asli kak Maria ?”
__ADS_1
“Secara tidak langsung kalian pernah melihatnya sekilaskan, saat Cindy di serang oleh SMA Utara.”
“Iya benar.”
“Kak Maria bahkan tidak ragu menyerang petugas demi Arin.”
“Benar, tapi dulu lebih parah lagi !”
“Apa kalian pernah mendengar tentang Bloody Queen ?”
Gina bertanya.
“Ha ?”
Alvan, Maya dan Cindy memiringkan kepala mereka, mereka tidak tahu apapun tentang Bloody Queen, ini pertama kalinya mereka mendengar itu, terlihat dari ekspresi, mereka sangat penasaran.
“Semua orang di tempat tinggalnya dulu dan wilayah Barat tidak ada yang tau dengan julukan itu.”
“Emangnya kenapa dengan Booldy Quen ?”
“Itu adalah julukan Maria.”
“Seorang gadis yang sedang menari, menghajar setiap lawannya sambil tersenyum, seluruh baju serta badannya ditutupi oleh darah dari lawan.”
Sebelum bertemu dengan Arin, Maria adalah pemimpin dari sebuah gangster dari tempat di daerah dia tinggal, karena hubungannya dengan keluarga tidak terlalu bagus, dia menjadi sangat liar dan sangat kejam.
Maria yang pindah ke pulau Aurora tinggal di apartement stars lalu bertemu dengan Arin, awal hubungan mereka tidak terlalu bagus, karena dia membenci gadis yang cengeng yang gampang menangis. Tapi lama kelamaan hubungan mereka menjadi sangat erat menjadi seperti sekarang.
“Yang paling menakutkan adalah, gadis itu tersenyum sembari menghajar semua musuhnya.”
“Hanya dalam waktu 2 minggu Maria dapat menguasai kelompok ganster di wilayah barat setelah kepindahannya.”
Haqi serta Chanan menjelaskan, badan mereka menggigil.
“Seorang wanita berparas seperti ratu pada sebuah dongeng, menghajar setiap lawan yang membuatnya kesal sembari tersenyum, Tangan, Baju, wajahnya di penuhi dengan darah. Itulah kenapa nama Bloody Queen muncul.”
Mendengar penjelasan dari orang-orang yang sudah kenal Maria, Alvan, Maya dan Cindy memasang ekspresi rumit karena tidak percaya dengan cerita itu, tapi mereka sendiri sudah pernah melihat ketika gadis itu marah dan emosinya tidak dapat di bendung, mau tidak mau mereka memikirkan semuanya dengan serius.
“Ah..”
“Kenapa Al ?”
Alvan mengingat kembali adegan saat Maria duduk di tumpukan manusia yang dia kalahkan.
“Kalau tidak salah, waktu itu kak Maria sedang mengelap tangannya menggunakan Kain lalu melemparnya saat melihat aku kan ?”
__ADS_1
Wajahnya langsung membiru, malam itu dia tidak dapat melihat dengan jelas karena panik dan suasana di sana cukup gelap. Tapi sekarang dia sadar kalau Maria saat itu sedang mengelap darah musuh yang terkena pada badannya.