
Gina terkejut dengan seorang suster yang datang membawa sebuah troli makanan masuk ke dalam ruangan.
“Ini untuk makan siangnya.”
Dia meliaht kearah Arin yang berbaring.
“Oh pasienya lagi tidur ya, kalau aku simpan makanannya di meja ya.”
“Baik.”
Suster itu menyimpan beberapa piring.
“Bukannya kebanyakan ?”
“Ah tidak karena ini VIP buat orang yang menunggunya juga kami sediakan layanan makanan.”
Gina memasang ekspresi bodoh dan cukup terkejut dengan makanan yang di sajikan.
Sebuah omelet, salad, buah, sop dan air minum.
“Kalau gitu permisi ya.”
Suster itu keluar dan Gina melihatnya.
“Ini bukan makanan hotel kan ya ?”
Setelah Maria pergi ada suster yang masuk ke dalam ruangan untuk mengecek kondisi dari Arin. Gina memberitahu kalau Arin sempat bangun tetapi tidur lagi. Suster yang mendengar itu berkata akan membawakan makanan untuk makan siang nanti.
“Maria masih belum kembali, katanya cuman mau cek doang tapi lama banget.”
Dia melihat jam menunjukan pukul 11.50, dan berjalan mendekati Arin
“Rin bangun makan dulu.”
Selama 3 menit dia mencoba membangunkannya.
Arin membuka matanya dan mencoba untuk duduk.
“Tunggu dulu.”
Gina menghentikannya dan menekan tombol yang berada di pinggi kasur. Seketika kasur bergerak naik. Dan sebuah meja keluar dari arah bawah kasur.
“Dengan begini kamu bisa makan tanpa harus memaksakan diri untuk duduk.”
Saat ini kasur menggunakan posisi Fowler. Posisi fowler merupakan posisi tempat tidur dengan menaikan kepala dan dada setinggi 45o-90o tanpa fleksi lutut.Gina berjalan mengambil makanan tadi dan menata di meja yang berada di depan Arin.
“Mau aku suapin ?”
“Tidak aku bisa makan sendi-”
Bicaranya tidak selesai dan terlihat sedang menahan rasa sakit.
“Arin kalau sakit bilang, biar aku yang suapin kamu, Maria juga sudah bilang kalau kamu tidak boleh banyak bergerak atau organ yang terluka akan memburuk.
“.….”
Gadis itu tidak menjawab apapun dan hanya diam.
Gina mengambil piring yang berisi omelet dan menyuapinya.
“Aaaaaaaa.”
Saat ini dia bertingkah seperti akan menyuapi anak kecil dan Arin sedikit malu karenanya. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain dan memakannya.
Gina melihat ekspresi gadis dihadapannya yang sedang menahan rasa sakit.
(Sudah kuduga pasti sakit ya, Meskipun dia berusaha menyembunyikannya tapi itu terlihat jelas dari ekspresinya saat ini.)
Tok, tok…
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.
“Tunggu sebentar rin.”
Gina berjalan dan membuka pintu.
“Siapa ya ?”
Dia melihat seorang gadis yang tidak perna dia lihat berdiri dihadapannya.
“Maaf apakah ini benar ruangan Arin di rawat ?”
“Benar.”
“Ah maaf Aku Ina, aku mendengar kalau Arin sedang di rawat.”
“Teman ya ?, kalau gitu ayo masuk.”
__ADS_1
Kedua orang itu masuk.
Ina melihat seorang gadis yang berada di kasur berjalan mendekatinya.
“Arin apa kamu tidak apa-apa ?”
Arin menoleh dan menatapnya.
“Ina ?”
Gina kembali duduk di sampingnya.
“Kenapa kau bisa di sini ?”
“Aku mendengar kamu masuk rumah sakit dari bu Kana.”
“Pelatih ?”
“Ya, dia menjadi pengawas dalam ujianku.”
“Arin.”
Gina menatapnya dan mulai ingin menyuapinya lagi.
“Ah maaf aku mengganggu ya, kalau gitu lanjutkan saja dulu makannya.”
“Maaf ya, Arin harus minum obat untuk menghilangkan rasa sakit ditubuhnya.”
“Tidak apa-apa kak, Aku hanya ingin melihat kondisinya saja kok.”
“Kalau gitu duduklah di sofa itu.”
“Terima kasih.”
Ina berjalan menuju sofa dan duduk, dia memperhatikan kondisi Arin saat ini.
(Setiap dia menggerakan tubuhnya ekspresinya berubah-ubah, tubuhnya pasti terasa sakit.)
------------------------------------
11 orang gadis diberhentikan oleh petugas keamanan saat berjalan di rumah sakit SMA Barat.
“Permisi ada keperluan apa ya ?”
“Kami akan menjenguk murid ku.”
“Sudah ku bilangkan harusnya kita bergiliran saja.”
“Benar kita bagi dua saja.”
Riana dan Sheila berbicara..
“Maaf kami akan menjenguk pasien di kamar nomer 685.”
Setelah mendengar nomer ruangan yang dikatakan oleh Kana petugas memasang ekspresi terkejut.
“Ah.. Maafkan aku karena memberhentikan kalian, kalau begitu silahkan lewat.”
“Terima kasih.”
Kana tersenyum dan berjalan menuju sebuah lift, para muridnya yang mengikuti dari belakang cukup terkejut karena diperbolehkan begitu saja.
“Kenapa petugas itu membiarkan kita lewat begitu saja ?”
“Benar biasanya kita masuk 3 orang, untuk mengelabui mereka kan.”
Kirana dan Naila bertanya.
“Haha kalian mungkin akan lebih terkejut nanti.”
Kana hanya tertawa melihat ekspresi dari para muridnya. Lift terbuka dan mereka masuk ke dalam.
“Ngomong-ngomong pelatih siapa anak tadi yang bersamamu ?”
Kirana bertanya.
“Ah dia temannya Arin, karena kalian ke toilet dulu sih jadi dia pergi duluan.”
Mendengar perkataan itu Maya cukup terkejut.
(Teman ya,… sejak kapan ?)
Saat Kana membawa Ina ke SMA Barat Maya terkejut dan hanya menatapnya dari jauh. Mereka hanya saling menunduk saat bertemu. Kana tidak mengetahui Kalau Ina terlibat dalam penyerangan terhadap sekolahnya. Dia hanya diberitahu jika gadis itu menjadi korban di SMA Utara.
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan mereka berjalan menuju kamar 695.
Tok, tok..
__ADS_1
Kana mengetuk pintu dan membukanya. Di dalam sana terlihat Almya yang sedang menyuapi Intan yang sudah dalam posisi fowler.
“Maaf mengganggu.”
“Tidak apa-apa ayo masuk.”
Mereka semua masuk dan menghampirinya. Semua anggota klub basket sangat terkejut meliat Intan yang seluruh tubuhnya dibalut dengan perban.
“Tidakku sangka kalau lukanya separah ini.”
“Apa yang terjadi kepada kalian bisa sampai seperti itu.”
“Maaf tapi untuk beberapa lama, Intan tidak diperbolehkan bicara dulu.”
Almya yang sedang menyuapi adiknya tersenyum kearah mereka.
“Tidak apa-apa kak, kami hanya datang untuk menjenguk saja kok.”
Intan menoleh kearah mereka dan tersenyum.
Mereka semua tidak dapat melihat ekspresi dari gadis itu, tetapi semuanya sadar akan hal ini.
“Ngomong-ngomong, apa-apan dengan kamar ini ?”
Riana bertanya.
Beberapa anggota sudah menyadari dengan luas dan fasilitas yang berada di ruangan ini saat pintu dibuka, tetapi Riana terlalu fokus kepada Intan dan telat menyadarinya.
“Tentu saja karena ini adalah kamar VIP.”
Maya menjawab dengan senyuman mengejek.
“Ehhhh… tidak kusangka kalau Keluarga Intan ternyata kaya ?”
“Bukan kami yang membayarnya loh.”
Mya menjawab sembari terus menyuapi adiknya.
“Eh ?”
“Gimana maksudnya ?”
Kana yang tida peduli dengan obrolan mereka berjalan menuju sofa dan duduk.
“Pria bernama Alvan yang membayar seluruh biaya perawatan kami.”
“EHHHHH….”
Semuanya terkejut dengan fakta yang mereka dengar.
“Dari tadi kalian hanya bilang Eh.. dan eh.. saja tau, hahahha.”
Maya tertawa.
“Kenapa Prince membayar biaya ini ?”
“Itu tidak penting.”
“Benar.”
“Yang lebih penting apakah Intan adalah Pacarnya ?”
Semua anggota sangat penasaran dengan hubungan mereka dan terus bertanya kepada Maya.
“Hahaha jika dia akan menjadi adik iparku, aku juga tidak keberatan.”
Almya tertawa.
“Aww aww.. Intan sakit.”
Intan yang melihat kakaknya seperti itu mencubit tanganya dengan sangat keras.
“Dan juga tadi di papan pengumuman kalian berbicara bersama kan Maya ?”
“Jangan-jangan pacarnya Alvan Adalah Maya ?”
Mendengar ucapan dari Naila, Intan menahan tawanya karena takut melukai rahangnya tetapi tubuhnya tetap bergerak.
“HAA ?.. Siapa juga yang ingin menjadi pasangan pria aneh itu, dan INTAN bisa-bisanya ya kamu tertawa meski rahangmu sedang terluka.”
Beberapa orang tersenyum melihat adegan ini.
“Sudah-sudah, Nanti rahang Intan lama sembuhnya, dia juga hanya bisa makan bubur untuk saat ini agar tidak membuatnya mengunyah makanan.”
Almya menghentikan mereka.
Semua anggota klub basket berbicara dan bercanda di dalam ruangan agar nuansa hati Intan menjadi lebih semangat. Mereka cukup lama berdiam diri di sana.
__ADS_1