TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 74. Kondisi Arin


__ADS_3

Seseorang sedang berada disebuah ruangan laboratorium. sejak pagi hari dia sudah berada di sana untuk melakukan penelitian terhadat obat yang diduga dapat meningkatkan kekuatan esper. Sudah berjam-jam dia melakukan penelitian, akan tetapi hasilnya sangat mengecewakan.


“Sudah beberapa hari ini aku melakukan penelitian, tapi baru dapat menemukan satu senyawa yang terkandung di dalamnya.”


Gadis itu duduk disebuah kursi dan menatap kearah komputer yang melakukan analisis.


“Morphium kalau tidak salah memiliki efek untuk menyebabkan seseorang tertidur.”


Dia mencoba istirahat dan menidurkan kepalanya di atas meja.


“Kalau tidak salah nama ini diambil dari nama dewa yunani yang berana morpheus.”


Dia membuang nafasnya.


“Entah kenapa senyawa lainya tidak dapat terdeteksi dengan benar.”


Terlihat handphone miliknya berdering. Setelah melihat nama dari yang melakukan panggilan dia mengabaikan itu. Akan tetapi meskipun 5 menit sudah berlalu handphone itu terus berbunyi dan membuatnya kesal.


“Aku sedang sibuk jadi jangan mengganggu ku.”


Dia mengangkatnya dan langsung berbicara dengan nada kesal.


“Maaf kak, tapi ini benar-benar darurat.”


“Apa emangnya ?”


“Arin masuk rumah sakit.”


Waktu disekitarnya terasa berjalan lambat dan dia berdiam diri untuk beberapa saat.


“Keadaanya sudah membaik dan saat ini dia berada di rua-.”


“APA YANG TERJADI ?.”


Maria memotong pembicaraan.


“Sekar-.”


“DIMANA ARIN SEKARANG.”


“Ruma-.”


“HEY CINDY JAWAB.”


“DENGERIN JANGAN MEMOTONG PEMBICARAAN.”


Cindy berteriak karena kesal.


“Tenanglah kak, Saat ini kami berada di rumah sakit Barat ruangan 608.”


“Gima..na ke..adaan A..rin ?”


Suaranya terdengar akan menangis.


“Sudah membaik, cepatlah kemarin kak.”


“Ya.”


Maria mematikan panggilan itu dan mengambil tas miliknya dan berlari tanpa memperdulikan hal lain.


------------------------------------


Alvan sedang duduk di kursi dan menatap Arin yang sedang berbaring di kasur dan tidak sadarkan diri. Terlihat dia sedang mengirim sebuah pesan kepada seseorang.


“Dengan begini selesai.”


Seseorang membuka pintu dan berjalan masuk.


“Gimana Cindy ?”


“Seperti yang kita duga, apa kamu sudah memberi tahu sisanya ?”


“Aku baru saja mengirim pesan kepada mereka.”


Cindy mendekati kasur dan duduk di sampingnya sambil melihat Arin.


“Tidak ku sangka akan berakhir seperti ini.”


“Sebaiknya kita siap-siap saja dimarahi oleh kak Maria.”


“Haha tentu saja.”


Saat mereka sedang mengobrol ada seseorang yang mengetuk pintu lalu membukanya. Di sana terlihat Kana dan Kalia yang berjalan masuk yang berjalan masuk mendekat.


“Gimana Arin ?”

__ADS_1


“Sudah membaik tapi belum bangun bu.”


“Lia, Sudah selesai ?”


Cindy bertanya.


“Iya, udah ngasih tau keluarganya ?”


“Belum.”


“Kalau gitu biar aku saja, sekalian dengan orang tuanya Intan.”


Setelah mengatakan itu Kana mengambil Handphone miliknya dan berjalan keluar.


“Tunggu bu.”


Alvan berdiri dan menghentikannya.


“Iya ?”


“Bisakah ibu tidak beritahu orang tua Arin ?”


Dengan ragu dia berkata.


“Kenapa ?”


Kana menatapnya.


“Sebenarnya ada sebuah insiden yang pernah terjadi kepadanya.”


Semua orang di dalam ruangan menatap Alvan.


“Oleh karena itu, orang tuanya menjadi sangat panik jika ini menyangkut Arin.”


Dia menatap kearah Arin.


“Saat pakaian dan wajahnya terluka oleh Cindy dulu, aku melihat tante Amalia yang sangat panik.”


Dia mengepalkan tangannya.


“Itulah pertama kalinya aku melihat tante seperti itu, biasanya dia tersenyum dan tertawa.”


“Sebenarnya Arin pernah terlibat dengan insiden seperti ini.”


Cindy berdiri dari kasur dan berjalan mendekati Kana.


Mendengar perkataan itu Kana menyimpitkan matanya.


“Badai angin yang menghancurkan kota itu ?”


“Iya.”


Tiba-tiba Maya membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.


“Aku rasa tidak usah memberitahu tante Amalia pelatih, dan anak ini pasti tidak ingin membuat ibunya menangis.”


“Tapi bagaimana menjelaskannya karena dia tidak bisa kembali ke rumah untuk saat ini ?”


“Orang tuaku dan Arin adalah Teman dekat, aku akan mencoba meminta bantuan dari ayaku.”


Alvan berbicara.


Kana melihat kearah wajah dari murid-muridnya satu persatu. Ekspresi mereka sangat serius, Lalu kedua tangannya memegang sisi pinggul miliknya.


“Huuuuhh Baiklah, bagaimana dengan Intan ?”


“Kurasa tidak apa-apa.”


Maya menjawab.


“Kalau gitu aku akan mengecek Itan dan menghubungi keluarganya.”


Setelah mengatakan dia pergi keluar.


KIIIIUUT TAK!!!


Saat pintu sudah tertutup dan merasa Kana sudah pergi cukup jauh Maya berbicara.


“Sebaiknya kita tidak memberitahu orang lain tentang pertengkaran mereka.”


“Aku setuju.”


Kalia berbicara.


“Tapi bagaimana dengan kak Maria dan yang lainya ?”

__ADS_1


“Benar kak Maria dapat mendeteksi kebohongan seseorang dengan mudah.”


“Kurasa kalau penghuni apartemen Stars tidak apa-apa.”


“Kalau gitu kita sepakat, selain orang yang berada di ruangan ini dan orang-orang dari apartemen stars tidak ada boleh yang tahu.”


Maya melihat jam yang berada di handphone miliknya.


“Sudah jam 4 sore, kalau gitu aku akan kembali ke ruangan Intan.”


“Iya.”


Maya pergi keluar lalu Alvan mengambil Handphone dan menelepon ayahnya.


“Ayah bisa bantu aku.”


“Ada apa ?”


Dia menjelas kan apa yang terjadi kepada orang tuanya.


“APA ITU BENAR ?”


Cindy dan Kalia dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak.


“Ya, jadi bisakah alihkan perhatian tante Amalia untuk beberapa saat.”


“Apa yang kamu katakan benar, kalau gitu aku akan menghubungi ayahnya Arin dan mencoba berdiskusi dengannya.”


“Kalau gitu bukannya akan ketahuan ?”


“Tidak serahkan padaku, Kamu fokuslah rawat Arin.”


“Baik termakasih.”


------------------------------------


“HEY HATI-HATI.”


Maria terus berlari tanpa memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya, dia sudah beberapa kali menabrak orang dan langsung pergi begitu saja tanpa meminta maaf, Dipikirannya saat hanya ada Arin.


(Semoga kamu baik-baik saja.)


Sesampainya di rumah sakit dia langsung berlari menuju ruangan 608. Banyak orang melihat kearahnya.


“Jangan berlari di rumah sakit.”


Seorang perawat meneriakinya. Dia tidak memperdulikan itu dan masuk ke dalam lift dan menekan tombol 6. dia mencoba mengatur pernafasanya. Saat lift terbuka dia berlari kembali. Sesampainya di depan ruangan 608 Maria membuka pintu dan langsung masuk.


DAGG!!!


“ARIN.”


“UWAAA.”


Cindy dan Kalia yang terkejut dengan suara bantingan pintu lalu berteriak.


Dia berjalan mendekat kepada Arin yang berbaring di kasur tidak sadarkan diri, lalu menggunakan Angel eyes untuk memeriksa kondisinya.


(Beberapa tulangnya mengalami retak.)


Dengan sangat teliti dia melihat dari bawah ke atas.


(Begitu juga dengan organ dalamnya mengalami pendarahan.)


Dia berbalik dan menatap semua orang yang berada di dalam ruangan.


“Apa yang terjadi ?”


“Se..ben..arnya.”


Ketiga orang itu ragu untuk mengatakan yang sebenarnya karena takut Maria akan marah dan melampiaskanya kepada Intan yang saat ini masih tidak sadarkan diri. Sebelum mereka berbicara terdengar suara langkah kaki mendekat.


“Gimana kondisi Arin ?”


Dari arah pintu Chanan yang baru datang langsung bertanya. Dia langsung mendekat ke kasur dan melihatnya.


“JELASKAN APA YANG TERJADI ?”


Maria yang sudah tidak dapat menahan emosinya berteriak.


“Aku akan menceritakan apa yang terjadi, tapi aku ingin kak Maria tidak marah setelah mendengar apa yang terjadi.”


Alvan menatap lurus matanya.


Maria sedikit emosi tetapi Chanan dari belakang memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dia melihat Pria yang berada dihadapannya dibalut dengan perban dan pakainya cukup berantakan, sama hal dengan dua gadis yang berada di dekatnya.


“Huuh… Baiklah, tetapi itu tergantung jawaban kalian.”


__ADS_2